
"Kau punya pisau atau benda tajam lainnya?" Tanya Antony buru-buru pada dua orang yang menjaganya. Calton yang ada di sampingnya hanya menggeleng.
"Saya punya pisau lipat Presiden," ujar petugas Paspamres.
"Baik, berikan padaku," ujar Antony lagi.
Kedua Paspamres itu saling melirik. Mereka tak tahu apa yang ingin dilakukan oleh Antony. Tapi mereka juga tak bisa menolak permintaannya. Jadi mereka tetap memberikannya.
Antony langsung mengambil pisau lipat militer dari tangan Paspamresnya dan langsung dia genggam begitu erat.
Mobil mereka terus berjalan. Sepanjang perjalanan dia tampak begitu tegang. Saat mobil mereka sudah hampir mendekati rumah sakit itu. Antony melirik ke arah Calton.
"Jemput dia di ruang kandungan. Bawa ini dan tunjukkan pada para penjaga yang akan menjaga tempat ini." Antony menyerahkan lencananya pada Calton. Calton mengangguk pelan.
Ketika mereka sudah hampir mendekati pintu masuk rumah sakit itu. Antony segera menaikkan mata pisaunya dan tanpa ragu langsung menggoreskan mata pisau yang sangat tajam itu ke telapak tangan kirinya. Paspamres yang melihat apa yang dilakukan oleh Antony langsung kaget dan kelabakan. Kenapa Antony malah melukai dirinya sendiri.
"Tuan!" Paspamres itu benar-benar kaget melihat darah yang keluar dari tangan Antony. Dia membuat garis panjang di telapak tangannya. Sekarang darahnya mengalir jatuh dan menetes dari jari jemarinya.
"Tak apa! Lanjut jalan! Lakukan protokol jika presiden terluka!" Ujar Antony segera.
"Siap Tuan!" Ujar mereka serempak.
Paspampres yang bertindak sebagai supir langsung berbelok masuk ke dalam rumah sakit terdekat. Dia segera berhenti di depan rumah sakit itu. Dengan cepat mereka langsung membuka pintu Antony dan segera ingin membawa Antony ke dalam rumah sakit.
Paspampres lain yang tadinya mengapit mobil Antony. Tentu kaget dengan gerakan mendadak mobil presiden. Tapi dengan sigap mereka langsung masuk ke dalam rumah sakit itu. Berhenti tak lama setelah mobil Antony berhenti. Tanpa menunggu lama mereka segera keluar.
"Presiden terluka! Amankan area!" Teriak Paspamres yang tadinya satu mobil dengan Antony.
"Siap!" Jawab mereka dengan tegas.
Para Paspamres yang lain langsung melakukan tugasnya untuk menyisir daerah itu. Mengamankan rumah sakit itu dari para orang yang terlihat mencurigakan.
Calton langsung saja berjalan masuk ke dalam dan melewati Antony yang langsung di kawal menuju ke ruang IGD.
Calton berjalan dengan memperhatikan semuanya. Dia juga melihat beberapa Paspamres yang mulai mensterilkan beberapa daerah. Calton mencoba melihat wajah-wajah atau tatapan yang mencurigakan. Dia menemukan beberapa di antaranya.
Calton mempercepat langkahnya menuju ke poli kandungan. Begitu dia ada di depannya. Dia melihat beberapa orang yang menatapnya. Calton hanya menyipitkan matanya. Untunglah tak lama Paspamres yang menyebar langsung datang. Dua orang yang menatapnya tadi langsung berjalan memencar.
Calton mengetuk pintu ruang kandungan itu. Laura yang ada di dalam bersama dengan dokter pribadi Antony langsung kaget dan tampak tegang. Dokter kandungan yang tak tahu apa-apa tampak tegang.
Laura mendorong Dokter Pribadi Antony. Dokter itu yang memang adalah pria satu-satunya di ruangan itu hanya memandang Laura dan dokter kandungan bergantian.
"S-s-siapa?" Teriaknya dengan sedikit gagap.
"Nona, saya Calton. Tuan menyuruh saya menjemput Nona," ujar Calton.
"Calton!" Laura terlonjak. Sepertinya memang dia, Laura hapal suara pria itu karena hanya dia temannya selama di villa milik Antony.
Laura segera melihat kembali ke dokter pribadi Antony. Bagaimana pun dia tetap harus hati-hati. Kalau tidak bisa saja terjadi sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Dokter itu.
"Anda harus membuka pintunya!" Ujar Laura menumbalkan dokter itu.
"Kenapa aku?"
"Karena Anda pria. Cepat sana!" Ujar Laura.
Untung saja dia tidak mengatakan bahwa karena dia adalah seorang dokter. Karena mereka bertiga adalah dokter.
Dokter pribadi Antony memasang wajah takutnya. Soal bedah membedah tubuh manusia. Soal mayat atau apalah, dia berani. Tapi jika dengan hal seperti penjahat atau perkelahian. Dia benar-benar tak sanggup.
"Ayolah! Masa kami yang membuka!" Ujar Laura lagi.
