
“Oh, tidak perlu. Jika nanti sudah selesai biar aku saja yang datang ke sana bersama Moira. Aku juga harus berterima kasih, jika tidak karena Xavier, pasti kami sudah sangat parah,” ujar Graciella. Dia juga tak enak membuat Xavier harus datang ke sini padahal keadaannya cukup parah. Lebih baik dia mendapatkan pengobatan yang sesuai.
“Bukannya aku sudah katakan. Kau dan Moira tidak boleh bersama dalam waktu yang bersamaan di luar sana. Itu sangat berbahaya. Xavier juga tak akan mengizinkan kalian untuk mendatanginya. Lebih baik menunggunya di sini. Xavier akan segera datang,” ujar Stevan dengan senyumannya yang manis. “Ah! Lebih baik kau bersiap-siap, Nona Graceilla. Aku juga harus menyiapkan semuanya. Hari ini aku akan sangat sibuk! Moira, setelah paman selesaikan semuanya, maukah kau bermain dengan paman?” tanya Stevan menatap erat wajah Moira yang langsung tersenyum menangguk.
“Ah! Kenapa dia tidak lebih tua 10 tahun atau aku yang lebih muda 10 tahun, jika begitu kan aku bisa mengajakmu menikah!” ujar Stevan lagi mencubit kedua pipi bakpao Moira yang meringis kesakitan. “Sakit ya?”
“Iya,” jawab Moira dengan wajah cemberutnya.
“Ya Tuhan, bagaimana kau bisa melahirkan anak secantik ini. Cemberut saja begitu meggoda! Sepertinya aku harus cepat menikah dan melahirkan anak laki-laki. Tak bisa menjadi istri, menjadi menantu pun boleh. Wanita seperti ini jangan sampai lepas,” ujar Stevan yang merasa sangat gemas pada Moira, dia benar-benar sangat menyukai Moira.
Graciella mendengar itu hanya tertawa kecil, “Maka cepatlah menikah!”
“Jika saja calonnya ada, malam ini aku akan segera menikah! Hahaha,” Stevan tergelak.
“Aku akan memandikan Moira dan bersiap-siap.”
“Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Moira! Kiss bye untuk paman,” ujar Stevan berharap. Nyatanya Moira hanya memalingkan wajahnya dari Stevan. Stevan berwajah cemberut, patah hati tidak digubris oleh Moira.
...****************...
Graceilla segera turun dari mobilnya ketika mobil itu sudah terparkir sempurna di depan kantor pencatatan pernikahan. Graciella memperhatikan gedung itu. Dia ingat tiga tahun yang lalu dia datang ke kantor ini dengan perasaan campur aduk.
Saat itu usianya masih sangat muda. Baru dua puluh tiga tahun dan sangat naif. Dia dibawa oleh Adrean ke sini dan dengan mudahnya mereka segera mendaftarkan pernikahan mereka. Tak disangka hari itu adalah hari yang paling disesali oleh Graciella.
Graciella seharusnya membatalkan rencana pernikahan mereka saat melihat reaksi Adrean yang begitu marah saat menemukan Graciella di kamar tidur hotel itu. Tapi, tentu Graciella berpikir itu adalah respon normal seorang pria yang cemburu karena calon istrinya tidur dengan pria lain. Graciella bodoh sekali merasa Adrean akan bisa menerima dirinya walau tanpa kesuciannya. Tapi ternyata dia tidak sebaik itu.
Graciella menarik napasnya mulai melangkah memasuki gedung kantor pencatatan pernikahan itu. Di saat itu pula matanya menangkap sosok yang sangat tak asing baginya juga baru saja sampai di gedung itu. Pria itu turun dengan jas semiformal berwarna coklat susu yang cocok sekali dengan kulitnya. Mata mereka terpaut cukup lama membuat mereka sama-sama terdiam. Bukan, bukan karena Graciella merasakan penyesalan ataupun keraguan dalam dirinya sekarang. Dia hanya merasa, akhirnya apa yang dia inginkan selama ini terwujud juga.
Lain bagi Adrean. Dulu saat dia membawa Graciella ke sini. Dia tak merasakan apapun kecuali rasa menang karena sudah bisa membawa wanita ini ke tempat ini. Dia sudah sangat ingin menghancurkan hidupnya. Tapi saat ini, untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasakan rasa yang begitu tak nyaman diperasaannya. Rasa sakit yang dia tak pernah tahu bisa dia rasakan. Menyesak hingga rasanya tak berani untuk bernapas. Karena setiap kali dia bernapas, rasa itu mengoyaknya.
