
Graciella menatap ke arah lautan luas saat mereka sampai di restoran itu. Sebuah restoran kecil dengan konsep outdoor di atas tebing. Lengkap dengan lilin yang menyuguhkan pemandangan seluruh kota Manarola.
Pemandangan malam kota Manarola tak kalah indahnya. Lampu-lampu kuning memperkuat warna-warna gedung-gedung di sana. Graciella benar-benar menikmati pemandangannya.
Xavier lebih menikmati pemandangannya sekarang. Yang dia tatap dari tadi adalah wajah istrinya yang tampak menikmati keadaan sekitarnya. Sesekali menatap ke mana istrinya melihat. Puas bisa melihat wajah istrinya tampak begitu bahagia dengan apa yang dia lakukan. Tak salah dia membawanya ke kota ini.
“Jangan terus melihatku seperti itu. Kau membuatku semakin gugup,” ujar Graciella.
“Aku hanya menikmati pemandangan dan membuatnya menjadi kenangan. Mungkin setelah ini akan susah untuk berlibur jauh seperti ini," ujar Xavier. Pekerjaannya yang melarangnya.
Graciella tersenyum mengerti. Tentu saja, sebagai prajurit memiliki waktu begini saja sudah sangat baik.
"Cinque Terre artinya lima desa. Tempat ini salah satu desa yang paling terkenal. Semua punya keunikan dan juga keindahannya masing-masing. Besok, kita akan menyusurinya jika kita masih punya waktu," ujar Xavier bertepatan dengan makanan yang dibawakan oleh para pelayan. Makanan khas Italia.
"Baiklah."
"Ayo, kita makan," ajak Xavier.
Graciella mengangguk. Mereka menikmati semilir malam angin pantai dengan pemandangan indah kota Manarola pada saat malam yang seolah menjadi penerang untuk laut Mediterania yang kelam. Ditemani alunan violin lembut, semuanya membentuk kenangan indah yang tak akan terlupakan.
***
Graciella berjalan dengan perlahan keluar dari kamar mandi itu. Mau tak mau dia menggunakan pakaian tidur yang diberikan oleh mertuanya. Graciella benar-benar tidak habis pikir. Ibu mertuanya benar-benar hanya membawakan gaun, bikini dan baju tidur yang menerawang seperti ini.
Tidak mungkin dia tidur dengan gaun malam, apalagi bikini? Jadi mau tak mau dia harus menggunakan baju tidur ini. Dari semua baju tidur, untunglah ada satu baju tidur yang tidak terlalu terbuka walaupun pakaian itu terlihat cukup mengekspose tubuhnya. Bagian-bagian tubuhnya tampak menerawang indah kontras dengan kulit putihnya yang mulus tapi setidaknya tubuhnya cukup tertutupi. Graciella menggigit bibirnya. Memberanikan diri untuk lebih jauh melangkah ke arah tempat tidur.
Graciella akhirnya melihat ke arah Xavier yang tampak sudah merebahkan tubuhnya. Tentu saja terasa bergitu lelah walaupun hari ini begitu indah. Graciella berjalan perlahan dengan lingerie berbahan menerawang tali satu dengan renda-renda yang menghiasi tertutup sedikit dengan kimono dengan warna senada. Graciella segera duduk di sisi ranjang.
Hal itu membuat ranjang bergerak sehingga Xavier langsung membuka matanya. Matanya yang tadinya tampak sedikit dia buka langsung cemerlang melihat pemandangan di depannya. Walau hanya melihat punggung istrinya, tapi itu sudah cukup membuatnya langsung bertenaga.
“Kenapa melihat begitu? Bukannya kamu ingin tidur?” tanya Graciella.
Xavier hanya menggeleng sambil tertawa. “Kalau begini bagaimana aku bisa tidur?”
“Jadi?” tanya Graciella.
“Ayo lakukan sekali lagi,” ujar Xavier merasa itu adalah godaan dari Graciella langsung menerkam tubuh istrinya yang langsung membuat Graciella langsung tertawa. Dan akhirnya melakukannya seperti yang mereka lakukan yang seharusnya mereka lakukan.
