
Graciella kaget dengan apa yang dilakukan oleh Xavier. Tapi dia tidak menolaknya. Sebuah kecupan kecil mendarat di bibirnya dan membuat tubuhnya seperti tersengat lisktrik kecil.
Xavier tidak bisa lepas dari pesona bibir itu.. Awalnya hanya berniat memberikan kecupan kecil malah membuatnya ingin merasakan lebih. Xavier mendaratkan sebuah ciuman yang bergelora. Tarian lidah mereka tak terelakan. Saling mengusap dan menyedot bibir masing-masing.
Dengan hati-hati Xavier memeluk tubuh istrinya. Benar saja, lebih berisi dan pas baginya dalam memeluk Graciella. Pautan mereka makin mengganas. Xavier mer*e*m*as gemas bagian bokong Graciella yang terlihat lebih sintal dari biasanya.
Graciella mendapat remasan itu sedikit kaget dan buru-buru tersadar. Dia langsung melepaskan pautan ciuman mereka yang sangat panas. Membuat Xavier terkaget karena pagi hari sangat sensitif bagi seorang pria. Mereka mudah sekali terpancing karenanya.
"Belum enam belas Minggu," ujar Graciella. Bukan dia tak mau. Tentu saja dia ingin. Sudah hampir empat bulan mereka tak lagi melakukan pergumulan mesra. Awalnya Xavier yang menjaga keras hal itu. Dia tak ingin ada apa-apa dengan bayi mereka sesui dengan anjuran dokter. Tapi, semakin ke sini, godaan itu semakin sulit untuk ditepis.
Xavier menarik napas panjang. Dia mengangguk pelan. Graciella yang melihat wajah kecewa tapi pura-pura ditegarkan itu merasa tak enak. Sudah empat bulan dia tidak melayani suaminnya dengan baik. Walau kadang dia membantunya dengan sebisa mungkin. Pastinya akan berbeda jika dengan yang aslinya.
Xavier langsung menuju ke kamar mandi. Tentu Greciella tahu bagi pria sekali bernafsu, mereka harus menuntaskannya. Jika tidak, hal itu akan membuat mereka uring-uringan.
"Aku akan membantu," tawar Graciella. Tapi Xavier sudah menutup pintunya.
"Tak perlu. Aku akan melakukannya dengan cepat." Suara Xavier terdengar. Graciella menggigit bibirnya sedikit keras. Merasa sangat bersalah karena hal ini. Tapi, bukannya Xavier juga ingin begini?
Graciella melihat suaminya yang mengantarnya ke kantornya. Sudah cuti dua bulan tapi Graciella merasa lebih baik dia bekerja karena di rumah nembuatnya semakin lemah dan tak nyaman. Xavier kembali melayangkan sebuah ciuman hangat di dahi Graciella.
"Jam sebelas kan?" Pasti Xavier lagi.
"Ya." Graciella mengangguk tapi masih melihat ke arah Xavier. Xavier mengerutkan dahinya. Biasanya istrinya langsung keluar begitu saja.
"Ada apa?"
"Maafkan aku. Aku merasa bersalah tidak bisa melayanimu dengan baik sekarang." Hal itu masih terngiang-ngiang di pikiran Graciella. Takut suaminya kecewa.
Xavier menaikkan sudut bibirnya sambil menangkupkan tangannya ke atas kepala Graciella seolah ingin memegang kepala Graciella.
"Jangan berpikir aneh-aneh. Aku hanya lupa. Semua yang terbaik untuknya," ujar Xavier mengelus kepala Graciella sejenak lalu mengelus perut istrinya yang sedikit membuncit.
"Baiklah, aku akan menunggu kabar darimu," ujar Greciella.
"Hmm," gumam Xavier sebagai jawabannya. Greciella melambaikan tangannya. Melihat suaminya yang menjauh dari dirinya.
Graciella langsung masuk dan kaget melihat sosok yang dia kenal sudah duduk manis menunggunya di ruang tunggu.
"Bibi?" Tanya Greciella kaget. Sosok itu jauh terlihat lebih tua dari terakhir saat mereka bertemu dulu. Terlihat sekali tekanan batin yang ada di guratan wajahnya.
"Graciella, akhirnya bisa bertemu." Suara itu ramah terdengar walau sedikit gemetar.
"Bibi ingin bertemu denganku? Apa sudah menunggu lama? Kenapa tidak meminta mereka meneleponku?"
"Tak perlu, aku akan menunggu saja. Lagipula kita akan tetap bisa bertemu kan?" Ujar Lili Hao, ibu Laura.
