Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 103.


“Mama! Sakit! Mama! Moila sakit! Huaaaaaa! Mama! Sakit!” tangis Moira pecah. Mata Graciella membesar dan wajahnya tampak sangat terkejut mendengar suara anaknya. Apalagi dia mendengar bagaimana sepertinya Moira berontak. Mereka sedang melakukan sesuatu yang menyakiti anaknya!


“MOIRA! Tuan! Tuan, aku mohon! Apapun itu aku akan melakukannya asal jangan membuat anakku sakit! Jika Anda mau melukainya, Anda lakukan saja padaku! Aku mohon Tuan, aku sangat memohon pada anda! Aku saja, biar aku saja!” ujar Graciella dengan nada sangat memelas diselingi oleh suaranya sengaunya karena tangisnya. Rasanya begitu sakit mendengar anaknya meminta tolong padanya, tapi dia tidak bisa melakukan apapun.


“Huaaaaa! Mama! Moila dalah, dalah Mama!! Mama! Jahat!” jerit Moira yang tampak meraung kesakitan yang sekali lagi menusuk hati Graciella begitu dalam. Mendengar suara jeritan anaknya bagaikan seribu pedang yang langsung menghunus jantungnya. Membuat seluruh tubuhnya terasa berdenyut menahan sakit.


“Tuan, tolong! Lukai aku saja! Tuan! Tolonglah! Tuan! Aku saja! Bahkan jika kau ingin membunuhku, bunuh saja aku! Izinkan anakku hidup! Tolong Tuan! Tolong! Aku mohon, ya Tuhan aku mohon! Tuan, aku saja!” Graciella terus memelas. Suaranya bahkan bergetar. Dia benar-benar memohon pada siapapun, tolong selamatkan anaknya! Dia tidak peduli mereka ingin melakukan apa saja padanya, asalkan mereka tidak melakukan apapun pada Moira.


Suara tangis Moira dan teriakannya benar-benar mengiris hatinya, dari begitu banyak penderitaan dan sakit yang sudah pernah dirasakan oleh Graciella. Ini yang begitu sakit dia rasakan. Dia mendengar anaknya memanggil dan meraung meminta tolong padanya tapi dia tidak bisa apa-apa. Tuhan, jika ingin menghukumnya, hukum saja dia, jangan hukum anaknya! Graciella tak akan pernah meminta apa pun lagi, dia hanya ingin Tuhan memberikan belas kasihannya pada anaknya. Hanya itu yang diinginkan Graciella sekarang yang hanya bisa memohon dan menangis tersedu.


“Itu hanya sedikit yang bisa aku lakukan! Jika esok kau tidak melakukan yang aku inginkan! Kau akan merasakan akibatnya!” ujar pria itu kembali mencengkram kuat pipi Graciella hingga ujung-ujung kukunya yang menusuk dalam ke pipi Graciella.


"Iya, iya! Aku akan melakukannya. Aku akan patuh, asalkan Tuan, jangan siksa anakku. Cukup aku saja, aku memohon padamu!” ujar Graciella lagi-lagi dengan suara yang begitu memelas.


“Baiklah, bawa anak itu dari sini!” ujar pria itu.


“MAMA! MAMA! MOILA MAU MAMA!” pekik Moira yang kuat di tengah jeritnya, dia meraung tak ingin dipisahkan dari ibunya.


Bersamaan dengan itu Graciella pun membesarkan matanya dan segera meminta, “Jangan! Jangan! Tuan tolong jangan pisahkan aku dengan anakku lagi! Tuan! Tolong jangan bawa anakku! Tuan! Tuan! Tuan!”


Tapi Graciella tidak mendengar sedikit pun jawaban, dia malah mendengar suara jeritan Moira semakin jauh, “MOIRA! MOIRA!”


Seberapa pun Graciella berteriak tapi tak ada satu pun balasan, seluruh ruangan itu telah hening, dia bahkan tidak bisa mendengar lagi suara anaknya yang terakhir kali dia dengarkan menjerit sangat kuat. Dia bisa bayangkan bagaimana ketakutannya Moira!


Semalaman Graciella berteriak meminta anaknya dikembalikan hingga tenggorokannya begitu sakit dan kain di matanya terasa basah oleh air matanya tapi tetap saja, tak ada lagi balasan. Malam itu adalah malam paling menyakitkan yang pernah Graciella rasakan dalam seluruh hidupnya.


