
Antony menatap wajah yang masih tertidur damai di atas ranjang luas dengan pinggiran mewah ukiran dengan cat di dominasi emas.
Laura tampak sudah sangat segar. Bahkan wajahnya sudah terlihat normal. Sudah entah berapa botol infus yang dia habiskan. Tapi bagaikan tidak tidur selama sebulan. Sampai sekarang Laura tidak menunjukkan tanda akan sadar.
Antony sekali lagi memeras handuk kecil hangat. Kali ini bukan untuk mengompres tubuh Laura yang demam, tapi untuk membersihkan sedikit tubuh Laura.
Dengan sangat pelan dia mengusapkannya ke wajah Laura. Lalu perlahan turun ke leher gadis itu. Antony kembali membasahi handuknya dan perlahan mengusap jari jemari Laura. Tapi mungkin karena rasa nyeri yang menjalar di tangannya yang tertancap jarum infus itu. Laura tiba-tiba menarik tangannya.
Laura merasakan kenyamanan yang sangat. Matanya sangat berat hingga dia tidak bisa membukanya. Tapi dia merasa sekelilingnya begitu empuk. Apakah dia sudah ada ranjang yang berada di surga. Bukannya kemarin ranjang itu sekeras batu?
Laura dengan tenangnya segera ingin memiringkan tubuhnya. Dia ingin memeluk bantal gulingnya. Sepertinya di surga juga ada bantal guling, pikirnya.
“Hei! Laura jangan!” teriak Antony sedikit kaget tiba-tiba saja Laura menarik tangannya dan memiringkan tubuhnya seolah hendak memeluk sesuatu. Antony menahan tangan Laura yang tertancap selang infus itu. Tidak ingin jarum itu tercabut dan darahnya akan keluar semua. Akan membuat masalah lain nantinya.
“Ehm, aku masih mau tidur, Ibu,” racau Laura terdengar manja. Tapi karena memang selang itu tertarik membuat Laura langsung merasakan nyerinya. “Aduh! Tanganku!” Laura segera kembali ke posisinya.
Antony menatap mata wanita itu yang tampak sayu terbuka. Laura hanya memperhatikannya, lalu pandangannya berputar ke sebuah ruangan yang sangat mewah dan besar. Dia juga tampak kaget dengan bantal-bantal bersprei emas di sekitarnya. Terasa empuk berisi bulu angsa terbaik.
Setelah sibuk mengamati keadaan sekitarnya. Mata Laura kembali tertambat ke arah Antony yang hanya diam menatap Laura. Penyesalan terdalam tampak sekali dalam sorot matanya.
“Kau tahu, aku bermimpi aneh sekali.” Suara serak Laura terdengar. Laura memegang kerongkongannya. Tentu saja kerongkongannya kering. Sudah lima hari tidak ada air yang melewatinya.
“Hmm? Apa?” Antony hanya menatap wanita itu dengan sendunya.
“Masa aku bermimpi kau menjadi pria yang kejam,” ujar Laura lagi dengan sedikit tawa kecilnya. Sepertinya dia memang masih berada di awang-awang. Laura memegang kepalanya yang masih pusing dan juga perutnya yang mulai perih.
Antony mendengar hal itu hanya terdiam sambil sedikit menggigit bibir bawahnya. Laura lalu melihat ke arah tiang infus yang ada di sampingnya. Dia lalu melihat ke arah tangannya yang tertancap selang infus itu. Ada sedikit darah yang naik karena ulahnya tadi. Laura segera menangkat tubuhnya ingin duduk.
“Lebih baik berbarin dulu,” ujar Antony yang tampak sedikit khawatir. Baru saja melewati masa-masa kritis. Tentunya tubuh Laura sangat lemah sekarang.
Laura tetap membuat dirinya duduk. Dia melihat infus itu terus lalu perlahan jatuh ke Antony. “Itu bukan mimpi, bukan?” Laura menatap Antony dengan wajah menuntut jawab.