Laura yang melihat bagaimana tangan dokter pribadi itu gemetar dan juga caranya yang lambat menjadi geram sendiri. Untung saja Calton cepat mendorong pintu itu.
"Calton!" Teriak Laura senang. Calton segera masuk dan membuka jasnya. Dia ingin menggunakan itu untuk menutupi identitas Laura. "Di mana Antony?" Tanya Laura lagi.
"Tuan sedang ada di IGD Nona. Kita harus cepat. Seluruh tempat ini akan segera di tutup oleh para Paspamres," ujar Calton menyerahkan jas itu pada Laura dan mencoba memakaikannya.
"IGD? Memangnya apa yang terjadi padanya?" Tanya Laura dengan wajah cemas.
"Tuan melukai dirinya sendiri agar para Paspamres bisa melakukan penjagaan ketat di rumah sakit ini. Dengan begini para mata-mata yang mengikuti nona tak akan berani melakukan sesuatu pada Nona. Nona, kita tak punya waktu banyak. Ayo!" Ujar Calton dengan cepat.
Laura yang mendengar itu sedikit kaget. Antony melukai dirinya sendiri. Kenapa Laura selalu saja membuat pria itu menjadi kesusahan. Sepertinya Laura memang membawa sial bagi Antony.
"Nona?" Tanya Calton yang melihat Laura terdiam.
"Oh, iya, baiklah," ujar Laura gelagapan.
Calton segera memulai melihat lorong di depan rumah sakit itu. Sudah kosong. Calton langsung memberikan sinyal agar mereka mengikutinya. Laura dan dokter pribadi Antony yang juga entah ke apa menjadi merasa terancam mengikuti Calton dari belakang.
Calton mencoba mengarahkan Laura ke arah pintu keluar. Tapi saat dia ingin berbelok, dua orang tadi melihatnya.
Calton mengahalangi jalan Laura yang membesarkan matanya. Melihat sepertinya dua orang tua itu mencurigakan.
"Kita harus memutar Nona, kita lewat depan saja," ujar Calton.
Tentu Laura tidak bisa mengatakan apa-apa, apalagi membantah. Dia hanya mengangguk dan segera mengikuti Calton yang tanpa sadar menggenggam pergelangan tangan Laura agar dia bisa lebih mudah mengontrol pergerakannya.
Calton lalu segera menuju sebuah pintu yang dijaga oleh dua Paspamres.
"Kita akan lewat sana?" Tanya Laura. Dia takut dicegat oleh para Paspamres itu karena penampilannya yang aneh. Sudah memakai jas, topi, dan masker.
"Ya, kita butuh mereka. Nona, menunduklah," ujar Calton cepat agar dua orang yang mengikuti mereka tak bisa berjalan terlalu dekat.
Calton segera menuju ke dua Paspamres yang tampak sedikit curiga dengan penampilan Laura. Apalagi dia menunduk akibat perintah Calton agar dia tidak dikenali.
Calton mengambil lencana yang diberikan oleh Antony padanya. Melihat itu membuat Paspamres kaget.
"Ada dua orang mencurigakan yang mengikuti kami. Aku rasa mereka membawa senjata." Ujar Calton melirik ke dua orang yang baru sadar mereka di arahkan ke tempat para Paspamres. Mendengar itu Paspampres yang dibisikkan oleh Calton segera mengangguk. Dia segera bergerak mengejar dua orang yang perlahan menjauh.
Calton langsung menarik Laura. Dia segera keluar dan segera melihat ke arah sekitar. Sebelum bertemu Laura dia sudah mengirimkan pesan agar mobil yang tadi mengantar Laura untuk parkir di bagian samping rumah sakit.
Untunglah tak lama mobil itu terlihat. Calton segera menarik tangan Laura menuju ke mobil dan mereka segera masuk.
Laura menarik napasnya panjang ketika dia sudah ada di dalam mobil mereka. Dia melepaskan topi dan maskernya yang terasa sangat menggangu pernapasannya. Dia lalu melihat ke arah belakang. Mobil kepresidenan sudah terparkir di depannya.
Laura merasa lega tapi juga merasa cemas dan sedih. Karena dia, Antony sampai terluka. Dan sekarang dia tak tahu bagaimana kabar pria itu.
"Apa Antony tidak apa-apa?" Tanya Laura dengan suara turun.
"Saya belum mendapatkan kabarnya. Tapi Tuan Antony hanya menggores telapak tangannya sendiri. Saya rasa tak akan masalah. Mungkin hanya mendapatkan beberapa jahitan," ujar Calton menatap wajah cemas Laura.
Laura menggigit bibirnya. Merasakan ngilu di telapak tangannya. Bagaimana rasanya saat kau harus mengiris tanganmu sendiri?
Saat Laura berpikiran seperti itu, tiba-tiba mobil yang mereka kendarai berhenti mendadak. Membuat tubuh Laura hingga terhuyung ke depan.
"Ada apa?" Tanya Calton juga kaget.
"Mereka menghalangi jalan kita Tuan!"
...****************...
lanjut malam ya kak, mentahan DL, mungkin banyak typo karena mau jemput anak DL ya