Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
BAB 139. KASUS BARU


"Aku sudah memutuskan. Lebih baik kita tidak melanjutkan hubungan ini! Aku sudah memikirkannya dan merasa hubungan ini akan sangat melelahkan. Jadi aku tidak mau berhubungan lagi denganmu, dan aku juga ingin kau tak lagi menghubungiku. Tentang apa yang sudah terjadi pada kita, lebih baik kita lupakan saja. Selamat tinggal."


Jari jemari Graciella yang lentik sedikit gemetar. Graciella menarik napasnya dalam dan akhirnya dia menyentuh tombol kirim. Dia melirik sedikit ke arah layar ponselnya. Melihat tanda centang satu menandakan pesan itu masih tertunda untuk tersampaikan pada penerima.   Entah kenapa perasaannya malah semakin kalut. Kenapa malah tidak terkirim? dia lalu segera menghapus secara keseluruhan pesan dari dan untuk Xavier. Dia tidak peduli kapan pesan itu akan diterima atau tidak oleh Xavier. Lagipula dia tak ingin selalu melihat ponselnya karena penasaran.


Graciella meletakkan ponsel itu di atas meja kerja Daren yang sedang keluar karena mendapatkan laporan dari beberapa karyawannya. Graciella menarik napasnya. Entah kenapa perasaannya tak sejahtera sekarang. Seketika saja ada perasaan yang hilang dan menjadi sesak yang sangat berat.


"Hei! Aku baru mendapatkan pekerjaan yang bagus untukmu," ujar Daren yang memasuki ruangannya dengan sebuah map cukup besar.


"Oh? benarkah?" Graciella mengulas sebuah senyuman manis menyamarkan kehampaan yang dia rasakan sekarang. Tapi kesuraman yang ada di matanya tidak bisa dia tutupi sama sekali.


Daren yang duduk di depan Greciella dapat melihat hal itu. Tapi dia tidak ingin berkomentar apa pun, jika memang itu adalah keputusan Graciella. Dia akan mendukungnya.


"Ya, tapi aku akan mengatakannya lebih dahulu, ini adalah kasus yang terjadi di pulau A. Jadi jika kau mengambil kasus ini, kau harus pergi ke pulau A yang cukup jauh tempatnya dari sini. Kau harus naik kereta dan juga dilanjutkan dengan menaiki kapal, bagaimana?" ujar Daren lagi menyodorkan berkasnya. Greciella mengerutkan dahinya, dia lalu mengambil map itu.


"Kedengarannya menarik," ujar Graciella lagi sambil mengeluarkan isi map itu.


"Benar bukan? Aku juga merasa itu bagus untukmu," ujar Daren lagi tersenyum.


"Kasus ini tentang apa?" tanya Graciella melihat beberapa biodata dan foto keluarga yang tampak riang dan hangat.


"Kasus pembunuhan satu keluarga. Mereka ditemukan tidak bernyawa di rumah mereka. Sang kepala keluarga, Tuan Sato, ditemukan di lantai bawah di ruang keluarga. Istrinya ditemukan di kamar mereka, mertua Tuan Sato ditemukan di dapur, dan kedua anak laki-laki mereka ditemukan di kamar mereka masing-masing, semua meninggal karena tembakan," ujar Daren mulai tampak serius.


Graciella  mengangguk mendengarkan penjelasan dari Daren. Dia lalu sejenak mengamati biodata-biodata dari korban. Graciella mengerutkan dahinya.


"Siapa gadis muda ini?" ujar Graciella menunjuk seorang gadis belia yang sedang dirangkul oleh Tuan Sato.


"Itu adalah Yuki, anak pertama dan anak perempuan satu-satunya Tuan satu. Dan dia adalah satu-satunya yang selamat karena dia sedang pergi darmawisata dari sekolahnya," jelas Daren lagi.


"Jadi apa dia tahu seluruh keluarganya sudah meninggal?" tanya Graciella mengerutkan dahinya.


"Aku rasa dia sudah tahu," ujar Daren menggaruk ujung alisnya. Sebenarnya sama sekali tidak gatal, tapi dia hanya merasa miris, pekerjaannya sering kali menyentuh hati.


Graciella mengangguk pelan. Mencoba menerka bagaimana perasaan gadis ini saat dia tahu seluruh keluarganya dibantai saat dia sedang liburan.


