
Graciella memang sengaja menunjukkan lukanya. Dia bahkan sedikit mengelusnya memastikan pusat perhatian dari Adrean adalah lukanya. Jika benar luka ini adalah karena David Qing dan Kakek dari Adrean, maka dia akan merasa sangat bersalah. Jika benar bahwa Adrean yang menyelamatkannya saat dia mau bunuh diri, maka dia akan kembali bisa merasakan perasaan itu. Graciella mencoba untuk menimbukan perasaan itu kembali.
“Apa ingatanmu belum pulih?” tanya Adrean lagi mencoba menganalisa. Tentu tak ingin gegabah mengambil keputusan.
“Ingatan? Bukannya aku baik-baik saja? Memang ada apa dengan ingatanku?” tanya Graciella dengan wajahnya yang berpura-pura. Tentu harus begitu menyakinkan. Stevan di dalam mobil tak jauh darinya hanya menaikkan sudut bibirnya. Graciella tak terpancing jebakan Adrean. Jika dia mengatakan belum, maka Adrean pasti langsung curiga. Karena dia tahu, bagi Graciella, dia tak pernah kehilangan ingatan sama sekali.
Adrean akhirnya kembali menegapkan tubuhnya lalu menatap ke arah Graciella dengan begitu serius. Adrean mencoba melihat sorot mata Graciella. Apakah dia menyembunyikan sesuatu, jika sedikit saja dia mengalihkan pandangannya, Adrean akan tahu bahwa wanita ini berbohong padanya. Tapi, tatapan Graciella begitu tegus menatap dirinya.
“Adrean, bukannya kau mengatakan bahwa kau akan menuruti semua permintaanku? Bagaimana jika kau ceritakan tentang anakku itu? apakah dia masih hidup? benarkan, dia masih hidup karena itu dia selalu muncul dan memanggilku mama, bukannya kau yang mengambilnya dariku hingga aku harus bertanya padamu? Adrean, tolonglah, aku hanya ingin tahu di mana anakku.” Graciella secara spontan memegang pergelangan tangan Adrean yang tentu langsung kaget. Dia tidak menyangka Graciella berani untuk menyentuhnya karena dia pikir wanita ini terlalu takut padanya hingga bahkan tak ingin berdekatan dengannya. Tapi saat ini, dia malah memegang tangannya. Hangat tangan Graciella seketika mengebrak semua perasaannya.
Adrean benar-benar seperti makan buah si malakama. Dia benar-benar ragu untuk mengeluarkan pemikirannya. Di satu sisi dia ingin mengatakannya karena wajah berharap dan kecewa dari Graciella begitu menyentuh perasaannya yang sekarang memang hanya untuk wanita ini. Tapi saat ini pula seolah ada bisikan untuk tidak melakukannya. Dia takut, dia takut hati wanita ini akan pergi darinya.
“Aku tidak tahu apa pun, aku sudah mengatakan bahwa anakmu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Aku sudah membuangnya setelah kau melahirkannya. Tak perlu lagi mencarinya. Itu hanya bunga tidur, tak perlu berlebihan,” ujar Adrean meminum minumannya dan membuang tatapannya dari Graciella. Jelas pria ini berbohong tentang hal itu.
“Baiklah kalau begitu! Kau benar! Mungkin aku hanya bersikap berlebihan. Baiklah, terima kasih sudah bertemu denganku. Aku memang sedikit aneh, hanya karena mimpi bahkan berani menemuimu. Aku akan pergi sekarang, dan aku berjanji tidak akan mengangumu lagi. Terima kasih,” ujar Graciella buru-buru mengemasi barangnya. Dia juga mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar makanan yang sudah dia pesan tapi belum sempat dia sentuh. Dia segera berdiri dan ingin melangkahkan kakinya pergi.
Adrean tampak tak tahu harus bersikap dan bertindak seperti apa. Melihat Graciella yang menjauh darinya tentu hal itu membuat perasaannya tak rela. Empat tahun berusaha untuk mendekati wanita ini, hanya ingin mendengar suaranya saja begitu susah. Saat ini dia ada di depannya tapi dia langsung ingin pergi kembali. Tentu saja dia takut, kesempatan seperti ini tak akan bisa kembali lagi jika dia membiarkan Graciella menjauh pergi.
