
“Selamat siang, Komandan,” ujar Arnold yang tiba-tiba saja muncul di sana. Xavier dan Graciella yang tadinya berbicara cukup serius langsung melihat ke arah Arnold yang memang diminta oleh Xavier segera menemuinya di rumah jika dia sudah menyelesaikan apa yang diminta oleh Xavier.
“Ya?” jawab Xavier.
“Saya sudah mengurus semua berkas untuk pernikahan Anda. Semuanya sudah diterima oleh dinas pencatatan pernikahan. Mereka sudah menjadwalkan pencatatan pernikahan Anda besok,” ujar Arnold dengan senyuman yang mengembang. Turut bahagia akhirnya Tuannya akan menikah kembali.
“Baiklah, terima kasih,” ujar Xavier.
“Sama-sama Komandan,” ujar Arnold memberikan sedikit salam sebelum dia pergi undur diri dari sana.
Xavier segera memandang Graceilla yang ada di depannya. Melihat Graciella yang memandangnya tidak percaya tapi dengan bibir yang sedikit melengkung ke atas.
“Kenapa?” tanya Xavier melihat wajah Graciella yang seperti itu.
“Cepat juga. Sepertinya dulu tidak begitu cepat,” ujar Graciella.
“Ehm? Kau masih ingat pernikahanmu yang dulu,” tanya Xavier dengan alis yang bergelombang. Hal itu membuat Graciella langsung tertawa.
“Benar-benar Tuan pencemburu,” ujar Graciella mencubit hidung calon suaminya yang masih memandangnya dengan wajah yang curiga.
“Dulu, yang kau nikahi bukan seorang jenderal. Siapa yang berani menunda pernikahan seorang jenderal?” ujar Xavier yang tampak sedikit angkuh yang membuat Graciella kembali mengerutkan dahinya.
“Ya, baiklah Tuan Jenderal. Tapi, kalau di ingat-ingat, kau bahkan tidak pernah mengajakku kencan. Kau juga tidak pernah mengatakan bahwa kau mencintaiku? Kau juga mengajakku menikah hanya dari panggilan telepon? Masa begitu cara seorang jenderal mengajak menikah seorang wanita?” tanya Graciella. Tiba-tiba saja besok mereka akan menikah.
“Lalu?"
"Hah, benar-benar tidak peka. Setidaknya ajak aku berkencan sekali sebelum menikahiku. Sudah aku bilang, kau bahkan tidak pernah mengatakan bahwa kau menyukaiku atau mencintaiku. Lalu besok tiba-tiba kita menikah begitu saja. Apa tidak aneh?” tanya Graciella. Umurnya memang sudah hampir kepala tiga. Tapi bukan berarti dia juga tidak menginginkan kencan manis dengan seseorang yang dia cintai bukan?
“Kau lebih suka diajak kencan daripada diajak menikah?” tanya Xavier lagi mengerutkan dahinya menatap Graciella yang jadi sedikit kesal.
“Ya, bukan begitu juga. Siapa yang tidak suka diajak menikah. Tapi … ya sudah lah, Anda memang terlalu kaku Tuan Jenderal, Hah!” ujar Graciella yang meninggalkan Xavier. Seharusnya dia tahu bagaimana Xavier. Mengharapkannya bertindak sedikit manis seperti punuk yang merindukan bulan. Xavier hanya diam memandangi kepergian Graciella.
****
Graciella dan Monica yang melihat Xavier segera tampak terkesima sekaligus menatapnya bingung. Graciella kaget melihat Xavier tampak begitu rapi dengan kemeja putihnya dan juga celana kreamnya. Tentu saja terlihat begitu tampan. Graciella jadi hanya menatap pria itu bingung, ingin makan siang saja harus begitu rapi?
“Eh? makan siang?” tanya Graciella tidak percaya. Xavier hanya mengangguk sambil memperbaiki ujung kemeja putihnya. Kemeja putih itu sangat cocok terlihat melekat di tubuhnya. Tubuhnya yang tegap dan kulitnya yang tidak terlalu putih tapi bersih itu benar-benar bagus menggunakan warna itu. Seolah lebih memancarkan aura ketampanannya.
