Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 163. Untuk apa membeli alat ini?


“Apa yang kau lakukan?” tanya Graciella dengan panik melihat David Qing dan juga Robert yang perlahan menjauh dari pandangannya.


“Maaf Nona, Tapi komandan sudah begitu lama merencanakan semua ini. Dia bahkan mempertaruhkan jabatannya hanya untuk membuat rencana ini berjalan dengan baik. Maafkan saya, tapi saya tidak bisa membiarkan Anda untuk menghancurkan rencana ini.”


Graciella yang melihat tatapan serius dari supir yang terpantul dari kaca spion tengah langsung terdiam. Sekali lagi dia melihat ke belakang tapi tempat itu sudah jauh tertinggal. Graciella menarik napasnya. Karena emosi dan dendam yang muncul, dia kehilangan akalnya sesaat.


Mobil yang membawa Graciella berputar-putar. Sopir itu sudah mengabarkan keadaan di sana pada Xavier yang akhirnya memberikan jawaban agar membawa Graciella ke villa yang ada di pinggiran kota.


“Nona, Komandan meminta saya mengantar Anda ke villa,” ujar supir itu melihat Graciella yang hanya diam di kursi penumpang memandangi jendela mobil.


Graciella yang dari hanya diam dengan kemelut yang muncul di kepalanya hanya melirik ke arah spion tengah mobil.


“Tidak bisa antarkan saja aku pulang?” tanya Graciella lagi.


“Maaf Nona, Saya hanya mengikuti perintah komandan,” jawab supir itu.


Graciella memajukan bibirnya sambil kembali membuang pandangannya menatap jalanan yang mereka lewati. Hari ini terik matahari sangat terasa. Sepertinya sang surya benar-benar semangat membara memberikan kehangatannya menyentuh permukaan bumi. Langit pun tak memberikan tempat untuk awan sekedar lewat menutupinya.


Graciella memegang perutnya yang tiba-tiba saja terasa lapar. Dia memang tidak makan terlalu banyak tadi saat bersama Adrean. Dia bahkan tidak bisa menelan makanannya dengan baik dan sekarang tiba-tiba saja perutnya begitu keroncongan. Mungkin juga karena banyaknya pikiran dan emosi yang terpancing hingga membuatnya seperti ini.


“Eh? Bolehkah kita membeli makanan dulu. Aku kelaparan,” ujar Graciella melirik kembali ke spion tengah itu. Satu-satu caranya untuk berkomunikasi dengan supirnya hanya begini. Tidak anak buah, tidak pimpinan, kakunya sama saja, pikir Graciella.


“Saya akan menyiapkan makanan setelah kita sampai di Villa, Nona,” jawabnya tegas khas militer.


“Bukannya perjalanannya masih jauh, aku sudah sangat kelaparan,” ujar Graciella yang juga tidak percaya dengan keadaan tubuhnya yang benar-benar seperti kehabisan gula. Tiba-tiba saja merasa lapar yang sangat menusuk dan seluruh tubuhnya dingin tanda kehabisan gula. Belum lagi perutnya begitu tertusuk-tusuk. Ah, sepertinya asam lambungnya naik lagi. Tapi kenapa bisa tiba-tiba sekali begini?


Supir itu melihat keadaan Graciella yang memang tampak sedikit gusar. Dia juga yakin Graciella sedang tidak berpura-pura, lagi pula untuk apa Graciella berpura-pura? Apakah dia ingin kabur lagi? Tak mungkin, jarak mereka ke tempat pertemuan itu sudah cukup jauh. Mereka ada di tengah dari perjalanan mereka menuju ke Villa pribadi milik Xavier.


“Baiklah, saya akan mencarikan makanan, di depan ada beberapa tempat untuk membeli makanan, apa yang ingin Anda makan hari ini?” ujar supir itu lagi.


Graciella tak langsung menjawab. Mendapatkan pertanyaan itu membuatnya langsung memikirkan sebuah makanan yang tiba-tiba saja muncul dan langsung membuat perutnya bergejolak.