****************


Graciella mengangkat kepalanya yang sudah sangat berat. Semalaman ini dia tak bisa menutup matanya sama sekali. Setiap kali dia mulai kehilangan kesadarannya yang dia dengar adalah teriakan minta tolong anaknya.


"Moira? Moira? Tuan? Di mana putriku?" suara Graciella yang sudah serak terdengar. Graciella juga baru sadar bahwa tenggorokannya begitu nyeri sekarang. “Tuan?”


Graciella kaget saat pipinya kembali terasa dicengkeram oleh seseorang. Graciella langsung bernapas berat. Graciella yakin itu adalah pria yang tadi malam. Wangi tubuhnya sama seperti tadi malam.


Graciella merasakan seseorang membuka penutup matanya. Tak lama kain hitam itu terasa melonggar dan lepas jatuh dari wajahnya. Graciella perlahan membuka matanya yang terasa pegal karena semalaman ini terikat erat. Semua terasa begitu terang dan juga masih kabur. Graciella memejamkan matanya beberapa kali hingga akhirnya pupil matanya terbiasa dengan cahaya di ruangan kecil itu.


Mata Graciella langsung menangkap sosok yang ada di depannya. Dia langsung menahan napasnya melihat siapa yang ada di depannya. Dia tidak menyangka Robert ada di sana berdiri dengan tatapannya yang begitu mengancam.


“Dengarkan! Jika kau ingin bertemu lagi dengan putrimu maka kau harus mengikuti semua yang aku katakan,” ujar Robert dengan wajah yang sangat kejam.


Graciella mengangguk dengan tergesa-gesa. “Tuan, aku janji, aku janji akan mengikuti semua hal yang kau katakan, tapi izinkan aku bertemu dengan putriku sebentar saja. Aku mohon! Aku hanya ingin melihat dia, dia pasti sangat ketakutan. Tolong Tuan, izinkan aku bertemu dengannya. Tolong, berbelas kasihlah padaku,” ujar Graciella memelas dengan sangat. Dia hanya ingin bertemu dengan putrinya. Matanya yang tadinya terasa perih kembali menjadi semakin perih dengan keluarnya air mata yang sama sekali tidak bisa dia bendung.


“Tidak!” Robert menghempaskan kepala Graciella dengan keras tapi dia malah menjambak rambut Graciella membuatnya semakin mendongak. “Kau harus melakukan semua hal yang aku perintahkan terlebih dahulu jika kau ingin bertemu dengan anakmu!” ujar Robert kembali.


Graciella segera mengangguk menyetujui. Apapun dia lakukan hanya untuk bisa melihat anaknya. Semalam berpikir bagaimana keadaan anaknya. Apa yang membuatnya menangis begitu histeris? apakah mereka melukainya hingga Moira mengatakan dia berdarah? Apa yang mereka lukai? parahkah? Graciella sudah hampir gila memikirkan semua hal itu.


“Bagus!” ujar Robert yang senang melihat Graciella menjadi begitu penurut. “Lepaskan ikatan tangannya!” perintah Robert pada salah satu dari orang yang ada di sana. "Jangan macam-macam atau selama adalah kali terakhir kau mendengar suara anakmu!"


Graciella langsung mengangguk setuju seraya mengatur napasnya yang terasa berat. Setiap kali tarikan udara yang masuk ke dalam paru-paru serasa memukulnya dari dalam.


Salah satu penjaga di sana segera mendekati belakang Graciella. Dia langsung membuka pengikat tangan Graciella.


“Sebentar lagi kau akan tersambung dengan Xavier. Minta dia untuk bertunangan dengan Devina. Dan ... jika dia menolak maka aku akan dengan senang hati menorehkan satu luka di tubuh anakmu itu!" ujar Robert dengan suaranya kejamnya yang mirip dengan seorang psikopat.


"Ya, aku mengerti Tuan. Tolong jangan melukai anakku, jika anda mau, Lukai saja aku. Biarkan dia hidup, dia masih terlalu kecil," ujar Graciella.


"Aku tidak perduli tentang itu! siapa yang ingin aku lukai hanya aku yang menentukannya! lakukan saja tugasmu!" ujar Robert lagi sekali lagi menarik keras rambut Graciella hingga Graciella meringis kesakitan.