Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 176. Aku membutuhkanmu!


Suara bel kembali membuat Graciella melonjak dari duduknya. Sudah lebih dari dua jam dia menunggu di kamar hotel ini. Xavier memang sengaja membawanya ke salah satu hotel yang ada di dekat rumah sakit yang tadi mereka kunjungi. Beberapa bawahan Xavier berjaga di depan pintu hotel hingga Graciella sama sekali tidak bisa keluar dan orang lain pun tak bisa masuk dengan sembarangan.


Graciella sudah tahu tentu yang ada di depan pintunya sekarang adalah Xavier. Dia langsung berdiri dan segera membuka pintunya. Dengan wajah penuh harap dia segera menatap Xavier yang tampak hanya memandang Graciella. Graciella melihat tangan Xavier yang kembali penuh dengan darah.


“Apa kau terluka?” tanya Graciella.


Xavier hanya diam saja dan segera masuk ke dalam kamar itu. Menutupnya dengan perlahan lalu segera menuju ke arah kamar mandi dan mencuci darah Robert Kim yang sudah mengering di tangannya. Graciella hanya diam sambil terus melihat ke arah Xavier yang masih mencuci tangannya. Tubuh tegapnya terlihat makin gagah dengan seragam lorengnya. Kalau di ingat-ingat baru kali inilah Graciella bisa melihat Xavier dengan pakaian dinasnya. Tadi dia begitu tegang hingga tidak memperhatikan penampilan pria ini.


Xavier mematikan keran airnya. Mengambil handuk kecil yang tergulung di sana. Dia mengelap tangannya yang terus saja berlumuran darah. Graciella kembali hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Xavier.


“Bagaimana?” tanya Graciella yang melihat Xavier berjalan ke arahnya dan berhenti tepat di depannya.


“Robert Kim menyerahkan Moira pada seorang pegawainya dulu. Namanya Leonardo. Aku sudah meminta bawahanku untuk mencarinya. Mereka akan segera menemukannya. Aku yakin Moira ada padanya,” ujar Xavier yang langsung melaporkan apa yang dia dapatkan.


“Jadi kita harus menunggu lagi?” tanya Graciella menatap wajah sendu di depannya. Tampak jelas lelah yang terlihat di wajahnya. Tapi tetap dia coba untuk menutupinya.


“Ya, tapi jangan khawatir. Kami akan melakukan secepatnya untuk menemukan Moira. Jangan terlalu khawatir,” ujar Xavier memindahkan rambut Graciella ke belakang telinganya. Tak sanggup melihat binar mata berharap itu.


“Aku mengerti dan percaya kau akan membawa Moira secepatnya. Jika masih harus menunggu, kau  bisa istirahat bukan?” tanya Graciella pelan. Wajah di depannya itu terlihat pucat walaupun aura ketegasannya masih terasa kental. Tapi tentu saja Graciella tahu. Semalaman pria ini tidak tidur, terluka begitu parah tapi begitu pun dia tidak ingin istirahat sama sekali. Semua ini dia lakukan untuk Graciella dan juga Moira.


Xavier hanya diam saja dan tiba-tiba langsung memeluk pinggang kecil Graciella. Graciella mendapatkan pelukan hangat yang tidak memaksa itu hanya diam saja. Xavier meletakkan kepalanya ke pundak Graciella, seolah dia ingin mengistirahatkan sejenak tubuhnya.


“Boleh sedikit bersandar padamu?” tanya Xavier pada Graciella.


“Eh? Ya,” ujar Graciella lagi membiarkan tubuh Xavier bergelayut manja padanya. Sebenarnya Graciella cukup kewalahan karena tubuh Xavier jauh lebih tinggi dan besar darinya, tapi Graciella tahu bahwa pria ini benar-benar lelah. Jika tidak, dia tak mungkin bertindak seperti ini. Xavier memeluk erat tubuh Graciella seolah ingin menumpahkan segala perasannya. Graciella hanya bisa menerima pelukan erat itu walaupun pelukan itu mulai membuatnya sesak. Xavier perlahan menaikkan tubuhnya. Dia memang ingin menyandarkan tubuhnya pada Graciella. Tapi dia juga sadar, Graciella tidak mungkin bisa menahan dirinya.


“Aku akan menyiapkan air hangat untukmu. Setalah mandi, istirahatlah,” ujar Graciella lagi.


