
Xavier melangkah masuk ke dalam ruangan interogasi itu. Dia melihat Tuan Peter yang dari raut wajahnya sudah tampak begitu lelah. Untuk orang seusianya pasti semua hal ini sangat menguras energinya.
Tuan Peter hanya menaikkan wajahnya ketika dia melihat Xavier datang dan duduk di depannya. Semenjak kematian Robert Kim memang mereka sama sekali tidak melakukan komunikasi apa pun.
“Kalian semua, keluar lah dari sini,” ujar Stevan yang ada di dalam ruangan pengamatan seperti biasanya. Tapi kali ini dia memerintahkan semua bawahannya untuk keluar dari ruangan itu.
Walaupun sedikit kebingungan tapi tentunya para bawahan dari Stevan tak mungkin menolak perintah dari Jenderalnya. Mereka dengan perlahan keluar dari ruangan pengamatan itu.
Stevan memang sengaja untuk mengeluarkan semua orang dari sana. Dia tahu arah pembicaraan ini bisa saja membongkar tentang kematian Ayah Xavier. Bagaimana pun Tuan Peter tahu bahwa semua ini adalah rancangan Xavier sendiri. Dan Stevan juga termasuk terlibat dalam hal ini karena menutupi kejahatan yang sudah dia tahu. Hanya saja, dia merasa memang David Qing berhak sekali mendapatkan hukuman itu dari putranya. Stevan langsung mematikan semua alat perekam yang ada di sana. Dia hanya merekamnya dengan ponselnya. Berjaga-jaga ada sesuatu yang akan dikatakan oleh Tuan Peter yang diam seribu bahasa dari awal penangkapannya.
“Xavier, semua sudah aman,” ujar Stevan pada alat komunikasi yang terpasang pada telinga Xavier. Mendengar itu Xavier langsung mengangguk mengerti.
“Tuan Peter, sudah lama tidak bertemu,” kata Xavier dengan nada suaranya yang datar.
“Jangan banyak basa basi. Aku tahu bahwa kau juga pastinya sudah mengatur pertemuan ini agar tidak menjadi bukti atas kejahatanmu,” jawab Tuan Peter.
“Aku tidak pernah takut tentang hal itu. Karena aku rasa Anda cukup pintar, walaupun Anda membuka hal itu pada publik, Anda juga akan terkena imbasnya. Tapi yang tidak aku bisa pikirkan, bagaimana Anda begitu tega mengkhianati hingga memfitnahku?” tanya Xavier. Sekali lagi dia tidak percaya Tuan Peter yang dia kenal dan bekerja sama dengannya bisa melakukan hal ini. Dia tahu bagaimana dulu dia membujuk Tuan Peter untuk mau bekerja sama dengannya, pria ini bahkan beberapa kali menolak karena hanya ingin menjadi orang yang membantu masyarakat. Tapi sekarang bagaimana bisa menjadi otak pembunuhan seseorang?
“Ini semua salahmu. Kau yang sudah membuatku berambisi seperti ini untuk terus maju menjadi seorang presiden,” jawab Tuan Peter lagi.
“Jika Anda tidak melakukan hal ini. Aku bisa mempertaruhkan kedudukanku bahwa Anda pastinya akan menjabat menjadi Presiden. Tapi lihat apa yang Anda lakukan?” tanya Xavier lagi.
“Jangan kira aku tidak tahu. Kau tega membunuh ayahmu sendiri. Kau pikir aku akan bodoh mempercayaimu seratus persen. Karena itu aku harus menyingkirkanmu sebelum kau mengkhianatiku,” ujar Tuan Peter.
“Mengkhianati Anda? Dari mana Anda mendapatkan pemikiran itu? Apakah masih kurang Anda mengenalku? Aku tak perlu Anda hanya untuk menjadi seorang Presiden. Seharunya anda sudah tahu itu!” tanya Xavier lagi dengan suara beratnya dan ketegasan yang nyata. Hal itu membuat Tuan Peter terdiam.
“Kau punya elektabilitas yang tinggi setelah semua ini. Kau bahkan mengalahkanku. Karena aku mendengar kabar bahwa kau akan mengurungkan niatmu dan mengambil tawaran menjadi Presiden. Aku tidak mau jika hanya menjadi wakil presiden.” Tuan Peter menatap Xavier dengan penuh kemarahan.
