
"Adrean! Apa kau tahu wanita yang kemarin kau berikan padaku, dia bersama seorang pria! Dia bahkan berani memukuli penjagaku! Kau tahu itu?” lapor pria tambun itu berbicara dengan Adrean melalui telepon.
Adrean yang duduk di ruang kerja yang ada di rumah kakeknya hanya memasang wajah datarnya cenderung ke arah menahan marah. “Ya aku tahu.”
“Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu? Bukannya kau katakan bahwa wanita itu adalah wanitamu? Lalu bagaimana dia bisa bersama dengan pria itu?” tanya pria tambun itu lagi.
“Anda tidak perlu tahu tentang itu. Terima kasih informasinya.”
“Hei! Adrean! Hei!” suara pria tambun itu masih terdengar sebelum akhirnya Adrean mematikan panggilan telepon itu.
Dia meremas ponselnya dengan keras. Graciella nyatanya mulai terang-terangan keluar bersama Xavier. Ini sama saja Graciella sudah mencoreng namanya. Adrean pastinya ingin sekali mencari wanita itu secepatnya. Tapi dia tahu ada sesuatu yang lebih penting yang harus dia lakukan.
Adrean segera berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan keluar dari ruang kerja di rumah keluarganya.
“Adrean!” suara Robert terdengar menghentikan langkah Adrean yang sedang melewati ruang keluarga. Adrean langsung melihat ke arah ruang keluarga. Melihat Robert sedang duduk dengan asap cerutunya yang mengebul bagaikan awan melayang-layang di udara sekitarnya. “Kemari!”
Adrean mau tak mau mengikutinya. Adrean segera memberikan salam pada kakeknya. Robert memandang Adrean dari atas hingga bawah. “Duduk!” perintah Robert yang tak bisa ditolak sama sekali oleh Adrean.
“Ada apa kakek?” tanya Adrean.
“Di mana istrimu itu?” tanya Robert dengan nada datar.
“Dia sedang punya pekerjaan. Dia seorang dokter. Tidak bisa meninggalkan pekerjaannya," alasan Adrean.
Robert tampak manggut-manggut sambil mematikan cerutunya. Menekan apinya hingga mati di asbak kristal miliknya.
“Benarkah? Aku dengar cerita bahwa dia dan Xavier punya hubungan, apakah benar?” Robert menyipitkan matanya melihat cucunya itu.
“Itu hanya rumor. Dia dan Xavier memang saling kenal. Graciella membantu Xavier dalam sebuah misi penyelamatan hingga mereka saling kenal. Selebihnya tidak benar,” kata Adrean. Dia mendapatkan informasi itu dari informannya.
“Kau yakin. Devina sangat kesal melihat wanitamu itu. Kau harus menjaganya.”
“Baik kakek!” kata Adrean. Robert kembali manggut-manggut dan memberikan gestur bahwa Adrean sudah boleh pergi. Adrean melihat itu menganggukan kepalanya. Dia berdiri dan segera berjalan. Namun langkahnya segera berhenti ketika Robert mengatakan sesuatu.
“Xavier adalah calon menantu yang sangat potensial. Walaupun aku tidak menyangka dia bisa mengatakan hal itu di depanku. Itu tanda dia benar-benar punya keberanian. Adrean! Aku lebih baik kehilangan menantu yang tidak pernah aku kenal sama sekali, dari pada kehilangan menantu yang potensial. Apa kau masih bisa mengurus istrimu itu?” tanya Robert lagi dengan suaranya yang menggema di seluruh ruangan.
Adrean mengepalkan tangannya. Wajahnya tampak kesal. Semua ini akibat kebodohan Graciella! Bagaimana bisa dia bermain api? “Pasti! Aku akan mengurus semuanya!” suara Adrean tampak begitu menyakinkan.
“Baiklah! aku akan percaya itu. Tapi jika kau tidak mengatasinya. Aku dan David mungkin akan bertindak.” ujar Robert.
“Baguslah, bergegaslah, pertuangan ini harus dilaksanakan akhir bulan ini.”
Adrean menekan gigi-giginya. Dia mengangguk mengerti dan segera melangkah dengan tegas keluar dari ruangan itu dengan mata memerah dan juga amarah yang memuncak.
*******
“Ini sup kepitingmu,” ujar Xavier menaruhkan semangkuk sup jagung yang sudah dihangatkan ke dekat Graciella. Laura yang sudah ada di sana hanya diam melihat perlakuan hangat yang ditunjukkan oleh Xavier. Dia merasa iri.
