Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 64. Bagaimana bisa jatuh cinta lagi, ketika cinta tak pernah baik padanya?


Graciella tentunya tak bodoh dan tahu bahwa dia membutuhkan bantuan. Dia juga tahu bahwa mendatangi Adrean sama saja masuk ke dalam kandang singa dengan suka rela. Tapi kemana dia harus mencari bantuan? Xavier kah? Graciella langsung ingin mencari nomor Xavier dengan tangannya yang gemetar.


Tapi perasaannya kembali meragu. Tiga tahun bersama dengan Adrean dia tahu pria itu memang bermulut manis, tapi dia tak pernah main-main dengan ancamannya. Jika dia mengatakan akan melukai seseorang, pastinya dia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh.


Adrean memang tak pernah mengatakan bahwa dia sudah meleyapkan anaknya. Dia hanya mengatakan bahwa dia sudah membuang anaknya dan kemungkinan besar anaknya sudah meninggal, dia tak pernah memastikannya. Adrean mungkin membuangnya ke panti asuhan atau pada keluarga asuh yang dia minta membesarkan Moira.


Lalu benarkah Moira adalah anaknya? Walau rasa ragu itu muncul, tapi intuisinya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa itu benar-benar putrinya. Lagipula kemiripan mereka bisa jadi adalah salah satu hal yang membuat Graciella bisa percaya sekarang.


Graciella memutar otaknya. Begitu banyak pertanyaan dan pertentangan dalam otaknya. Kebimbangan dengan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dia tak bisa mengatakan hal ini pada Laura, pastilah Laura akan mengatakannya pada Xavier. Pengalaman sebelumnya di mana Laura bisa dengan mudahnya menceritakan semuanya pada Xavier.


Tapi bagaimana pun caranya, dia harus menemui putrinya dan melindunginya. Walaupun dipanggilan video, Adrean cukup dekat Moira, tapi Greciella yakin tak ada seorang pun yang merasa aman apalagi nyaman jika berdekatan dengan Adrean. Dia akan berikan apapun dan berkorban apapun untuk anaknya apapun resikonya.


Graciella menarik napasnya yang bercampur air itu dengan kuat dan segera menghapus pesan yang dikirim oleh Adrean. Tak lupa dia mencuci mukanya agar menyamarkan sisa dari air matanya. Dia sekali lagi menarik napasnya panjang dan membuka pintu kamar mandi mendapatkan Laura yang hampir jatuh karena ternyata menempelkan telinganya di pintu agar bisa mendengar perbincangan dari Graciella. Sialnya dia tak juga mendengarnya dengan terlalu jelas.


"Ehm? Graciella siapa itu? Kenapa ada suara wanita?" tanya Laura mengerutkan dahinya mengambil ponsel yang di sodorkan oleh Graciella.


"Seorang kenalanku." Greciella sebisa mungkin menahan suaranya yang bergetar.


"Lalu? apa hubungannya dengan Adrean? apa dia mencoba mengancammu?" perasaan Laura berkata itulah yang terjadi.


"Kau tahu bagaimana Adrean. Dia sedang berusaha untuk membuatku terpengaruh. Tapi aku sudah tak terpengaruh," ujar Graciella mencoba tersenyum.


"Benarkah? Gracie? Tapi kenapa kau menangis?" Ujar Laura memperhatikan perubahan lingkar mata Greciella yang sembab. Walaupun sudah dicoba untuk menyamarkannya tapi tetap tak bisa ditutupi.


"Ah! Ini karena aku sangat emosional! Kau tahu, terlalu marah hingga tak tahan lagi dan menangis. Lelah sekali! Aku ingin tidur. Selamat malam," ujar Graciella tersenyum yang membuat Laura mengerutkan dahinya. Tingkah Graciella ini terasa mencurigakan. Laura hanya melihat punggung Graciella yang sudah tertidur berselimut membelakanginya.


Tapi Laura tak menghiraukan perasaannya. Toh Grwciella sekarang akan aman. Dia ada di sini bersamanya dan rumah ini juga sudah di jaga oleh dua tentara bawahan Xavier.


Greciella merasakan ranjang di sisi lain bergoyang. Tak lama lampunya dimatikan tanda Laura pun akan tidur. Perlu setengah jam bagi Greciella memastikan Laura benar-benaf tertidur.


