
“Kakak, kenapa kau begitu sumringah?” tanya Helena dengan wajah penasarannya saat mereka baru memasuki mobilnya.
“Karena aku senang. Aku rasa aku sudah tahu siapa pembunuhnya dan yang paling penting, aku tahu sepertinya tahu motifnya,” ujar Graciella puas. "Tinggal mencari satu bukti lagi."
Helena dan Ferdinand membesarkan matanya. “Ha? Siapa? bukti apa lagi?"
“Tunggu saja. Setelah aku mendapatkannya. Kita harus langsung menuju ke kantor polisi terdekat sekarang. Kita tidak ingin pelakunya lari bukan?” tanya Graciella segera.
Helena dan Ferdinand hanya bisa menahan rasa penasarannya saja.
*****
Graciella duduk di depan Brigjend Howard, Ipda Cindy dan juga beberapa orang keluarga. Di sana ada Yuki, Tuan Kane, Tuan Ming dan kedua istri mereka. Juga ada beberapa karyawan yang memang masuk daftar orang yang dicurigai. Semuanya tampak gugup karena mereka kembali dipanggil ke kantor polisi ini
“Selamat siang, aku di sini ingin mengungkapkan siapa dalang pembunuhan dari keluarga Tuan Sato,” ujar Graciella.
“Benarkah? Kenapa begitu cepat? Kau baru saja datang dan menyelidikinya selama dua hari di sini. Polisi saja sudah hampir dua minggu menyelidikinya tapi semua hasilnya nihil,” ujar Tuan Ming tampak sedikit emosi.
“Karena itulah aku bisa dengan cepat mendapatkan siapa pembunuhnya. Semua itu berkat hasil dari penyelidikan dari polisi. Mereka memberikan kami semua hal. Dan ini semua bisa terbongkar tentu karena kerja sama kami,” ujar Graciella. Brigjen Howard hanya melirik Graciella dengan tangan yang dilipat di depan dadanya.
“Lalu siapa pembunuhnya?” tanya Nyonya Kane dengan antusias. Dia pula yang menyewa Graciella dan timnya.
“Sebelumnya aku tidak ingin menuduh tanpa bukti. Jadi aku akan menjabarkan semua temuanku. Tuan Sato dan 4 anggota keluargannya terbunuh dua minggu yang lalu pada malam hari dengan luka tembakan yang fatal. Keadaan TKP sangat berantakan tapi kami berhasil mendapatkan beberapa bukti yang sangat kuat. Salah satunya adalah jejak kaki berukuran 40 ini.”
“Di keluarga kami yang punya jejak kaki berukuran itu hanyalah Yuki. Tapi Yuki sedang ada di luar kota bersama teman-teman dan gurunya malam itu. Bahkan dia melakukan aktifitas api unggun. Dan tidak mungkin dia pulang pergi, jaraknya sangat jauh harus menaiki kapal lagi ke pulau utama.” jelas Nyonya Kane.
“Ya, karena memang bukan Yuki yang membunuh keluarganya. Dari awal aku tidak pernah curiga dengannya. Dari setiap foto keluarga, terlihat sekali betapa dekatnya Yuki dengan keluarganya.”
“Lalu siapa orang yang punya ukuran kaki 40 itu?”
“Bukan masalah ukurannya, karena saya yakin sekali dia hanya ingin kami berpikir penyerang adalah seorang yang memiliki ukuran kaki seperti itu.”
“Lalu?”
“Penyerangnya juga bukanlah seorang wanita. Bisa dilihat dari caranya membunuh Tuan Sato. Dia berpikir untuk meredam suara dengan bantal yang sering dilakukan oleh aktor di film laga. Jarang sekali wanita berpikiran seperti itu walaupun mungkin ada. Tapi saya yakin sekali kali ini pembunuhnya adalah seorang pria walau menggunakan ukuran kaki 40 dan jejak sepatu wanita. Karena, penyerang itu sengaja menggunakan sepatu milik Yuki untuk mengelabui semuanya.” Graciella menarik napasnya sejenak. Memandang wajah-wajah tegang dan penasaran yang menatapnya erat. “Dia juga cukup cerdik dan sudah merencanakan semua ini dengan matang. Dia bahkan mengirim tiga surat untuk Tuan Sato agar seolah-olah ada seorang wanita yang sedang sakit hati dengan Tuan Sato dan menuntut balas. Hal itu juga membuat keadaan rumah yang tadinya hangat menjadi renggang. Tuan Sato memilih untuk tidur di sofa, dan pembunuh itu juga tahu hal itu.”