***
"Selamat pagi," ujar Graciella mengelus dada bidang suaminya. Akhirnya pakaian itu tak lama tersangkut di tubuh Graciella. Akhirnya dia tertidur dengan tubuh polos berbalut selimut putih dalam dekapan suaminya.
"Selamat pagi," ujar Xavier yang masih sedikit susah membuka matanya. Dia orang yang jarang sekali terbangun begitu siangnya. Biasanya dia selalu bangun sebelum matahari bersinar. Tapi mungkin terlalu kelelahan dengan apa yang lakukan tadi malam hingga membuatnya membuka mata saat matahari bahkan sudah begitu tinggi di angkasa. Xavier mencium dahi Graciella dengan sangat lembut.
"Aku sedang malas untuk keluar dari ranjang ini," ujar Graciella manja. Dia memang sedikit malas untuk beranjak dari kehangatan ini. Lagi pula pergumulan mereka kemarin menyisakan rasa lelah yang masih belum terbayarkan.
Tak lama terdengar suara bel pintu. Xavier langsung sigap untuk keluar dari ranjang itu. Segera menggunakan pakaiannya dan membukakan pintu. Dia sendiri yang mendorong troli makanan itu ke sisi ranjang. Graciella melihat itu mengulas senyumannya.
"Ini minumlah dulu," ujar Xavier membukakan air mineral dan menyerahkannya pada Graciella yang duduk bersandar dengan kepala ranjang mereka. Menutupi tubuhnya yang masih polos dengan selimut putihnya.
"Terima kasih," ujar Graciella yang langsung meminum minumannya. Dia segera meletakkannya ke nakas di sebelah tempat tidur mereka.
"Buka mulut," ujar Xavier. Bukan seperti meminta lebih tepatnya memerintah.
"Kamu juga harus makan bukan? aku masih bisa makan sendiri kok," ujar Graciella.
Xavier hanya mengerutkan dahinya. "Buka saja."
Graciella mau tak mau membuka mulutnya. Xavier menyuapinya dengan sarapan ala eropa. Graciella mengunyahnya dan merasakan rasa gurih yang meledak di dalam mulutnya.
"Ehm, apa ini?" tanya Graciella melihat makanan seperti kue yang ada di piring putih besar.
"Rustico, itu yang dikatakan olehnya tadi," ujar Xavier kembali menyuapi Graciella.
"Makanlah bersama. Aneh sekali jika aku saja yang makan," ujar Graciella memandang suaminya.
"Aku sedang membiasakan diri. Saat kau nantinya hamil, melahirkan, sakit dan tua. Aku ingin menjadi orang yang menyuapimu seperti ini," ujar Xavier memandang serius pada Graceilla yang membuat Graciella tentu tidak berkutik.
Graceilla mengerutkan dahinya. Bingung dengan sifat Xavier sebenarnya. Dingin tapi juga punya sisi yang begitu hangat. Kata-katanya sering terdengar sangat gombal, tapi juga terasa benar-benar serius dalam waktu bersamaan. Graciella jadi bingung harus bagaimana. Sepertinya dia hanya harus bersyukur memiliki suami seperti Xavier. Walau hanya baru mengatakan kata cinta sekali selama hubungan mereka terjalin. Tapi perilakunya benar-benar melebihi kata cinta itu sendiri. Jika apa yang dikatakan oleh Xavier benar adanya, maka hidupnya akan menjadi seperti ratu.
"Ayo," ujar Xavier yang kembali menyuapi Graciella yang hanya memandang Xavier dengan begitu terharu. Tapi Xavier seolah tidak peka dengan tatapan itu. Dia malah tetap menyuapi istrinya itu dengan serius.
"Suami ...."
"Ya?"
"Nanti jika umurku 80 tahun dan aku sudah tidak secantik ini, kamu jangan berubah ya."
"Aku pasti berubah."
"Kenapa berubah?" tanya Graciella.
"Berubah jadi tua," ujar Xavier dengan serius yang langsung mengundang tawa renyah Graciella.
"Kamu mau mencoba untuk melucu juga ya?" ujar Graciella. Merasa humor suaminya sangat garing.
Xavier hanya tersenyum sedikit. Senang bisa membuat istrinya tertawa begitu girang pagi-pagi begini.