Lili hanya mengangguk. Dia mengikuti Graciella yang masih tampak lincih walau perutnya sudah tak rata.
"Kau sedang …." tanya Lili.
"Oh, Ya, baru ingin masuk trimester dua," jawab Graciella.
"Selamat ya. Seandainya Laura ada, mungkin saja aku bisa melihatnya begini ketika dia tak kabur dulu."
Graciella hanya tersenyum miris. Ada siratan kesedihan di mata Lili dan itu terlihat sangat jelas. Ternyata itulah yang membebaninya.
"Bibi, ada apa?" Tanya Graciella. Walau sudah menebak tapi dia ingin tahu yang sebenarnya.
"Kau pasti sudah tahu tujuanku ada di sini. Laura, apakah dia menghubungimu?" Tanya Lili lagi. Putrinya hampir seminggu lebih tidak terdengar kabarnya. Walaupun kabur, terkadang Laura masih mengirimkan postcard kosong tanpa alamat pada mereka. Tapi Minggu ini sama sekali tidak ada. Minggu lalu pun tak ada. Mereka sangat khawatir terjadi sesuatu pada Laura. Apalagi mereka thsj bagaimana sifat Laura.
"Tidak ada Bibi," ujar Graciella sambil menggelengkan kepalanya.
Wajah kecewa langsung terlihat di wajah Lili, dia menghela napasnya panjang sebelum melihat ke arah Graciella. "Apa kau bisa menyelidiki ke mana perginya anak itu?"
"Aku sudah menyelidiki di mana kemungkinan Laura berada. Tapi, penyelidikan seperti ini bukan keahlianku. Aku akan berusaha lebih lagi, Bibi. Aku akan meminta bantuan jenderal Stevan untuk mencarinya," ujar Graciella. Dia benar-benar mati langkah dalam kasus Laura ini. Mencari wanita yang tidak ingin diketahui keberadaannya tentulah sangat sulit.
"Ya, benar. Aku mengerti. Tapi berusahalah. Aku akan membayar berapa pun agar anak bodoh itu bisa kembali ke sini," ujar Lili, anaknya memang luar biasa tingkahnya.
"Baiklah, bibi jangan khawatir. Walaupun terlihat lemah. Laura sangat tangguh. Bukannya dia berhasil melarikan diri dengan baik dari kita semua?" Puji Graciella, hanya ingin menenangkan ibu Laura bahwa anaknya pasti bisa bertahan di sana.
"Aku mengerti. Bantulah kami, hanya itu yang bisa ku minta padamu." Lili tampak memelas.
"Bahkan Bibi tidak memintanya aku akan tetap mencari keberadaan Laura, dia sahabatku," ujar Graciella.
Lili mengangguk. Dia melemparkan senyumannya. "Terima kasih. Maaf jika aku terlalu memaksa."
"Tidak, aku mengerti perasan Bibi."
Siapapun aku mengerti dan simpati dengan keadaan Lili. Anak gadis semata wayangnya entah pergi ke mana. Mana mungkin ada ibu yang bisa tenang karenanya.
"Baiklah, aku akan pergi dulu. Terimakasih sekali lagi." Lili segera bangkit. Kelinglungan terlihat jelas dari mata Lili. Seolah masih mencari-cari sesuatu.
"Hati-hati Bibi, jangan khawatir. Aku akan berusaha dengan sebisaku," ujar Greciella mengantar kepergian Lili. Sebuah usapan di punggungnya membuat Lili melihat Graciella dengan mata berkaca-kaca. Hampir jebol pertahanannya. Dia hanya sangat merindukan sosok ceria putrinya.
Graciella mengantar Lili hingga ke mobilnya. Lili memberikan lambaian tangannya pada Graciella. Bibirnya tersenyum tapi dari matanya tampak menangis. Entahlah! Laura, apa dia tidak memikirkan hal ini sebelum pergi?
Graciella memutar tubuhnya menuju ke arah kantornya kembali. Tapi belum sampai dia ke dalam ruangannya. Sebuah notifikasi masuk. Yang membuat Graciella langsung penasaran adalah suara notifikasi itu datang berturut-turut dan terdengar sedikit mengganggu.
Pertama wajah Graciella hanya datar. Tapi melihat apa yang ada di ponselnya sekarang langsung membuat dia terdiam. Seolah baru saja melihat sebuah hal yang sangat membuatnya kaget. Kenapa? Apa? dan bagaimana foto-foto dari pesan itu bisa ada?