
Xavier berjalan pelan dengan tongkat ke arah kamar Graciella dan Moira. Dia mengetuk kamar itu. Tak lama sosok Graciella muncul membuka pintu kamarnya.
"Apa dia masih tidur?" tanya Xavier melirik ke arah dalam kamar. Moira sudah tertidur nyenyak tertutup oleh selimutnya yang tebal. Udara memang cukup dingin akhir-akhir ini.
"Tadi dia bangun sebentar tapi sudah tidur lagi," ujar Greciella. Dia harus menenangkan pikirannya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia memang selalu memikirkan tentang pria yang dulu tidur dengannya. Mungkin karena melihat Moira hingga rasa penasarannya muncul.
"Apa kau lelah hari ini?" tanya Xavier basa basi.
"Tidak, kenapa?"
Xavier memilihkan bibirnya sebentar, "Aku ingin bicara berdua denganmu." Xavier memandang serius Graciella.
Mendapatkan pansangan seperti itu membuat Graciella mengerutkan dahinya. Apa yang ingin dikatakan oleh Xavier? sepertinya sangat serius.
"Baiklah, ingin di mana?" ujar Greciella, tentu tak nyaman berbicara sambil berdiri begini, apalagi keadaan Xavier seperti ini.
"Di ruang tengah saja," ujar Xavier.
Graciella mengangguk, dia perlahan berjalan dan sedikit membantu Xavier agar mereka sampai di ruang tengah lebih cepat.
Xavier menatap manik mata Graciella. Sejujurnya dia ragu dan takut akan penolakan yang mungkin saja akan dilakukan oleh Greciella. Tapi bagaimana pun dia harus melakukannya. Tak mungkin membohongi Greciella selamanya. Lagipula dia tak ingin selamanya dipanggil paman oleh putri kandungnya sendiri. Xavier mengambil tangan Greciella dan digenggamnya erat dan hangat.
"Tiga tahun yang lalu, apa kau ingat tentang pesta di hotel Sangri-La?" tanya Xavier.
Greciella menggigit bibirnya. Dia rasanya tahu apa yang ingin dikatakan oleh Xavier, tapi dia lagi-lagi tak mau menebak. Sejujurnya bukan tak ingin menebak, lebih ke arah tak ingin menerima. Dia tak bisa terima jika benar apa yang sekarang ada di kepalanya.
"Aku juga ada di sana," ujar Xavier.
Greciella menarik napasnya berat. Dia benar-benar tahu arah pembicaraan ini. "Tidak, aku tidak ingin dengar apa yang ingin kau katakan."
"Aku adalah pria yang sudah tidur denganmu dan Aku adalah ayah biologis dari Moira. Stevan sudah melakukan pemeriksaan DNA dan 99% DNA kami sama," Xavier langsung saja mengatakannya agar tak bertele-tele. Semua harus jelas dan seketika dia selesai mengatakannya, sedikit bebannya terangkat.
"Aku tidak ingin mendengar ini! kenapa kau mengatakan padaku?" ujar Graciella yang menggelengkan kepalanya. Baginya kejadian malam itu adalah sumber penderitaannya. Dia benar-benar tak terima Xavier mengatakannya sekarang! kenapa sekarang?
"Tapi aku harus mengatakan sebelum kita menikah," ujar Xavier.
"Kenapa? kenapa baru sekarang kau datang tiba-tiba saja mengatakannya hal ini? oh! aku tahu! kau merasa iba bukan? kau sudah merencanakan semua ini! benarkan? tapi kenapa? kenapa baru sekarang! kau tahu apa yang sudah kau buat padaku selama tiga tahun ini?" ujar Greciella dengan tangis yang pecah.
Sejujurnya dia sudah tahu kemungkinan besar Xavier adalah pria itu. Dari tadi saat dia menidurkan Moira kembali, dia terus memikirkan hal itu dan membuat dirinya gusar. Sekarang Grarciella tahu yang sebenarnya. Graciella hanya ingin tahu kenapa Xavier baru datang dalam hidupnya sekarang? kemana dia sebelumnya? tiga tahun? itu waktu yang lama?
