Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 118. Kencan berdua yang gagal.


Daniel membawa Graciella ke sebuah cafe favorit dari Graciella. Tempatnya nyaman dan juga sangat menenangkan. Bau mint bercampur dengan kayu cendana kesukaan dari Graciella menyeruak di sana. Lagu-lagu instrumental jazz terdengar mengalun lembut. Pencahayaannya juga kalem hingga tidak membuat mata lelah. Tapi yang paling membuatnya jatuh cinta adalah kesunyian dari tempat ini. Bukan, bukan karena tidak ramai pengunjung. Tapi pemiliknya begitu pintar hingga satu sama lain dari pengunjung tampak bisa menikmati tempat mereka masing-masing tanpa harus merasa terganggu.


Graciella mengeluarkan laptop untuk memeriksa rekaman yang sudah dikirimkan oleh petugas itu padanya. Sambil menunggu rekaman itu terunduh sempurna, dia menyeruput teh strawberry dingin yang sudah dia banyangkan masuk ke dalam tenggorokannya. Pasti begitu segar.


Daniel yang memang sengaja mengajak Graciella untuk membahas kasus, sejujurnya dia hanya ingin berduaan dengan Graciella. Dia sengaja menolak Charlotte yang sebenarnya juga ingin membahas kasus ini. Dia juga bermodus hal itu agar bisa duduk di samping Graciella. Dia tahu Graciella sedang ingin meninjau interogasi dari para saksi. Daniel merasa sangat beruntung. Dalam waktu beberapa jam ke depan, walaupun dia tahu Graciella akan fokus dengan video yang terputar tapi dia akan ada dekat dengan wanita ini.


Graciella menyeruput sedikit lagi teh strawberry-nya sebelum dia fokus dengan rekaman yang sudah berhasil dia unduh. Daniel pun sudah sangat siap duduk begitu dekat dengan Graciella. Senyuman sumringah sudah tidak bisa lepas lagi dari wajahnya.


“Aku ingin bergabung dengan kalian!" ujar Xavier yang bukannya seperti nada bertanya tapi malah seperti permintaan yang tidak bisa ditolak.


Graciella yang masih meminum tehnya hampir tersedak melihat pria itu tiba-tiba saja sudah ada di depannya. Bagaimana dia bisa di sini? Apa dia mengikuti Graciella? Daniel yang melihat pria itu hanya menggerutkan dahinya, siapa pria ini?


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Graciella yang langsung ceplos menggunakan bahasa negaranya. Tentu membuat Daniel bingung.


“Aku harus mengawasimu selama menyelidiki kasus bibiku, karena itu aku harus ada di sini,” ujar Xavier. Tanpa dipersilakan, langsung duduk di depan Graciella.


“Tapi ini adalah video rahasia, hanya tim penyidik yang boleh melihatnya sekarang,” ujar Graciella lagi. Kesal, bukan hanya kesal karena Xavier ngotot ingin ada di sini tapi juga kesal dengan dirinya yang langsung menimbulkan rasa gugup dan salah tingkah yang entah kenapa bisa muncul hanya kerena kedatangan pria ini.


“Pertama, aku sudah mendapatkan izin dari petugas penyidik pusat. Kedua, jika video itu rahasia kenapa kau melihat video itu bersama dengan dia dan juga di tempat umum seperti ini. Bukannya itu menjadikannya tidak rahasia?” tanya Xavier dengan santainya menatap ke arah Graciella.


Graciella langsung terdiam. Dia bingung apa yang harus dia katakan lagi untuk membuat pria ini pergi dari sini. Dia sungguh tidak nyaman dengan perasaan yang timbul setiap saat pria ini ada. Dia bahkan tidak tahu perasaan apa ini.


“Jadi, aku akan melihat rekaman ini juga,” ujar Xavier yang menarik laptop Graciella ke arah di mana mereka bertiga bisa melihatnya. “Kau ingin melihatnya? Jika iya, kau harus merubah posisimu di sini,” ujar Xavier pada Daniel yang hanya mengerutkan dahinya. Kenapa malah pria ini mengatur dirinya?


“Ya, aku rasa kau harus pindah ke kursi itu agar kita bisa melihatnya bersama,” ujar Graciella yang merasa kata-kata Xavier ada benarnya. Jika Daniel tetap ada di samping dirinya. Baik Graciella dan Daniel tak akan bisa melihatnya dengan baik.


“Dia siapa?” tanya Daniel yang bingung.


“Dia adalah keponakan dari korban.”


