
"Aku naik tangga saja. Kalian tunggulah lift," ujar Stevan. Dia harus secepatnya ke sana.
"Aku ikut!" Graciella juga ingin cepat ada di sana dan memastikan wanita itu adalah orang yang dia kenal.
"Jangan, kau tak ingat keadaanmu bagaimana sekarang?" Tanya Stevan lirik sedikit ke arah perut Graciella. Graciella pun sadar dengan keadaannya.
"Graciella!" Suara berat itu langsung mengalihkan semua pandangan. Nyatanya Xavier juga langsung keluar dari pertemuannya untuk menemui Graciella. "Apa kau tidak apa-apa?" Sambungnya dengan wajah yang tampak khawatir.
"Tidak, aku tidak apa-apa," ucap Graciella yang ingin menenangkan suaminya.
"Karena Xavier sudah ada. Aku akan ikut Stevan," ujar Daren.
"Baiklah. Ayo!" Stevan segera memimpin langkah menuju ke tangga darurat. Daren mengikuti di belakangnya.
Graciella dan Xavier hanya menatap mereka sebelum Xavier memindahkan pandangnya ke arah Graciella.
"Ada apa?" tanya Xavier.
"Seseorang mengirimkan foto foto padaku dan mengatakan bahwa nyawa wanita itu ada dalam tanganku. Saat aku melapor pada Stevan. Dia mengatakan bahwa aku sudah salah dan tiba-tiba ada suara tembakan. Dia hanya memberiku dua puluh menit untuk datang ke sini," ujar Graciella mulai tak bisa membendung air matanya. Rasanya tiba-tiba saja dia penuh dengan penyesalan. Jika tidak melapor pada Stevan. Pastilah wanita itu masih hidup.
"Kau kenal dengan wanita ini?" Tanya Xavier.
"Ya, tapi aku harus memastikan apakah dia benar-benar wanita itu atau bukan?" ujar Graciella dengan mata meredup.
Saat dia mengatakan hal itu pintu lift akhirnya terbuka juga.
"Ayo, kita pastikan," ujar Xavier memegang tangan istrinya yang tampak masih gemetar. Dia menariknya lembut untuk masuk ke dalam. Dan perlahan Greciella mengikutinya.
Tak butuh waktu lama untuk lift itu mengantarkan mereka sampai ke lantai tiga. Saat pintu terbuka sudah banyak polisi dan juga ada garis dilarang melintas yang membatasi. Graciella langsung berjalan dengan cepat menuju ke kamar yang mereka kerumuni.
"Nona, Anda tidak boleh melewati batas ini," ujar salah satu polisi yang menganggap Graciella hanya masyarakat biasa. Walaupun dia bersama dengan seorang tentara, tapi ini bukan daerah kekuasaannya, tak boleh masuk jika tak ada izin, pikir polisi itu.
"Stevan!" Teriak Greciella. Polisi itu mengerutkan dahi. Kenapa berani sekali memanggil Jenderal mereka dengan hanya nama?
"Stevan!" Teriak Xavier yang segera membuat semua orang di sana diam. Aura kepemimpinannya keluar hanya dengan panggilan nama.
Stevan yang mendengar itu segera keluar dari ruangan kejadian. "Izinkan mereka masuk. Mereka tim investigator kita." Serunya pada anak buah yang menjaganya garis itu.
"Silakan Nona, maafkan aku," ujar Polisi itu. Mana dia tahu wanita ini adalah investigator. Dia tak menggunakan pakaian dinasnya.
Graciella segera masuk dengan cara merunduk dari garis itu. Perutnya yang mengganjal sedikit tidak dihiraukannya. Dia kembali berjalan cepat bahkan seperti ingin berlari.
"Graciella, Greciella," ujar Xavier menangkap tangan istrinya. Graciella segera berhenti. Dari wajahnya dan matanya tampak mulai kosong. Dia takut bahwa wanita itu adalah wanita dalam masa lalunya dulu. "Jangan terlalu cepat. Ingat," kata Xavier lembut sambil mengusap perut Graciella.
Greciella menarik napasnya. Benar, dia tak boleh terlalu memikirkan hanya hal ini. Kehidupan yang dia bawa, mungkin saja akan terpengaruh. Graciella tak boleh cemas berlebihan, takut berlebihan atau sedih berlebihan. Anaknya akan merasakannya.
"Pelan-pelan saja, kita sudah dekat." Minta Xavier lagi menenangkan istrinya yang memang semakin meledak-ledak emosinya selama hamil.
Graciella mengangguk pelan. Xavier kembali menggenggam tangan istrinya. Membimbingnya sekaligus mengawasinya. Dia tak akan mengizinkan Greciella jalan seperti tadi.
Perlahan mereka sampai juga di bibir pintu itu. Ruangan hotel itu gelap karena pencahayaan remang. Beberapa pihak tampak mengambil foto tempat kejadian. Semua hal diperiksa oleh mereka dan yang membuat Greciella syok adalah sesosok tubuh yang setengah tubuhnya berbaring di ranjang dan bagian kakinya terjuntai ke lantai.
