
Wangi bunga Lavender langsung menyentuh hidung Graciella tat kala dia memasuki kamar bernuansa eropa yang tampak nyaman. Sebuah ranjang berukuran King Bed berseprei warna putih berpadan dengan warna abu-abu tampak begitu mewah. Lima buah jendela yang tampak tinggi menghiasi ruangan baca yang terletak di samping ranjang utama. Pemandangannya langsung menunjukkan kolam berenang rumah ini.
Graciella mengerutkan dahi melihat sebuah lemari buku yang tampak tak cocok diletakkan menghalangi jendela bagian tengah. Hal itu menarik perhatiannya untuk mendekati lemari itu.
Xavier yang dari tadi juga mengamati kamar yang terkesan sangat rapi itu segera mengalihkan pandangannya ketika melihat Graciella pergi ke sebuah arah.
Greciella melihat lemari itu. Sebuah goresan jejak di atas lantai Vinyl kayu itu menunjukkan lemari itu sudah digeser dari tempatnya. Graciella mengambil foto goresan dan juga mengambil foto dari lemari yang tampak aneh menutupi jendela kamar mewah itu.
"Apa yang kau dapatkan?" tanya Xavier berdiri mengamati tingkah laku Graciella. Semakin mengamatinya semakin tak bisa dia menutupi rasa penasarannya. Apa yang sedang ada di dalam pikiran wanita ini?
Graciella menatap pria yang berdiri dengan memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celananya. Melihat itu sebenarnya Graciella bisa membaca gestur tubuhnya bahwa dia tidak peduli ataupun sedang menyembunyikan sesuatu.
“Beberapa hal yang aku butuhkan untuk penyelidikan,” ujar Graciella seadanya. Lagi pula tidak selamanya dia harus bersikap tak bersahabat dengan pria ini. Bagaimana pun dia juga bisa menjadi sumber informasi untuk pengungkapan kasus ini.
Xavier hanya diam melihat wanita yang pandangannya sudah teralih ke arah tumpukan buku di sebelah sebuah sofa. Dia memilih diam dan kembali mengawasi gerak gerik dari Graciella. Xavier tiba-tiba menjatuhkan fokusnya pada bekas luka yang cukup panjang di pipi Graciella ketika wanita itu menyibakkan rambutnya yang dipotong pendek bergaya bob sebahu, lalu dia menata rambutnya ke belakang telinganya. Dari tadi luka itu tidak begitu terlihat karena tertutup oleh rambut Graciella yang hitam dan tebal. Xavier mengerutkan dahinya, apa yang sudah menyebabkan wanita ini mendapatkan luka sebegitu panjangnya.
Tapi, Xavier harus menekan rasa penasarannya. Dia tidak mungkin tiba-tiba bertanya tentang hal itu. Dia dan wanita ini bukannya adalah orang asing.
Graciella mengambil salah satu dari buku yang didominasi oleh novel romansa. Saat Graciella menarik buku itu selembar brosur jatuh ke lantai. Graciella mengambilnya lalu melihat isi brosur yang ternyata berasal dari rumah sakit khusus kecantikan dan bedah plastik. Graciella langsung mengambil brosur itu lalu melihat sekilas pada foto yang ada di sana. Foto keluarga dari korban. Lalu dengan cepat dia melangkah ke arah walking closet wardrobe yang ada di sisi lain dari ranjang itu.
Graciella lalu melihat ke dalam walking closet wardrobe. Semua barang milik korban dan juga suaminya tersusun rapi dan juga saling berdampingan. Barang-barang milik korban ada di sisi kanan dari Graciella dan milik suaminya ada di sisi sebelah kirinya. Lampu kristal yang sangat indah tergantung di tengahnya. Benar-benar sebuah walking closet yang begitu indah.
