Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 104. Aku akan menikahinya!


Graciella mengangguk keras. Robert memberikan tatapan tajamnya sekali lagi sebelum dia melepaskan genggamannya dari kepala Graciella.


Tak lama beberapa orang membawakan meja dan juga sebuah laptop dan disusun di depan Graciella. Seorang penjaga menyambungkan panggilan, Graciella hanya memandang dua orang penjaga yang menyodorkan senjatanya ke arah dirinya. Robert melipat kedua tangannya di depan dada, tampak santai melihat tatapan ketakutan dari mata Graciella.


Panggilan video itu langsung tersambung. Graciella membesarkan matanya seraya menelan udara yang begitu sulit untuk melewati kerongkongannya. Dia melihat sosok Xavier yang sepertinya juga sama dengan posisinya. Dia bahkan melihat penjagaan Xavier begitu ketat.


"Graciella?! apa yang kalian lakukan padanya!" Xavier berontak ingin menggapai David Qing yang ada di belakang tabletnya.


Xavier awalnya tak percaya bahwa dia akan melihat Graciella dalam panggilan video itu. Wajah wanita itu sungguh kusut. Matanya menghitam dan sembab juga bengkak. Di sebagian wajahnya terlihat bekas darah mengering. Sudut bibirnya tampak membiru dan bengkak. Xavier menggenggam tangannya erat sambil terus melihat ke arah David Qing. Entah apa yang sudah dia lakukan pada Graciella. Greciella tampak tak bisa menahan kembali air matanya.


"Xavier! aku mohon padamu! turuti semua keinginan dari mereka! aku mohon sekali! mereka ingin kau menikahi Devina! tolong turuti apa yang mereka inginkan!" ujar Greciella menyatukan kedua telapak tangannya, membentuk gestur memohon pada Xavier. Dia harus cepat melakukan hal ini, dia sudah tak tahan lagi ingin bertemu dengan anaknya.


"Apa yang mereka lakukan padamu?" ujar Xavier. Walaupun Xavier dibius tadi malam, tapi tak sedikit pun mereka melukai Xavier. Keadaan Graciella begitu mengenaskan.


"Aku tidak apa-apa! tolong lah! jika kau tidak ingin menikahi Devina, maka mereka akan melukai Moira lagi! Xavier aku memohon dengan sangat! menikahlah dengan Devina! aku mohon! demi aku dan Moira!" ujar Greciella dengan wajah begitu memelas. Dia tak perduli lagi dengan rasa patah hati yang muncul, rasa patah hati itu tertutup dengan rasa sakit setiap kali suara Moira muncul di kepalanya.


Xavier mendengar itu terdiam dan menatap wanita itu dalam. Tangis lirik Graciella yang begitu memohon padanya begitu menyayat hatinya. Rasanya benar-benar sakit. Xavier selalu berusaha untuk melindungi semua orang, tapi bahkan orang yang paling dia cintai di dunia ini tak dapat dia lindungi dari orang-orang terdekatnya. Dia tak menyangka cintanya malah mencelakakan Graciella lagi dan lagi. Mata Xavier mulai berkaca-kaca melihat keadaan Graciella.


Melihat Xavier yang hanya diam saja menanggapi permintaannya. Graciella menjadi histeris. Kenapa Xavier sama sekali tidak menjawab keinginannya?


"Xavier! aku mohon! tolong lah mengerti! bukannya kau berjanji untuk melindungi Moira! tapi kenapa kau malah membuat Moira seperti ini! Xavier! ikuti permintaan mereka atau mereka akan melukai anakku lagi! aku mohon, dengarkan lah aku! aku mohon! Ya, Tuhan kenapa harus seperti ini! apa salahku pada kalian hingga kalian harus melakukan ini pada putriku! Ya Tuhan! aku tidak tahu lagi harus apa!" histeris Graciella yang benar-benar hampir gila dengan semua ini.


"Graciella maafkan aku!" suara Xavier terdengar bergetar. Sudah begitu lama suaranya tak pernah terdengar begitu bergetar. Air matanya lolos dari matanya yang biasanya setajam elang. Rasanya begitu sakit hingga Xavier merasa tak berdaya. Tubuhnya bagaikan tercabik-cabik dari dalam hingga membuatnya begitu lemah.


Robert merasa ini semua terlalu lama, dia ingin semua berjalan dengan cepat. Dia melirik ke arah asisten pribadinya dan langsung memerintahkan apa yang sudah dia bicarakan pada asisten pribadinya.