“Baiklah,” ujar Xavier.


Graciella langsung masuk ke dalam kamar mandi itu. Membuka keran dan memastikan air hangat untuk Xavier. Saat airnya sudah setengah penuh. Xavier masuk hanya dengan lilitan handuknya saja. Graciella melihat perban yang melingkar di pinggang Xavier. Baru ingat bahwa pria ini tidak boleh berendam dulu untuk beberapa hari.


“Eh, jangan berendam dulu. Aku akan membantu mengelap tubuhmu,” ujar Graciella mengambil handuk kecil dan segera mencelupkan handuk itu ke dalam air hangat yang sudah di sediakan. “Sini, duduklah di sini,” ujar Graciella yang meminta Xavier duduk di pinggiran bathtub. Xavier menurut saja.


Graciella lalu perlahan menepuk handuk hangat itu ke wajah Xavier. Perlahan membersihkannya lalu kembali mencelupkannya ke air hangat. Graciella mulai mengelap leher tegap Xavier yang hanya memandanginya. Graciella perlahan menyapu handuk itu ke arah bahu Xavier dan saat itulah tangan Xavier menahan tangan Graciella.


“Apa sekarang sudah bisa?” tanya Xavier dalam. Graciella menggigit bibirnya, dia tahu apa yang dimaksud oleh Xavier.


“Kau sedang terluka dan sedang lelah, Nanti keadaanmu akan memburuk,” ujar Graciella lagi memandang Xavier yang sudah tampak kilatan nafsu yang tertahan.


“Tidak, aku membutuhkanmu,” ujar Xavier menarik tubuh Graciella dan langsung mencium wanita itu tangannya segera memeluk tubuh Graciella. Xavier menciumnya dengan ganas seolah sudah begitu lama tak merasakan ciuman manis itu.


Xavier kembali menggendong tubuh kecil Graciella. Pautan di bibir mereka terus terjadi hingga akhirnya Xavier meletakkan Graciella di ranjangnya. Graciella menatap kembali ke arah Xavier, sedikit ragu apakah mereka bisa melakukannya dalam keadaan begini. Apalagi perban di perut Xavier itu terus mengalihkan pikirannya.


Xavier menatap ke arah mata Graciella tertuju. Dia tahu Graciella sedikit khawatir dengan keadaannya.


“Aku tidak akan apa-apa,” ujar Xavier mencoba untuk menenangkan Graciella.


“Ya, tapi perban itu menganggu,” ujar Graciella.


“Apa aku harus melepaskannya,” tanya Xavier dengan senyumannya yang menggoda.


“Eh? Bukan begitu juga,” kata Graciella.


“Kalau begitu nikmati saja.”


Xavier langsung mencium leher Graciella dan segera menggelitik tubuh Graciella. Xavier kembali mencium bibir Graceilla dengan sangat berna’fsu. Xavier langsung membuka baju yang digunakan oleh Graciella. Graciella sedikti membantunya untuk meloloskan pakaian-pakaian yang digunakan olehnya. Saat panas tubuh Xavier menyentuh kulitnya, tubuh Graceilla bergetar. Xavier melanjutkan aksinya, mencium dan juga menyentuh seraya mengusap seluruh tubuh Graciella yang tentunya membuat Graciella menggila.


Tapi mungkin karena terlalu bersemangat dalam pemanasan. Graceilla tak sengaja menyentuh luka Xavier yang langsung membuat pria itu meringis kesakitan.


“Eh? Kau tidak apa-apa?” tanya Graciella melihat Xavier menahan nyeri di pinggangnya.


“Tidak,” ujar Xavier seraya menekan lukanya.


“Jangan dilanjutkan lagi ya,” ujar Graciella yang malah jadi khawatir dengan keadaan Xavier.


Xavier tidak menjawab tapi raut wajah kecewa langsung tampak di wajahnya. Graciella jadi serba salah. Apalagi kemarin dia sudah menolak Xavier. Graciella menggigit bibirnya pelan.


“Kalau begitu aku saja yang melakukannya,” ujar Graciella segera menaikkan tubuhnya dan mendorong tubuh Xavier agar segera terlentang. Begitu tubuh Xavier terhempas, Graciella langsung mengambil posisinya di atas Xavier. Xavier yang melihat hal itu memandang Graciella tidak percaya. Kenapa tiba-tiba Graciella menjadi tahu tentang posisi seperti ini?