“Bagaimana ada orang luar yang tahu tentang hal itu? Apa dia memata-matai keluarga Sato? Apa dia sangat membenci Sato?” tanya Nyonya Ming yang penasaran. Kenapa wanita ini tidak langsung saja mengungkap siapa yang menjadi dalang pembunuhan ini.
“Bukan, dia bahkan tidak punya masalah dengan keluarga Tuan Sato sebenarnya,” jelas Graciella lagi. Semua orang mengernyitkan dahinya.
“Apa maksudmu? Tak punya masalah tapi membunuh semua orang di dalam rumah. Polisi juga mengatakan tidak ada barang berharga yang hilang karena memang tidak ada yang tersimpan di sana. Mereka sudah menyetorkan semua uangnya ke bank paginya,” ujar Tuan Ming yang tampak emosi hingga dia keceplosan berbicara. “Aku tahu karena aku memang melihatnya,” ujar Tuan Ming menggaruk kepalanya.
Semua orang memandang curiga padanya. Istrinya bahkan kaget hingga mulutnya terbuka. “Bukan aku! Aku tidak membunuhnya!” ujar Tuan Ming langsung dibasahi oleh keringat dingin.
“Dengar! Dengar! Dia bilang aku bukan pembunuhnya, bukan! Aku hanya ingin mengambil uangnya dan pergi. Dia sudah menjatuhkan harga diriku dan aku ingin memberikannya pelajaran. Sialnya! Dia malah menyetorkan uang itu semua ke bank hingga aku tidak bisa menjalankan rencanaku!” ujar Tuan Ming dengan emosi. Dia melihat polisi yang ada di sekelilingnya. Jika tidak ada Graciella sudah pasti dia jadi tersangka.
“Ya, hal ini juga sangat dimanfaatkan oleh pembunuh. Dia ke sana memang tidak ingin mengambil sepeser pun uang Tuan Sato. tapi dia mengincar hal yang lebih berharga lagi,” ujar Graciella.
“Apa itu?” tanya Nyonya Kane.
Graciella tersenyum puas. “Yuki. Dia mengincar Yuki!”
“Ha? Tapi Yuki saat itu tidak ada di rumah. Apa dia ingin menculik Yuki!” ujar Tuan Ming yang bingung.
“Bukan, dia malah tahu bahwa Yuki hari itu tidak ada di rumah. Karena itu dia segera melancarkan semua rencananya. Membunuh semua keluarga Tuan Sato hingga akhirnya dia bisa mendapatkan Yuki sebagai anak asuhnya. Tuan Kane, andalah yang membunuh semua keluarga Tuan Sato!”
Semua orang langsung kaget dan tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Graciella. Semua orang memandang Tuan Kane yang juga berwajah bingung kenapa malah dia yang dituduh oleh wanita ini.
Orang-orang yang ada di ruangan itu juga kaget ketika Brigjen Howard mengeluarkan gestur agar anak buahnya menahan Tuan Kane. Mereka langsung memborgol Tuan Kane yang memberikan perlawanan. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
“Nona, jangan asal bicara, untuk apa aku melakukan hal itu. Aku ingin mengasuh Yuki karena aku sangat ingin membalas budi dari Kak Sato,” ujar Tuan Kane mencoba untuk tenang walaupun wajahnya sudah ditekan ke meja itu karena dia menolak dan berontak untuk ditahan.
“Benar! Kau jangan asal bicara! Suamiku ini orang baik, tak mungkin dia melakukannya! Malam itu juga dia bersama diriku! Kau ini asal bicara!” kata Nyonya Kane berdiri. Dia tidak ingin suaminya dituduh seperti itu. Dia yakin suaminya adalah orang yang sangat baik.
