
“Devina?” Xavier mendorong sedikit tubuh wanita yang tiba-tiba mendekapnya. Fredy tampak di ambang pintu dengan wajah sedikit sungkan. “Bagaimana kau bisa ada di sini? siapa yang mengizinkannya?” tanya Xavier pada Devina sekaligus pada Fredy.
“Masa hanya ingin bertemu dengan tunangan saja harus ada izin? Ayahmu yang mengizinkannya," ujar Devina dengan wajah yang sedikit merajuk. Fredy hanya mengangguk mengiyakan bahwa Devina mendapatkan izin dari ayah Xavier. Xavier memasang wajah melasnya, tak bisa memarahi bawahannya karena pasti mereka tak akan bisa menolak keinginan Perdana Menteri.
Graciella yang masih mengintip di celah pintu mengerutkan dahi. Melihat dengan jelas wajah wanita yang tadi memeluk Xavier. Cantik, bahkan sangat cantik. Rambutnya bergelombang indah berwarna coklat dan berkilau memantulkan cahaya yang mengenainya. Tubuhnya tinggi dengan bentuk yang sempurna. Dari dandanannya dia bukan wanita biasa. Bahkan menurut Graciella, sepertinya wanita ini bisa menjadi seorang model atau artis.
Graciella juga kaget mendengar pengakuan dari wanita itu. Tunangan? Jadi dia adalah tunangan Xavier. Graciella sedikit cemas, bagaimana jika wanita itu melihatnya ada di dalam kamar Xavier. Bisa-bisa mereka akan bertengkar gara-gara Graciella dan yang paling parahnya nanti Graciella akan dikira wanita yang merebut tunangan orang lain. Graciella tentu tak ingin dicap seperti itu. Apalagi dia tak menyukai segala hal tentang wanita perebut pasangan orang lain.
“Xavier, aku merindukanmu," ujar Devina manja hendak memeluk Xavier kembali. Rindunya terhadap pria yang selalu bertampang dingin dan pendiam ini sudah begitu menumpuk. Hampir 6 bulan dia tidak menemui pria ini. Namun, respon yang diberikan oleh Xavier membuatnya menekuk dahinya. Xavier terang-terangan menolak dirinya.
“Tak bisakah kau menjaga tata keramamu? bukan hanya kita yang ada di sini. Kau tidak boleh sembarangan masuk ke dalam markas militer jika tak punya kepentingan.” Xavier meninggalkan Devina menuju ke arah Fredy yang memberikan hormat melihat Xavier mendekat. “Lain kali jangan memberikan izin siapa pun tanpa persetujuan dariku, laporkan semua siapa yang ingin datang menemuiku.” perintah Xavier dengan nada tegas.
Graciella menautkan kedua alisnya. Lalu apa kepentingannya dengan Xavier? Kenapa dia diizinkan masuk bahkan dia menginap di asrama Xavier?
“Kenapa sih? aku kan ingin bertemu denganmu. Itu kepentinganku!” ujar Devina sedikit kesal. Penyambutan Xavier padanya tak pernah berubah. Begitu dingin tanpa ada ramahnya.
“Itulah peraturannya. Jika kau ingin bertemu denganku. Hubungi Fredy untuk mengetahui kapan kau bisa menemuiku. Sekarang ada yang harus aku kerjakan.” Xavier menatap tegas pada Devina.
Devina menatap kesal pada Xavier. “Tidak! aku tidak akan pergi sebelum kau mau bicara padaku.” Devina menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Seolah menunjukkan bahwa dia bersikukuh bertahan di sana.
“Itu terserah padamu," kata Xavier, dia berbalik dan segera berjalan menuju ke arah kamar. Graciella yang melihat Xavier mendekat sedikit kaget dan gelagapan. Dia segera menutup pintu itu dengan pelan dan segera melihat ke sekitar. Kamar mandi! dia akan bersembunyi di kamar mandi saja.
“Xavier! Aku belum selesai bicara denganmu!” ujar Devina yang mengikuti Xavier. Tak terima, jauh-jauh dia pulang dari luar negeri untuk bertemu dengan pria ini tapi hanya mendapatkan penyambutan yang ketus seperti ini.