Antony lagi-lagi tidak membuka sedikit pun bibirnya. Hal itu membuat Laura kesal dan yakin bahwa itu semua bukan mimpinya. Benar, bagaimana bisa itu menjadi mimpi jika rasa sakitnya saja masih dia rasakan sampai sekarang. Laura kembali berbaring dan segera tidur membelakangi Antony.
Antony yang melihat apa yang dilakukan oleh Laura tentu kaget. Di tubuhnya masih tertancap infus dan juga kateter. Walaupun dia tidak pernah merasakan semua itu, tapi pastilah terasa sakit.
“Laura, Laura, jangan begini. Lihat darahmu naik lagi,” ujar Antony cemas.
Antony semakin panik ketika semakin banyak darah yang naik ke selang infus itu. Dia tak tahan melihatnya dan segera bangkit.
"Dokter! Dokter!" teriaknya kuat sembari berjalan sedikit ke arah pintu agar dokter dan perawat yang memang siap siaga di sana bisa mendengarnya. Laura masih saja tidak mengubah posisinya walaupun tangannya sudah terasa pegal.
"Dokter!" Antony bergegas membuka pintu kamar itu. Berteriak dengan keras hingga dokter dan perawat di sana kaget. Mereka tak bisa mendengarkan teriakan Antony karena memang ruangan itu kedap suara.
Dokter langsung menerobos masuk tanpa bertanya
Kalau Antony sudah tampak panik dan cemas begitu pastilah ada apa-apa dengan Laura.
Dokter itu labgsung memeriksa keadaan Laura yang menolak untuk tidur telentang. Dia tetap dengan posisinya yang pastinya sulit untuk dokter dan perawatnya. Untung saja dokter itu tetap bisa memeriksanya.
"Bagaimana?" Tanya Antony.
"Cabut saja semua, keadaan Nona Laura baik-baik saja," perintah dokter itu pada perawat sekaligus menjawab pertanyaan Antony yang tampak sekali kekhawatiran di wajahnya.
Dokter itu menatap Antony dan memberikan gestur agar mereka berdua keluar. Antony hanya mengangguk dan mengikuti dokter itu.
"Ada apa?" Tanya Antony. Dia tahu ada yang ingin dibicarakan oleh dokter itu tentang Laura.
"Tuan Presiden, keadaan Nona Laura baik-baik saja, tapi itu hanya secara fisik." Dokter itu menghela napasnya sejenak.
"Lalu?" Seketika ada kerutan dalam di dahi Antony.
"Tapi tidak mentalnya. Nona Laura sangat tertekan. Saya tidak tahu kenapa tapi saat ini kejiwaan Nona Laura sangat rapuh. Jadi aku harap Anda harus berhati-hati dengannya, kecendrungan untuk menyiksa dirinya lagi akan ada bahkan mungkin sampai bunuh diri." Dokter itu menjelaskannya dengan wajah yang sangat serius.
Antony hanya memperdalam kerutan di wajahnya.
"Kemampuan orang-orang untuk menghadapi sebuah tekanan berbeda-beda. Ada yang benar-benar tangguh hingga kita tidak bisa membayangkan lagi hidup dengan masalah sangat berat tapi dia tetap bisa menahannya. Tapi ada orang yang hanya dengan masalah kecil saja sudah tak sanggup dan ingin bunuh diri. Nona Laura seperti orang yang sangat mudah terpengaruh oleh stressnya, jadi mungkin Anda harus menjaganya dengan ekstra. Jangan buat dia tertekan lagi."
Antony mengangguk mengerti. Dari kecil Laura adalah anak yang dimanja orang tuanya. Walau berusaha untuk tetap menjalani hidupnya tanpa sangkut paut keluarganya. Tapi tentunya hal itu berpengaruh akan dirinya. Anak itu tak pernah menghadapi masalah berat dan hanya menganggap dunia ini sebagai tempat kesenangannya.
"Baiklah, aku mengerti," ujar Antony.