
Xavier mengerutkan dahinya, tingkah Graciella tampak seperti dia malu terlihat tanpa busana di depannya. Bukannya tadi mereka juga sudah melihat tubuh polos mereka masing-masing?
“Aku sudah selesai,” ujar Graciella yang segera keluar dari kamar mandi itu. Xavier lagi-lagi hanya diam melihat Graciella melangkah dan duduk di ranjang mereka. Langsung menggunakan pakaiannya. “Sekarang bisakah kita membicarakan apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Graciella yang sebenarnya menutupi kegugupannya karena dipanndangi oleh Xavier saat dia menggunakan bajunya, untuk mengalihkan fokus Xavier, Graciella bertanya seperti itu.
Xavier menarik kursi dari meja kerjanya yang ada di sudut kamar itu. Duduk dengan tegak di depan Graciella yang baru saja menurunkan pakaiannya. Graciella mengerutkan dahinya menatap wajah serius Xavier.
“Aku hanya ingin mengatakan bahwa jika nanti kita bertemu di luar tanpa rencana dariku sama sekali, maka aku ingin kau bersikap seolah-olah kau tidak mengenalku sama sekali,” ujar Xavier dengan nada yang tak kalah seriusnya.
Graciella mengerutkan dahinya. “Pria semuanya sama saja ya, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan lalu ingin menghilangkan jejaknya. Kenapa baru katakan sekarang setelah kita ….” Ujar Graciella yang kesal tapi tak tahu apa yang harus dia katakan, ehm, mungkin tidur bersama.
“Bukan, aku tidak bermaksud sama sekali seperti itu. Aku benar-benar menyukaimu, mungkin lebih dari itu. Tapi untuk sementara, di depan semua orang, kita tidak bisa terlihat bersama,” jelas Xavier yang tahu Graciella salah menangkap arti perkataannya.
“Lalu? Oh! Tentu seorang Jenderal harus menjaga reputasinya, bukan? Baru bercerai dan dekat dengan wanita lain, tentu akan memalukan. Jenderal? Kenapa kau membuat aku harus kesulitan seperti ini!” ujar Graciella. Kesal sekali rasanya hingga dia melonjak dari duduknya. Sial! Bagaimana bisa dia terjebak, pria di depannya ini hanya ingin memanfaatkannya. Memang laki-laki hanya memiliki satu hal, nafsu dan hanya mencari pelampiasan nafsunya. Bagaimana dia bisa percaya pria ini berbeda.
“Graciella, tolong dengarkan lah dulu,” ujar Xavier yang tahu Graciella begitu kesal padanya. Tentu saja, baru saja mereka tidur bersama, tapi Xavier malah meminta Graciella berpura-pura tak mengenalnya.
“Apa yang harus aku dengarkan lagi? Bukannya begitu kenyataannya. Bodoh! Gracie! Kenapa kau mudah sekali dimanipulasi begini!” umpat Graciella pada dirinya sendiri seraya memukul dahinya kecil. Pertama kali melakukannya dia mabuk dan berakhir tidur dengan pria tak bertanggung jawab dan sekarang, Graciella! Nasibmu memang tak baik.
“Graciella!” ujar Xavier yang menangkap pergelangan Graciella yang tampak begitu marah dan kesal dengan hal ini. Xavier tahu dia salah melakukan hal ini terlebih dulu dengan Graciella, tapi desakan dan rasa di dalam dadanya, dia benar-benar tak kuasa menahannya. Graciella yang mendengar suara Xavier meninggi langsung terdiam melihat pria itu.
“Dengarkan aku,” pinta Xavier lagi mencoba menurunkan nada suaranya.
“Apa lagi yang harus aku dengarkan?” tanya Graciella dengan matanya yang mulai memerah. Dia kesal sekali hingga ingin menangis. Melihat itu Xavier menggigit bibirnya, kenapa malam ini menjadi begini?
“Aku hanya tak ingin mereka melukaimu lagi karena tahu kau berdekatan denganku. Aku tidak akan bisa lagi memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padamu hanya gara-gara aku! Mereka tidak akan melepaskanmu jika mereka tahu kita masih berhubungan,” kata Xavier yang keluar begitu saja. Tentu kata-kata Xavier membuat Graciella mengerutkan dahi.