“Aku tidak ingin lagi berbicara denganmu. Aku hanya akan bicara melalui pengacaraku,” ujar Tuan Peter. Dia tentu mengerti bahwa mereka tidak akan bisa memaksanya.
Xavier menekan rahangnya. Dia ingin sekali memaksa Tuan Peter untuk berbicara dari mana kabar itu dia dapatkan. Tapi tentunya dia tidak bisa melakukan hal itu. Jadi dia hanya menggenggam tangannya.
“Anda benar-benar melakukan kesalahan. Saya sudah melakukan sebisa saya untuk membuat Anda menjadi seorang Presiden seperti yang sudah saya janjikan. Saya sudah mencabut pencalonan saya dan sudah membuat surat pernyataan bahwa saya sebagai Jenderal sepenuhnya membantu Anda.” Xavier melemparkan kertas pernyataan bahwa seluruh wilayah kekuasaan militernya akan dengan setia dan memberikan dukungan pada Tuan Peter. Tuan Peter melihat itu membesarkan matanya. “Tapi Anda sudah termakan omongan orang dan membuat kacau semuanya. Apakah Anda tahu, Anda sudah membantu lawan Anda untuk maju sebagai Presiden dan selamat, Anda akan mendekam di penjara ini jikalau Anda hanya ingin diam dan bungkam dengan semuanya,” ujar Xavier dingin. Dia kembali mengambil surat pernyataan itu dan segera merobeknya di depan Tuan Peter. Dia tidak mungkin lagi mendukung Tuan Peter walaupun sejujurnya dia ingin melakukan itu.
Xavier segera berdiri dan ingin melangkah pergi dari sana. Bagaimana pun dia tidak bisa lagi mengatakan apa-apa jika Tuan Peter sudah mengatakan hanya ingin bicara melalui pengacaranya.
“Xavier, aku tidak bisa mengatakannya. Kami sudah memiliki perjanjian,” ujar Tuan Peter lagi tampak cemas.
“Maka tetaplah diam. Aku hanya bingung kemana Tuan Peter yang berjiwa sosial tinggi dan juga sangat menjunjung tinggi keadilan? Tetaplah diam jika Anda merasa itu memang adil!” Xavier menatap Tuan Peter dengan sangat tajam membuat Tuan Peter terbungkam dan sadar seketika. Tapi sekali lagi dia tidak bisa asal bicara. Salah langkah kembali, seluruh yang dia punya akan musnah.
Xavier menunggu sesaat tapi sepertinya Tuan Peter kembali diam. Xavier mau tak mau harus keluar dari ruangan itu dan Stevan juga keluar dari tempatnya mengamati.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Stevan lagi melihat sepertinya Xavier punya kecurigaan sendiri.
“Graciella merasa ada yang tidak benar. Dan aku juga merasakan hal yang sama. Kau juga pasti begitu. Mulai sekarang, kita harus mengawasi Antony,” ujar Xavier lagi dengan wajahnya yang serius.
“Antony?”
“Ya, dia yang paling diuntungkan dari kasus ini. Aku tidak tahu bagaimana tapi bisa dilihat sepertinya dia sudah tahu sesuatu tapi sengaja tidak ingin terlihat terlibat dan hanya menjadi orang luar dari kasus ini. Aku yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan,” ujar Xavier lagi.
“Tapi untuk apa Antony menghasut Tuan Peter untuk menjebakmu. Tuan Peter pun pastinya akan sangat berhati-hati karena tahu Antony juga punya kecenderungan untuk mencalonkan diri pada pencalonan itu,” ujar Stevan. Sedikit tidak masuk ke dalam otaknya jika Tuan Peter terperdaya oleh Antony yang siapa pun tahu akan menjadi rivalnya.
“Itu yang harus kita cari tahu lebih lanjut. Tapi bagaimana pun, aku merasa ada yang aneh terhadap dirinya,” ujar Xavier. Sama dengan perasaan Graciella. Dia tahu ada yang salah dengan semua ini.