
"Tunggu dulu!" Laura tiba-tiba mengintrupsi. Fredy Dan Graciella langsung melihat ke arahnya. "Gracie! kenapa kau tolak permintaan atasannya? lagi pula untuk apa memikirkan suamimu itu? memangnya dia pernah memikirkanmu? sudah, katakan saja pada atasanmu Dokter Graciella setuju makan siang dengannya!"
Graciella membesarkan matanya melotot ke arah Laura. Bagaimana bisa temannya yang bermulut besar itu mengatakan hal ini di depan orang lain. Graciella menarik Laura sedikit menjauh dari Fredy. Fredy hanya bertampang heran.
"Kau ini? apa hak mu mengatakan hal itu?" tanya Graciella pada Laura yang tampak biasa saja, sudah terbiasa dimarahi temannya ini.
"Yang aku katakan benar, bukan? untuk apa memikirkan Adrean? dia saja tak pernah memikirkan perasaanmu saat bersama wanita-wanita simpanannya. Lagipula kau hanya makan siang, apa spesialnya makan siang? kecuali dia mengajakmu makan malam," jelas Laura. Entah apa menurutnya beda makan siang dan makan malam dengan pria asing.
"Tak ada bedanya. Aku tetap harus makan dengan pria galak itu," keluh Graciella.
"Oh! dia galak? kalau begitu aku akan menemanimu! Bilang dong kalau kau takut dengannya!" Laura enteng mengatakannya, tak tahu betapa kesalnya Graciella dengan sosok pria dingin yang memanggilnya bodoh semalam. Sekarang malah mengajaknya makan. "Hei! Tuan tentara, temanku mau diajak makan siang tapi aku harus ikut katanya. Dia bilang ...." Graciella menutup mulut Laura, dia yakin sekali temannya ini tak akan menyaring pembicaraan mereka. Dia pasti mau bilang Graciella menyebut komandan mereka seorang yang galak.
"Baiklah, saya akan segera melapor," ucap Fredy yang segera menelepon Xavier. Tak menyia-nyiakan kesempatan, ini lebih baik dari pada melaporkan penolakan Graciella.
Graciella mendengus kesal melihat Fredy sudah melaporkannya. Dia melirik tajam pada Laura. Laura melihat itu hanya nyengir kuda.
"Sudah, jangan galak-galak begitu. Baru umur dua puluh enam tahun tapi kau sudah banyak kerutan. Begini saja, jika dia menolak makan siang denganmu karena ada aku, dia berarti ada maksud apa-apa, tapi kalau dia terima artinya memang dia hanya ingin meminta maaf, simpel kan?" ujar Laura menggampangkan. Graciella yang merasa menjadi tumbal sekarang.
"Simpel? ah! kau benar-benar membuatku kesal Laura? kenapa aku bisa berteman denganmu?"
"Karena hanya aku yang tulus denganmu. Yang lain cuma topeng baik padamu," kata Laura begitu percaya diri.
"Dokter Graciella," tegur Fredy yang masih sedikit heran melihat pertengkaran Graciella dan Laura.
"Ya? bagaimana?" malah Laura yang menjawab antusias.
"Komandan menerimanya. Siang ini saya akan menjemput Anda, di mana Anda akan bersedia saya jemput?" formal sekali Fredy mengatakannya.
"Di sini!" ujar Laura yang memutuskan. Graciella hanya mengerutkan dahinya. Kenapa malah Laura yang antusias?
"Baiklah, saya akan menjemput Anda pukul sebelas. Saya undur diri dulu!" Fredy melayangkan sebuah senyuman manis tanda perpisahan. Laura langsung membalasnya. Ah! pria yang mempesona, pikir Laura.
"Hei!" Graciella memukul pundak Laura kesal.
"Ouch! sakit tahu!" kata Laura mengusap pundaknya.
"Kau ini apa-apaan? pokoknya aku tidak mau pergi! kau saja yang pergi jam sebelas nanti." Gracilella segera meninggalkan Laura. Gadis itu, semakin dilawan akan semakin menjadi, pikir Graciella.
"Dokter Laura! ada pasien di IGD!" teriak perawat menahan langkah Laura mengejar Graciella. Ah! dia pasti datang, optimis Laura melihat Graciella yang sudah hilang di belokan lorong rumah sakit.
