Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 242. Pembunuhan berkedok bunuh diri.


"Ibu akan kembali saat salju pertama jatuh ke bumi." Itulah janji terakhir yang selalu Greciella ingat saat wanita yang sekarang terbujur kaku di hadapannya ini mengantarkannya ke panti asuhan sebulan setelah kematian ayahnya.


Tentu Graciella kecil yang masih berumur lima tahun percaya dengan hal ini. Setiap musim gugur dia akan menanti salju pertama yang turun berharap sang ibu akan kembali padanya.


Butuh beberapa tahun baginya untuk sadar bahwa apa yang ibunya katakan bukanlah janji. Melainkan hanya kebohongan semata.


Wanita ini tak pernah datang kembali dalam kehidupannya.


Tapi tiba-tiba saja sekarang dia ada di depannya. Graciella sejujurnya kaget tapi juga tak tahu harus bagaimana. Melihat wanita itu, ada sesuatu yang mengusik relung jiwanya. Bukan kesedihan tapi lebih tepanya kekosongan emosi. Dia tak tahu harus apa sekarang? Menangis? Tapi baginya wanita ini sudah meninggal jauh sejak lama. Baginya sekarang ini hanya menegaskan kebenaran dari kepercayaannya.


Hanya satu yang masih mengganjal dalam hatinya. Apa yang membuatnya pergi dan meninggalkan Graciella di panti asuhan itu? Apakah karena dirinya merepotkan? Atau bagaimana? Tapi sekarang dia seorang ibu, bahkan sehelai rambut anaknya putus karena orang lain, dia bisa merasakan sakitnya. Lalu bagaimana wanita ini tega meninggalkannya sendirian?


"Elisabeth Sui, umur 58 tahun. Itu identitas wanita ini? Benar dia ibumu?" Tanya Stevan mengacaukan pikiran Graciella tentang mayat wanita yang ada di depannya.


Graciella memindahkan pandangannya dengan gerak cukup lambat ke arah Stevan yang memegang kertas laporan bawahannya.


"Seingatku namanya adalah Miranda Sui," jawab Graciella.


"Tapi di sini di kartu identitas dan juga database kepolisian, dia adalah Elizabeth Sui."


"Dia mengganti namanya. Mungkin untuk menghindari ku." Tatapan mata Graciella kosong. Stevan melihat itu hanya bisa mengangguk tanpa melanjutkan pertanyaannya.


Graciella kembali melihat sosok yang ada di depannya. Pantas saja. Dia pernah mencoba untuk menemukan wanita ini. Dia mengganti namanya sehingga Graciella tidak bisa menemukannya. Sepertinya dia memang tak ingin Graciella melihatnya kembali.


"Banyak sekali hal janggal di sini," ujar Stevan.


Graciella mengangguk. Posisi mayat ibunya sangat tidak lazim.


"Seseorang memposisikannya seperti ini seolah memperlihatkan alasan kematiannya adalah bunuh diri. Senjata yang membunuhnya masih dia genggam." Analisa Daren melihat posisi mayat yang tergeletak dengan tangan memengang pistol itu.


"Ya, tapi caranya memegangnya sangat aneh. Tidak ada orang yang menarik pelatuk pistol dengan ibu jari sedangkan jari yang lain menggem badan pistol. Itu membuat cengkraman lebih longgar. Dan jika dia menembak kepalanya sendiri seperti itu, sejatanya pasti terlepas dari genggamannya akibat hentakan senjata semi-otomatis itu. Lagi pula, apakah kalian mendapatkan percikan darah di tangannya?" Analisa Greciella. Sungguh bukan dia tidak punya rasa empati. Tapi sekarang dia benar-benar tidak tahu perasaannya. Serasa seperti hanya orang asing yang dia kenal.


"Benar, tidak ada bercak darah sama sekali, tangannya bersih." Stevan geleng-geleng kepala. Dari tadi Graciella hanya berdiri tanpa mendekat. Tapi dia sudah bisa menganalisanya.


"Seseorang yang bunuh diri dengan cara seperti itu pastilah ada percikan darah di tangannya. Mengingat di dinding saja terkena cipratan darah. Bagaimana tangan yang dekat tidak ada." Xavier melanjutkan analisa istrinya sambi menujukkan beberapa titik dari dinding yang terkena cipratan darah.. Greciella mengangguk, mereka satu pemikiran.


