Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 250. Katakan ....


“Mereka ada di pintu belakang. Mereka sudah bersiap,” lapor salah satu pria itu.


“Baiklah, tunggu sebentar,” ujar Elaine. Dia masuk ke dalam salah satu dari bilik di kamar mandi itu. Dia segera mengganti bajunya. Tentu saja dia membuka pula rambut palsu yang sedari tadi dia gunakan. Menggunakan kacamata untuk kamuflase dan segera keluar dari bilik itu. Penampilannya sudah sangat berubah dari yang tadi.


“Ayo,” ujar Elaine sambil memerintahkan mereka.


Dua pria itu mendorong rajang Graciella. Elaine berjalan di samping Graciella sambil memegang tangan Graciella. Mereka segera membuka pintu dan mendorong keluar tubuh Graciella.


Dua orang tentara itu masih berdiri dan memperhatikan orang yang keluar dari sana. Tentu mereka berpikir itu adalah pasien lain yang tadi mereka lihat karena dari keadaannya sangat berbeda dengan Graciella.


Dengan mulusnya mereka melewati kedua orang tentara itu. Elaine menaikkan sudut bibirnya. Setelah ini semuanya sudah tidak perlu ditakutkan lagi.


Elaine dan dua orang pria itu segera menuju ke tempat penjemputan mereka. Dia melihat ke arah ponselnya dan memastikan plat nomor ambulans yang menjemput mereka. Dia tersenyum kembali melihat ambulans itu sudah ada di depan pintu penjemputan.


Dua pria itu langsung memindahkan tubuh Graciella ke barakat ambulans dibantu dengan dua petugas ambulans. Banyak orang yang melihat ke arah mereka. Semua merasa itu adalah hal biasa yang terjadi di sana. Banyak pasien yang datang dan dirujuk ke rumah sakit yang lebih mumpuni.


Setelah mereka mendorong tubuh Graciella masuk ke dalam ambulans itu. Elaine dengan santainya masuk dan duduk di sisi tubuh Graciella seolah dia adalah kerabat dari pasien yang hanya terdiam di barakatnya. Dua orang laki-laki yang menggunakan pakaian perawat segera menutup pintu ambulans itu dan suara raungan sirine langsung menggema seraya berputarnya ban ambulans itu meninggalkan perkarangan rumah sakit.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Laura benar-benar sudah bosan. Acara yang ada di dalam televisi atau pun film di situs film berbayar juga sudah hampir semuanya dia nikmati. Entahlah, apa lagi yang harus dia lakukan? Tidak mungkin berenang malam-malam kan?


“Nona, Tuan Antony sudah datang.” Suara Calton langsung membuat Laura berpaling. Dari duduknya dia langsung berdiri dan melihat sosok pria dengan jas berwarna abu-abu metalik itu mendekat ke arahnya.


Laura mengerutkan dahi dengan wajah bertanya. Semenjak menjadi presiden sepertinya Antony punya sedikit wibawa. Terlihat saat dia berjalan mendekati Laura dengan dua ajudan pribadinya dan juga Max yang mengikutinya.


Antony melihat Laura yang berdiri menyambutnya hanya mengedutkan sejenak bagian di antara kedua alisnya. Biasanya wanita ini tidak suka melihatnya, tapi entah kenapa dia malah ingin bertemu dengannya.


“Kau sudah datang?” pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Laura. Tentu saja sudah datang karena Antony ada di depannya.


Antony langsung berdiri di depan Laura dengan pandangan bertanya. “Apa yang ingin kau katakan? Aku tidak punya banyak waktu." dingin Antony mengatakannya. Membuat Laura sedikit kaget. ah! Kenapa dia menjadi pria dingin seperti ini? padahal dari dulu yang tahu keinginan punya pria dingin hanya dia utarakan pada Graciella. Apakah Gracie membocorkan hal ini pada Antony hingga dia berusaha menjadi dingin agar Laura menyukainya?


Calton memang mengatakan pada Max bahwa ada yang ingin disampaikan Laura. Awalnya Max berpikir untuk tidak meneruskannya pada Antony dan membiarkan wanita ini menunggu atau lebih baiknya merasa tidak dipedulikan oleh Antony sehingga dia lebih membenci Antony dan membuat hubungan mereka memburuk. Dengan begitu Antony akan menyadari bahwa wanita ini hanyalah beban baginya.