Monica juga tampak tidak percaya melihat penampilan Xavier. Bukannya dia tak pernah melihat anaknya terlihat rapi. Hanya saja kali ini dia benar-benar tampak lebih tampan dari biasanya. Mungkin sudah terlalu lama tidak melihat anaknya sedekat ini. Jadinya dia juga cukup terkesima dengan penampilan anaknya.
“Kau seharusnya menggunakan pakaian itu besok saat kalian menikah. Ah! Cucuku memang tampan sekali! Graciella, ayo cepat ganti bajumu, jangan sampai kalah dengan Xavier,” ujar Liliana yang entah datang dari mana. Dia juga tampak terkesima dengan penampilan Xavier saat ini. Monica segera menepuk pelan paha Graciella. Seolah memberikan tanda agar dia cepat melakukan apa yang diminta oleh Liliana.
“Oh, ya baiklah. Tunggu sebentar,” ujar Graciella.
Graciella segera meninggalkan ruang tengah itu. Masih aneh melihat penampilan Xavier hingga beberapa kali dia melihat pria itu. Graciella segera masuk ke dalam kamarnya. Mencoba untuk mencari baju yang cocok digunakan olehnya untuk mengimbangi Xavier. Sial sekali, dia tidak punya baju yang cocok. Dia baru saja pindah ke sini dan hanya membawa baju seadanya. Bahkan bisa dibilang dia tidak punya baju sama sekali.
Graciella hanya mencoba untuk memadu padankan bajunya yang tak lebih dari lima potong. Graciella menghempaskan tubuhnya terduduk di ranjang. Bingung harus menggunakan apa, kenapa tak satu pun gaun dibawa olehnya. Lagi pula untuk apa makan siang menggunakan gaun?
Tak lama terdengar suara ketukan di pintu. Graciella dengan malas berdiri dan segera membuka pintu kamarnya. Melihat sosok tinggi itu sudah ada di depan kamarnya. Xavier mengerutkan dahinya melihat Graciella yang belum bersiap sama sekali.
“Kenapa belum bersiap?” suara berat Xavier terdengar. Berdiri sedekat ini dengan Xavier membuat Graciella bisa mencium wangi woody yang menenangkan.
“Kenapa tiba-tiba mengajak makan dengan pakaian seperti ini? Kenapa tidak bilang-bilang?” tanya Graciella kesal. Berdiri di samping Xavier dengan pakaian yang dia punya di sini tentunya akan membuat semua orang berpikir dia hanya seorang pembantu.
“Bukannya kau yang mengatakan ingin kencan? Aku mengajakmu kencan,” ujar Xavier dengan polosnya.
“Eh? bukannya hanya makan siang? Lalu masa seperti ini mengajak seorang wanita kencan?” tanya Graciella lagi tak habis pikir. Sekarang dia benar-benar bingung harus menggunakan pakaian apa, tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja mengajaknya berkencan.
“Kita makan siang dulu, setelah itu baru pergi berkencan. Pakai saja pakaian yang nyaman untukmu, aku hanya tak biasa menggunakan kaos hingga menggunakan pakaian ini,” ujar Xavier lagi. Baginya kenapa lebih sulit mengajak seorang wanita kencan dari pada harus merencanakan sebuah penyergapan. Banyak sekali peraturannya.
“Ya, tapi seharusnya kamu memberitahuku sehari sebelumnya atau beri aku waktu yang cukup untuk mempersiapkannya, bukan buru-buru begini,” ujar Graciella.
“Kurang dari enam belas jam lagi kita akan menikah. Delapan jam sebelum kita pergi untuk beristirahat. Bukannya kau ingin kencan sebelum pernikahan. Bagaimana caranya jika tidak mendadak seperti ini?” tanya Xavier benar-benar bingung menebak apa yang ingin Graciella lakukan.
Graciella mendengus. Dia juga bingung. Dia yang meminta dia yang heboh dengan hal ini. Ah! Tak mungkin dia meminjam baju pada calon ibu mertuanya apalagi dengan Liliana. Graciella kembali duduk melihat ke arah lemarinya yang hampir seluruhnya kosong.