
“Tapi bukannya kau katakan bahwa kau sudah bertanggung jawab pada wanita yang kau tiduri? Jika kau sudah bertanggung jawab, sudahlah, lepaskan saja.” Stevan menyenderkan tubuhnya ke kursinya. Seluruh punggungnya jadi tegang karena pembicaraan ini. “Apa dia menuntut mu untuk memberikan pertanggung-jawaban?”
Xavier menggeleng lemah. Sorot matanya menyuram, “Ayah dan ibuku sengaja menyewa wanita lain untuk mengaku sebagai wanita yang aku tiduri sehingga aku tidak lagi mencari wanita itu. Jadi selama ini aku memberikan pertanggung jawaban pada wanita lain. Graciella bahkan tidak tahu bahwa pria itu adalah aku.” Xavier menatap dengan serius ke arah stevan.
“Benarkah?” Tatap Stevan balik dengan wajah berkerut. “Bagaimana bisa begitu?”
“Saat itu ayahku baru saja menjadi perdana menteri. Lagipula kau tahu bagaimana ambisi ayahku untuk menjadikanku seorang presiden. Mereka berpikir hal ini akan berpengaruh buruk pada reputasi ku.”
“Tapi dia sudah menikah dengan Adrean Han, bukannya itu sudah tidak jadi tanggung jawab mu lagi? biarkan saja dia bahagia dalam pernikahannya.”
“Tapi, Graciella mengalami kekerasan dalam rumah tangga selama menikahi Adrean Han karena Adrean Han mengetahui bahwa sebelumnya Graciella tidur denganku seminggu sebelum pernikahan mereka. Bahkan kemarin Adrean Han ingin menghadiahkan Graciella pada seorang pria hidung belang hingga dia mengalami luka seperti itu," jelas Xavier pada Stevan.
“Ha? Bagaimana ada suami yang seperti itu. Tapi memang nasibnya sangat buruk jika menikah dengan Adrean Han. Tapi kenapa dia tidak ingin cerai?”
“Aku yakin dia sudah meminta cerai. Tapi aku rasa Adrean sengaja untuk tidak ingin menceraikan Graciella. Aku juga pernah mendapatkan bukti bahwa Graciella pernah beberapa kali membuat laporan ke polisi untuk melaporkan tindakan kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh Adrean, tapi beberapa kali pula laporan itu di tolak, tanpa proses sama sekali. Sepertinya ini pasti ulah dari Adrean.” Xavier mengeluarkan beberapa lembar kertas dari map yang ada di atas mejanya.
Stevan kembali mengerutkan dahinya dalam, kali ini dia mencondongkan tubuhnya ke arah Xavier dan mengamati kertas yang diberikan oleh Xavier. Baginya kasus Graciella ini menjadi serius. Seketika wajah Stevan menjadi kesal.
“Maafkan, aku tidak bisa membuat semua polisi seperti kita dan jujur. Lalu kau ingin bagaimana? kau ingin aku menindak apa yang sudah dilakukan oleh Adrean pada Graciella sekarang?” ujar Stevan.
Xavier memiringkan wajahnya menatap ke arah Stevan serius. “Kau kira bagaimana kesempatan kita jika menyerangnya sekarang?” tanya Xavier.
Stevan menyipitkan matanya melihat kertas itu lagi, “Sulit, kalau hanya menggunakan ini sebagai bukti dan dengan kekuasaan yang dia punya. Pastinya akan sulit dan aku yakin dia akan menyerang kita kembali.”
“Aku juga berpikir begitu.”
“Apa tujuanmu sebenarnya? kau hanya ingin Adrean melepaskan Graciella atau kau juga ingin Adrean mendapatkan ganjarannya?” tanya Stevan lagi.
“Sejauh ini aku hanya ingin membuatnya melepaskan Graciella. Aku ingin membebaskan Graciella dari dirinya. Graciella mendapatkan semua ini karena perbuatan ku.” Sorot mata Xavier semakin suram. Stevan melihat hal itu.
“Baiklah, aku rasa jika hanya ingin memisahkan Adrean dan Graciella. Cukup mencari bukti yang cukup kuat agar bisa mendesak Adrean untuk melepaskan Graciella. Namun sekali lagi, bukti itu harus sangat menekannya hingga dia tak bisa lagi mengelak dan mau tak mau mengikuti apa keinginan Graciella.”