“Apa maksudmu? Masih berhubungan? Bukannya kita baru berhubungan sekarang? lalu siapa yang ingin melukaiku? Apa maksudmu dengan semua ini?” tanya Graciella bingung.
“Kau percaya atau tidak, tapi sebelumnya, kita punya hubungan, kita dulunya adalah sepasang kekasih,” ujar Xavier yang tentunya membuat kerutan wajah Graciella semakin dalam, Graciella bahkan menggeleng pelan.
“Bualan macam apa ini? Mana mungkin kita adalah sepasang kekasih, jika benar, aku tidak mungkin melupakanmu,” ujar Graciella.
Tapi hal ini menjadi sedikit masuk akal dalam otak Graciella. Bagaimana dia begitu merasa familiar dengan semua yang dimiliki pria ini. Suaranya, tubuhnya, sifatnya, bahkan aroma tubuhnya. Semua dapat dengan mudah Graciella terima dan mungkin benar karena mereka dulu adalah sepasang kekasih. Tapi bagaimana? Graciella tak mungkin berselingkuh saat bersama dengan Adrean, dia sangat membenci wanita yang menjadi selingkuhan suaminya, masa sekarang dia juga punya simpanan.
“Aku memang tidak bisa membuktikannya. Tapi kita memang punya perasaan yang sama seperti saat ini beberapa tahun yang lalu. Tapi karena saat itu aku masih begitu naif dan juga tidak punya kekuasaan. Aku tak bisa menjagamu dengan baik sehingga mereka melukaimu begitu parah. Mereka juga memisahkan kita, tapi kerena sesuatu sehingga kita berdua melupakan semuanya,” ujar Xavier menjelaskannya. Dia tidak ingin mengatakan apa yang sudah membuat Graciella melupakannya. Peristiwa itu, biarlah dia saja yang mengetahuinya.
“Tidak mungkin, cerita ini aneh sekali. Aku tidak mungkin melupakanmu,” ujar Graciella tak percaya.
“Aku tahu, tapi kau memang melupakan diriku. Karena itu saat ini aku tidak ingin apa yang terjadi padamu dulu terjadi lagi sekarang. Jadi, aku hanya memintamu untuk tidak pernah mengakui bahwa kau mengenaliku jika kita bertemu di depan semua orang. Bahkan jika mereka menyiksaku atau mengancam membunuhku di depanmu, kau harus mengatakan bahwa kau tidak mengenalku dan kita tak punya hubungan.” Xavier tampak begitu serius mengatakannya. Gurat kesedihan bisa Graciella lihat dari sorot matanya yang menyuram.
“Percayalah, ini hal yang terbaik untuk kita sekarang. Karena itu kenapa aku harus memintamu untuk sembunyi-sembunyi bertemu denganku di sini, hanya karena aku tidak ingin mereka tahu. Biarkan semua tetap seperti ini hingga semua rencanaku berhasil. Jika bisa, mintalah pada Daren untuk pekerjaan yang ada di luar kota. Itu akan lebih membuatmu aman dari pada ada di kota ini,” ujar Xavier dengan nada sedikit memelas agar Graciella percaya padanya.
“Siapa mereka yang kau maksud dari tadi?” tanya Graciella. Dia bingung kenapa ada orang yang tidak ingin mereka bersatu? Apa masalahnya?
“Orang tuaku dan juga Tuan Robert, dia adalah kakek dari mantan istriku dan mantan suamimu,” ujar Xavier.
“Adrean?” tanya Graciella tak percaya. Xavier hanya mengangguk pelan. Lagi-lagi, semua hidupnya berkaitan dengan pria itu! entah apa dosa yang dia perbuat untuk pria itu!
“Graciella, percayalah padaku sekali lagi. Aku tidak memanfaatkanmu atau membuatmu menjadi wanita pelampiasan. Aku benar-benar menyukaimu. Hanya saja aku harus menuntaskan rencanaku agar kita bisa bersama,” ujar Xavier yang segera memeluk Graciella yang masih tampak kaget dan syok dengan apa yang baru dia terima.
Terlalu banyak untuknya mencerna semua itu. Bagaimana bisa mereka adalah sepasang kekasih, lalu apa yang terjadi hingga Graciella bisa melupakan pria ini begitu saja tapi dia mengingat hal yang lain. Graciella harus mencari tahu semuanya!