Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 13. Kau ingin apa dua jam bersamaku?


Laura mengerutkan dahi menangkap sosok Fredy yang berjalan ke arah tengah perkumpulan orang-orang di sana. Bukannya itu tadi suara Xavier? tapi kenapa yang muncul malah Fredy? Mata Laura lalu bergulir dan menemukan sosok dingin itu ada di ujung ruangan. Laura menaikkan satu sudut bibirnya. Datang juga rupanya, pikir Laura.


Rose yang mendengar hal itu menjadi kesal. Wajahnya tampak merajuk ke arah Sam yang bingung. Harga itu terlalu tinggi untuk dia naikkan.


"$ 3100 untuk Rose." suara Sam sedikit ragu mengatakannya. Dia sudah sampai batasnya. Fredy mendengar itu segera melihat ke arah Sam dengan tatapan tajamnya. Gara-gara pria itu menawar lagi, tugasnya jadi tak selesai.


"Wow, masih berlangsung! baiklah, kali ini jika ada yang ingin menawar kembali di atas $3100 maka lelang itu akan di tutup, bagaimana? ada lagi?" tanya Andy semangat. Semakin tinggi tentu semakin banyak uang yang disumbangkan. Apalagi lelang ini semakin sengit, menjadi hiburan tersendiri bagi para tamu pesta.


Fredy melempar tatapannya ke arah sudut ruangan yang sangat remang. Graceilla mengikuti pandangan Fredy. Dia melihat pria bertubuh tegap itu mengangguk. Entah kenapa Graciella malah takut dengan angka yang akan disebutkan oleh Fredy.


"$5000 untuk Dokter Graciella," ujar Fredy membuat semua orang gempar. Mereka kaget dengan penawaran itu. $5000 hanya untuk dua jam bersama dengan Graciella, semua orang mengerutkan dahinya? apa keistimewaan wanita yang bahkan bibirnya pucat tanpa menggunakan pemulas bibir.


Graciella pun tak percaya pria itu menawar dirinya sebegitu tingginya. Graciella menggigit bibirnya dan jadi merasa tak enak hati, kenapa pria itu bisa melakukan hal seperti ini?


"Ya! sudah selesai! pemenangnya adalah Graciella kepada Tuan ... ?" tanya Andy mendekati Fredy.


"Bukan aku, aku hanya menyampaikan penawarannya. Tuan Xavier yang menawar Dokter Graciella," ujar Fredy sedikit salah tingkah disorot semua mata di sana.


"Oh, baiklah! Tuan Xavier! Graciella milik Anda selama dua jam!" ujar Andy mengumandangkan pengumuman itu. Semua orang hanya bertepuk tangan kecil, masih kaget dan bingung, sungguh hasilnya tak seperti yang mereka bayangkan.


Rose memandang sinis ke arah Graciella yang masih memproses semuanya. Otaknya yang sudah terkontamasi oleh alkohol jadi lambat berpikir.


"Baiklah, kau menang sekarang! kau pasti sangat senang sekarang!" ujar Rose dengan wajah kesalnya.


Graciella memandang Rose. Sejujurnya tidak, membuat orang mempermalukan dirinya sendiri itu bukanlah dirinya. Dia tahu bagaimana dipermalukan. Jadi dia pikir dia juga tak ingin mempermalukan orang lain. Malah sekarang yang lebih dominan di otaknya adalah rasa penasarannya. Kenapa pria itu mau menggelontorkan begitu banyak uang hanya untuk dirinya?


"Kau tidak perlu melakukannya. Anggap saja perjanjian tadi batal. Jika kau berhenti, rumah sakit pasti kekurangan dokter." Graciella segera ingin meninggalkan Rose yang masih bertampang kesal. Dia ingin segera menemui pria yang hanya tampak siluetnya saja dari sana.


"Hei! kau kira aku tidak mampu untuk mengatakannya?" tanya Rose yang semakin kesal, merasa sikap Graciella 'sok' baik padanya.


Graciella menoleh sejenak lalu menatap Rose dengan pandangan datar, "Itu terserah padamu. Tapi aku sudah membatalkan perjanjian itu, jika kau merasa ingin mempermalukan dirimu sendiri, silakan."


Rose meremas tangannya. Dia bingung harus apa? tadi dia yakin sekali bisa menang dari Graceilla, tapi kenapa? Siapa pria yang sudah menawar Graciella begitu tinggi. Rose hanya memandang Graciella yang berjalan menuju sebuah meja di sudut ruangan yang remang.


Graciella berhenti di depan meja tempat Xavier duduk, dia sedang menyeruput sedikit minuman keras yang ada di mejanya. Graciella memainkan bibirnya, ingin langsung bertanya alasan Xavier melakukan hal tadi, tapi terasa tak sopan tanpa basa basi.


"Kenapa kau melakukan hal itu?" tanya Graciella yang sudah duduk manis di depan Xavier.


"Anggap saja aku sendang ingin memberikan sumbangan." Dingin Xavier mengatakannya tanpa nada. Menuangkan sedikit wiski Bourbon ke dalam gelas kristal berisi es batu. Hanya separuh dia mengisinya.


