Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 244. kita bersikap netral.


"Tuan!" Max segera berjalan mendekati Antony. Antony yang tadi sibuk mengurus pekerjaannya langsung melihat ke arah Max. Dari sorot matanya seolah Antony mengerti bahwa ada yabg ingin disampaikan oleh Max.


"Tinggalkan kami berdua," perintah Antony pada orang-orang yang menjaganya.


"Siap Presiden." Paspamres yang berjumlah empat orang yang menjaga setiap sudut ruangan langsung keluar dari sana. Saat pintu tertutup, Max langsung menunjukan sesuatu di tablet yang dia bawa.


Antony melihat berita tentang penemuan jasad wanita yang ada di sebuah hotel. Di sana dia juga melihat Stevan, Xavier, Graciella dan Daren yang berjalan keluar dari hotel itu. Sekilas tapi dia bisa mengenalinya.


Antony diam sambil menyandarkan tubuhnya yang tadi tegak. Dia meletakkan jari telunjuknya di antara hidung dan bibirnya.


"Dia sudah mulai beraksi," gumam Antony..


"Apakah kita harus bersikap?" tanya Max.


"Tidak. Kita tak punya janji apa-apa tentang ini. Aku sudah melunasi hutangku agar dia tidak terseret kasus kematian Robert Kim. Saat ini, aku tak punya janji atau pun hutang kembali dengannya. Biar dia mengurusnya sendiri." Antony kembali menegakkan tubuhnya. Menatap serius pada Max yang segera mengangguk.


"Jika dia menghubungi. Katakan saja. Kita netral sekarang. Satu lagi, jangan sampai dia tahu tentang Laura. Dia salah satu orang paling tidak bisa dipercaya." sambung Antony.


"Baik Tuan!" Max menjawab dengan tegasnya.


"Baiklah, kembali bekerja," perintah Antony. Mengusir secara halus Max dari ruang kantornya.


Max mengangguk mengerti. Dia mengambil tablet itu dan segera berjalan ke arah luar.


Antony tak langsung kembali pada pekerjaannya. Dia menyatukan kedua tangannya dan sedikit berpikir.


Memang, sebelumnya dia memiliki kerja sama singkat dengan Adrean secara sembunyi-sembunyi. Adrean menghasut Tuan Peter dan membuatnya percaya bahwa Xavier akan mengkhianatinya. Tapi ternyata rencananya sama sekali tidak berjalan mulus. Xavier tetap bebas berkat Graciella yang benar-benar membuat Adrean meradang. Belum lagi dia cukup khawatir karena pastinya mereka tidak akan membiarkan kasus ini menguap begitu saja.


Di saat ini, Antony memanfaatkan semuanya. Dia meminta seluruh pendukung Tuan Robert untuk mendukungnya menjadi Presiden. Dengan imbalan, Antony akan mengalihkan isu ini sehingga Adrean akan bebas dari penyelidikan.


Tapi dia tahu bagaimana bahaya Adrean. Dia adalah pria yang sangat licik. Karena itu, saat ini lebih baik dia bermain aman dan tak lagi berurusan dengan Adrean.


...****************...


Laura sudah mengelilingi rumah yang cukup luas itu. Dia sudah mencoba semua tempat-tempat di rumah ini. Sebenarnya di sana banyak sekali hal yang menarik. Tapi untuk seorang Laura yang mudah sekali bosan. Semuanya tampak tak menyenangkan lagi.


Dia menyudahi makan siangnya yang sangat nikmat. Sepertinya makanan itu benar-benar dibuat oleh chef internasional. Rasanya bahkan tak kalah dengan restoran-restoran terkenal. Hidup begini benar-benar membosankan.


"Nona Laura." Suara seorang pria membuat Laura memalingkan wajahnya. Pria itu tampak rapi dengan setelan jas berwarna serba putih. Pakaian itu sedikit aneh bagi Laura. Apakah dia baru saja menghadiri pernikahan atau pemakaman? Pikir Laura yang tak kenal siapa pria yang berdiri di depannya.


"Ya?" Saut Laura.


"Nama saya Calton. Mulai saat ini saya yang menggantikan Max untuk menjaga Anda di rumah ini." Pria itu melempar sebuah senyuman ramah. Membuat wajahnya yang tidak terlalu tampan menurut Laura tampak lebih mendingan.


"Oh, begitu. Memangnya Max ke mana?" Laura sebenarnya senang mengetahui pria galak itu tak lagi ada di dekatnya. Tapi dia juga ingin tahu, apakah pria itu di pecat?


"Max sekarang dipercaya menjaga Tuan Antony," jawab Calton. Sebenarnya, Antony hanya takut jika Adelia merasa curiga karena selama ini Max selalu mengikuti Antony. Jika dia tiba- tiba menghilang pastilah ada tanda tanya bagi Adelia.


"Oh, baiklah," jawab Laura. Sejujurnya tidak peduli. Yang dia pedulikan sekarang hanya bagaimana membunuh kebosanannya terkurung di sangkar emas bak istana ini.


"Apa yang ingin Anda lakukan Nona?" Tanya Calton ramah. Jauh sekali dari perlakuan Max padanya.


