Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 93. Aku akan menepatinya.


"Sampai sekarang aku tidak tahu," ujar Xavier sedikit memasang wajah berkerutnya. "Semua data dari malam itu sudah dihapus. Aku rasa memang sengaja dihilangkan. Aku sudah beberapa kali mencoba untuk menelaahnya lagi tapi tetap saja tidak menemukan yang bisa aku curigai sebagai dalangnya." Xavier tampak sedikit menganalisa.


"Lalu, apakah ada sesuatu yang terjadi padamu? jika memang ada yang sengaja memasukkan obat itu pada minumanmu, pasti dia memiliki tujuan? tidak mungkin dia hanya asal menaruh obat itu dalam minumanmu bukan?" Graciella penasaran. Kenapa bisa terjadi seperti itu.


"Sampai saat ini tidak ada sama sekali perangaruhnya pada diriku atau orang tuaku. Tidak ada yang memanfaatkan hal itu sama sekali. Walau aku tahu orangtuaku pasti sudah melakukan sesuatu untuk membuat hal ini tidak sampai tercium publik. Mereka sangat berobsesi menjadikan aku seorang Presiden, mengikuti jejak kakekku," ujar Xavier lagi memandang mata indah itu yang tampak bergerak-gerak menatap dirinya.


Greciella menggigit bibirnya. Dia baru ingat tentang keluarga Xavier. Tadi seperti dia terlalu cepat mengatakan akan menikahi Xavier, dia tidak memikirkan tentang kedua orang tua Xavier. Pastilah mereka tidak akan setuju anaknya ini menikahi seorang Graciella. Seorang janda dari keluarga teman dekat mereka sendiri.


"Apa orang tuamu tahu tentang hubungan kita?" tanya Greciella, nada bicaranya rendah. Matanya tampak serius menatap ke arah Xavier.


Xavier mengangguk tegas. "Mereka tahu, karena itu mereka harus meminta Joceline untuk menggantikanmu."


Graciella tersenyum tipis tapi langsung dikulum olehnya. Orang tua Xavier tahu tentangnya tapi malah meminta seorang wanita tunasusila untuk menggantikan dirinya. Tentu dari awal itu adalah tanda penolakan mereka. Apakah mungkin ada yang bisa merubah pemikiran mereka tentang Graciella sekarang? sudah pasti hubungan antara Xavier dan dirinya akan ditentang oleh mereka.


Seketika saja, perasaan bahagia yang tadi membuncah dalam perasaan Graciella tiba-tiba saja berganti kerisauan. Rasanya tak nyaman, seolah terasa kecut dalam hatinya. Sorot mata Greciella menyuram seketika, hal itu langsung ditangkap oleh Xavier.


"Ada apa?" tanya Xavier.


"Jika kita menikah, sudah pasti orang tuamu akan kecewa padamu dan menentang hubungan kita berdua, mereka tidak akan menerimanya, bukan?" ujar Graciella mengutarakan pikirannya.


"Aku tidak peduli apakah mereka setuju atau tidak. Semua yang aku dapatkan sekarang adalah jerih payahku sendiri, tak ada sangkut pautnya dengan mereka." Xavier menatap Graciella dengan penuh keteguhan, seolah dia ingin menyakinkan Greciella. Apapun yang terjadi, bahkan harus tak diakui dari keluarga Qing, dia akan rela melakukannya untuk anak dan wanitanya.


"Aku sudah pernah gagal dalam rumah tangga. Dan sekarang aku hanya ingin punya cita-cita rumah tangga yang sederhana dan harmonis. Tak banyak penolakan ataupun drama. Hanya sebuah rumah tanggs yang hangat tempat aku berkumpul dengan anak-anakku. Aku rasa jika kita menikah nantinya tapi dengan keadaan masih seperti ini, pastilah orang tuamu tidak tinggal diam. Mereka pasti melakukan sesuatu dan memikirkannya saja aku sudah lelah." Greciella memasang wajah masamnya. Tiba-tiba saja merasa sedih, tapi memang itulah kenyataannya. Lagi-lagi dia harus tertampar oleh keadaan, bodoh sekali berpikir bahwa jika ingin menikah dengan seornag Xavier jalannya akan mulus-mulus saja.


