Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 105


“Apa kau tidak merasa ini sudah keterlaluan? Kenapa kau melakukan ini pada Xavier, dia itu anak kandungmu!” kata Monica yang melihat tubuh Xavier sudah terkulai lemas di ranjang rumahnya.


“Lebih baik tak memiliki anak jika tidak bisa membanggakan nama keluarga. Lagi pula dia sudah berani mengancamku hanya karena wanita murahan itu!” ujar David Qing menyipitkan matanya melihat Xavier.


“Bagaimana nanti? Kau kira Xavier akan tinggal diam kau sudah membuat wanita yang dia cintai dan juga anaknya terluka? Kau tidak mungkin bisa membuat Xavier selamanya tertidur seperti ini! Dia akan menuntut balas pada dirimu! Aku yakin begitu,” ujar Monica lagi dengan tatapan sendunya. Miris melihat anaknya yang biasanya gagah sekarang lemas tak bertenaga.


“Karena itu, aku akan membuat dia akan melupakan apa yang terjadi sekarang,” kata David Qing menaikkan sudut bibirnya, senyuman tipis terulas.


“Apa maksudmu? David! Apa lagi yang ingin kau lakukan pada putraku!” ujar Monica yang merasa semuanya sudah cukup. Suaminya sekarang sudah benar-benar gila. Gila akan kekuasaannya.


“Monica! Kau diam saja! Aku sudah memikirkan semuanya!” ujar David Qing.


“Tapi aku tidak bisa melihatmu menyiksa anakku seperti itu!” ujar Monica dengan wajah yang sangat cemas. Dia cemas akan terjadi sesuatu pada anak satu-satunya.


“Kau tenang saja. Dia tidak akan merasakan apapun. Dia bahkan tidak akan tahu apa yang terjadi padanya. Nanti, setelah dia membuka matanya dia akan melupakan semuanya.”


“Bagaimana bisa begitu?”


“Kau kira aku hanya menyuntikkan obat untuk membuatnya tidak sadar. Efek dari obat itu jika diberikan dengan dosis tertentu adalah kehilangan memori. Dia akan melupakan semuanya, minimal dia akan melupakan tentang wanita itu dan juga anaknya. Karena itu aku harus memberikan obat itu selama seminggu lebih. Setelah pernikahan, aku akan memberikan dosis obat yang lebih tinggi hingga hasil yang diinginkan tercapai,” ujar David Qing dengan sangat lugas.


“Apa tidak ada efek samping lain yang akan terjadi pada anakku?” tanya Monica lagi.


David Qing menatap dengan mata yang sedikit disipitkannya pada Monica. Dia menggoyangkan sedikit rahangnya. Monica membesarkan matanya, tatapan dan gerak gerik itu membuat perasaannya tak nyaman.


“David! Katakan padaku apa yang terjadi pada putraku jika obat itu tidak bekerja sesuai dengan apa yang kau katakan!” ujar Monica menarik jas suaminya dengan keras.


“Sudah aku katakan, lebih baik tidak memiliki anak dari pada memiliki anak yang akan mempermalukan nama keluarga.” David Qing menarik lengan jasnya yang ditarik kuat oleh Monica. Monica membesarkan matanya lalu memandang anaknya yang terbaring lemas. “Dan kau jangan coba-coba melakukan sesuatu. Kau akan tahu apa yang bisa aku perbuat padamu jika kau nekat melakukan sesuatu.”


“Jika Xavier meninggal, maka semuanya akan hilang, bahkan Robert tidak akan peduli denganmu, dia akan mencari orang lain yang menurutnya menguntungkan dan bisa saja dia akan menjatuhkan dirimu! Apa kau tahu itu! Kau hanya menjadi boneka buat Robert! Dia tidak benar-benar peduli dengan semua ini! Kau rela mengorbankan anakmu hanya untuk orang seperti itu! Kau bahkan tidak punya belas kasihan melihat wanita itu dan juga cucumu! Jika semua ini tidak berhasil, maka tidak ada lagi yang tersisa untukmu!” ujar Monica dengan emosinya yang meluap. Dia kenal David, pria ini walaupun begitu berambisi dia dulu tidak pernah sampai begini. Dia kenal David yang begitu menyayangi anaknya. Tapi kenapa hanya karena ambisinya menjadikan Xavier seorang presiden. Dia malah mengorbankan begitu banyak orang.