"Tentu. Tuan hanya melarang Anda untuk tidak memakai alat komunikasi. Televisi diperbolehkan dengan pengawasan. Anda tidak boleh mengakses internet dari televisi." Calton menjelaskan dengan senyuman yang terus mengembang.


"Kalau aku tidak tahu kata sandinya bagaimana aku mau menggunakannya. Baiklah, aku ingin melihat apakah ada sesuatu yang terjadi di negara ini. Aku sudah pergi cukup lama, mungkin ada hal yang menarik." Laura terus saja berbicara sambil bangkit dan menuju ke ruang tengah.


Calton berjalan lebih dahulu untuk mengambil remote televisi itu. Laura melihat itu segera duduk manis saja. Calton yang berdiri di belakangnya yang melakukan semuanya. Mulai dari menyalakan hingga mengganti siaran. Dia hanya perlu mengatakan ganti atau berhenti.


"Ah! Ternyata di televisi juga tak ada yang bagus," keluh Laura lagi.


"Mayat yang ditemukan di hotel Rendezvous sudah berhasil diidentifikasi atas nama Nyonya Elisabeth Sui. Sesuai keterangan yang di dapatkan bahwa Nyonya Elisabeth Sui adalah ibu kandung dari Nyonya Graciella Luo, istri dari Jenderal Xavier Qing. Penyebab kematiannya belum bisa di pastikan. Kita akan menunggu informasi yang akan disampaikan langsung oleh pihak kepolisian nantinya." Suara berita dari televisi itu membuat Laura langsung memalingkan wajahnya saat mendengar nama Graciella. Dia yang tadi tampak malas mendengarkan berita itu langsung serius menatapnya.


"Graciella?!" Laura langsung sedikit tersentak melihat Graciella yang menghindari wartawan saat keluar dari hotel. Dia dituntun oleh Xavier. Tentu saja membuat Laura iri. Mereka memang pasangan idaman, pikirnya.


Pikiran Laura akhirnya mencerna apa yang dikatakan oleh pembawa acara itu setelah teralihkan sedikit karena melihat Xavier. Bukannya tadi dia mengatakan bahwa yang meninggal adalah ibu Graciella? Bagaimana bisa?


"Wanita tadi adalah temanku! Tapi dia bilang itu adalah ibu Graciella. Bukannya Graciella adalah yatim piatu ya?" Ujar Laura yang seperti bertanya pada dirinya sendiri.


Calton mengerutkan dahinya. Tentu saja tak mengerti soal ini. Siapa Graciella? Dia bahkan tak mengenalnya.


"Maaf Nona. Saya tidak bisa berkomentar tentang ini," ujar Calton yang merasa Laura bertanya padanya.


"Ya, aku tidak bertanya padamu."


Mendengar perkataan itu Calton tambah mengerutkan dahinya. Gadis presiden ini ternyata unik sekali.


"Jika kasusnya begini, apakah Antony bisa membantu?" Tanya Laura. Berpikir jika seorang presiden meminta kasus ini dipecahkan. Pasti para penegak hukum akan lebih fokus dengan kasus ini.


"Eh? Bisa saja? Tapi …."


"Tapi apa?"


"Tak semudah itu untuk mendukung suatu kasus Nona, harus ada sesuatu yang membuat Presiden turun tangan."


"Kalau begitu, aku 'sesuatu' itu! Bisa hubungi Antony sekarang?" Tanya Laura menggebu. Dia ingin merayu atau memaksa Antony untuk membantu Graciella. Mungkin sekarang dia bisa membantu sahabatnya mengungkapkan siapa pembunuh ibunya. Bukannya Laura tak pernah membantu Graciella?


"Eh? Aku akan menghubungi Max dulu," ujar Calton.


Laura mengerutkan dahinya. "Kenapa semuanya harus dari Max? Memangnya Max itu siapa sih?" Kesal Laura. Apa-apa harus dari si Max itu. "Jangan sampai dia merasa dia yang lebih punya kuasa dari pada Antony. Bisa saja dia nanti mengkhianati kalian!"


Calton tersenyum sedikit. "Max tidak mungkin melakukan hal itu Nona."


"Kenapa tidak mungkin. Semua orang bisa berkhianat."


"Karena Max sangat loyal pada Tuan Antony. Max berhutang nyawa pada Tuan Antony sehingga membuat dia sangat royal pada Tuan Antony. Dia bersumpah dan rela melakukan apa pun agar Tuan Antony mendapatkan kedudukannya dan dia sangat berusaha menjaganya dari hal-hal yang bisa merusak kedudukan Tuan Antony," jelas Calton lagi.


Laura mendengar itu terdiam sedikit. Kalau seperti itu masuk akal, pikir Laura.


"Pantas dia tidak menyukaiku. Dia pasti berpikir aku adalah ancaman terbesar dari kedudukan Antony bukan? Jika ada yang tahu tentang keberadaanku dan apa yang Antony lakukan padaku, pastilah dia kehilangan segalanya. Ternyata begitu," ujar Laura sambil tersenyum sedikit miris.