“Karena itu aku ingin kau mendapatkan bukti hubungan Adrean dengan Sarah,” kata Xavier. “Bukti perselingkuhan itu bisa sangat mendesak Adrean karena status Sarah. Dia tak akan bisa melawan keluarga dari Sarah. Wanita Adrean yang lain tak akan bisa membuat dia gentar. Aku juga tak mungkin menyelidikinya, kau tahu hubungan keluarga Sarah dengan keluargaku. Ayahnya pasti masih berpikir ayahku merebut posisi perdana menteri darinya.”
“Tapi bukannya kau adalah cinta pertamanya? Aku yakin hanya kau yang bisa mendekatinya,” lirik Xavier dengan bibir sedikit terangkat. Mencoba merayu Stevan, dia tahu pria ini suka ditinggikan.
“Itu dia! Aku sudah lama aku tidak pernah berhubungan dengannya. Dia benar-benar marah waktu aku memutuskan untuk tidak berhubungan dengannya lagi dulu. Aku tidak menyangka dia malah bermain dengan Adrean Han. Aku yakin dia hanya ingin membuatku cemburu. Sial sekali! Berarti sekarang aku harus bermanis-manis lagi dengannya," ujar Stevan dengan wajah kesal dan menggerutu.
Xavier hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya kembali. “Bukannya dia juga wanita pertamamu, mungkin saja kalian bisa kembali bersama!”
“Tidak! tidak mungkin! Kau tidak tahu bagaimana overprotective-nya dia!” ujar Stevan. “Hah!! tapi aku adalah orang yang setia kawan, demimu aku akan berusaha!"
“Terimakasih.”
Stevan mengangguk keras beberapa kali. Lalu dia terdiam dan melirik Xavier yang hanya diam melihat ke arah data yang dia punya. “Tapi Xavier, bolehkah aku sebelumnya bertanya?”
“Apa?”
“Apakah dari awal bertemu Graciella, kau sudah tahu bahwa dia adalah wanita yang kau tiduri tiga tahun yang lalu?” tanya Stervan lagi sambil melihat ke arah Xavier dengan sangat serius.
“Tidak. Aku bertemu dengannya dalam satu misi. Saat itu aku belum tahu apa-apa tentangnya.”
“Apa sebelum kau tahu dia adalah wanita yang kau tiduri, kau sudah tahu bahwa Adrean atau suaminya melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga terhadapnya?”
“Ya.”
“Baiklah. Ini pertanyaan ku yang sebenarnya, Aku hanya ingin bertanya. Kau dan Graciella, perasaanmu terhadapnya, apakah kau mencintainya? atau hanya ada rasa bertanggung jawab? atau yang lebih parahnya lagi, kau merasa kasihan?” Stevan mencoba mengamati mimik wajah yang dikeluarkan oleh Xavier. Dia bisa melihat sorot mata Xavier tampak menunjukan ragu.
Xavier hanya diam, matanya tampak menerawang. Pertanyaan dari Stevan tiba-tiba membuatnya berpikir. Bagaimana perasaannya sebenarnya terhadap Graciella? Xavier menggoyangkan rahangnya. Yang pasti dia menyukai wanita itu.
“Aku akan menikahinya," jawab Xavier.
“Bukan itu yang aku tanyakan. Baiklah, coba aku gambarkan padamu. Kau bertemu dengannya dalam sebuah misi, aku yakin dia wanita yang cukup membuatmu kagum hingga kau bisa membiarkan seorang wanita masuk ke dalam misimu. Kekagumanmu membuatmu menjadi setidaknya sedikit tertarik padanya, lalu kau mengetahui wanita yang membuatmu kagum ternyata mengalami kekerasan dalam rumah tangganya lalu rasa kagum mu tercampur oleh rasa kasihan. Di mana aku tahu bagaimana sifatmu, kau paling tidak bisa melihat ketidakadilan. Kau merasa ingin membantunya keluar dari hal itu, diperparah dengan kenyataannya saat kau tahu dia adalah wanita yang kau tiduri. Kau merasa bersalah dan menjadi merasa bertanggung jawab dengan Graciella. Xavier, benarkah Itu yang kau rasakan?” panjang lebar Stevan menganalisa keadaan yang menurutnya dialami oleh Xavier. Dia sudah dekat dengan Xavier begitu lama. Baginya Xavier sangat susah untuk berdekatan dengan orang lain, apalagi untuk jatuh cinta