Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 209. Kau hamil?


“Ada apa?” tanya Xavier yang segera membantu Graciella memakaikan sabuk pengamannya.


“Ehm, memangnya kenapa?” tanya Graciella bingung dengan pertanyaan suaminya.


“Kau tampak begitu bahagia,” tanya Graciella lagi sebelum menjalankan mobilnya.


“Tentu. Aku sudah mendapatkan petunjuk dari pembunuhan itu, jadi aku merasa cukup bahagia,” kata Graciella dengan senyumannya yang mengembang. Dia ingin mengatakan bahwa dia sedang hamil sekarang, tapi kenapa dia pikir lebih baik untuk membicarakannya nanti.


“Bagus sekali,” ujar Xavier yang hanya mengangkat sudut bibirnya sambil melihat jalanan yang cukup ramai siang itu. “Maaf, aku tidak bisa membantu di sana. Masih banyak pekerjaan yang harus aku tuntaskan karena libur kemarin.”


“Tidak masalah.”


“Lalu sekarang ingin makan apa?” tanya Xavier lagi melihat ke arah Graciella sekilas, terlalu menyukai senyuman  yang tak hilang dari bibir Graciella.


“Tadinya aku ingin makan hidangan laut, tapi aku rasa aku harus menunggunya dulu,” jawab Graciella.


“Kenapa harus menunggunya? Jika mau kita bisa pergi sekarang.”


“Karena tidak akan baik jika aku memakannya sekarang," kata Graciella sambil memegang perut bawahnya. Memakan hidangan seafood sedikit berbahaya untuk ibu hamil, terutama jika yang banyak mengandung merkuri jadi sepertinya dia harus menunda makanan kesukaannya itu. "Ehm,  apakah nanti kau punya waktu menemaniku pergi ke rumah sakit?” tanya Graciella tiba-tiba.


Xavier langsung mengerutkan dahinya apa lagi dia melihat Graciella memegangi perutnya. Apakah Graciella sedang punya masalah pencernaan? apakah perutnya sakit? tiba-tiba saja rasa khawatirnya langsung naik.  Xavier  segera menepikan mobilnya. Xavier ingin bertanya tentang keadaan Graciella, jadi lebih baik untuk menghentikan kendaraannya.


“Eh, kenapa berhenti?” tanya Graciella kaget kenapa tiba-tiba saja Xavier menepi. Bahkan mereka sempat ditegur oleh pengendara lain karena Xavier langsung membawa kendaraan mereka ke sisi jalan.


Xavier melihat ke arah Graciella dengan wajah yang menganalisa keadaan Graciella. Mendapatkan tatapan itu membuat Graciella mengerutkan dahinya.


“Kenapa?” tanya Graciella semakin bingung.


“Apa kau sakit? Kenapa tidak mengatakannya dari tadi? Kita pergi ke rumah sakit sekarang saja,” ujar Xavier yang siap-siap memindahkan gigi mobilnya untuk segera memutar mobilnya ke seberang jalan agar bisa segera ke rumah sakit. Graciella baru sadar. Saat Xavier memandanginya dia sedang memutar otaknya untuk mencari rumah sakit terdekat.


“Eh! Tidak, tidak! jangan pergi dulu!” ujar Graciella gelagapan. Apalagi mereka akan memotong jalanan hanya untuk berputar. Xavier yang mendengar itu kembali menekan rem kendaraannya. Dia memandang dengan kerutan wajahnya. “Aku tidak sakit,” sambung Graciella.


“Lalu untuk apa ke rumah sakit?” tanya Xavier lagi dengan bingung.


“Eh?  karen ini,” ujar Graciella segera mengambil testpack yang ada di tasnya sebelum Xavier bertindak dengan tiba-tiba lagi. Graciella segera memberikan testpack itu pada Xavier yang menyambutnya dengan wajah semakin bingung.


“Apa ini?” tanya Xavier yang melihat benda yang asing baginya. Dia memutar-mutar benda yang bentuknya seperti pena itu. Dia lalu melihat layar kecil di bagian tengahnya. Melihat dengan seksama dan menemukan kata-kata yang tertulis di sana. “Pregnant?”


Xavier langsung melihat ke arah Graciella yang langsung mengulum senyumnya melihat wajah kaget Xavier yang menurutnya sangat jarang dia lihat. Pria ini bukan tipe orang yang mudah dikejutkan. Tapi kali ini Graciella bisa menangkap mata Xavier yang perlahan membesar.


“Apa kau hamil?” tanya Xavier masih tidak percaya. Dia kembali melihat tulisan itu. Jangan-jangan dia salah baca. Xavier langsung melihat ke arah Graciella yang segera menganggukkan kepalanya.


"Kali benar-benar hamil?" tanya Xavier lagi memastikan. Terakhir kali dia kecewa karena ternyata kehamilan Graciella hanyalah sebuah kesalahpahaman. Padahal dia sudah menaruh harap, walaupun Graciella tak pernah mengiyakan kehamilannya sebelumnya.


"Iya, kali ini aku benar-benar hamil," ujar Graciella yang begitu senang melihat wajah bahagia yang dipancarkan oleh Xavier. Bahkan dia sedikit terharu. Ternyata begini rasanya mengabarkan kehamilan dan disambut dengan wajah penuh kebahagian.