“Aku Jenderal Xavier Qing, aku punya izin untuk melakukan penyidikan kasus kematian Bibiku. Lagi pula, Nona Graciella mengizinkan aku mengawasinya selama dua hari ini. Jadi itulah alasanku ada di sini,” ujar Xavier dengan sangat tegas. Daniel yang mendengar itu mengerutkan dahinya lebih dalam tapi mau tak mau dia mengikuti instruksi dari Xavier tadi. Kenapa malah jadi begini? Kencan berdua mereka gagal total gara-gara pria ini.


“Gracie, aku ada pekerjaan yang lain. Bisa aku mengantarmu pulang sekarang?” tanya Daniel. Dia ingin pergi dari pria ini. Keberadaannya benar-benar mengganggu proses pendekatannya. 3 tahun berjuang baru kali ini Graciella bisa dekat dengannya.


“Kau pulang saja. Aku akan mengantarnya pulang, kami belum selesai,” perintah Xavier tiba-tiba. Daniel semakin mengerutkan dahinya. Kenapa pria ini tiba-tiba saja begitu mendominasi.


“Ya, benar, masih ada satu jam lagi yang harus aku selesaikan. Jika memang ada kerjaan, kau boleh pulang duluan. Aku terlalu tanggung untuk menyelesaikannya sekarang,” ujar Graciella sedikit tersenyum tipis tapi setelah itu kembali lanjut pada rekamannya. Tak ingin kehilangan susana serius yang sudah dia dapatkan.


Daniel semakin bingung. Jika tak pergi maka terlihat sekali itu hanya alasan. Jika pergi? Masa dia meninggalkan mereka berdua di sini.


“Kau tidak jadi pergi?” tanya Xavier yang melihat Daniel hanya diam sambil sesekali melihat ke arah Graciella dan dirinya.


“Ehm … ya baiklah,” ujar Daniel yang menyambar tasnya lalu keluar dari sana. Lama-lama kesal juga melihat Graciella dan pria itu. Kenapa malah mereka yang tampak asik berdua melihat rekaman. Apa karena memang awalnya tujuan dari Daniel bukan kasus itu, jadinya dia merasa tak nyaman ada di sana.


Graciella yang awalnya fokus dengan pekerjaannya lama-lama merasa tak bisa memfokuskan pikirannya ketika tiba-tiba saja Xavier malah duduk di sampingnya dan menggeser laptop mereka. Sekarang posisi Xavier sama dengan posisi Daniel sebelumnya. Bedanya sekarang Graciella yang merasa tidak nyaman.


“Kenapa kau malah ada di sini?” tanya Graciella yang sedikit bergeser dari Xavier.


“Kita hanya berdua, melihat seperti tadi apakah tidak susah?” alasan Xavier. Entah kenapa dia merasa ingin saja berdekatan dengan Graciella. Ini sama sekali bukan sifatnya, tapi dorongan dalam dirinya, dia tidak bisa lagi membendungnya.


“Ya, tapi aku tidak terbiasa duduk terlalu berdekatan seperti ini,” ujar Graciella mencari alasan.


“Kau bisa duduk dengan pria itu tadi, kenapa denganku tidak bisa?” ujar Xavier lagi menatap ke arah Graciella yang buru-buru membuang pandangnya. Bisa gawat jika dia terperangkap lagi dalam pandangan mata yang begitu menghipnotis itu. “Kau ingin melihat video itu tidak? Bersikaplah profesional,” ujar Xavier lagi sebagai alasannya. Tahu dari awal harga diri Graciella sangat besar.


Graciella menarik napasnya dalam. Dia lalu mengangkat kepalanya dan segera menatap ke arah layar laptopnya. Ya! Kenapa dia malah terbawa perasaan. Dia harus profesional! Pria ini hanya ingin mengganggu nya hingga dia hilang fokus dan kalah! Ya! Dia harus fokus! Jangan kalah dengan pria ini.


Xavier menaikan sudut bibirnya yang sudah lama tak berhiaskan senyuman. Tak menyangka wanita ini bisa memunculkan senyuman itu. Dia tak tahu apa yang membuatnya bisa begitu terasa terikat dengan wanita ini, tapi yang jelas dia nyaman dengan perasaan ini.


Sialnya, bagi Graciella, dia tak lagi bisa fokus. Detak jantungnya yang entah kenapa bisa berdetak begitu kencang membuat seluruh tubuhnya panas, napasnya pun sesak. Bagaimana bisa fokus dalam keadaan seperti ini? Padahal dulu dia gampang sekali fokus walaupun di lingkungan yang tidak mendukung sama sekali. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apa dia hendak demam sekarang?