---***----
Graciella menekan tombol kunci rumahnya. Dia menarik napasnya sejenak, menerka apakah pria itu sudah pergi atau tidak. Mobilnya sudah tidak ada, seharusnya dia sudah pergi dari rumah ini.
Graciella membuka pintunya. Matanya sedikit membesar melihat keadaan rumahnya yang biasanya selalu rapi sekarang berantakan. Bau rokok tercium samar. Entah apa yang sudah mereka lakukan di sini, banyak bekas-bekas sampah berserakan. Apa mereka pikir Graciella pembantu yang akan membereskan semua ini?
Tapi Graciella tak bisa mengeluh. Tak akan ada gunanya mengeluh dengan pria seperti itu. Dia langsung menuju ke arah kamarnya. Untung saja dia membuat kunci khusus untuk kamarnya agar Adrean tak mengotori ruang tidurnya.
Graciella langsung memutuskan untuk mandi. Setelahnya dia langsung mengganti perban yang sudah basah. Dia lupa saat mandi tadi, padahal lukanya tak boleh terkena air dulu setidaknya tiga hari.
Saat Graciella sibuk membersihkan lukanya. Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Graciella tentu kaget, tapi dia langsung memalingkan wajahnya tak peduli ketika melihat sosok itu bersandar di pintu kamarnya. Belum pergi rupanya, pikir Graciella.
Pria itu tersenyum licik. Dia masuk dan berjalan mendekati Graciella.
"Kau terluka?" tanya Adrean menarik tangan Graciella dengan sangat kasar. Gara-gara ulahnya tangan Graciella kembali nyeri.
"Jangan sok perhatian. Bukannya kau tidak pernah peduli aku terluka bagaimana pun," ketus Graciella. Sudah lewat masanya dia berharap pertanyaan itu adalah tanda perhatian dari Adrean.
"Benar! kau bertambah pintar. Tak ku sangka pria tua itu ganas juga bisa membuatmu terluka seperti itu," kata Adrean mengambil sebatang rokok dan segera menghidupkannya. Graciella meliriknya tajam, dia benci kamarnya berbau rokok.
"Bisa kah kau tidak merokok di kamarku? dan hentikan semua omong kosong mu! aku bukan sepertimu yang setiap saat berganti wanita!" Graciella kesal. Entahlah akhir ini dia mudah kesal, mungkin sebentar lagi datang bulan.
"Aku hanya berbicara apa yang mereka katakan. Kenapa kau marah padaku?" bela Adrean mematikan ****** rokoknya ke dinding kamar Graciella.
"Ayolah! kau kira aku tidak tahu. Kalau bukan karena kau! mereka tak mungkin menyebarkan hal seperti itu. Apa kau belum puas juga menyiksaku di rumah dan harus menjatuhkan namaku di tempat kerjaku?" cerca Gracilella.
Adrean menyipitkan matanya. Dengan gerakan cepat dia memegang kedua lengan Graciella. Tak peduli pada luka Gracilella yang ada di tangannya sekarang. Graciella menahan ringisannya. Tak ingin menunjukkan sakitnya.
"Kau! bukannya semakin menjadi istri yang baik. Kau malah menjadi istri yang menyebalkan juga menjijikkan!" Adrean sudah tak bisa menutupi emosinya. Selalu saja muncul jika dia berdekatan dengan Graciella.
Graciella menggertakkan giginya. Kata-kata menjijikkan itu entah sudah berapa banyak dia dengar keluar dari mulut pria yang juga menjijikkan ini, benar-benar sebuah penghinaan. Graciella tentu ingin meledak emosinya, tapi dia memilih menarik napas panjang dan memutuskan mencoba mengontrol dirinya.
"Adrean, sudah, ayo kita bercerai saja. Daripada harus menyakiti satu sama lain. Kau jijik bukan dengan ku? bukankah lebih baik jika aku tak ada? kau tak perlu terus menerus marah. Hal itu tak baik juga untuk dirimu. Kau bebas dengan wanita lain. Jadi daripada kita saling menyakiti ... ayo kita bercerai saja." Graciella mencoba berbicara dengan manis pada Adrean yang memandangnya dengan kerutan di antara kedua alisnya.