
Xavier menggenggam tangan Graciella dengan sangat erat. Menatap ke arah monitor yang ada di tempat dokter spesialis kandungan. Setelah makan Xavier langsung menunda beberapa pekerjaannya. Dia langsung membawa Graciella ke rumah sakit khusus tentara untuk memeriksa kandungan Graciella.
Graciella merasakan remasan tangan suaminya yang tampak gugup di sampingnya. Sama gugupnya ketika mereka menikah kemarin. Melihat itu Graciella tertawa kecil.
“Kenapa tertawa?” tanya Xavier yang melihat istrinya menertawakan dirinya.
“Tidak perlu begitu tegang. Ini hanya pemeriksaan USG. Tidak akan bagaimana-bagaimana,” ujar Graciella lagi.
“Hmm,” jawab singkat Xavier yang entah apa artinya karena dia langsung kembali melihat layar monitor itu. Masih kosong karena dokternya bahkan belum meletakkan transduser USG itu di perut Graciella.
“Nyonya, saya berikan gel dulu ya,”ujar perawat itu meletakkan gel yang sedikit banyak di perut bawah Graciella. Rasanya dingin ketika menyentuh kulit perutnya. Saat ini entah kenapa malah Graciella yang jadi gugup.
“Sudah siap untuk bertemu calon bayinya, Jenderal dan Nyonya?” tanya dokter itu tersenyum begitu ramah.
“Hmm,” jawab Xavier yang terdengar tegas dengan anggukan yang tegas pula. Graciella hanya mengangguk pelan.
“Baiklah, kita mulai ya,” ujar dokter itu segera meletakkan transduser itu ke perut bawah Graciella, meratakan sedikit gelnya lalu dia menekan sedikit kuat tapi lembut untuk menemukan rahim Graciella. Beberapa kali tekanan akhirnya gambaran itu terlihat di layar. Graciella tersenyum lalu menggigit bibirnya. Terharu melihat gambaran calon bayinya yang saat ini hanya berupa kantung gastasi.
“Usianya masih sangat muda, empat minggu jadi masih berbentuk kantung gastasi. Di sini nantinya calon bayi akan terbentuk. Untuk saat ini hanya itu yang bisa kita lihat, Jenderal dan Nyonya. Kita akan melihat perkembangannya saat sudah berumur delapan minggu.” Dokter itu menyudahi USG itu. Perawat segera membersihkan sisa dari gel di perut Graciella dan membantunya duduk. Xavier menuntun Graciella untuk kembali ke tempat duduk mereka di depan dokter itu, seolah tak ingin terjadi apa pun pada istrinya walaupun sebenarnya jaraknya hanya beberapa langkah saja.
“Kehamilannya saat ini sehat. Seperti keterangan dan juga hasil USG-nya, masih berumur empat minggu. Masih sangat rentan, karena itu jangan terlalu kelelahan Nyonya. Saya juga akan meresepkan obat penguat kandungan agar dia bertumbuh dengan baik. Dan untuk saat ini, jangan melakukan hubungan suami istri hingga umur kandungan 16 minggu, itu saat bayi sudah kuat di dalam kandungan,” ujar dokter kandungan itu menjelaskan semua nasehat umum yang pastinya dikatakan semua dokter kandungan untuk menjaga kehamilan di trimester pertama. Graciella mengangguk setuju. Tentu dia tahu itu, sebelumnya dia juga sering mengatakan hal ini.
“Baik,” ujar Xavier dengan gayanya yang seperti biasa. Datar dan kaku jika tidak bersama dengan Graciella.
“Kalau begitu, kita akan bertemu lagi empat minggu lagi, Jenderal dan Nyonya,” ujar Dokter itu, dia menyerahkan amplop yang diberikan oleh perawat sebelumnya. Amplop berisi foto hasil print dari kandungan Graciella.
“Ya, terima kasih,” kata Xavier yang langsung berdiri. Tapi tautan di tangan mereka tidak lepas sehingga Graciella juga harus segera berdiri.
“Terimakasih dokter,” ujar Graciella ramah.
“Sama-sama,” jawab dokter itu dengan senyumannya.
Xavier langsung membawa Graciella keluar dari ruangan itu. Dia membuka amplop itu dengan satu tangan, melihat sekali lagi foto hasil print USG itu. Bibirnya sedikit terangkat dan Graciella melihat itu.