Graciella yang mendengar suara Devina terdengar dekat langsung membesarkan matanya. Apa sekarang mereka sudah ada di dalam kamar? Graciella langsung kalang kabut. Dia mencoba mencari cara agar bisa keluar dari tempat itu. Dia tidak mau ditangkap basah oleh Devina, bagaimana pun dia dan Xavier tidak melakukan apapun. Dia lalu melihat lubang ventilasi. Bisakah dia keluar dari sana?
“Apa lagi yang ingin kau bicarakan?” tanya Xavier, mengurungkan sejenak niatnya melihat Graciella yang bersembunyi di kamar mandi. Dia melihat Devina yang marah dengan wajah malasnya. Walau sudah kenal dengan Devina sejak kecil, dia tak pernah punya rasa lebih dengan wanita ini. Dia hanya menganggapnya seperti adik.
“Kenapa kau bersikap begitu padaku? aku sangat merindukanmu! Bagaimana kau begitu kejam padaku?” tanya Devina dengan suara sedih. Graciella yang mendengar suara Devina menggigit bibirnya. Entah kenapa merasa sedih mendengarkannya. Rasanya dulu pun dia pernah bertanya hal seperti itu pada Adrean.
“Bukannya dari dulu sudah aku katakan. Aku hanya menganggapmu sebagai seorang adik. Aku tidak bisa mengubah perasaanku padamu.”
Graciella tersenyum miris. Sayangnya dulu Adrean tidak menjawabnya dengan baik seperti itu.
“Tidak! aku yakin kau akan menyukaiku! aku yakin kau pasti bisa menyukaiku!” ujar Devina memaksa. Dia yakin perasaan Xavier padanya akan berubah. Apapun dia akan lakukan agar Xavier bisa menyukainya dan juga menjadi miliknya. Xavier hanya memandangi Devina dengan wajah datarnya tanpa merespon apa yang dikatakan oleh wanita yang penuh emosi di depannya ini. Devina semakin kesal dengan sikap diam Xavier.
Tiba-tiba mata Devina menangkap sesuatu yang tergeletak tak jauh dari ranjang Xavier. Xavier mengikuti arah pandangan dari Devina. Devina langsung mendekati baju wanita yang tergeletak di sana. Xavier bergeming di tempatnya.
Devina semakin marah ketika yakin itu adalah baju dan celana milik seorang wanita. Dia langsung menatap ke arah Xavier yang dengan santainya bersandar di tembok tepat di sebelah pintu kamar mandi. Pria itu melipat tangannya seolah menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Devina.
“Ini milik siapa? kenapa ada baju dan celana wanita di sini!” tanya Devina dengan teriakan. Graciella yang mendengar itu membesarkan matanya. Dia lupa baju dan celananya ada di sana. Sial sekali! Pikir Graciella. Dia jadi benar-benar merasa seperti wanita simpanan.
"Aku rasa aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu,” ujar Xavier cuek saja.
“Kau! aku adalah calon tunanganmu! Di mana dia?! Bagaimana bisa kau membawa wanita ke kamarmu! Kau bahkan tidak mengizinkan aku masuk ke dalam asramamu,” kata Devina bagaikan kesetanan. Tentu! Hatinya begitu sakit mengetahui Xavier dengan wanita lain di kamar ini. Dia bahkan tak sanggup membayangkannya. Graciella menggigit bibirnya lebih kuat, dia tahu perasaan Devina sekarang. Perasaan yang selalu dia rasakan jika Adrean dengan sengaja membawa wanita-wanitanya ke hadapan Graciella. Lalu, bagaimana bisa dia membuat wanita lain merasakan hal begini.
“Dia sudah pergi. Aku tidak menyetujui pertunangan ini. Tentu aku bisa membawa dan mengizinkan siapa pun yang aku inginkan. Tidak ada yang bisa mengaturku tentang itu.”
“Bagaimana bisa?! Wanita ini? siapa dia? Apa kau hanya butuh pelampiasan ***** atau ….?” ujar Devina menatap dengan tatapan menuntut jawaban.