"Keluarga Sato merupakan salah satu keluarga yang dipandang di pulau A, mereka dikenal sangat dermawan dan sederhana. Tuan Sato juga dikenal sebagai seseorang yang membuat nama keluarga mereka dipandang. Karena itu dia mempekerjakan banyak keluarganya terutama adik-adik iparnya."


"Tuan Sato adalah orang yang pekerja keras tapi dia sangat baik. Memang dia sedikit keras dengan karyawannya tapi diimbangi dengan sikapnya yang begitu dermawan. Bahkan beberapa karyawan yang ditanya tidak ada yang bisa menjawab apakah ada saingan bisnis yang bisa melakukan ini pada keluarga Tuan Sato," ujar Daren lagi dengan serius menganalisa.


"Bagaimana dengan indikasi perampokan?" Ujar Graciella lagi.


"Itu sedang di dalami, tapi sejauh ini tak banyak barang yang hilang di sana. Tempat kejadian perkara memang sangat berantakan, tapi aku rasa untuk lebih jelasnya kau harus datang ke sana," ujar Daren lagi.


"Baiklah, aku akan pergi ke sana secepatnya!" Kata Graciella sambil memasukkan data-data itu kembali ke map-nya. Akan dia pelajari lebih lanjut di rumah.


“Graciella, satu lagi. Aku tidak bisa menemanimu ke sana. Amber sangat rewel akhir-akhir ini karena ingin tumbuh gigi. Dan aku juga tidak bisa membawa mereka berdua ke sana. Jadi aku sudah meminta Ferdinand dan juga Helena untuk ikut denganmu.”


“Ya, baiklah, aku mengerti, tenang saja dan jangan khawatir. Ke Amerika saja aku bisa pergi sendiri. Kalau hanya ke pulau A yang bahasa dan makanannya masih sama seperti di sini, itu sama sekali bukan masalah,” ujar Graciella dengan senyumannya yang tampak manis.


“Ya, Helena akan mengurus semua hal tentang keberangkatanmu nantinya. Pulau A itu katanya sangat indah. Jika sudah menyelesaikan kasus ini, ambillah waktu untuk berlibur sejenak,” ujar Daren yang tahu biasanya Graciella selalu menyelesaikan sebuah kasus dengan cepat.


“Aku baru saja bekerja dan sudah mendapatkan jatah cuti. Kakak, jika kau begini pada setiap karyawanmu, lama-lama kau akan bangkrut,” ejek Graciella.


“Haha, kalau kau kan karyawanku yang istimewa. Lagipula kau sudah belajar dengan begitu tekun selama empat tahun, ajaklah Helena untuk berlibur bersama. Dia juga adalah karyawan teladan di kantor ini. Aku tidak bisa mengajaknya untuk liburan bersama, jika aku melakukannya, Ruby bisa tidak mengizinkan aku masu ke dalam kamar selama setahun,” candaan Daren sambil tertawa garing.


“Kalau aku yang mengetahui Kakak melakukan itu, aku akan menyuntikkan kebiri kimia pada kakak!” ancam Graciella dengan wajah yang pura-pura serius.


“Wow! Kenapa kejam sekali!” ujar Daren yang tampak pura-pura takut.


“Baiklah, aku akan bersiap-siap, aku juga harus mempelajarinya. Kapan aku bisa berangkat?” ujar Graciella lagi.


“Secepatnya. Tadi Helena mengatakan dia sedang berusaha untuk mendapatkan tiket kereta api malam ini hingga kau bisa tiba di perbatasannya besok pagi. Besok pagi kalian akan naik kapal dan segera akan sampai ke sana.”


Graciella mendengar itu mengangguk pelan. Tapi saat dia mengangguk, ponselnya berdering dan membuat jantung Graciella hampir meloncat keluar. Dari tadi dia memang mencoba untuk mengalihkan kegundahan hatinya akibat pesan yang dia kirim. Ingin dibatalkan pun sudah tidak bisa karena dia sudah menghapusnya. Jadi dia sekarang sangat gelisah. Takut apa yang akan menjadi reaksi dari Xavier.


Daren pun sedikit penasaran dengan siapa yang menelepon Graciella. Mungkinkah Xavier. Graciella dan Daren melihat layar ponsel yang tergeletak di atas meja mereka.


Tapi rasa tegang di antara mereka hilang seketika ketika mereka berdua melihat nama Laura di layar ponsel itu. Graciella segera menyambar ponselnya dan menerima panggilan itu.