Keheningan dan kegelapan kamar itu membuat Greciella semakin tak nyaman. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Tentu dia ingin bisa secepatnya bertemu dengan Moira. Wajah lucu anaknya terngiang-ngiang di pikirannya.


Tapi, jika sekarang dia pergi, para penjaga pastinya masih ada dan mereka masih punya cukup tenaga untuk mengejar Graciella. Mau tak mau dia harus menunggu waktu yang tepat. Dini hari adalah waktu kritis mereka, di saat rasa kantuknya mulai menghinggapi mereka.


Namun, malam ini menjadi malam paling panjang yang pernah ada di dalam hidup Graciella. Dia bahkan tak bisa menutup matanya sedetik pun. .


Graciella lalu terlonjak mendengar suara ponsel Laura yang bergetar. Dia langsung melihat layar ponsel itu. Jantungnya berdetak kencang, takut panggilan itu dari Adrean yang merasa tak sabar menunggu kedatangan Graciella dan akan melakukan sesuatu pada Moira.


Awalnya dia tak ingin menjawab panggilan itu, biarlah Xavier berpikir dia sudah tidur. Tapi dia semakin ragu dan merasa tak nyaman, akhirnya mengangkat panggilan itu.


"Halo?" suara berat itu terdengar. Graciella menggigit bibirnya. Ada rasa sakit yang tiba-tiba terasa begitu saja seolah hati Graciella baru saja tergores sembilu.


"Halo, ya?" ujar Greciella yang bingung harus mengatakan apa.


"Belum tidur?" tanya Xavier yang tak menyangka panggilan itu langsung di jawab Graciella. Dia pikir Laura yang akan mengangkatnya.


"Belum. Masih belum terbiasa ada di sini," alasan Greciella. Dia menggigit lagi bibirnya lebih keras hingga nyerinya terasa menyamarkan rasa tak nyaman di dadanya.


"Tidurlah, sudah cukup larut. Aku hanya ingin tahu keadaanmu dari Laura. Aku harus melanjutkan pekerjaanku lagi. Tidurlah," ujar Xavier pada Graciella.


Graciella diam sejenak. Apakah dia harus mengatakan kata-kata perpisahan? mengatakan bahwa dia harus kembali pada Adrean karena anaknya sekarang bersama Adrean sehingga Xavier tahu kenapa Graciella mengingkari janjinya?


"Xavier aku …." Sial sekali, mulut Graciella terkatup. Jangankan untuk mengatakan kata 'akan kembali bersama Adrean'. Mengatakan 'dia akan pergi' sebagai sebuah kata perpisahan saja tak dapat meluncur dari bibirnya.


"Ada apa?" Tanya Xavier mengerutkan dahinya.


"Eh? aku hanya ingin bilang, hati-hati bekerjanya, jaga kesehatanmu." Lagi-lagi lidah Graciella terasa kelu, padahal dia ingin melanjutkan kata-katanya mengatakan 'karena ini mungkin terakhir kalinya mereka akan berbicara."


Xavier di seberang sana menaikkan sudut bibirnya mendengar kata-kata yang baginya melukiskan sebuah kepedulian. Akhirnya, Graciella mencemaskannya. Tentu hal ini membuat hatinya senang.


"Baiklah, aku akan hati-hati. Kita akan berjumpa besok pagi."


Graciella ragu akan hal itu. "Hm," jawab Graciella singkat. Tak lagi bisa berkata apapun karena dia rasa sakitnya sekarang menyekat tenggorokan. Bagaimana bisa sesesak ini hanya untuk berpisah dengan pria yang bahkan belum genap sebulan dia kenal.


"Aku harus kembali bekerja. Baiklah, tidurlah sekarang." Suara senang dari Xavier jelas ketara, membuat beberapa bawahannya merasa lega. Bekerja selarut ini dengan mood Xavier yang tidak baik tentu akan menjadi tekanan bagi mereka.


"Ya," ujar Graciella tegar.


"Aku akan mematikan panggilannya." Suara pemutusan panggilan segera terdengar. Bersamaan dengan itu sebulir air mata dari matanya jatuh begitu saja, membuyar saat menyentuh pipinya.


Graciella langsung menhapus air matanya yang terasa hangat. Kenapa bisa sesakit ini? apakah ini tanda bahwa sekarang Graciella sudah menaruh hati pada pria itu? bagaimana bisa dia jatuh cinta lagi, ketika cinta tak pernah indah bagi seorang Graciella.