"Aku tidak mempermaikan perasaanmu! hanya saja! aku benar-benar merasa sudah lelah dengan semua hal tentang perasaan ini! aku pernah berjuang dengan sangat, tapi tak pernah dihargai!" kata Greciella mengutarakan perasaannya. Membayangkan apa yang harus dia lewati dan juga harus dia lakukan hanya untuk mendapatkan restu dari orang tua Xavier sudah membuatnya pusing.


Tak bisakah dia punya kisah percintaan yang sederhana saja? bagaimana bisa orang-orang di sana mendapatkan cinta mereka begitu mudah sedangkan dia harus berjuang disetiap cinta yang dia rasakan.


"Dan sekarang kau menyamakan aku dengan Adrean!" ujar Xavier dengan tangan terkepal dan juga gertakan gigi yang jelas. Graciella dapat melihat urat lehernya yang tegang. Tentu Xavier tak ingin disamakan oleh Adrean. Apa Graciella tak melihat bedanya?


"Aku bukan menyamakanmu dengan Adrean! hanya saja! aku hanya ingin hidup tenang. Aku ingin hidup dimana hanya ada kedamaian, setiap sore menanti suami pulang bekerja, berkumpul bersama dengan anak-anak. Itu saja!" ujar Greciella benar-benar merasa ingin dipahami perasaannya.


"Kau kira aku tidak bisa memberikan hal itu padamu? apakah kau pikir hidup denganku akan melelahkan?" tanya Xavier lagi dengan matanya yang cukup tajam menatap ke arah Graciella.


"Aku rasa itu akan sulit," sejujurnya Graciella pun tak ingin mengatakan hal ini. Bagaimanapun dia sudah punya perasaan lebih pada Xavier. Walaupun dia tak tahu entah bagian mana lagi dari hatinya bisa kembali merasakan cinta, padahal sebelumnya sudah hancur berkeping-keping karena ulah Adrean.


Xavier menggertakkan kembali giginya dan menggenggam tangannya lebih erat. Terkadang ada saatnya dia terlalu geram dengan sifat keras kepala Graciella.


"Lalu apa maumu, Graciella?" tanya Xavier lagi. Mencoba untuk mengontrol emosinya tapi tetap saja terlihat.


Greciella pun tak tahu harus bagaimana. Tiba-tiba saja terasa seperti orang yang plin-plan, sesaat mengiyakan, sesaat kemudian terkesan mempersulit. Tapi bukannya lebih baik dikatakan sekarang dari pada merasa tenang dalam kebahagiaan yang semu. Bukannya Greciella orang yang banyak menuntut, hanya saja, pengalaman pahit membuatnya lebih berhati-hati.


Graciella menarik napasnya panjang. "Baiklah, jika memang mau menikah, bisakah orang tuamu menerimaku dan Moira? atau paling tidak, kau bisa memastikan mereka tidak mengganggu keluarga kita? " ujar Graciella memandang mata Xavier yang tampak sedikit kaget. Xavier sendiri agak ragu bisa membuat ayah dan ibunya berubah pikiran. Mereka sangat menuruti ambisi mereka. Bagaimana caranya bisa membuat mereka menerima Graciella? satu hal lagi yang harus Xavier pikirkan. "Tolong jangan berpikir aku kejam. Tapi aku hanya ingin hidup tenang bersamamu nantinya. Kehidupan seperti itu yang aku inginkan."


Xavier menurunkan bahunya yang dari tadi terangkat akibat emosinya yang sempat naik. Jika dipikir lagi, tentu permintaan Greciella ini tak berlebihan. Dia hanya takut orang tua Xavier akan melakukan sesuatu padanya dan anaknya. Tentu Xavier pun sebisa mungkin membuat mereka tak akan melakukan apapun pada dua orang yang paling penting baginya. "Aku mengerti, aku akan berusaha. Aku sudah berjanji akan menjaga kalian, maka akan aku tepati," tegas Xavier.