Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 108.


“Tuan, Jika memang Nona Graciella tidak ingin bertemu dengan anda, lebih baik anda tidak memaksakannya. Nona Graciella sudah sangat tertekan dengan kematian anaknya,” ujar Daren. Stevan sekali lagi melirik Daren dengan tajam, kenapa pria ini malah mengatakan hal itu. Ah! Tak bisa disalahkan, Daren pasti tak tahu bagaimana pria ini sebenarnya.


Adrean mendengar itu langsung mengerutkan wajahnya. Dia tampak kaget dengan pernyataan dari Daren. Kematian anaknya? Moira, meninggal?


“Kenapa dengan Moira?” tanya Adrean langsung. Walaupun dia tidak begitu dekat dengan Moira, tapi dia yang sudah membesarkan Moira selama dua tahun ini, dan tentunya dia tak rela Moira hingga meregang nyawa hanya karena kakeknya.


“Kita belum tahu kepastiannya. Tapi Graciella ditemukan memeluk sebuah guci kremasi, jadi kami berkesimpulan bahwa mungkin saja ….” ujar Stevan. Lidahnya begitu kelu untuk mengatakan bahwa mungkin saja gadis kecil cantiknya sudah tidak ada lagi di dunia ini.


“Tidak mungkin! Dia berjanji tidak akan melukai Moira atau pun Graciella! Mereka tak akan melakukan hal itu!” ujar Adrean dengan matanya yang membesar sempurna. Tampak begitu terkejut dan terpukul.


“Mereka? Apa maksudmu?” ujar Stevan mengerutkan dahinya.


Adrean mengunci bibirnya. Saking syoknya dia jadi mengeluarkan kata-kata yang seharusnya dia tidak keluarkan. Bagaimana pun dia tidak boleh untuk membongkar keterlibatan kakeknya. Kakeknya meminta semua hal ini dibuat seolah-olah hanya David Qing saja yang terlibat.


“Adrean! Katakan padaku apa yang terjadi!” ujar Stevan seketika menggebu. Rasa penasaran dan juga emosinya langsung naik. Tapi Adrean hanya diam menatapnya. “Kau tahu apa yang sudah mereka lakukan pada Graciella! Mereka mengoyak pipinya hingga begitu dalam seolah ingin meninggalkan luka agar dia bisa mengingat semua hal yang sudah terjadi. Kau tahu bagaimana rasanya! Mereka meninggalkannya di pinggir jalan dalam keadaan begitu lemah dan luka yang infeksi. Kau tahu!” kembali Stevan berbicara dengan penuh emosinya.


Adrean mengerutkan dahinya. “Tidak mungkin! Dia tidak mungkin ingkar janji, dia hanya ingin membuat Xavier mengikuti perkataan mereka. Dia tidak mungkin melakukan itu pada Graciella!” ujar Adrean benar-benar tidak percaya. Bagaimana pun kakeknya, dia selalu melakukan apa yang diminta oleh Adrean. Dan jelas sekali kakeknya mengatakan dia tak akan melukai Graciella atau pun Moira.


“Jadi menurut Anda, kira-kira siapa yang melakukan luka semengerikan ini pada pipi Nona Graciella?” tanya Daren yang segera menunjukkan foto-foto Graciella, baik sebelum maupun sesudah luka di pipinya dijahit.


Adrean membesarkan matanya melihat luka menganga itu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya yang dirasakan oleh Graciella. Bagaimana bisa kakeknya ingkar janji? Apakah semua yang dikatakan oleh Stevan benar adanya?


“Stevan! Daren! Graciella hilang!” teriak Laura begitu panik mendekati Stevan dan juga Daren. Matanya membesar ketika melihat ada Adrean di sana. “Kau! Di mana Graciella?! Apa kau ingin membawanya lagi? Kau ingin menyiksanya lagi? Aku tidak akan membiarkan siapa pun melakukan itu lagi pada Graciella!” ujar Laura langsung mendorong tubuh Adrean dengan penuh emosi hingga Adrean mundur beberapa langkah. Adrean hanya memasang wajah tak mengertinya. Laura datang begitu saja dan menuduhnya begitu.