Melihat sinyal dari Robert, Asisten pribadinya langsung mengangguk mengerti.


Dia langsung melangkah ke arah Graciella dan segera menjambak kepala Graciella yang masih menangis dengan sangat frustasi dan sedihnya. Xavier melihat itu langsung membesarkan matanya.


"Apa yang kau lakukan padanya! lepaskan! kalian kira aku akan mengikuti semua keinginan kalian jika kalian melakukan hal seperti ini! apa kalian pikir aku akan tinggal diam! Lepaskan dia!" teriak Xavier cukup histeris dan panik melihat seorang pria yang menarik rambut Graciella. Xavier bahkan sampai harus mencondongkan tubuhnya untuk mengancam pria yang tak dikenalnya itu.


"Jika kau tidak melakukan hal ini! aku akan melukai wanita ini dulu." asisten Robert menusukkan mata pisau tajam itu ke pipi putih Graciella.


"HENTIKAN! kalian semua iblis! HENTIKAN!" Xavier berteriak begitu frustasi. Sangat ingin melindungi Greciella sekarang tapi dia tak bisa. Hal ini yang paling menyakitkan buatnya.


"Aaa!!!" teriak Greciella memekikkan ruangan kecil itu saat mata pisau itu digoreskan panjang ke pipinya! perih dan sakitnya tak terbayangkan hingga membuat mata Graciella hanya menyisakan warna putihnya, menahan nyeri yang luar biasa, dagingnya yang terobek perlahan dapat Graciella rasakan. Luka itu dalam hingga darah mengucur disepanjang sayatan.


"HENTIKAN! Hentikan! baiklah! BAIK! BAIK! Aku akan menikahi Devina! aku akan menikahinya! KALIAN HENTIKAN!" teriak Xavier dengan seluruh tenaganya! sungguh, dia seperti merasakan sakitnya yang dirasakan oleh Greciella! luka besar menganga itu terus mengucurkan darah! Graciella tampak hampir pingsan karenanya. Air mata Xavier terus saja keluar melihat Greciella hanya diam. Air mata Graciella berbulir jatuh dari sudut matanya, menghilang berbaur dengan darah di pipinya.


"Itulah yang ingin kami dengar dari tadi! tanda tangani surat permohonan pernikahan ini!" ujar David menyerahkan selembar kertas di depan Xavier.


Xavier tentu masih begitu enggan menandatanganinya. Tapi saat dia kembali melihat pisau itu sudah berganti tempat ke leher Graciella, Xavier buru-buru mengambilnya dan langsung menandatanganinya tanpa pikir panjang lagi. Jika pisau itu di sayatkan di leher Greciella maka wanita itu akan terluka begitu parah.


"Lepaskan dia!" suara Xavier bagai mengancam.


Robert dan David Qing menaikkan sudut bibirnya. Penjaga yang lain segera memutuskan panggilan itu.


"Lepaskan Greciella! aku sudah mengikuti kemauan kalian! lepaskan dia!" ujar Xavier lagi berontak. Sayang sekali, tubuhnya terikat di kursi itu.


"Kami akan melepaskannya jika sudah tak memerlukan dia, kau tenang saja, kami tak akan membunuhnya. Urusan dia bisa bertahan atau memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri itu sudah ada di tangannya sendiri, karena dia belum bertemu dengan rasa sakit yang sesungguhnya!" ujar David Qing melihat anaknya dengan senyuman licik mengembang.


Xavier membesarkan matanya, apalagi? kesakitan macam apalagi yang akan dibuat ayahnya pada Graciella!


"Apa yang akan kau lakukan!" teriak Xavier cemas dan penuh emosi!


"Kau tidak perlu tahu, dia bukan siapa-siapa. Kalian, bius kembali dia, jika perlu jangan membuat dia bangun dalam empat hari ini sebelum semua hal untuk pesta pernikahan selesai," ujar David Qing.


Kembali Xavier harus mencoba untuk mempertahankan kesadarannya. Tapi lagi-lagi usahanya gagal. Xavier perlahan kehilangan kesadaran setelah obat benzodiazepine itu mengedar di dalam darahnya.


...****************...


Maaf kakak, seminggu ini akan slow up! ada hal penting di RL yang ga bisa saya duakan. Jadi terimakasih jika Kakak2 semua sudah sabar menunggu.