"Ayo masuk," bisik Xavier. Tetap menggenggam erat tangan Graciella.
Graciella awalnya bergeming. Ada rasa ragu dalam hatinya. Ini bukan pertama kalinya dia melihat mayat. Bahkan saat menjadi dokter, itu adalah hal lumrah dia lakukan. Tapi, saat ini dia merasa ragu.
Bertahun-tahun tak bertemu. Apakah mungkin dia memang wanita itu? Tapi fotonya sangat mirip dan sesuai dengan ingatan Graciella walau saat meninggalkannya Greciella masih begitu muda.
Semakin lama dia semakin mendekati tubuh yajg terbujur kaku itu. Mayat itu menggunakan pakaian serba hitam, seolah dia tahu hari ini adalah hari terakhirnya.
Saat seorang fotografer dari kepolisian menunjukkan wajahnya untuk di foto. Greciella langsung membesarkan kembali matanya dengan sangat maksimal. Dia menutup mulutnya yang terbuka tak percaya.
Xavier yang melihat tingkah istrinya langsung mentapnya. Air mata di mata istrinya yang membulat langsung membuatnya merasa ada yang tidak beres. Graciella menatap ke arah suaminya dan mengangguk sambil terus menutupi mulutnya. Xavier yang melihat Greciella benar-benar kaget dan syok segera memeluk istrinya yang terdiam. Seolah tidak percaya apa yang dia lihat sekarang.
Daren dan Stevan yang mencuri pandang pun langsung mengerutkan dahinya.
"Greciella, kau kenal dia?" Tanya Stevan langsung. Tadi pertanyaan ini tak berlanjut karena laporan dari bawahannya.
Graciella melepaskan diri dari pelukan Xavier. Dengan menelan ludahnya yang terasa susah karena napasnya tercekik kekagetan, Graciella mengangguk mantap.
"Siapa dia?" tanya Daren dengan penasaran. Mereka tahu identitasnya. Tapi tak tahu bagaimana Wanita berumur sekitar lima puluhan hingga enam puluhan ini bisa dikenal oleh Graciella.
"Dia -- dia ibuku," ucap Graciella dengan suaranya yang mulai bindeng.
"Apa?!"
Suara itu serempak terdengar keluar dari tiga mulut pria yang sekarang ada di dekat Graciella. Mereka melihat Greciella dengan tak percaya. Lalu mereka juga melihat mayat itu. Jika dilihat dengan baik, memang ada kemiripan yang tampak.
"Komandan Lapor, sepertinya ada catatan yang ditinggalkan pelaku." Lapor dari salah satu tim fotografer kejadian perkara.
Stevan segera mengangkat tangannya. Ajudannya langsung memberikan sarunh tangan untuk Stevan dan Stevan segera menggunakannya.
Dia segera mengambil secarik kertas kecil bagaikan sebuah kertas ucapan. Stevan dan Daren yang berdiri berdampingan saling melempar pandangan yang menyiratkan kengerian setelah membaca kertas itu.
"Di mana kau menemukannya?" Tanya Stevan lagi. Xavier dan Graciella hanya menebak, pasti isinya tak baik.
"Apa isinya?" tanya Xavier tak sabar. Dia yakin ada hubungannya dengan Greciella karena sebelumnya istrinya juga sudah diteror dengan hal-hal ini.
"Xavier! Itu bukti!" Ujar Stevan yang tak bisa apa-apa lagi. Kertas itu sudah ada di tangan Xavier yang polos tanpa menggunakan sarung tangan sama sekali.
"Eliminasi sidik jarinya jika nanti memeriksanya," perintah Stevan lagi. Nanti yang ada Xavier menjadi tersangkanya.
Xavier membesarkan matanya kaget. Dia segera mengambil ponselnya dan segera menelepon seseorang. Greciella juga kaget dengan tulisan itu.
'INI SEMUA HANYA PERMULAAN. MUNGKIN SELANJUTNYA KITA BERMAIN DENGAN PUTRI MU? BAGAIMANA?'
Graciella langsung melihat suaminya yang tampak cemas sambil menelepon seseorang.
"Aku ingin tahu kabar Moira sekarang!" Tegas Xavier.
"Moira ada di rumah bersama dengan Ayah dan Ibunya, komandan," lapor bawahan yang ditugaskan untuk menjaga mereka.
"Kau yakin?"
"Siap. Saya yakin Komandan."
"Dalam waktu beberapa jam ke depan aku mau kalian membawa Moira padaku. Jika orang tua angkatnya tak ingin pergi. Bawa saja Moira. Pastikan dia dijaga dengan ketat. Kau yang bertanggung jawab atas keselamatannya! Lakukan dengan baik!" Perintah Xavier.
"Siap komandan!"
Xavier langsung mematikan panggilannya. Dia melirik ke arah Graciella yang wajah paniknya makin ketara.
"Dia baik-baik saja. Dia akan dibawa ke sini segera. Aku akan menelepon Arnold untuk menjemputnya," ujar Xavier segera undur diri. Dia harus menjelaskan semuanya pada Arnold. Greciella hanya mengangguk pelan.