“Aku tidak asal menuduh. Nyonya Kane, menurut catatan medis, anda aktif menggunakan pil tidur. Aku yakin anda tidur lebih awal. Saat anda menggunakan pil tidur, efeknya adalah 6 jam tanpa bisa diganggu. Karena itu Anda tidak akan tahu kapan suami Anda menyelinap pergi,” ujar Graciella. “Tuan Kane lalu pergi ke rumah Tuan Sato yang menyambutnya dengan sangat hangat. Dia tahu bahwa Tuan Sato tidur di ruang tamu karena sebelumnya Tuan Sato membicarakan hal ini pada Tuan Kane saat di pesta beberapa hari sebelum kejadian. Tuan Sato juga mengatakan bahwa Yuki akan pergi berdarmawisata. Karena itu dia segera melancarkan serangannya. Hal itu terbukti. Dari seluruh tempat di rumah itu, hanya kamar Yukilah yang dia tidak masuki padahal kamar itu tidak punya kunci dari dalam, sebuah peraturan dari Tuan Sato bahwa kamar anak jangan dikunci. Kamar itu tetap bersih dan juga rapi. Padahal tempatnya berada di antara kedua TKP. Jika orang lain yang memasukinya, pastilah dia tidak tahu bahwa Yuki tidak ada di rumah. Jika pun tahu, kenapa dia tidak masuk ke dalam kamar Yuki, padahal seluruh rumah begitu berantakan? Tuan Kane juga menggunakan sepatu milik Yuki yang mungkin tertinggal di rumahnya. Aku menemukan sebuah sepatu sport milik Yuki di belakang rumah kalian saat aku permisi ke kamar mandi. Sepatu itu menunjukkan garis seperti bagian belakangnya diinjak. Selain itu bagian telapak kakinya tercium bau pemutih yang kuat. Aku membawanya diam-diam dan segera memeriksanya, hasil luminolnya berpendar tanda pernah ada darah di sana.”
"Anda sangat pintar dalam merencanakan semuanya. membungkus seluruh tubuh Anda agar tidak meninggalkan jejak apa pun bahkan sedikit saja DNA. Aku rasa Anda sudah lama ingin melakukan hal ini bukan?"
“Kau gila! Untuk apa aku membunuh Sato hanya untuk Yuki!” ujar Tuan Kane lagi sekarang dengan wajah berangnya.
“Karena kau sangat tergila-gila dengan Yuki. Kau mencintai keponakanmu sendiri semenjak dia kecil. Bukan begitu Yuki?” tanya Graciella. "Tak perlu takut, dia tak akan menyiksamu lagi."
Yuki menarik napas panjang lalu mengangguk pelan, semua orang sekali lagi tercengang.
“Kau membunuh keluarganya agar bisa mendapatkan hak asuh Yuki sehingga kau bisa terus bersama dengannya. Kau melakukan pelecehan terhadap keponakanmu ini sudah begitu lama. Yuki menuliskan semuanya di laptopnya yang dia minta aku mengambilkannya. Saat di rumah kalian, Yuki tak ingin keluar dari kamar bukan karena kematian keluarganya tapi karena takut dengan predator ini. Yuki tidak bisa apa-apa lagi karena pelindung utamanya telah hilang. Dia juga sangat ketakutan dengan dirimu karena mungkin diancam akan dibunuh dan juga membunuh sisa keluarganya yang lain. Aku bisa melihat wajah Yuki yang tampak semakin tertekan saat dia duduk di dekatmu, saat kau merangkulnya, dari sorot mata dan mimik wajahnya menunjukkan ketakutan.” ujar Graciella menggebu.
Semua orang yang mendengar itu kaget minta ampun. Helena dan Ferdinand pun tampak terdiam, Brigjen Howard hanya menyipitkan matanya melihat Graciella. Cukup kagum dengan apa yang sudah dia perbuat.
“Dia memperkosaku sejak aku berumur 8 tahun. Dia selalu menyiksaku ketika dia melakukan hal itu padaku. Dia selalu mengancam akan membunuh keluargaku. Saat aku tidak ingin lagi bersamanya. Dia benar-benar membunuh keluargaku! Dia sangat menakutkan!” ujar Yuki dengan isak tangis yang sangat memilukan.
Nyonya Kane tampak tak bisa mengatakan apa-apa. Tim yang dia sewa untuk mengungkapkan kematian keluarganya nyatanya mengungkapkan kejahatan suaminya sendiri. Kepalanya begitu pusing melihat suaminya yang di seret langsung ke tempat tahanan. Tanpa sadarnya, dia langsung ambruk yang ditangkap oleh Tuan Ming.
“Sekarang kau sudah bebas Yuki. Orang yang mengancammu sudah tidak ada lagi. Aku turut berduka cita dengan apa yang terjadi pada keluargamu,” ujar Graciella bersimpati. Nyonya Ming langsung memeluk Yuki yang tampak sangat terpukul oleh semuanya. Keluarga intinya tewas dan dia harus hidup dengan orang yang sudah memperkosanya dan juga membunuh keluarganya. Akan menjadi hal paling mengerikan di dunia.
Graciella segera membereskan semua barang-barangnya. Mendengar suara tangis Yuki, bisa-bisa dia nanti juga terbawa suasana dan menangis. Jadi daripada begitu, lebih baik dia pergi dari sini. Brigjend Howard hanya memandangi Graciella dengan tatapan seriusnya.