
"Tapi dengan satu syarat!"
Robert mengerutkan dahinya, menatap dalam ke arah cucunya, "Apa?"
"Aku tidak ingin kakek bertindak menyakiti dia. Hanya aku yang boleh melakukannya!"
Robert menatap ke arah Adrean dengan senyuman sinisnya. "Kau benar-benar sudah jatuh hati pada wanita itu?"
"Aku hanya minta itu. Berjanjilah jangan melakukan apapun padanya," ujar Adrean dengan wajah serius.
Robert menaikan sisi bibirnya, menunjukkan sebuah senyuman remehnya. "Selama dia tidak melakukan apapun yang mengusik diriku. Aku tidak akan melakukan apapun padanya. Kau tenang saja," ujar Robert lagi berdiri dan segera berjalan meninggalkan Adrean.
Adrean memipihkan bibirnya dan dia memukul udara dengan tangannya yang terkepal. Benar-benar kesal dengan yang terjadi.
Dia tak menyangka akhirnya dia harus menceraikan Graciella! dia sungguh tak ingin melakukannya! Greciella seharusnya hanya menjadi miliknya. Lagi pula, yang boleh menyakiti Graciella hanya dia. Dia benar-benar khawatir jika tanpanya. Orang-orang itu akan mencelakakannya. Tapi dia cukup lega kakeknya sudah mengatakan hal itu. Kakeknya memang menakutkan tapi dia selalu tepat janji. Setidaknya untuk saat ini dia tak akan menyakiti Graciella. Tapi, kenapa Andrean sekarang harus merasa khawatir? bukannya seharusnya dia tak perlu merasa begitu?
...****************...
"Nona Graciella! sepertinya Anda harus pergi ke kantor catatan pernikahan pagi ini!" ujar Stevan pada Graciella yang sedang menyuapi Moira. Keadaan Moira jauh lebih baik. Sepertinya memang tak ada masalah pada Moira.
"Kenapa?" tanya Graciella mengerutkan dahinya.
"Adrean Han sudah setuju untuk bercerai denganmu. Agar perceraian ini berjalan dengan cepat. Lebih baik kau juga datang ke sana." Stevan tersenyum, matanya cepat berpindah pada Moira yang hanya menatapnya dengan matanya yang bening dan indah itu.
"Benarkah?" Graciella benar-benar tak percaya. Bagaimana bisa Adrean diyakinkan untuk menceraikannya, bahkan dia sendiri yang datang ke kantor catatan pernikahan untuk mengajukan perceraian. Apa ini mimpi? semudah itu kah?
"Ya. Aku akan meminta ajudanku untuk mengantarmu karena aku punya tugas lain yaitu mengantar calon penggantimu, calon istri Adrean Han,” ujar Stevan dengan gayanya yang terkesan cuek.
Mendengar itu Graciella langsung mengerutkan dahinya. “Calon istri Adrean?” tanya Graciella yang sedikit kaget. Itukah alasanya kenapa Adrean setuju menceraikannya sekarang? Dia sudah punya pengganti Graciella.
“Ya, namanya Sarah Wu. Nona Graciella?” Stevan memandang Graciella dengan tatapanya yang sedikit curiga.
“Ya?” tanya Graciella bingung melihat tatapan dan ekspresi berlebihan dari Stevan itu.
“Jangan bilang kau malah cemburu karena Adrean Han ingin menikah lagi,” ulik Stevan tetap memberikan tatapan bertanya dan curiganya.
“Tidak. Aku akan segera bersiap setelah selesai menyuapi Moira,” ujar Graciella dengan senyuman manisnya.
Stevan menganalisa senyuman itu. Itu bukan senyuman menyamarkan sesuatu, lebih ke arah senyuman yang lega. “Baguslah, walaupun aku tidak mengantarmu, aku juga sudah menyiapkan penjagaan setarap menjaga presiden.”
Graciella sedikit tertawa kecil dengan wajah tak percaya, “Bukankah itu sedikit berlebihan?” tak tahu apakah Stevan hanya bercanda atau serius. Terlalu susah ditebak.
“Tentu harus, kau sudah mengalami masalah serius dua kali. Aku rasa Moira tidak perlu ikut ke sana. Biar saja dia di sini. Aku akan meminta kepala pelayanku untuk memperhatikan Moira, tak perlu takut penjagaan di sini juga tak kalah ketatnya. Akan sangat berbahaya jika kau dan Moira ada di tempat yang sama dan waktu yang sama. Aku yakin orang yang ingin mencelakakanmu akan sangat senang melihat hal itu,” ujar Stevan lagi.
