
Graciella menggigit bibirnya melihat ke layar ponselnya yang bergetar dalam genggamannya. Getaran itu hanya sejenak menandakan hanya pemberitahuan yang masuk. Graciella tampak ragu melihat sebuah notifikasi pesan yang memunculkan nama Chris di sana. Haruskah dia membacanya.
Graciella menarik napasnya. Walaupun mencoba untuk tidak peduli nyatanya dia penasaran dengan apa yang dikirimkan Xavier padanya. Dia segera membuka pesan itu.
“Pergilah ke restoran Little Miracle di daerah X.”
Graciella mengerutkan dahinya lebih dalam, kenapa dia harus pergi ke sana? Lagipula Xavier mengajaknya keluar bagaikan seseorang yang sedang merencanakan penyeludupan. Tidak ada basa- basinya sama sekali. Di bawah pesan itu Graciella menemukan pesan memuat peta yang bisa dia ikuti.
“Gracie? Kenapa ada di sana?” tanya Laura lagi yang akhirnya menemukan Graciella. Sudah mencarinya ke seluruh bagian rumah ternyata temannya malah ada di halaman belakang di dekat kolam renang.
“Oh, iya, aku hanya ingin mencari udara segar,” ujar Graciella.
Laura melarangnya untuk pulang dan menemannya. Graciella setuju karena Antony secara personal meminta Graciella untuk menemani Laura karena takut Laura semakin stress memikirkan semuanya. Lagipula rumah Laura sedang kosong. Orang tuanya sedang pergi ke rumah saudara mereka karena pesta pernikahan yang akan mereka langsungkan akhir minggu yang hanya tinggal empat hari lagi.
“Apa tidak panas? Ayo ke kamar saja, aku sudah bawa es krim,” ujar Laura menunjukkan sewadah penuh eskrim coklat dan vanilla. Katanya untuk mendinginkan otaknya yang sekarang sedang panas.
“Ehm, duluan saja,” ujar Graciella lagi. Dia takut Laura akan semakin curiga melihat kebimbangan hatinya. Haruskah dia mengikuti Xavier atau tidak? Tadi Graciella sudah sok jual mahal dengan mengatakan dia tidak pasti akan bisa datang. Tapi, bukannya Xavier mengatakan bahwa ada hal yang ingin dia bicarakan? Ah! Kenapa sekarang Graciella tidak bisa mengambil keputusan yang hanya semudah ini.
“Hei? Gracie? Kau ini kenapa?” tanya Laura yang melihat Graciella termenung melihat air kolam renang yang beriak tenang, lampu-lampu di sekitarnya sudah mulai dihidupkan bersamaan dengan menggelapnya hari.
“Ehm, aku harus menemui seseorang karena ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Tapi aku bingung, apakah aku harus datang?” tanya Graciella lagi.
Laura mengerutkan dahinya, perkara mudah begini masa membuat Graciella sampai tampak kesusahan.
“Pertemuan itu penting tidak?” tanya Laura.
“Eh?” Graciella sedikit berpikir. Apakah ini penting atau tidak?
“Jika itu memang kau rasa penting, pergi saja! Tak perlu khawatir, rumahku di jaga dua puluh empat jam sehari. Tapi setelah pertemuan itu, kau harus tetap kembali. Kau ingin aku sisakan rasa vanila atau coklat?”
“Baiklah jika begitu, aku pergi dulu sejenak. Nanti aku akan segera kembali ke sini begitu semuanya selesai,” ujar Graciella lagi. Dia tidak bisa menolak hal ini. Bisa-bisa dia tak akan tidur hanya karena hal ini. Untungnya dia sudah cukup tertidur siang tadi karena akibat Jetlag sehingga jam tidurnya cukup kacau.
“Hei, aku bertanya ingin rasa apa? Vanilla atau coklat,” ujar Laura lagi melihat Graciella tiba-tiba semangat dan ingin pergi meninggalkan dia begitu saja.
“Apa saja, aku bisa memakan keduanya,” ujar Graciella yang langsung naik ke lantai atas untuk mengambil beberapa perlengkapannya. Laura hanya mengangguk kecil dan mengikuti Graciella untuk kembali ke kamarnya.
