Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 117. Benarkan?


Mata Graciella yang tiba-tiba saja seperti terperangkap dalam sorot mata yang begitu kelam. Gelap dan sepertinya menyembunyikan banyak hal di dalamnya. Graciella bahkan butuh usaha kuat untuk bisa memalingkan pandangannya. Dia heran, kenapa dia bisa begitu terpaku dengan tatapan mata itu. Pria ini bukan pria pertama yang punya mata hitam yang pernah dia temui, tapi sorot mata itu seolah menyedot semua perhatian Graciella untuk masuk ke dalamnya. Menyelaminya hingga ke dasar.


“Aku-aku harus memeriksa yang lain,” ujar Graciella segera menjauh dari pria yang hanya menatapnya. Xavier memandangi langkah Graciella yang menjauh darinya. Entah kenapa tidak menyukai langkahnya yang pergi menghindari dirinya. Xavier masih bisa mencium aroma cendana yang halus, seketika saja sudah masuk ke dalam ingatannya. Wanita ini? kenapa begitu menggelitik sisi penasarannya?


Xavier akhirnya memutuskan kembali mengikuti Graciella yang sudah terlihat memfoto beberapa bagian dari kamar utama itu lagi. Graciella lalu segera melihat ke arah meja rias milik korban. Dia menemukan sekotak vitamin c injeksi. Dia melihat ke dalamnya, sudah ada tiga ampul dari vitamin c itu yang sudah digunakan.


“Obat apa itu?” tanya Xavier yang tiba-tiba sudah ada di dekat Graciella kembali.


“Eh? Vitamin C, kau tahu bibimu sering menggunakan ini?” ujar Graciella yang perlahan mencoba menata perasaannya.


Xavier menggelengkan kepalanya. “Aku dan Bibiku tidak terlalu dekat. Dia tinggal di sini setelah menikah dengan suaminya. Aku datang kemari karena putranya tahu aku sedang ada di Kanada,” ujar Xavier yang tiba-tiba saja merasa bisa mengatakan hal itu pada Graciella. Dia bahkan terkejut. Selama ini dia bukanlah orang yang suka berbicara panjang lebar dengan seseorang. Hal ini diperparah ketika dia kehilangan semua ingatannya 4 tahun yang lalu.


Graciella mengerutkan dahinya lalu segera mengangguk-angguk mengerti. “Baiklah, aku rasa aku sudah cukup melihat semua hal ini,” ujar Graciella lagi segera berjalan untuk keluar dari kamar utama. Xavier hanya memandang ke arah Graciella. Ada dorongan yang tiba-tiba muncul untuk mencegah Graciella melangkah lebih jauh.


Tapi Xavier tidak bisa mengikuti keinginannya. Bagaimana pun wanita itu bukan siapa-siapa. Dia tidak bisa mengatur atau melarangnya pergi.


“Bagaimana?” tanya Bruce yang sudah menunggu dengan sangat penasaran. Mengapa begitu lama Graciella ada di dalam kamar itu dengan pria yang cukup mencurigakan bagi Bruce.


“Aku mendapatkan beberapa hal yang aku butuhkan. Besok bisakah aku bertemu dengan Nona Riana?” tanya Graciella pada petugas yang juga menunggu mereka di ruang keluarga itu.


“Tentu, saya akan membuat jadwal Anda untuk bertemu dengannya,” ujar petugas itu.


Bruce melirik ke arah Xavier yang tampak hanya memandangi Graciella. Bruce mengerutkan dahinya begitu dalam.


“Graciella apa yang terjadi padamu dengan pria itu di dalam kamar? Apa dia mendekatimu?” tanya Bruce berbisik curiga.


“Tidak ada apa-apa? Kenapa?” tanya Graciella yang tahu bahwa dari tadi Xavier melihat ke arah dirinya. Graciella pun sudah sekuat tenaga untuk tidak menatap pria itu walaupun ada dorongan yang kuat untuk bisa melihat pria itu.


“Ehm, aku rasa dia menyukaimu,” ujar Bruce lagi masih memandangi Xavier yang tampak bergeming memperhatikan semua gerak gerik dari Graciella.