Tapi, dia sedikit menggunakan logikanya. Dia sudah pernah tidak melaporkan keadaan Laura. Jika dia tidak mengatakannya lagi pada Antony, siapa lagi yang akan dia salahkan? Tidak mungkin Carlton karena pria ini pasti akan punya bukti dia sudah memberitahu Antony. Dan nantinya malah dia yang kena getahnya. Jadi mau tak mau dia harus mengatakan hal ini pada Antony.


“Bisa bicara berdua?” tanya Laura dengan tingkahnya.  “Kau tidak perlu takut, aku tidak akan menyerangmu tiba-tiba seperti yang kemarin.” Apa yang baru keluar dari mulut Laura  malah membuat semua orang yang mendengar itu curiga.


Antony kembali mengedutkan bagian itu. “Tinggalkan kami berdua!” perintah Antony masih dengan wajahnya yang datar. Tidak ada lagi wajah ramah Antony yang dulu. Kenapa dia malah sedikit merindukan pria yang selalu tampak cengengesan di depannya.


“Tapi Tuan?!” Max tentu tidak setuju bahwa Antony meminta mereka semua keluar. Bagaimana jika tiba-tiba wanita ini menyerang Antony seperti yang baru dia katakan. Tentu akan membahayakan bagi orang nomor satu di negara ini sekarang.


Laura langsung sedikit ciut karena mendapat sorot mata tajam dari Max. Max hanya curiga dengan apa yang akan dilakukan oleh wanita ini pada tuannya.


“Apa kalian sudah mulai tidak mendengar perkataanku? Semua keluar dari sini dan tidak boleh ada yang masuk kecuali aku memerintahkannya. Apa kalian mengerti? Tinggalkan kami berdua.” Suara Antony menggelegar di ruang tengah yang besarnya  itu.


“Siap Tuan!” jawaban hampir serempak itu terdengar. Mereka langsung bergegas keluar. Hanya Max yang masih bergerming. Laura sedikit melirik ke arah Max yang terus menatapnya sinis. Tak tahu apa masalah pria itu pada Laura. Dia seperti istri pertama yang begitu membenci Laura karena sudah merebut suaminya. Tapi tak lama dia akhirnya meninggalkan mereka.


Tak perlu banyak waktu membuat ruang tengah yang tadinya cukup banyak orang menjadi senyap. Hanya ada Antony dan juga Laura yang berdiri tepat di bagian tengahnya. Suara televisi yang belum dimainkan yang menjadi teman mereka.


“Ada apa?” tanya Antony dengan suara yang datar. Tapi terdengar jauh lebih ramah. Laura tak habis pikir. Dari mana dia belajar nada bicara ‘cool’ seperti ini? Dari Xavier kah?


“Ehm, begini-begini,” ujar Laura yang akhirnya sadar dari salah fokusnya hanya gara-gara nada bicara Antony. “Eh, apa kau tahu bahwa ibu Graciella di bunuh?”


“Hmm, ya aku tahu.” singkat saja Antony mengatakannya.


“Eh, bisakah kau membantu Graciella?” tanya Laura yang jadi gugup sendiri berbicara dengan Antony yang sekarang. Sedikit susah baginya.


Kali ini Antony membuat alisnya sedikit bertekuk. Menujukkan sekali ada wajah bertanya darinya. “Untuk apa aku membantu Graciella?”


“Kau kan presiden. Jika seorang presiden memerintahkan untuk menangani suatu kasus dengan baik. Pasti kepolisan dan yang lain juga akan lebih fokus untuk menangani kasus itu. Graciella itu sahabatku. Aku tidak pernah membantunya, yang ada malah selalu membuatnya susah. Lagi pula kau harus membantunya, dia itu orang yang selalu mendukungmu dulu. Pokoknya kau harus membantunya!” ujar Laura yang pertamanya bernada sangat tenang dan sungkan tapi lama-lama malah menjadi memaksa dan kesal sendiri.


Antony yang melihat tingkah Laura hanya menaikkan sudut bibirnya. Sebenarnya tingkah Laura ini cukup menyebalkan tapi anehnya Antony malah menyukainya.


“Katakan padaku ….” suara Antony kembali menggema.


“Katakan apa?” potong Laura.


“Apa yang akan kau berikan jika aku menolong Graciella?” Antony menaikkan sudut bibirnya melihat wajah Laura yang langsung kaget. Masa sekarang hanya minta tolong dengan Antony dai harus memberikan sesuatu?