Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 197. Kau akan tahu ke mana.


Xavier melepaskan ciuman singkatnya. Melihat wajah istrinya yang bersemu merah. Graciella menggigit bibirnya membuat Xavier ingin kembali mencium wanitanya ini. Tapi baru saja Xavier ingin mencium kembali Graciella. Tiba-tiba saja ponsel Graciella berdering keras. Dia lupa mematikan nada deringnya.


“Sebentar,” ujar Graciella mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Xavier yang tadinya sudah begitu dekat dengan Graciella langsung menarik tubuhnya. Dia kembali duduk dan melihat Graciella yang sedang melihat siapa yang sedang meneleponnya. Graciella kaget melihat nama Daren ada di sana.


“Halo? Kakak?” ujar Graciella dengan sungkan. Tentu saja dia sungkan, bukannya dia sudah berjanji akan memberikan jawabannya malam semalam. Tapi karena terlalu senang dan juga gugup yang berlebihan membuat Graciella menjadi lupa akan janjinya terhadap Daren. “Kakak, maaf ya kemarin aku tidak menghubungimu.”


Xavier hanya menatap Graciella yang melihat tampak sungkan, dia tahu bahwa itu dari Daren.


“Ya, tidak perlu begitu. Aku juga mengerti kesibukanmu. Wanita hamil juga sering menjadi pelupa. Aku tahu karena istriku dulu juga sering begitu, jadi aku memakluminya,” ujar Daren yang tertawa renyah menanggapi kesungkannan dari suara Graciella yang terdengar. “Lalu bagaimana? Antony sudah menunggu kabar darimu,” ujar Daren lagi.


“Ehm, tunggu sebentar ya kak,” ujar Graciella. Dia bukan hanya tidak memberikan jawaban pada Daren, tapi dia juga belum berdiskusi dengan Xavier. Pembicaraan mereka semalam terpotong oleh rencana pernikahan mereka ini. “Bagaimana?” tanya Graciella. Bagaimana pun sebagai istri dia harus menanyakan persetujuan dari suaminya.


Xavier menatap Graciella sejenak. “Jika kau ingin mengambil kasus itu, ambil saja. Aku akan selalu mendukung keputusanmu,” ujar Xavier. Walaupun dia lebih suka Graciella ada di rumah dan mengurus dirinya nanti. Tapi dari awal Graciella adalah wanita yang berdedikasi keras untuk pekerjaannya. Dia juga sampai harus belajar keluar negeri dan tentunya dia sangat ahli dalam pekerjaannya, hal itu yang membuat Xavier tidak mungkin melarangnya untuk melanjutkan pekerjaannya setelah mereka menikah. Xavier tidak ingin Graciella merasa terkekang karena pernikahan mereka.


Graciella menggigit kecil bibir dalamnya. Dia memang masih penasaran dengan apa yang terjadi dan siapa yang sudah melakukan hal ini hingga menuduh Xavier. Lagi pula, sekarang dia sudah memiliki Xavier. Dia bisa sedikit tenang karena suaminya mendukungnya dan juga akan menjaga dirinya.


“Baiklah, aku akan menerimanya,” ujar Graciella segera menjawab pertanyaan Daren seraya memandang Xavier. Xavier mendengar itu mengangguk mengerti. Dia juga ingin tahu siapa yang sudah menjebaknya. Graciella men-loudspeaker-kan panggilan itu agar Xavier juga bisa mendengarnya.


“Bagus jika begitu. Ini akan menjadi kasus yang baik untuk kantor kita. Aku akan menghubungi Antony secepatnya. Kira-kira kapan kau bisa memulai penyelidikannya?” tanya Daren.


“Ehm?” Graciella bergumam melirik ke arah Xavier. Bukannya mereka akan pergi berbulan madu.


“Tiga hari lagi,” ujar Xavier langsung. Graciella mengerutkan dahinya. Tiga hari, memangnya mereka ingin kemana pergi begitu lamanya. Tapi Xavier tidak merespon wajah Graciella yang mengerut. Dia langsung saja mengambil ponsel Graciella dan langsung berbicara dengan Daren.


“Daren, kami baru saja menikah. Saat ini aku ingin mengajak Graciella untuk pergi berlibur. Katakan pada Antony, jika dia ingin Graciella yang mengusut kasus Robert Kim. Dia harus menunggu Graciella tiga atau empat hari dari sekarang,” tegas Xavier. Dia tahu bahwa Graciella pastinya tidak enak membuat orang menunggu selama tiga hari. Karena itu dia yang harus menjelaskannya sejelas-jelasnya tentang hal ini.