“Punya ku mana?” tanya Laura menuntut Xavier. Kan ada dua wanita di sini. Kenapa hanya Graciella saja yang diberikan sup jangungnya. Laurakan ingin juga diberikan sup jagung seperti itu. Graciella melirik tajam ke arah temannya yang bertampang acuh.
“Maaf.” Xavier tampak datar mengatakannya. “Tapi aku harus menghargai Graciella,” ujar Xavier yang membuat Graciella hampir tersedak. Dia tidak pernah melarang Xavier jika dia ingin memperlakukan wanita lain sama seperti memperlakukan dirinya. Xavier dengan tanggap mengambil tisu lalu menyerahkannya pada Graciella.
“Kau posesif sekali, Nona pencemburu. Jadi sekarang kalian sudah resmi pacaran?” tanya Laura yang mau tak mau mengambil sendiri sup jagungnya. Ah! Terkadang hidup ini tak adil. Laura yang punya mimpi dicintai pria sedingin Xavier. Yang dapat malah sahabatnya sendiri. Tapi kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa Graciella menarik hati pria-pria tampan. Adrean -- walau hatinya bagaikan iblis-- tapi punya tampang bak malaikat. Xavier, ah! Tak perlu dijelaskan lagi bagaimana tampannya dia. Dengan lirikannya saja, Laura pasti pingsan.
Graciella langsung melotot mendengar pertanyaan Laura. Xavier hanya diam saja. Tak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan Laura. Laura hanya bertampang cemberut. Kalau tak boleh tahu ya sudah.
“Xavier?” ujar Laura lagi di sela makannya.
“Hmm?” hanya itu yang keluar dari mulutnya.
“Apa kau tidak punya saudara atau kakak yang sifatnya mirip denganmu?” ujar Laura penasaran. Siapa tahu Xavier punya saudara yang mirip sifatnya dengannya. Kalau fisik tak perlu ditanyakan, dilihat sekilas saja Xavier pastilah dari keluarga dengan bibit unggul. Semua pasti tampan dan juga cantik.
“Tiga generasi kami hanya memiliki anak tunggal, jadi aku tidak punya banyak saudara langsung,” jelas Xavier.
“Yah! Padahal aku baru saja ingin dikenalkan,” ujar Laura kecewa. Dia berharap Xavier akan bertanya kenapa sehingga dia akan menjelaskan bahwa dia sangat menyukai pria seperti Xavier. Nyatanya pria itu diam saja. Tak penasarankah?
“Selamat siang!” suara Stevan menggema di ruangan makan itu. Semua mata yang tadinya sedang fokus untuk makan mengarah padanya. Mata Laura seketika cemerlang melihat pria dengan wajah tampan itu berdiri, dia menggunakan seragam polisinya yang membuatnya gagah. Ini siapa? Apakah ini jawaban dari pertanyaannya tadi. Pria dengan seragam dan pembawaan dingin. Inikah dia jodoh Laura?
“Mari, makan,” ajak Xavier tanpa memberikan penyambutan pada Stevan.
“Nona Graciella! Kau tahu analisamu sangat bagus. Tuan Don dan istrinya tidak lagi bisa mengelak. Kita tinggal tunggu motif dan juga alasan kenapa dia membunuh wanita itu. Kau tahu! Aku sangat merindukanmu. Kenapa kau pergi tanpa mengatakan perpisahan padaku? Aku kan jadi kalang kabut mencarimu,” cerocos Stevan seperti biasaya. Xavier sampai harus sedikit menyiku Stevan agar pria ini diam.
Laura ternganga. Hancur sudah bayangannya tentang pria tampan berseragam polisi yang misterius, cuek dan dingin. Pria ini! Jauh dari bayangannya.
Stevan melirik ke arah Laura yang baru dia sadari ada. Melihat wajah Laura yang ternganga melihatnya, Stevan melancarkan tebar pesonannya. “Wah, aku baru tahu ada wanita cantik lagi di sini. Nona, kenapa hingga terperanjat begitu? Apa aku terlalu tampan untukmu?” tanya Stevan yang benar-benar membuat Laura ilfeel. Laura menutup mulutnya dan segera mengambil minumannya. Ah! Tampan boleh sama, saragam pun boleh sama, tapi sifat … Kenapa Xavier harus bertemu dengan Graciella duluan? pekik Laura dalam hati.