Monica hanya bisa bertampang bingung. Apa yang bisa dia lakukan sekarang? Siapa yang harus dia pilih sekarang? Anak atau suaminya? Dia benar-benar bingung.


...***************...


“Tuan! Aku sudah mengikuti kemauanmu! Tolong, aku ingin bertemu dengan anakku!” pinta Graciella, walaupun rasa pedih, nyeri di pipinya begitu terasa, dia tetap sebisa mungkin memelas pada Robert. Setiap kali dia menggerakan pipinya untuk berbicara, rasa nyeri itu seketika menjalar di seluruh wajahnya.


“Tidak!” ujar Robert.


Graciella membesarkan matanya, “Tapi aku sudah melakukan semua yang kau inginkan! Kau sudah mengatakan bahwa aku bisa bertemu dengan putriku setelah aku melakukanya?” Graciella kembali memelas pada Robert.


“Tidak sekarang. Aku akan mempertemukanmu dengan anakmu setelah Devina dan Xavier resmi menikah! Bawa dia ke tahanan!” ujar Robert memerintahkan salah satu penjaganya.


“Tuan! Biarkan aku bertemu dengan anakku! Tuan! Aku mohon! Aku mohon dengan sangat!” ujar Graciella memelas hingga dia memeluk dengan erat kaki Robert. Robert tentu kaget, dia mencoba menggerakkan kakinya tapi tetap saja Graciella tidak melepaskan pelukannya pada kaki Robert. Dua orang penjaga segera mencoba melepaskan Graciella tapi wanita itu sekuat tenaganya yang tersisa bertahan agar dia bisa bertemu dengan anaknya.


“Lepaskan! Lepaskan!” ujar Robert yang tentu risih dengan kelakukan dari Graciella, apalagi darah yang keluar dari pipi Graciella mengenai celananya. Robert benar-benar jijik melihatnya.


“Berikan aku anakku!” ujar Graciella sebisa mungkin bertahan. Bagaimana pun dia harus bertemu dengan Moira. Dia tidak ingin berpisah lagi dengan anaknya. Melewati sedetik mengetahui bahwa anaknya ada di tangan orang-orang kejam ini bagaikan melewati ribuan tahun. Menyiksanya seolah bagaikan di neraka.


“Baiklah! jika kau memang ingin melihat anakmu! Bawakan dia anaknya!” ujar Robert sudah tak tahan lagi. Rasanya darah itu merembes mengenai kakinya. Sangat-sangat menjijikkan.


Graciella terdiam. Matanya membesar dengan penuh harapan. Dia segera melepaskan kaki Robert. Akhirnya, setelah seluruh rasa sakit dan penyiksaan, dia akan kembali memeluk anaknya. Graciella langsung berdiri berharap bisa segera memeluk Moira.


Pintu ruangan itu terbuka. Mata Graciella yang awalnya tampak sangat suram dan kusam seketika tampak berbinar. Senyumannya yang sudah lama tidak tampak sedikit terulas, tak bisa terlalu lebar karena nyeri di pipinya kian terasa. Graciella sudah bersiap untuk memeluk Moira, tapi dia mengerutkan dahinya dan matanya tampak bertanya. Dia tidak melihat Moira, hanya seorang penjaga yang membawa sebuah guci berwarna putih.


Graciella memindahkan padangannya ke arah Robert dengan wajah bertanya yang sekilas tampak tak mengerti. Di mana anaknya? bukannya dia diizinkan untuk bertemu dengan anaknya?


“Tuan ….” ujar Graciella terbata, bingung dengan apa ini.