Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 124. Melakukan apapun demi keluarganya.


“Ya, memang seperti itulah yang Nyonya Hana ingin kita semua lihat, dia ingin kita berpikir bahwa kematiannya akibat dari penyerangan seseorang, dalam kasus ini adalah Nona Riana,” ujar Graciella lagi.


“Apa maksudmu?” tanya Tuan John Westblood. Suami korban.


“Maafkan saya, tapi menurut penyelidikan saya, Nyonya Hana meninggal karena dia mengakhiri hidupnya sendiri.” Graciella mengatakannya dengan sangat mantap. Bruce dan Prof. Callahan hanya mengangguk pelan. Tapi keluarga korban termasuk Xavier tampak kaget dengan apa yang dikatakan oleh Graciella.


“Kau gila! Mana mungkin ibuku mengakhiri hidupnya sendiri! Apa motifnya melakukan hal itu. Keluarga kami adalah keluarga yang bahagia!” ujar Betrand sangat tidak setuju dengan hasil penyidikan yang menurutnya sangat tidak beralasan itu.


“Tuan Betrand, sudah berapa lama Anda tidak pulang ke rumah ini? Kapan terakhir kali Anda bertemu dengan ibu Anda?” tanya Graciella.


Betrand yang tadinya tampak menggebu langsung terdiam. Sejak usinya 20 tahun, Betrand memang sudah tinggal di rumahnya sendiri. Hal ini lumrah dilakukan anak-anak yang sudah dewasa untuk berpisah dengan orang tuanya. Dia juga bukan termasuk sering bertemu dengan ibunya.


“Itu bukan alasan yang cukup hanya untuk membunuh dirinya,” ujar Betrand sedikit rendah, berbeda sekali dengan suaranya yang menyanggah Graciella tadi. Graciella hanya tersenyum tipis.


“Nyonya Hana kesepian ada di rumah sebesar ini, semua ini terlihat dari bagaimana dia mengundang teman-temannya setiap hari-hari tertentu,” ujar Graciella lagi.


“Lalu menurutmu karena kesepian ibuku langsung ingin bunuh diri? Konyol sekali! Ibuku bukan wanita yang lemah seperti itu,” ujar Betrand lagi.


“Ya, aku tahu Nyonya Hana adalah wanita tangguh. Dia sangat kuat sehingga dia memendam semuanya selama bertahun-tahun. Tapi besi yang kuat pun akan bisa larut, jika terus disirami cairan asam.”


“Apa maksudmu! Berbicara yang jelas agar kami tahu maksudmu, tak perlu mengatakannya dengan perbandingan seperti itu,” ujar Bertran lagi.


“Nyonya Hana hidup dengan kesepian yang sangat. Dia selalu merasakan sendirian. Jauh dari kampung halamannya, itu sangat menyiksa bagi seorang wanita,” ujar Graciella.


“Aku benar-benar tidak tahu apa maksudmu, bagaimana kau bisa mengatakan hal itu. Ayahku selalu tinggal dengannya di rumah ini. Setiap malam mereka akan bertemu dan menghabiskan waktu bersama.”


“Raga Tuan John memang ada di sini, tapi jiwa dan hatinya tidak lagi ada di rumah ini," ujar Graciella.


"Apa maksud Anda?"  tanya Tuan John langsung tampak kaget dengan kata-kata Graciella.


"Merasa familiar dengan kata-kata itu Tuan John? Nyonya Hanna menuliskannya lebih dari tiga kali bahkan di brosur operasi rumah sakit operasi plastiknya, jadi aku rasa, Nyonya Hana pernah mengatakannya langsung pada Anda, Tuan John,” ujar Graciella menatap Tuan John dengan sangat dalam.


“Ada apa ini? Apa maksudmu? Ibuku ingin melakukan operasi plastik?” tanya Betrand.


“Kenapa kau berkata seperti itu? Di sini bukan aku yang harusnya kau tanyakan?!” ujar Tuan John yang tampak gugup.


“Jawab saja. Apakah Anda tahu letak lemari di ruang baca kamar Anda?” tanya Graciella lagi sedikit mendesak.


“Eh, aku tidak pasti. Aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikan hal itu setiap malam dan terlalu pagi untuk melihat ruang baca itu,” ujar Tuan John.