"Wow! Kalian bisa telepati?" Tanya Stevan. Padahal mereka tak melihat Xavier dan Graciella berdiskusi.


"Seseorang sudah menembakkan peluru itu di kepalanya lalu menyelipkan pistol itu seolah dia ingin menutupi kejadian ini. Dia mengancam awalnya sehingga muncul kesan palsu agar kita berpikir mungkin saja ibuku ingin mencari perhatian dari ku dan sudah sangat depresi dengan kehidupannya lalu menembak dirinya sendiri," jelas Greciella lagi.


"Kita masih harus menemukan bukti siapa yang kira-kira melakukan ini pada ibumu. Jenazahnya akan dibawa ke rumah sakit untuk di otopsi," ujar Stevan.


...****************...


"Kematian diakibatkan luka tembak di kepala. Perkiraan kematian kurang lebih enam jam sebelum ditemukan," ujar dokter forensik yang berkerja di sana. Greciella dan Stevan memang sedang ada di instalasi jenazah rumah sakit kepolisian.


"Enam jam? Tidak mungkin. Aku mendengar pistolnya diledakkan saat pembunuhnya meneleponku," ujar Greciella menatap dokter itu.


Dokter forensik lalu menarik tubuh ibu Graciella menunjukkan lebam mayat. "Lebam mayatnya saat tiba sudah menetap. Tidak lagi hilang dengan penekanan. Lalu sudah muncul kaku mayat dibagian sendi-sendi kecil dan dagu yang menandakan sudah kurang lebih enam jam mayat ini terbunuh," jelas Dokter itu lagi.


Graciella mengerutkan dahinya. Dia tentu ingat tentang pelajaran di kedokteran kehakiman. Bagaimana menentukan waktu kematian berdasarkan kondisi dari si mayat itu sendiri.


"Kau yakin mendengar tembakan itu?" Tanya Stevan.


"Tentu, bukan hanya aku. Serin dan kak Daren juga mendengarnya. Kau bisa tanya mereka." 


"Baiklah, lebih baik kita biarkan dokter ini memeriksa dan memberikan laporan pada kita. Lagi pula lebih baik kau tidak ada di ruangan ini." 


Greciella mengangguk. Dia juga hanya minta izin sesaat untuk melihat keadaan ibunya. Dia juga dimintai persetujuan untuk dilakukan otopsi dan tentu saja dia menyetujuinya.


Stevan segera berjalan keluar bersama dengan Graciella. Xavier dan Daren yang memang tidak diizinkan masuk untuk sementara, menunggu di luar ruangan itu. Begitu pintu terbuka. Xavier yang tadinya duduk langsung berdiri.


"Bagaimana?" Tanya Xavier.


"Dokter sedang melalukan otopsi luar dalam. Daren, apa benar kau mendengar pengancam itu melakukan tembakan?" 


"Aku mendengar suara tembakan saat Graciella selesai meneleponmu. Memangnya ada apa?" Jawab Daren.


"Dokter mengatakan waktu kematian wanita itu kurang lebih enam jam sebelum ditemukan." Stevan mencoba untuk menjelaskan dengan wajah yang berkerut.


"Tidak mungkin. Suara tembakan itu sangat nyata." Daren tidak percaya. Bagaimana bisa kematian wanita itu malah enam jam sebelum ditemukan?


"Sekarang banyak bunyi senjata yang gampang untuk diunduh. Graciella dan Daren mendengarnya via ponsel. Siapa pun bisa memanipulasi dengan semua panggilan yang ada. Jika dokter mengatakan kematiannya di atas enam jam. Maka yang kalian dengar bukanlah waktu pembunuhan yang sebenarnya." Xavier langsung mencetuskan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Masuk akal," ujar Stevan.


"Komandan, ini hasil pencarian lebih dalam tentang korban." Seorang bawahan Stevan langsung menyerahkan file yang tak terlalu tebal pada Stevan. Greciella mengerutkan dahinya. Di dalam file itu ada perjalanan hidup ibunya.


Melihat wajah penasaran dari Graciella. Stevan segera berkata, "Lebih baik kita mendiskusikannya di kantorku saja. Tempat ini tak layak."


Ketiga lawan bicara Stevan mengangguk setuju. Mereka tidak mungkin berdiskusi di depan kamar mayat begini. Dengan cepat mereka menuju ke ruangan Stevan.