“Graciella ….” Ujar Xavier yang langsung menarik tubuh istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya, mengelus rambut Graciella dengan begitu lembut dan hangat. “Terima kasih, terima kasih, terima kasih sudah memberikanku kabar terbaik ini.”


Xavier memeluk Graciella dengan sangat erat. Dia memang sangat mengharapkan memiliki anak dengan Graciella. Walaupun dia dan Graciella sebelumnya sudah anak tapi mereka tidak pernah menjadi orang tua seutuhnya. Dia benar-benar ingin menjaga Graciella mulai dari awal kehamilannya hingga nantinya membesarkan anak-anak mereka. Ini adalah pengalaman pertama kalinya dia akan menjadi benar-benar seorang ayah. Sekarang, hidupnya terasa hampir sempurna. Kebahagiannya memang hanya pada Graciella.


Graciella menerima pelukan hangat suaminya. Usapan lembut dan ucapan terima kasih itu entah kenapa membuatnya rasa haru langsung menyerebak dalam relung hatinya, seolah begitu dihargai dan disayangi. Hal ini langsung saja membuat air matanya memenuhi ruang di matanya, bukannya seharusnya dia tidak menangis sekarang? Mungkin karena hal ini benar-benar bertolak belakang dengan saat dia mengandung pertama kali. Graciella jadi larut dengan kebahagiaan yang begitu menyesakkan dadanya.


Merasakan isakan tangis dan juga tubuh istrinya yang gemetar. Xavier perlahan melepaskan tubuh istirnya. Dia memandang wajah Graciella yang sudah penuh air mata dan memerah. Graciella langsung menghapus air matanya tapi senyuman masih menyungging di bibirnya.


“Kenapa menangis?” tanya Xavier yang melihat Graciella benar-benar tersedu.


“Aku hanya merasa begitu bahagia. Dulu aku sangat takut, tapi sekarang aku merasa begitu senang diperlakukan seperti ini,” ujar Graciella. Begini ternyata rasanya memiliki orang yang melindungi dan menyayanginya. Rasa yang benar-benar sudah dia lupakan semenjak kematian ayahnya saat dia kecil.


Xavier yang merasa tersentuh segera mencium bibir istrinya. Hal itu yang berhasil membuat istrinya langsung terdiam dan menghentikan tangisnya. Xavier hanya sejenak mencium Graciella dan perlahan melepaskannya, menatap mata istrinya yang basah.


“Jangan takut. Sekarang aku ada di sini.” Xavier mengusap air mata yang jatuh ke pipi putih istrinya dengan jari jemarinya dengan lembut. “Aku janji, apa pun yang terjadi, aku akan melindungimu dan juga anak-anak kita. Graciella aku benar-benar bahagia. Terima kasih,” ujar Xavier dengan wajahnya yang masih tidak percaya tapi pancaran kebahagiaan itu tampak begitu jelas.


“Iya,” kata Graciella masih tidak bisa mengontrol air matanya yang keluar begitu saja. Mencium telapak tangan Xavier yang masih menempel di pipi kirinya.  Xavier langsung tersenyum, lebih lebar dari pada yang pernah dilihat oleh Graciella.


“Sekarang kita harus mencari makan dulu. Jangan sampai ibu dari anakku kelaparan. Kita cari makan yang bagus untuk ibu hamil,” kata Xavier bergegas. Melihat jam yang sudah hampir lewat jam makan siang. Dia tidak ingin Graciella dan anaknya jadi kelaparan hanya gara-gara moment haru mereka ini.


“Eh, bisakah jangan  makan sup?” tanya Graciella. Biasanya orang hamil akan diberikan sup karena bagus untuk kehamilannya.


“Kenapa? Aku pernah dengar ibu mengatakan bahwa sup bagus untuk kehamilan,” ujar Xavier melirik ke arah Graciella karena dia sudah mulai mengendarai mobilnya lagi.


“Iya, tapi sekarang aku sedang tidak ingin makan sup. Aku sedang ingin makan yang pedas,” ujar Grciella.


“Jangan yang pedas. Tidak baik,” ujar Xavier langsung melarang.


“Pedasnya sedikit saja, boleh ya,” ujar Graciella lagi dengan wajah yang memelas. Xavier melirik istrinya sekali, dia langsung memasang wajah tidak setujunya tapi tidak mengungkapkannya. “Sedikit saja, benar-benar sedikit, ya, ya suami?” pinta Graciella lagi sambil memegang lengan Xavier seolah anak yang sedang memohon dibelikan jajan oleh ayahnya.


Xavier tampak enggan tapi sepertinya dia juga tidak tega menolak keinginan istrinya. “Baiklah. Hanya sedikit. Tidak boleh banyak.”


“Baiklah, suami,” ujar Graciella dengan senyuman menang. “Ayo makan pedas,” ujar Graciella mengelus perutnya yang rata. Xavier melihat itu dan langsung tertawa kecil. Graciella melihat wajah suaminya, belum pernah melihat Xavier tampak begitu bahagia hingga bisa tertawa kecil seperti itu.