Graciella menyungingkan senyumannya. “Saat Anda masuk ke dalam kamar itu, hal pertama kali yang akan menarik perhatian siapa pun adalah lemari baca yang tempatnya sangat menganggu pemandangan. Lemari itu sepertinya baru saja di pindahkan, mungkin 1-2 minggu. Jika Anda memang tinggal dan tidur di sana. Anda akan tahu dengan mudah letak lemari itu. Jadi menurut saya. Anda hanya sesekali masuk ke dalam kamar utama hanya untuk menaruh beberapa barang dan meninggalkannya. Dengan kata lain, Anda sudah cukup lama tidak tidur dengan istri Anda,” ujar Graciella.


Betrand yang mendengar hal itu terkejut dan melihat ke arah Ayahnya yang langsung terdiam tetapi wajahnya tampak cemas.


“Aku juga memperhatikan koleksi-koleksi jam yang Anda punya. Aku sangat terkesan dengan selera Anda dengan koleksi jam mewah itu. Tapi … aku juga menemui kejanggalan yang mengusik pikiranku,” ujar Graciella lagi.


“Apa itu?” tanya Betrand yang mulai tertarik dengan apa yang dijelaskan oleh Graciella.


“Sebuah jam tangan Daniel Wallington,” ujar Graciella menatap ke arah Tuan John yang langsung membesarkan matanya. Graciella tahu, pria itu terkejut mendengarnya. “Deretan jam tangan milik Tuan John adalah jam tangan mewah yang harganya paling murah adalah puluhan juta dollar, tapi Jam tangan Daniel Wallington yang ada di sana, selain sangat sederhana dan harganya jauh diantara yang lain, tapi jam tangan itu sangat sering Anda gunakan terbukti dari rusaknya tali kulit jam itu,” ujar Graciella lagi menjelaskan.


“Lalu apa masalahnya jika aku ingin membelinya? Aku ingin sesuatu yang sederhana, memangnya tidak boleh?” tanya Tuan John yang merasa disudutkan.


“Tentu boleh, tidak ada yang melarang. Masalahnya adalah, aku takut, jam itu bukan Anda yang membelinya. Aku sudah menyelidiki, jam tangan itu juga dijual secara berpasangan. Dan saat penyelidik memberikanku rekaman pertama dari interogasi para saksi yang berada di ruangan saat Nyonya Hana ‘diserang’ aku tidak sengaja melihat jam yang sama,” jelas Graciella yang langsung membuat wajah Tuan John kaget dan pucat.


“Siapa? Siapa wanita itu!” ujar Betrand kembali naik emosinya. Dia yakin wanita itulah sumber dari kesedihan ibunya. Betrand juga menatap ayahnya dengan sangat marah.


“Nona Riana! Dia punya jam yang sama dan di kulit jam yang ada di lemari Tuan John aku bisa mencium wangi jasmine, wangi kesukaan dari Nona Riana. Sedangkan Nyonya Hana sendiri menyukai wangi Lavender, jadi aku yakin, wanita lain Tuan John adalah Nona Riana. Anda menghianati istri Anda dengan asistennya sendiri,” ujar Graciella yang langsung membuat Betrand menggenggam tangannya erat.


“Kau masih berhubungan dengan wanita itu!” emosi Betrand sampai terlonjak melihat ke arah ayahnya yang terbungkam. Semua orang sekarang melihat ke arah Tuan John yang tak lagi bisa berkutik.


“Perpaduan antara kesepian dan juga luka pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya. Pastinya membuat siapa pun depresi hingga menimbulkan kecendrungan bunuh diri.” Graciella mengucapkan hal itu dengan matanya yang menyuram. Dia tahu persis perasaan yang dirasakan oleh Nyonya Hana, dulu pun dia pernah berpikir untuk bunuh diri hanya karena Adrean. Xavier menangkap perubahan pandangan dari Graciella. Ada rasa tak nyaman melihat hal itu.


“Nyonya Hana sudah sangat berusaha untuk memenangkan lagi hati suaminya agar rumah tangganya terselamatkan, dia adalah wanita yang sangat mencintai keluarganya, terutama anaknya, aku bisa melihatnya dari foto-foto di rumah ini, dia pasti akan selalu merangkul putranya, mungkin karena itu dia bertahan disakiti selama beberapa tahun dan memendamnya begitu dalam."