“Ada apa? Apa maksudmu Graciella tidak ada?” tanya Stevan memegang lengan Laura yang pandangan penuh emosinya masih tertuju pada Adrean.


“Aku sedang ke kamar mandi sejenak. Saat aku keluar, Graciella sudah tidak ada. Kenmana dia, pria brengsek!” ujar Laura kembali menuduh Adrean.


Untuk apa lagi?


Baik Adrean dan Stevan mencari ke segala sudut rumah sakit yang cukup besar itu. Sedangkan Daren segera pergi ke ruang kendali, dia ingin melihat rekaman CCTV, mungkin saja bisa mendapatkan jejak Graciella di sana.


Adrean menerobos semua orang, mencarinya dengan begitu cemas. Dia hampir membuka semua tempat yang ada di sana. Naik dan turun tangga rumah sakit itu dilakoninya. Tapi hasilnya nihil, tidak ada jejak Graciella sama sekali.


“Hei! Apa yang dilakukan oleh wanita itu?”


Adrean bisa mendengar suara seorang pasien yang sedang melihat ke arah belakang rumah sakit. Adrean langsung segera melihat apa yang dikatakan oleh pasien itu. Matanya membesar ketika melihat sosok Graciella yang tampak berdiri di luar pembatas jembatan sungai besar yang ada di belakang rumah sakit itu. Bagaimana dia bisa ada di sana? Adrean langsung segera berlari dengan sekuat tenaganya.


Stevan melihat Adrean yang berlari begitu cepat langsung mengikutinya. Perasaannya mengatakan bahwa Adrean mungkin saja sudah menemukan Graciella.


Graciella berdiri di balik pembatas jembatan. Kakinya gemetar. Bukan, bukan karena tak ada selangkah lagi dia bisa jatuh ke sungai berarus deras itu. Kakinya gemetar karena merasakan sakit yang amat sangat dalam hatinya. Bahkan sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya tidak ada apa-apanya.


Saat Graciella bangun, Graciella benar-benar kecewa. Kenapa dia harus ditolong, dia hanya ingin bertemu dengan anaknya. Di dunia ini, nyatanya, Graciella tidak punya siapa-siapa lagi. Alasannya untuk tetap hidup telah dicabut secara paksa.


Seketika dia membuka matanya. Graciella langsung berjalan keluar dari ruangan itu, dengan membawa guci dan juga selang infus yang masih menancap di tangannya. Graciella tertatih berjalan tanpa tujuan hingga dia melihat ke arah sebuah sungai yang ada di belakang rumah sakit itu. Tanpa pikir panjang lagi, Graciella menuju sungai itu dan segera ingin menuntaskan niatnya. Bertemu dan bersatu dengan gadis kecilnya. Graciella menaiki pagar pembatas dan perlahan dia menapak di sisi luar dari pagar pembatas jembatan itu.


Graciella berhenti sejenak. Air di bawahnya tampak begitu bergejolak. Angin dingin nan lembab pun terasa. Pastinya air di bawahnya juga sangat dingin. Graciella menarik napasnya dalam-dalam, ingin merasakan tarikan napasnya untuk terakhir kali. Dia tidak akan merindukan dunia ini. Graciella malah tersenyum, merasakan ketat di bagian pipinya yang terjahit. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan Moiranya. Mati terjun dari sini tak akan membuat repot orang lain untuk mengurusi jasadnya. Biar saja hilang selamanya dalam air. Lagi pula dia bisa berguna sekali lagi dengan menjadi makanan ikan-ikan sungai ini.


“Graciella!!”


Graciella memutar pandangannya lambat melihat ke arah asal suara. Suara yang dia sangat kenal dan begitu familiar. Sudah menemani dirinya lebih dari 4 tahun ke belakang. Graciella pun tak terkejut melihat sosok Adrean yang tampak berdiri tak jauh darinya. Tampak sedang mengatur napasnya, kesulitan untuk memasukkan udara dingin ke dalam paru-parunya. Graciella hanya diam menatap pria itu.


“Graciella, jangan lakukan,” pinta Adrean selembut mungkin untuk merayu Graciella. Sudah banyak orang yang juga berdiri di belakang Adrean yang penasaran ingin melihat keadaan ini.