Graciella memasang wajah berpikirnya. Dia sampai saat ini tak punya gambaran siapa yang ingin mencelakakan dirinya dan Moira. Sejauh ini orang yang paling kejam baginya hanyalah Adrean.
Tapi dilihat dari gelagatnya akhir-akhir ini sepertinya Adrean sangat kecil kemungkinannya untuk melakukan itu, apalagi dia ingin Graciella dan Moira tewas. Dia kenal Adrean, dari dulu dia memohon pada Adrean untuk membiarkan dia mati saja tapi Adrean tak pernah mengizinkannya. Kenapa sekarang dia ingin membunuh Graciella dan Moira? Tapi bukannya pria itu juga berubah sifatnya sekarang, bahkan secara mengejutkan melayangkan gugatan perceraian.
“Ada apa Nona Graceilla?” tanya Stevan melihat Graceilla berkutat dengan pikirannya.
“Eh, apa kau tahu siapa yang ingin mencelakakan ku dan Moira?” tanya Graciella lagi. Mungkin Stevan tahu.
“Jika dilihat dari kasus di pusat perbelanjaan. Kami masih hanya mengambil kesimpulan bahwa supirnya mabuk berat hingga kehilangan kontrol dan hampir menabrakmu. Untuk kasus di rumah sakit, hingga sekarang kita belum dapat kepastian karena pria itu sudah tewas saat kami masuk ke dalam ke ruang rawat Moira. Overdosis obat penenang. Tapi dari identitas yang kami dapatkan, dia hanya penjahat biasa yang sering melakukan kejahatan kecil.” Stevan mengungkapkan temuannya. Tapi dia tentu mencurigai bahwa David Qing lah dalang semua ini. Sengaja menyewa seseorang untuk melakukan hal kejam seperti ini. Bagaimana bisa seseorang ingin melenyapkan cucunya sendiri?
“Aku yakin dia hanya digunakan sebagai boneka karena dalang utamanya tidak ingin menunjukkan dirinya,” ujar Graciella lagi.
Dia tahu ada orang yang menyuruh orang itu untuk memasukkan suntikan penenang pada Moira. Graciella menggigil sejenak membayangkan jika saja dia tidak keluar dari kamar mandi itu tepat pada waktunya. Bahkan pria bertubuh besar itu saja bisa meninggal karena dosis tinggi dari obat penenang, apalagi tubuh kecil Moira. Sialnya lagi bisa saja dia tidak tahu bahwa anaknya sudah meninggal karena efek dari obat itu yang melemaskan semua otot sehingga Moira pasti hanya terlihat seperti tidur biasa. Dia akan kehilangan kesempatan untuk menolong anaknya jika itu terjadi.
“Tak usah khawatir, kami akan berusaha sebaik mungkin.” Stevan sejujurnya tak terlalu bisa berharap menangkap dalang utamanya, karena bagaimanapun kekuataan David Qing sangat besar. Salah langkah yang ada malah Stevan yang ditekan dari para atasannya.
“Baiklah,” ujar Graceilla. Dia melihat ke arah Moira yang sedang minum, baru saja menyelesaikan makannya. “Moira, Mama harus pergi sebentar. Moira jangan takut, tinggal dulu di sini bersama dengan penjaga ya. Mama tak akan lama,” ujar Graceilla. Moira dengan patuh mengangguk. Stevan melihat itu tersenyum, Ah! sepintar ayah dan ibunya.
“Ah! Aku harus cepat membebaskan Xavier agar bisa bertemu dengan kalian berdua,” ujar Stevan, hampir saja mengatakan ‘anaknya’.
Graciella mengerutkan dahinya, “Membebaskan? Memangnya Xavier kenapa?” tanya Graceilla. Ada rasa cemas yang seketika menyelimuti. Kenapa harus timbul perasaan seperti ini? tanya Graciella yang dia sendiri tak mengerti.
“Oh, maksudku, Xavier sekarang kan tidak bisa berjalan. Tapi dia sudah sangat ingin bertemu dengan Moira dan dirimu, karena itu aku akan mencari akal untuk bisa membawanya ke sini,” ujar Stevan.
Dia menggigit lidahnya, tak mungkin mengatakan bahwa keadaan Xavier juga tak bagus, ayah dan ibunya membuatnya tak sadarkan diri hanya karena takut merusak rencana untuk melukai Graciella dan anaknya. Kalau sampai dia salah bicara, bisa-bisa terbongkar semua hal yang tidak seharusnya dia bongkar.