Saat Xavier ingin mengambil gelas kristal itu. Graciella dengan cepat menyambar minuman milik Xavier. Xavier hanya memandangnya dengan sedikit kerutan di alisnya.


"Lalu ... " Graciella sejenak berhenti untuk menegak habis minuman yang dituangkan oleh Xavier. Dia perlu itu untuk bisa menemani pria galak nan dingin ini. Setelahnya dia segera meletakkan gelas kristal itu sedikit keras, "Apa yang ingin kau lakukan dua jam ini bersamaku?"


Xavier tak langsung menjawab, hanya menganalisa wajah Graciella yang mulai memerah. "Tidak ada," jawabnya singkat.


Graciella menautkan kedua alisnya. Memandang Xavier tak percaya, masa dia sudah melelang Graciella dengan uang begitu banyak tapi tidak ada yang ingin dia lakukan?


"Baguslah kalau begitu. Aku sudah membayangkan menemanimu pasti sangat membosankan." Graciella mulai tak bisa menyaring apa yang ingin dia katakan. Kepalanya pusing tapi rasanya ingin terus meminum minuman berwarna coklat keemasan itu. Xavier tidak menuangkan minuman keras itu lagi. Karena itu Graciella mengambil botol yang ada di depannya dan segera meminumnya. Baru saja beberapa teguk, botol itu langsung ditarik oleh Xavier.


"Kenapa diambil? aku akan membayarnya! berikan padaku! aku membutuhkannya untuk melupakan apa yang terjadi pada hidupku! sini! aku bayar!" racau Graciella dengan matanya yang terlihat sayu, tanda dia sudah mabuk. Dia merogoh kantong jeansnya. Tentu tak menemukan sepeser pun uang di sana. Dia tak membawa uang. "Ops, aku tidak membawa uang. Bisa kau meminjamkan aku uang? aku ingin membayar minumannya."


Xavier hanya diam memperhatikan gaya Graciella yang sudah kacau. Graciella mencucurkan bibirnya karena tak ada respon dari Xavier. "Kenapa kau datang?"


"Seseorang mengundangku datang." Xavier sebenarnya tahu dia tak perlu menjawab pertanyaan Graciella, wanita ini sudah cukup mabuk untuk memproses apa yang dia katakan. Dan sebenarnya, Xavier tidak punya niat sama sekali untuk datang ke pesta ini walaupun Laura mengundangnya. Tapi tadi sore dia mendapatkan laporan dari Fredy bahwa karena kenaikan jabatan yang dia rekomendasikan. Seluruh rumah sakit jadi membicarakan Graciella yang tidur dengan direktur rumah sakit sehingga bisa mendapatkan jabatan itu. Xavier menjadi merasa bertanggung jawab karenanya.


"OH!" suara Graciella meninggi. Untung saja mereka ada di pojok ruangan. "Kau tidak memata-mataiku kan Komandan galak! siapa yang kau bilang bodoh! aku tidak bodoh! aku seorang dokter yang tidak bisa melihat pasienku sakit! anak itu! kau ini tidak kasihan ya dengannya! dia ketakutan! makanya aku ingin menukarkan hidupku dengannya. Hidupku tidak ada apa-apanya dibandingkan hidupnya, hidupku ... tidak ada nilainya."


Xavier menangkap kesuraman dalam mata Graciella saat dia mengatakan tentang hidupnya. Ada kesedihan mendalam yang tersirat yang membuat siapa pun tak nyaman melihatnya. Xavier hanya diam melihat mata indah itu sayu.


"Dan! Kau! Kenapa tidak mengatakan terima kasih padaku! kalau bukan karenaku! kau tidak bisa melupuhkan penjahat itu! Kau! Kenapa semua laki-laki tidak bisa melihat kebaikan seorang wanita! kenapa hanya melihat sisi jeleknya saja! kenapa karena satu kesalahan saja kalian bisa begitu marah! Kalian!!!" Graciella meracau sampai berteriak menggebu-gebu, dia bahkan menunjuk wajah Xavier seolah ingin menerjang Xavier bahkan dia hampir menaiki meja itu.


Tentu kelakuan Graciella membuat Xavier awalnya kaget, tiba-tiba saja Graciella meledak di depannya. Fredy yang sudah ada di dekat sana pun kaget. Dia dengan cepat ingin menenangkan Graciella dengan mencoba untuk menghalangi Graciella naik ke atas meja. Kalau Graciella sampai berhasil menaiki meja itu, pasti dia sudah menyerang Xavier. Fredy segera menarik Graciella untuk kembali duduk. Tapi saat Graciella berhasil didudukan, dia langsung pingsan. Fredy jadi bingung melihatnya.


"Siapkan mobil," ujar Xavier melihat Graciella lunglai di meja depannya.


"Siap Komandan," kata Fredy dengan tegas. Masih sedikit bingung melihat Graciella.


Xavier hanya memandangi Graciella. Sebutir air mata sebening kristal meleleh dari ujung matanya, mengalir di batang hidungnya lalu jatuh menetes di meja itu. Hal itu sungguh membuatnya tak nyaman.