Adrean semakin parah ketika melihat senyuman tipis itu mengembang. Seolah mengucapkan salam perpisahannya. Adrean benar-benar enggan untuk melangkah lebih lanjut.
“Adrean!” suara Sarah yang ada di dekat Graceilla terdengar. Wanita itu tampak sumringah melihat Adrean benar-benar memegang perkataannya. Graciella pun teralih melihat ke arah datanganya suara. Dia berdiri tepat di tengah antara Adrean dan Sarah.
Graceilla menatap wanita yang tinggi semampai. Pastinya muda dan cantik seperti semua wanita yang ada pernah dibawa oleh Adrean untuk bertemu dengan Graciella. Kali ini Graciella tersenyum lebih lebar. Mungkin hanya dia satu-satunya istri yang tersenyum senang melihat wanita yang akan menggantikan posisinya menjadi Nyonya Han. Graciella benar-benar bahagia.
Stevan yang memperhatikan adegan bak di dalam film itu hanya tersenyum senang. Selesai satu tugasnya. Sekarang dia harus fokus kembali ke tugasnya yang kedua. Xavier pasti sudah tak sabar ingin bertemu dengan Moira, sama seperti dirinya.
Graciella masuk dan segera menuju ke tempat mereka mendaftarkan perceraian. Graciella perlahan mencium wangi parfum bacarat tertutup dengan wangi tembakau terbakar. Sepertinya pria ini sudah menghabiskan banyak batang rokok sebelumnya.
“Ingin mengajukan perceraian?” tanya petugas itu pada Graciella dan Adrean.
“Ya,” ujar Graceilla semangat.
Adrean mengalihkan matanya memandang Graceilla. Tatapan itu terlihat sendu. “Ya.”
“Sudah yakin? apa sudah dibicarakan dengan sangat baik?” tanya petugas itu lagi. Pertanyaan formal yang harus dia tanyakan.
“Ya.” Graciella menjawabnya duluan.
“Ya, sudah.”
“Apa ada tuntutan dalam perceraian ini. Jika ada akan dilakukan sidang untuk memutuskan apakah tuntutan dapat dikabulkan atau tidak,” ujar petugas itu lagi melihat Graciella dan Adrean. Pasangan muda memang sangat rawan bercerai, jika tak siap kenapa harus buru-buru menikah? pikirnya.
“Tidak, aku tidak menuntut apapun.” Graciella tidak ingin apapun dari Adrean. Bahkan dia rela tak mengambil satu barang pun yang ada selama mereka menikah. Dia masih punya cukup uang untuk kembali menata hidupnya dan Moira.
“Tuan?” tanya petugas itu karena melihat Adrean seolah enggan. Dari tadi hanya pihak wanita yang tampak mantap memberikan jawaban. Wanita ini bahkan hanya lurus memandang dirinya sedangkan si pria, malah terus memandangi wanita ini, seolah selalu terkejut dengan apa yang dia katakan.
“Tidak,” jawab Adrean. Setiap kali dia menjawab, sebanyak itu pula hatinya tertusuk.
“Kalau memang sudah bulat untuk bercerai. Silakan tanda tangan berkas ini dan serahkan sertifikat pernikahan kalian,” ujar petugas itu. Dia tidak mungkin bisa menahan seseorang untuk bercerai.
Graciella melihat Adrean menyerahkan sertifikat pernikahan mereka. Graciella melihat sekilas ke arah sertifikat yang selama ini menghalanginya untuk menggugat cerai Adrean. Dia melihat foto dirinya dan Adrean. Merasa miris melihat senyuman yang terpancar di foto itu. Seorang wanita yang dari wajahnya terpancar sebuah pengharapan bahwa kisah cintanya akan sangat berbahagia. Tapi yang terjadi, malam itu dia akan menghadapi neraka dunia.
“Kau sudah lama tidak tersenyum seperti itu?” kata Andrean tiba-tiba karena melihat Graciella sedang memperhatikan foto pernikahan mereka.
“Tidak akan pernah lagi. Kau sudah membunuhnya.” Graciella hanya membuang pandang ke arah petugas yang tampak cukup kaget dengan perkataan Graciella.