Sebenarnya Xavier tahu pandangan aneh dari Bruce, tapi dia tidak peduli tentang hal itu. Dia hanya merasa aneh dengan perasaan yang muncul setiap kali melihat Graciella. Ada rasa familiar tapi juga asing dalam waktu bersamaan. Apa mereka pernah mengenal sebelumnya, karena mereka berasal dari negara yang sama. Tapi jika dia mengenal wanita ini, tapi kenapa wanita ini juga tidak mengatakannya? Mereka seolah-olah baru bertemu kali ini, tetapi perasaannya mengatakan tidak.


“Apa maksudmu?” tanya Bruce.


“Cincin di jari manisnya, apa kau tidak memperhatikannya. Dia sudah menikah,” ujar Graciella melepas sarung tangannya. Bruce menyipitkan mata melihat jari jemari Xavier. Graciella memang sudah mengamati pria itu dari awal mereka bertemu dan entah disadari atau tidak oleh pria itu. Tapi Xavier menyembunyikan tangannya yang dihiasi cincin pernikahannya ke dalam saku celananya.


“Wah, benar juga,” ujar Bruce.


“Kau sudah ingin pulang?” tanya Profesor Callahan pada Graciella yang sudah tampak bersiap-siap pergi dari sana.


“Ya, Prof. Sepertinya saya sudah cukup mendapatkan data-data. Saya ingin melihat lebih dalam lagi dari video interogasi para saksi. Besok juga saya akan bertemu dengan Nona Riana. Saya permisi dulu,” ujar Graciella.


“Baiklah,” ujar Profesor Callahan. Dia tidak punya hak melarang Graciella, mereka bukan sebagai murid dan guru, tapi sebagai sesama penyidik di sini.


Graciella tersenyum pada Prof. Callahan lalu segera mengambil ponselnya. Sambil bersiap ingin meninggalkan tempat itu dia menerima panggilan dari ponselnya.


“Daniel ya?” goda Bruce lagi.


“Ya, dia ingin mengajak diskusi tentang kasus ini,” ujar Graciella lagi tersenyum sumringah.


“Kenapa tidak pacaran saja, kalian cocok sekali! Ya sudah, kirimkan salamku pada Daniel!” ujar Bruce yang juga tersenyum senang. Sudah lama sekali sahabatnya memendam rasa dengan Graciella. Rasanya seluruh kampus tahu bahwa Daniel begitu tergila-gila dengan Graciella. Tapi baru sekarang Graciella tampaknya lebih bisa menerima kehadiran pria itu.


Graciella mengangguk seraya menuju ke arah pintu keluar.


“Aku sudah ada di depan,” ujar Daniel.


“Aku sedang berjalan ke sana, tunggu sejenak,” jawab Graciella sambil mematikan panggilan ponsel itu. Langkah Graciella hanya diikuti sepasang mata yang menatapnya tajam.


Graciella sedikit tersenyum lebar melihat pria dengan tinggi hampir 180 cm itu berdiri bersandar di mobilnya yang terparkir di luar dari perkarangan villa mewah itu. Graciella yang bertubuh mungil tampak sangat kontras berdiri di dekat Daniel yang segera membukakan pintu untuknya. Graciella segera masuk ke dalam mobil. Daniel pun segera melajukan mobil itu saat semuanya sudah siap.


Sebelum mobil itu pergi meninggalkan perkarangan villa besar yang menjadi tempat tinggal utama dari korban beberapa tahun ke belakang. Graciella bisa menangkap sorot mata dengan wajah datar yang berdiri tegak yang terus menatap dirinya. Dari tadi dia tahu bahwa semua gerak geriknya diperhatikan dan diikuti oleh Xavier. Tapi Graciella pura-pura tidak peduli. Lagipula untuk apa dia ambil pusing dengan hal itu. Dia dan Xavier, hanya baru kenal sesaat. Tapi bagaimana dengan perasaannya yang terasa aneh setiap kali melihat pria itu? Ah! Mungkin karena kesan pertama yang membuat kesal, hingga Graciella pun menanam emosi pada pria itu. Ya! Hanya itu! Benarkan?