
“Nyonya,” ujar Serin yang baru saja datang. Melihat Graciella yang sedang berada di lorong kantor itu melihat kepergian Antony.
“Oh, ya?” Kata-kata Serin membuat Graciella langsung tersadar.
“Saya membawakan apa yang Anda minta,” ujar Serin yang segera menyarahkan sebuah kantong kertas kecil pada Graciella.
“Oh, ya baiklah, terima kasih,” ujar Graciella. Hampir saja dia lupa tentang hal ini. Walaupun dengan pengetahuannya kemungkinan dia hamil itu sangat kecil. Tapi Graciella merasa lebih baik dia memeriksanya. Jika memang negatif dia harus meminum pelancar haid agar keadaan tubuhnya lebih baik.
“Semoga sesuai harapan, Nyonya,” ujar Serin tersenyum manis.
“Ya, terima kasih. Jangan terlalu kaku. Kau boleh duduk saat menungguku,” ujar Graciella yang segera melangkah menuju ke arah toilet.
Graciella menarik napasnya. Dia melihat alat testpack yang ada di tangannya. Segera membuka alat itu dan mencelupkannya ke dalam air seni yang sudah dia tampung pada tempatnya. Perlahan air seni itu naik dan mulai menunjukkan garis-garis merahnya.
Graciella langsung menutup mulutnya melihat garis yang mulai tampak menebal di antara garis merah yang memang sebagai garis kontrolnya, sehingga menunjukkan dua garis merah. Walaupun samar, tapi bagaimana pun itu tandanya dia sedang hamil. Graciella menelan ludahnya. Bagaimana bisa begini cepat dia hamil? Bukannya saat itu dia tidak sedang subur? Bagaimana bisa begini? kenapa dia harus jadi panik sekarang?
Graciella segera mengambil testpack dengan merek lain yang memang dibeli oleh Serin. Serin memang membelikannya tiga buah testpack dengan merek yang berbeda. Mungkin dia tahu bahwa Graciella mungkin membutuhkan lebih dari satu testpack.
Graciella langsung melakukan langkah yang sama. Matanya kembali membesar tatkala testpack yang kedua malah menunjukkan garis yang semakin tebal dari yang pertama. Masih juga tidak percaya. Graciella langsung mengambil testpack yang ke tiga dan hasilnya sama saja, malah testpack ini lebih jelas karena memunculkan kata-kata ‘pregnant’. Graciella langsung terdiam. Dia bingung harus bagaimana? seharusnya dia senang, bukan? Tapi karena terlalu kaget dan tak menyangka, dia jadi bingung sendiri.
Saat kebingungan itu tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Graciella hampir terpekik gara-gara kaget mendengar nada dering ponselnya sendiri. Dia langsung menutup kembali Testpack yang terakhir, lalu memasukkannya ke dalam pembungkusnya dan segera menyelipkannya ke dalam tasnya. Graciella juga langsung mencuci tangannya dan mengambil ponselnya sebelum ponsel itu berhenti berdering. Di layarnya tertulis nama Stevan.
“Halo?” tanya Graciella langsung.
“Graciella? Kau ada di mana? Tim ku sudah mendapatkan fotonya dan juga bawahanku sudah menemukan tempat penyewaan yang sepetinya memenuhi kriteria itu,” lapor Stevan.
“Benarkah? Oh, ya, baiklah. Aku akan segera ke sana. Sebentar lagi aku akan keluar dari toilet,” ujar Graciella.
“Baiklah, kami akan menunggu di depan.”
“Ya,” ujar Graciella yang langsung segera mematikan panggilan itu. Dia menatap ke arah ponselnya. Apakah dia harus mengatakan pada Xavier sekarang? Baru saja dia ingin menekan nama suaminya di ponsel itu dia baru ingat bahwa Xavier sedang ada rapat penting. Mungkin lebih baik jika dia mengatakannya secara langsung.
Graciella segera menyambar tasnya dan keluar dari toilet itu. Dia langsung berjalan keluar dan melihat Serin yang tampak menunggunya.
“Serin, ayo,” kata Graciella yang segera berjalan ke arah luar.
“Baik, Nyonya,” ujar Serin yang mengikuti Graciella dengan patuh.
“Maaf menunggu lama. Tidak apa-apa kan jika Serin ikut dengan kita?” tanya Graciella pada Daren dan Stevan yang sudah menunggunya. Stevan bahkan sudah membukakan pintu sejak melihat Graciella berjalan ke arah mereka.