Graciella mulai mengamati barang-barang milik korban. Semuanya rapi dan bersih. Bisa disimpulkan bahwa korban adalah orang yang apik dan juga menyukai kebersihan. Perhatian Graciella berpindah ke arah barang-barang milik suami korban. Dari luar semuanya tampak sama seperti milik istrinya. Graciella mengamati kembali, semua barang-barang yang ada di dalam walking closet ini adalah barang-barang mahal dan bermerek terkenal.
Graciella lalu tertarik melihat koleksi jam-jam mahal milik suami korban. Mulai dari yang berharga puluhan juta hingga ratusan juta. Graciella hanya mengangguk. Keduanya punya selera yang sangat bagus.
“Aku ingin memeriksa ini,” ujar Graciella. Bagaimana pun tempat ini sudah dalam tanggung jawabnya. Jadi Graciella harus meminta izin dulu.
Xavier tidak menjawab, hanya mengulurkan tangannya menunjukkan gestur memberikan izin agar Graciella melakukan apa yang ingin dia lakukan. Graciella yang melihat hal itu segera membuka tempat penyimpanan jam itu. Hati-hati dia mengeluarkan tempat jam-jam mewah itu.
Perhatian Graciella jatuh pada jam Daniel Wallington dengan tali kulit berwarna coklat dan bagian dalam putih. Dia lalu memeriksa bagian lubang jam. Kulit yang sedikit rusak menandakan bahwa jam ini adalah jam yang sering digunakan oleh suami korban. Graciella hanya mengerutkan dahinya sambil menggenggam jam itu. Dari wajahnya tampak sekali dia sedang berpikir.
Graciella yang sedang berpikir tiba-tiba saja kaget dengan hawa hangat yang muncul begitu saja dari arah belakangnya. Udara dingin dari kamar itu kontras sekali dengan pancaran panas itu. Wangi woody yang halus seketika masuk ke dalam hidungnya. Graciella tiba-tiba saja terpaku. Entah kenapa mencium dan juga merasakan keberadaan itu membuat jantung Graciella berdegup lebih kencang. Seketika saja membuatnya gugup.
“Apa yang kau lihat?” bisik Xavier yang sengaja memposisikan kepalanya tepat di samping kepala Graciella. Dia ingin melihat apa yang kira-kira sedang di lihat wanita ini hingga dari tadi dia begitu serius.
Tentu suara dan deru napas yang tertangkap oleh telinga Graciella tepat di sebelahnya membuat Graciella benar-benar kaget. Dia tidak menyangka pria ini akan melakukan hal itu. Graciella langsung mencoba untuk menghindar tapi dia malah terhalang oleh lemari itu.
“Kenapa gugup?” tanya Xavier melihat mata Graciella yang menatapnya dan juga terlihat napas Graciella lebih memburu. Graciella tak tahu kenapa dia bisa begitu gugup dan juga jantungnya serasa seperti ingin meloncat keluar, berontak dari iganya. Hal itu membuatnya kesulitan bernapas.
“Siapa yang gugup? aku hanya kaget dengan tingkahmu! jangan begitu! kau seperti pembunuh berantai!” ujar Graciella yang asal bicara sambil memutar tubuhnya membelakangi Xavier dan kembali meletakkan jam itu. Tapi karena memang dia gugup, Graciella kesusahan dalam memasukkan tempat jam itu lagi .
Xavier yang berdiri di depan Graciella hanya mengerutkan dahinya. Dari mana dari tingkahnya yang seperti pembunuh berantai? Xavier perlahan membantu Greciella memasukkan tempat jam itu dari arah belakang. Graciella tentu terkaku. Dia merasa seperti di peluk dari belakang oleh pria ini.
"Sudah," ujar Xavier memperhatikan wajah wanita yang boleh dia akui ternyata tampak cukup menarik walaupun sangat polos dan tak menutupi semua hal termasuk luka di pipinya itu yang entah kenapa terlalu menganggu untuknya. Entah kenapa pula dia bisa merasakan nyerinya setiap kali dia melihat luka panjang itu.
"Ehm, ya, " ujar Graciella yang tanpa sadarnya malah melihat ke arah Xavier yang sekarang begitu dekat dengannya.