“Belum terlihat, bulan depan dia baru terlihat,” ujar Graciella menjelaskan lagi pada suaminya. Xavier melihat Graciella dengan penuh arti, seolah takjub bahwa sebagian dari dirinya dan Graciella sekarang bersemanyam di tubuh Graciella. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa, hanya meremas tangan Graciella dan kembali melihat ke depan.
Graciella melihat tatapan itu langsung tersenyum senang. Walau tidak terucap dari bibir Xavier. Dia tahu pria itu sangat senang dengan hal ini.
“Tunggulah di sini, aku akan mengambil obatmu,” ujar Xavier meminta Graciella untuk duduk.
Tak pupus senyuman Graciella bahkan setelah melihat punggung suaminya menjauh dari dirinya. Graciella baru ingat. Bukannya Stevan dan juga Daren ingin mengirimkan hasil dari tes luminol di mobil itu? Dari tadi dia begitu bahagia hingga lupa dan sama sekali tidak memegang ponselnya.
Dia lalu mengambil ponselnya yang memang sengaja dia mode heningkan jika bersama dengan Xavier. Tidak ingin terganggu momennya bersama keluarganya. Dia melihat beberapa pesan dari Stevan dan Daren. Tapi tidak ada panggilan. Mungkin karena mereka tahu bahwa saat ini Graciella bersama dengan Xavier dan mereka tidak ingin mengganggu.
Graciella membuka pesan yang dikirim. Wajahnya semangkin sumringah kala melihat hasil yang di kirimkan oleh Stevan. Dia segera menelepon Stevan, tidak perlu ada nada panggilan, begitu cepat panggilan Graciella dijawab oleh Stevan.
“Halo?” tanya Graciella.
“Halo? Sudah melihat hasilnya?” tanya Stevan langsung. Dia tahu bahwa Graciella menelepon pasti karena hasil yang dia kirimkan.
“Ya, sudah,” ujar Graciella.
“Benar dugaanmu. Terdapat jejak darah samar sekali di bagian setir dan juga beberapa bagian seatbelt. Tapi juga terdapat di kursi penumpang, bagaimana bisa ada di kursi penumpang?” tanya Stevan.
“Bisa saja dia meletakkan sarung tangan di sana yang daranya sedikit mengenainya. Atau juga bisa dari bagian baju pergelangan tangannya. Itu sangat mungkin,” ujar Graciella.
“Benar, itu memang mungkin. Bawahanku sedang menahan dan menjemput James untuk dilakukan interogasi. Kau tenang saja, jika ada informasi yang penting, aku akan mengatakannya padamu,” kata Stevan lagi dengan senyumannya.
“Ya, baiklah. Jika bisa besok aku akan ke sana untuk sedikit mengajukan pertanyaan padanya,” ujar Graciella.
“Jika tidak bisa jangan terlalu dipaksa. Aku memikirkan apa yang dikatakan oleh Daren. Kau memang harus jangan terlalu aktif seperti tadi. Beristirahatlah,” ujar Stevan lagi perhatian.
“Ya, terima kasih untuk nasehatnya.”
“Ok, aku tidak akan menganggu lebih lama. Aku putuskan panggilannya ya,” ujar Stevan lagi.
“Ya.” Graciella langsung menarik ponselnya dari telinganya. Melihat panggilan itu sudah diputus oleh Stevan. Dia lalu memperhatikan lagi hasil luminol yang belum semuanya dia lihat. Bagaimana pun sebuah barang sudah dibersihkan, jika memang pernah ada darah yang mengenainya. Maka cairan luminol akan berpendar menjadi biru muda karena zat besi dalam hemoglobin manusia menjadi katalisator untuk luminol. Tapi, bukan hanya zat besi darah saja yang bisa menyebabkan luminol berpendar. Sayangnya, cairan pemutih pun bisa membuatnya berpendar. Jadi dalam kasus yang lebih sulit, jika ruangannya sudah dibersihkan dengna cairan pemutih maka cairan itu bisa membuatnya berpendar dan butuh tes lebih khusus lagi untuk menemukan darah di tempat itu.
Tapi melihat pola distribusinya, untuk kasus ini Graciella yakin bahwa cairan itu berpendar karena darah. Karena jika memang dibersihkan dengan pemutih, bentuk olesannya tak akan sesamar ini.
...****************...
Lagi-lagi aku harus pulang ke PWK dan ini nulisnya ga terlalu di sunting. maklum dengan typo, besok pasti ganti.
Dan luminol hanya untuk pengetahuan, bukan untuk dicoba dalam pembunuhan ya. hahaha Kidding
(Tepok jidat! othor bercandanya garing!)