“Baiklah, lebih baik kita cepat masuk, Waktu adalah emas,” ujar Daren yang segera masuk ke kursi pengemudi. Stevan langsung duduk di sampingnya sedangkan Graciella dan juga Serin duduk di kursi belakang.
Graciella tampak diam memikirkan tentang kehamilannya. Apakah dia harus mengatakannya dulu pada Xavier ataukah dia harus memeriksakannya dahulu ke dokter baru mengatakannya pada Xavier. Dia hanya takut bahwa jika dia mengatakannya dan ternyata alat testpack itu salah. Tapi tidak mungkin ketiga alat testpack itu salah, bukan?
“Graciella? Ada apa?” tanya Stevan yang melihat Graciella tampak termenung.
“Oh, tidak apa-apa. Aku hanya berpikir kemungkinan siapa yang melakukan hal ini.” Ujar Graciella lagi menggigit bibirnya. Tak mungkin mengatakan bahwa dia sedang memikirkan tentang kehamilannya.
“Baiklah, kalau ingin beristirahat, beristirahatlah. Ibu hamil harus banyak istirahat,” ujar Stevan lagi melihat wajah Graciella yang sedikit pucat.
“Eh? Dari mana kau tahu aku hamil?” tanya Graciella cukup histeris. Bukannya dia baru saja memeriksanya. Kenapa Stevan sudah tahu dia hamil. Serin yang mendengar itu langsung tampak tersenyum. Daren juga langsung mengintip Graciella dari kaca spion tengah.
“Bukannya nenek Xavier yang mengatakan hal itu kemarin tentang kehamilanmu?” ujar Stevan yang juga kaget karena Graciella tiba-tiba histeris seperti itu. Semua orang sudah tahu bukan dia hamil?
Graciella sedikit membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu tapi diurungkannya. Ternyata Graciella salah sangka. Dia memang belum meluruskan kabar tentang kehamilannya yang dulu diumbar oleh Lilian. Tapi sekarang untuk apa lagi diluruskan. Dia sekarang benar-benar hamil.
“Jadi kali ini benar-benar hamil? Wow! Xavier benar-benar jantan ya, bisa langsung positif seperti itu," ujar Daren langsung senyum-senyum .
“Selamat Nyonya,” ujar Serin menimpali. Tentu semua itu langsung membuat wajah Graciella menjadi merah. Gara-gara salah sangka dia menjadi membongkar kehamilannya. Padahal Xavier sendiri belum tahu tentang itu. Hal itu membuat Stevan mengerutkan dahinya. Bukannya Daren tahu Graciella memang sudah hamil. Kenapa keadaannya menjadi membingungkan?
“Apakah Xavier sudah tahu?” tanya Daren melirik Graciella kembali.
“Belum,” ujar Graceilla sambil menggeleng.
“Haha, baiklah. Dia pasti sangat senang mengetahui kehamilanmu. Selamat ya,” ujar Daren lagi.
“Ya, Kak.” Graciella hanya mengangguk pelan dengan senyumannya. Dia menggigit bibirnya kecil. Mencoba untuk membayangkan dan juga menebak bagaimana nanti reaksi dari Xavier saat mengetahui kehamilannya.
...****************...
Tak lama mobil mereka sampai ke sebuah tempat penyewaan mobil. Graciella segera turun dan melihat logo dari tempat penyewaan itu. Sebuah logo lingkaran merah dengan huruf R yang ada di dalamnya. Graciella melihat ke arah foto yang diprint dari kantor Daren. Menunjukkan kemiripan hampir 80% karena walaupun sudah diperbaiki, gambarnya masih pecah.
“Graciella, ayo,” ujar Stevan yang langsung mengajak Graciella untuk masuk ke dalam. Graciella mengangguk patuh, dia segera masuk diikuti oleh Serin yang ada di belakangnya.
“Komandan,” bawahan Stevan langsung menyapanya ketika dia masuk ke dalam tempat penyewaan itu. Tentu saja ini hal yang luar biasa. Seorang Jenderal turun langsung untuk melakukan penyelidikan pada kasus seperti ini. Biasanya jika pun dia tertarik dengan sebuah kasus, para jenderal hanya menunggu laporan-laporan para bawahannya.
“Sudah mendapatkan mobilnya?” tanya Stevan segera. Tentu saja berbeda sekali sikap dan nada bicaranya ketika dia berbicara dengan bawahannya.