Tangan Adrean langsung menahan tangan Graciella yang sengaja berjalan melewati pria itu. Saat langkahnya tertahan. Graciella menyunggingkan senyum tipisnya, dia yakin sekarang pria itu akan mengatakannya. Stevan yang melihat kejadian itu dari kamera yang tersemat tentu langsung membesarkan matanya. Berani sekali dia menyentuh Graciella. Kalau tidak ingat ini misi Graciella, dia pasti sudah melompat keluar dari mobil dan memukul tangan pria itu hingga melepaskan tangan Graciella.
“Aku akan menceritakannya,” ujar Adrean dengan nada rendah terpaksa. Dia ingin lebih lama bisa bersama dengan Graciella. Jika memang hanya ini cara agar dia bisa bersama dengannya, maka dia akan melakukannya. Toh, dia hanya tinggal bercerita tanpa harus membuka identitas siapa ayah kandung dari Moira. Graciella hanya akan tahu anak itu dari pria asing yang menidurinya, tak akan ada Xavier tersebut dalam kata-katanya.
Graciella mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan oleh Adrean. Tentu cerita itu berbeda sekali dengan versi yang sudah diucapkan oleh Stevan. Dalam cerita itu Adrean mengatakan menyerahkan Moira pada seseorang untuk dibesarkan, tapi pada usia tiga tahun, dia sudah tidak tahu lagi bagaimana keadaan Moira.
“Jadi anakku masih hidup?” tanya Graciella dengan mata membesar. Apakah ini tandanya Moira benar-benar masih hidup, jika memang kakek Adrean sudah membunuh Moira. Pasti dia akan mengatakan bahwa putrinya sudah tidak ada dan mengarang cerita tentang kematiannya. Tapi jawaban dari Adrean juga masih abu-abu dan ambigu. Kecurigaannya dan keyakinannya semakin besar. Anaknya mungkin saja masih hidup.
“Aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak. Tapi yang pasti aku tidak bisa mengetahui lagi kabar tentang Moira,” ujar Adrean menatap mata Graciella yang tampak mulai basah dan memerah.
“Bagaimana caranya aku menemukan anakku? Dia sangat marah padaku karena aku tidak bisa menemukan dia. Dia pasti sangat menungguku. Adrean, bagaimana aku bisa menemukan anakku?” tanya Graciella dengan air mata yang keluar begitu saja. Setiap dia mendengar nama anaknya, bagaikan sebuah pemicu, air matanya akan dengan mudah mengisi rongga matanya.
Adrean mengambil sapu tangannya dan menyerahkannya pada Graciella untuk menghapus air matanya. Dia tahu bagaimana sayangnya Graciella terhadap Moira, bahkan dia rela menukarkan semua kebahagiaannya dulu hanya untuk Moira. Adrean malah terpikir sesuatu yang tentunya egois dan licik.
“Katakan padaku, jika aku bisa menemukan Moira, apa yang akan kau berikan padaku?” tanya Adrean. Graciella mengerutkan dahinya, dia tahu arah pembicaraan dari Adrean.
“Jika aku menemukan kabar tentang Moira, kau harus kembali padaku, bagaimana?” tawar Adrean lagi melihat wajah bertanya dari Graciella.
Graciella masih dengan wajah bertanyanya menatap ke arah Adrean. Dengan wajah ragu, Graciella lalu berkata, “Baiklah.”
Adrean langsung tersenyum senang. Mudah baginya untuk mengetahui kabar tentang tentang Moira, apakah anak Graciella itu masih hidup atau tidak, dia hanya perlu mendesak lebih Kakeknya atau mencoba untuk menyuap asistennya. Dia pastinya akan mendapatkan kabar keadaan Moira.
Stevan yang mendengar itu langsung geram dan tidak percaya Graciella menjawab seperti itu, bagaimana bisa dia akan kembali kepelukan pria licik itu! bukannya itu artinya dia kembali ke mulut buaya! Sial! Sial sekali! Sekarang apa yang harus dia lakukan dan dia katakan pada Xavier nantinya.
“Tapi dengan syarat, aku harus tahu semuanya, kau harus memberikanku bukti. Jika dia sudah meninggal aku ingin tahu di mana kuburannya atau abunya? Bagaimana kematiannya? Tapi jika dia masih hidup, aku ingin bertemu dengannya. Tentunya semua harus memiliki bukti dan tes DNA. Jika kau tidak bisa menunjukkan bukti itu, aku tidak akan menerimanya, bagaimana?” tanya Graciella.
“Baiklah, aku akan melakukannya untukmu.” Adrean tersenyum begitu puas. Dia benar-benar yakin bisa melakukannya. Graciella hanya memipihkan bibirnya yang tipis. Setidaknya, dia sudah berhasil mengarahkan Adrean untuk mencari keberadaan anaknya.