Graciella lekas memasuki mobilnya. Dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ponselnya berdering. Graciella langsung mengangkat panggilan itu melalui audio mobilnya yang memang terhubung dengan ponselnya.
“Ada dua mobil yang mengikutimu. Mobil hitam yang ada di belakangmu adalah orang Stevan.” suara berat itu langsung menjelaskan tanpa basa basi sama sekali. Graciella mendengar itu mengarahkan kaca spion tengahnya ke arah yang dikatakan oleh Xavier. Benar saja sebuah mobil hitam sedang mengikutinya.
“Ehm? Baiklah,” ujar Graciella mengerti.
“Dua mobil dari mobilmu, tapi mengambil lajur di sebelah kanan, mobil toyota camri berwarna putih. Itu adalah mobil bawahanku,” jelas Xavier lagi dengan nada seriusnya. Seolah berbicara dengan salah satu pasukannya.
Graciella sekali lagi melihat ke arah kaca spionnya yang ada di sebelah kanannya. Mobil itu segera memberikan kode dengan cahaya lampunya. Graciella melihat hal itu langsung mengerti.
“Ya, aku juga melihatnya,” ujar Graciella.
“Nanti aku akan hubungi lagi setelah kau sampai ditujuan,” ujar Xavier yang langsung mematikan ponselnya. Graciella mengerutkan dahinya lebih dalam. Ingin bertemu saja seperti ingin mengintai penjahat, pikir Graciella. Terlalu terlambat untuk kembali lagi.
Tak lama mobil Graciella segera masuk ke dalam tempat parkir sebuah restoran dan cafe yang cukup besar di sana. Graciella melihat mobil hitam itu mengikuti Graciella masuk ke dalam parkiran, sedangkan mobil putih milik bawahan dari Xavier tampak melanjutkan perjalannya melewati tempat itu.
Belum semenit Graciella mematikan mobilnya. Ponselnya kembali berdering. Graciella segera saja mengangkat panggilan itu.
“Halo?” jawab Graciella lagi.
“Masuk saja ke dalam cafe, lalu segera menuju ke lift yang ada di bagian kanan, pastikan kau hanya sendirian. Turunlah ke basement. Setelah itu ada mobil yang sudah menunggumu di sana. Masuk saja, bawahanku yang lain akan membawamu kepada ku.”
“Kenapa ingin bertemu denganmu aku harus bersusah payah seperti ini?” tanya Graciella sedikit kesal. Kenapa tidak bisa bertemu begitu saja?
“Ikuti saja akan aku jelaskan nanti,” ujar Xavier.
“Baiklah-baiklah,” jawab Graciella. Lagi-lagi panggilan itu ditutup sepihak oleh Xavier. Graciella memajukan bibirnya. Menelepon tanpa basa basi, menutupnya pun tanpa pemberitahuan sama sekali. Merepotkan sekali, pikir Graciella dengan cepat menyambar tas kecilnya dan bersiap masuk ke dalam cafe itu.
Graciella segera masuk dan melihat ke arah kanan. Benar saja ada sebuah lift di lorong sebelah kanannya dan dengan cepat Graciella segera masuk sebelum orang-orang yang berasal dari mobil hitam itu mendekatinya. Graciella segera masuk ke dalam lift yang langsung terbuka. Dia juga langsung menekan tombol tutupnya.
Lift langsung bergerak turun. Tak lama sampai lantai Ground dan segera terbuka. Graciella langsung melihat mobil yang dimaksud oleh Xavier. Dia dengan cepat masuk ke dalam mobil itu dan melihat seorang pria yang postur tubuhnya memang terlihat sekali seperti seorang prajurit. Tanpa basa-basi dan mengatakan apapun, dia langsung melajukan mobilnya.
“Ehm? Kalau boleh tahu kita akan ke mana ya?” tanya Graciella yang jadi sedikit takut melihat supirnya yang hanya diam saja dari tadi. Bahkan begitu fokus dalam menjalankan mobilnya.
“Maaf Nona, Komandan melarang saya untuk berbicara dengan Anda,” ujar pria itu dengan suara tegasnya.
Graciella mengerutkan dahinya. Apa maksud Xavier ini? Apa dia ingin menculiknya? Kenapa malah dia tidak boleh berbicara sama sekali?