“Eh, aku ingin makan burger,” ujar Graciella. Tak tahu kenapa, bahkan saat Graciella ada di negara asalnya, dia tak terlalu menyukai makanan ini. Tapi sekarang dia sangat ingin menyicipi makanan itu.


Mobil mereka berhenti di pelataran sebuah restoran waralaba cukup terkenal. “Nona, Saya mohon Anda untuk tetap ada di sini,” ujar supir itu melirik ke arah Graciella.


“Tenang saja, memangnya aku ingin lari kemana jika sudah di sini,” ujar Graciella sedikit ketus. Akhir-akhir ini memang emosinya sedang tidak stabil. Mungkin karena semua masalah yang membuatnya menjadi tak bisa menguasai emosinya. Supir itu mengangguk lalu menutup pintu mobilnya. Tak lupa mengunci pintu dan segera berjalan menuju restoran.


Graciella memegangi kepalanya. Sekarang kepalanya jadi pusing mungkin karena benar-benar sudah kehabisan gula. Kenapa tubuhnya sekarang terasa begitu tak enak. Apakah sekarang sudah waktunya dia mengalami sindrom premensturasi? Ya, mungkin, memang sebentar lagi ada waktunya untuk mengalami menstruasi. Graciella hanya menutup matanya agar kepalanya tak semakin pusing.


Tak lama, supir itu masuk dan membawakan makanan yang Graciella minta. Sebuah burger keju yang menggoda dirinya. Graciella langsung menyantap makanan yang langsung membuat perutnya penuh. Tak pernah tahu makanan itu ternyata sangat nikmat.


Namun, walaupun sudah menyantap makanan itu. Proses untuk mengubah sebuah makanan menjadi gula tentu tak langsung terjadi. Kepalanya masih saja sakit. Graciella akhirnya menyerah, dia harus meminum obat.


“Boleh kita berhenti di apotik dulu? Aku sedang sakit kepala,” ujar Graciella yang tak tahan  dengan denyutan kecil di kepalanya.


Supir itu kembali menganalisa keadaan dari Graciella. Memang Graciella terlihat sedikit lebih pucat. Jadi dia asumsikan bahwa kemungkinan besar Graciella memang mengalami sakit kepala. Supir itu langsung menghentikan laju mobilnya di depan sebuah apotik.


“Saya akan membelikan obatnya untuk Anda,” ujar supir itu.


“Tidak perlu, aku akan membelinya sendiri. Aku juga tidak akan kabur,” ujar Graciella. Dia memang ingin membeli obat, tapi juga dia ingat bahwa persediaan pembalutnya juga sudah habis. Jadi tentu tidak etis meminta pria ini membelikannya pembalut itu.


Graciella segera turun dan melangkah ke arah apotik itu. Matahari yang menyengat semakin membuat kepalanya sakit. Ah! Memang sindrom premenstruasi seperti ini sangat menyiksa dirinya. Dia bahkan pernah harus beristirahat dua hari hanya gara-gara ini.


Graciella langsung masuk dan memesan obat pereda nyeri dan juga pembalut yang biasa dia gunakan. Apoteker yang ada di sana langsung menerima permintaan Graciella. Graciella yang sedang menunggu tanpa sengaja melihat sebuah alat testpack yang ada di dekatnya.


“Ini obat pereda nyeri yang Anda minta lalu ini pembalutnya,” ujar apoteker itu pada Graciella.


“Aku minta alat itu juga,” ujar Graciella langsung.


“Baiklah.” apoteker itu segera mengambilkan alat test pack yang ditunjuk oleh Graciella dan segera memberikan semua harganya. Graciella segera membayar dan kembali ke mobil dan langsung menegak obat pereda nyarinya.


Graciella mengerutkan dahinya baru berpikir. Untuk apa dia membeli alat itu. Bukannya dia baru bisa menggunakannya sekitar seminggu lagi, itupun juga kalau dia tidak menstruasi. Lagi pula bukannya dia dan Xavier melakukannya saat dia tidak subur. Bodoh sekali, terkadang kita sudah mengerti ilmunya, tapi tetap saja berpikir sempit, pikir Graciella memukul kepalanya kecil. Supir yang melihat itu berpikir mungkin kepala Graciella masih begitu sakit hingga dia memukulnya.