"Dengarkan penjelasanku. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku benar-benar mencarimu, tapi orang tuaku memanipulasi semuanya hingga aku salah bertanggung jawab. Mereka meminta seorang wanita lain untukmu menggantikan mu dan mengatakan bahwa wanita yang aku tiduri adalah seorang wanita tuna susila."
"Grecie ...."
"Tidak! jangan panggil namaku! Aku-- aku-- aku rasa aku ingin menenangkan diriku dulu! lebih baik kita tak berbicara dulu! aku tak ingin bicara denganmu!" ujar Graciella yang langsung meninggalkan Xavier.
"Graciella! tolong dengarkan aku dulu!" Xavier mencoba untuk mengejar Graciella. Tapi karena terburu-buru Xavier malah terjatuh karena kakinya sudah digerakkan. Dia bahkan lupa menggunakan tongkat dan menginjakkan kakinya yang di gips.
"Ahk!" ringis Xavier yang memang merasakan sakit dan linu yang teramat nyeri saat kakinya menginjak lantai.
Graciella langsung melihat ke arah Xavier yang tergeletak meringis menahan sakit. Nyatanya, rasa marah Greciella tak sebesar rasa pedulinya pada pria ini. Dengan cepat Graciella segera kembali pada Xavier.
"Yang mana yang sakit?" Dia tahu kaki Xavier yang sakit tapi karena saking cemasnya dia jadi bertanya hal bodoh itu lagi.
Xavier menatap wajah Graciella dengan sendu. "Maafkan aku," pinta Xavier. Dia tak ingin menjelaskannya panjang lebar. Dia hanya butuh pengampunan dari Graciella.
Graciella menatap Xavier. Melihat wajah yang penuh rasa bersalah dari Xavier. Rasa marahnya menguap begitu saja karena cemas. Sepertinya, rasa sanyangnya pada pria ini mengalahkan rasa bencinya.
"Akan ku bantu kau ke kamar tidur," ujar Graciella. Dia mencoba
membantu Xavier untuk bangkit, kembali memeluk tubuh bidang itu. Perlahan dia berjalan dan membawa Xavier kembali berbaring pada ranjangnya.
"Apa kakimu masih sakit? aku akan ambilkan obat penghilang rasa nyerinya," ujar Graciella lagi-lagi ditahan oleh Xavier dengan cara menggenggam pergelangan tangang Greciella.
"Graciella, maafkan aku. Aku tahu aku sudah merusak kehidupan mu selama tiga tahun ini. Aku tahu kau begitu menderita. Tapi aku akan berusaha sebisa mungkin untuk melakukan yang terbaik untukmu dan Moira. Aku tahu aku tak akan lernah bisa menebus kesalahanku, tapi berilah aku kesempatan. Aku ingin melindungi kalian berdua." pelan Xavier mencoba menarik Graciella agar duduk kembali di tepian ranjang di dekatnya.
Graciella memandang wajah pria yang tatapannya penuh perasaan. Graciella menarik napasnya. "Jika hanya karena iba dan merasa bersalah lebih baik tidak perlu melakukan hal itu. Aku tidak akan ingin berdekatan dengan orang yang kasihan padaku."
"Bagaimana jika aku benar-benar jatuh cinta padamu?"
Graciella terdiam.
"Awalnya mungkin semua hanya karena rasa tanggung jawab, tapi sekarang aku yakin aku benar-benar jatuh cinta padamu."
Greciella masih diam tak tahu harus berkata apa. Sepertinya dia juga meraskan hal yang sama tapi dia tak bisa mengatakan hal itu sekarang.
"Greciella, apa kau masih ragu? kalau iya maka menikahlah denganku," pinta Xavier lagi yang membuat mata Graciella sedikit membesar.
"Menikah bukan lelucon, itu juga bukan sebuah permainan tapi untuk selamanya. Aku pernah gagal sekali, dan tak ingin bernasib sama lagi."
"Aku tahu, terutama untuk seorang prajurit. Seorang prajurit hanya boleh menikah sekali dan tidak boleh bercerai kecuali tuntutan dari pihak istrinya. Jadi aku pastikan, aku tidak main-main untuk mengajak mu menikah. Graciella, maukah kau menikah denganku?"