“Owh, wow, kalian sudah menikah? Kenapa tidak memberitahuku?” ujar Daren kaget. Graciella yang sedikit kesal karena Xavier mengambil ponselnya begitu saja langsung kembali mengambil ponselnya dari Xavier.


“Bukan kami tidak ingin mengundang kak. Tapi ini masih pernikahan di kantor pencatatan pernikahan. Nanti ketika kami mengadakan pesta, kakak harus datang ya,” ujar Graciella. Merasa tak enak karena dia tidak mengabari Daren sama sekali. Bagaimana pun Graciella sudah menganggap pria ini adalah kakak angkatnya.


“Oh, begitu. Aku kira kalian memang ingin menyembunyikan pernikahan kalian untuk sementara waktu. Tapi aku pasti akan datang. Hadiah apa yang ingin kau minta dari kakakmu ini?” tanya Daren lagi.


“Hadiahnya tidak perlu, yang penting kakak dan Kak Ruby juga Amber datang, aku sudah sangat senang,” jawab Graceilla lagi.


“Baiklah, kalau begitu aku akan mengatakan hal itu pada Antony. Berliburlah, jangan terlalu memikirkan pekerjaan, aku juga tak akan menganggu kalian. Tapi hati-hati, bukankah melakukannya diawal kehamilan sangat beresiko. Katakan pada Xavier untuk jangan terlalu bersemangat,” ujar Daren dibarengi oleh tawanya yang sangat renyah. Tentu saja Xavier pun bisa mendengarkannya karena ponsel itu masih ter-loudspeaker.


“Tenang saja, aku tahu benar bagaimana memperlakukan Graciella, doakan saja setalah ini kabar itu jadi benar, kakak ipar,” timpal Xavier.


“Hahaha, baiklah! Aku akan menunggu kabar baik itu. Baiklah, selamat berlibur. Aku akan mematikan panggilan ini,” ujar Daren tertawa begitu keras mendengar perkataan Xavier. Lucu juga mendengar seorang jenderal memanggilnya kakak ipar.


“Hmm,” respon Xavier sebelum suara panggilan itu terputus.


Graciella memandang wajah Xavier dengan wajahnya yang memerah. Dia melirik ke arah supir mereka yang tampak fokus saja melihat ke jalanan. Dia mencubit tangan Xavier lembut yang tentunya tak punya efek apa pun pada Xavier. Xavier hanya mengerutkan dahinya melihat mata Graciella yang tampak memberikan kode melihat ke arah supir mereka. Xavier mengerti Graciella malu tentang pembicaraan itu.


“Tak masalah, dia tidak akan mendengarkannya,” ujar Xavier seperti biasa. Tentu saja supir mereka bisa mendengarnya.


Graciella memukul dahinya pelan. Dia sudah diam-diam memberikan kode, pria ini malah dengan leluasanya mengatakan hal itu. Xavier benar-benar tidak peka.


Mobil mereka akhirnya sampai di pelataran bandara. Xavier segera keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Graciella. Saat mereka berdua melangkah masuk, Arnold langsung menyambut mereka.


“Selamat untuk pernikahan Anda, Komandan dan juga Nyonya. Semua keperluan Anda sudah siap. Kita hanya tinggal menunggu lebih kurang tiga puluh menit untuk keberangkatan Anda,” ujar Arnold menjelaskan apa yang dia siapkan untuk pasangan yang baru menikah ini.


“Baiklah,” ujar Xavier.


“Terima kasih Arnold,” ujar Graciella dengan senyumnya. Xavier langsung membawa Graciella menuju ke arah ruang tunggu di bandara itu. Graciella dan Xavier segera duduk di sana.


“Kau ingin makan sesuatu?” tanya Xavier pada Graciella yang sedang duduk di salah satu sofa yang ada di sana.


“Ehm, tidak, aku belum lapar,” kata Graciella segera.


“Baiklah, nanti kita bisa makan di pesawat saja,” ujar Xavier meletakkan menu di meja yang ada di depannya.


“Ehm? Kita ingin pergi ke mana?” tanya Graciella pada Xavier yang mulai sibuk melihat tablet yang diserahkan oleh Arnold sebelumnya.


“Ke suatu tempat,” ujar Xavier yang terus saja melihat ke arah tabletnya.


“Ya aku tahu akan ke suatu tempat. Tapi ke mana?” tanya Graceilla lagi mengerutkan dahi melihat keseriusan Xavier melekukan pekerjaannya. Xavier melirik ke arah Graciella.


“Kau akan tahu nantinya,” ujar Xavier dengan satu sudut bibir terangkat.