
Xavier menarik tangan Graciella. Dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah Graciella yang bahkan masih kaget dengan permintaan dari Devina. Tubuh Graciella tentu dengan mudahnya tertarik oleh Xavier.
Entah bagaimana tapi tiba-tiba saja sensasi hangat itu mendarat di bibir Graciella. Terasa melingkupi seluruh bibirnya. Graciella membesarkan matanya memandang wajah Xavier yang begitu dekat dengannya sekarang. Mata pria itu tertutup seolah menikmati apa yang sedang dia lakukan. Bagaimana bisa Xavier menciumnya? Tanpa permisi, tanpa kompromi. Hembusan napas Xavier terasa hangat mengusap pipi Graciella. Ciuman Xavier begitu lembut, tapi kenapa? Graciella merasakan sakit. Sakit di hatinya dan terhina.
Dia mungkin setuju berpura-pura jadi pasangan Xavier. Dia mungkin tak masalah mengandeng Xavier atau menggenggam tangannya. Tapi sebuah ciuman? ini benar-benar berlebihan!
Xavier kembali merasakan sensasi kenyal yang langsung membuatnya lupa akan semuanya. Lupa kalau sekarang begitu banyak orang yang tercengang membelalakkan matanya menatap apa yang sudah dilakukan oleh Xavier. Bahkan Devina yang tadi menantang rasanya tak percaya. Bagaimana bisa Xavier mencium wanita itu bahkan terlihat begitu menikmatinya.
Xavier benar-benar menikmati ciuman itu. Sejak pertama merasakan betapa manisnya bibir Graciella, sesungguhnya dia sudah ketagihan. Hingga dia tak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Graciella merasa ciuman Xavier semakin lama semakin liar. Dia bahkan kaget ketika Xavier melu'mat mulutnya ganas. Graciella otomatis mendorong tubuh Xavier. Namun kekuatan Graciella tentu tak sebanding dengan pemaksaan Xavier. Mendapat dorongan dari Graciella, Xavier malah semakin ganas. Dia menahan tubuh dan kepala Graciella agar tak bergerak dan menjauh darinya. Graciella benar-benar kewalahan dan juga merasa terhina dicium seperti ini dihadapan semua orang hanya sebagai pembuktian. Pembuktian bahwa sepertinya dia memang murahan. Wanita bersuami yang dapat dicium oleh pria lain.
Xavier terhenti ketika merasakan sesuatu yang basah mengenai pipinya. Dia akhirnya melepaskan Graciella. Menatap wanIta yang matanya tampak berair dengan tatapan kesal dan tampak menggigit bibirnya yang sudah memerah karena ulahnya. Xavier benar-benar hilang kontrol.
“Graciella ….” Xavier ingin meminta maaf. Tapi Graciella benar-benar tak terima dirinya diperlakukan seperti ini oleh Xavier. Tanpa memikirkan begitu banyak orang yang sedang memandang mereka. Graciella pergi begitu saja meninggalkan Xavier. Menerobos semua orang yang hanya memandanginya.
Devina mengerutkan dahinya melihat hal ini. Kenapa wanita itu tampak mara? saat Xavier ingin melangkahkan kakinya untuk mengejar Graciella. Dengan cepat Devina segera menghalanginya. Tentu ini kesempatannya. Dia tak tahu apa yang terjadi, tapi yang pasti, dia tak akan membiarkan Xavier kembali berdekatan dengan wanita itu.
“Minggir!” perintah Xavier.
“Tidak! aku tidak akan melangkah sedikitpun bahkan jika kau ingin membunuhku, aku tidak akan minggir," ujar Devina dengan kukuhnya.
Xavier menatap tajam sekali ke arah Devina yang juga menatap Xavier seolah menantangnya. Tangan Xavier mengepal begitu kuat. Jika dia tak ingat bahwa di depannya sekarang adalah seorang wanita. Mungkin dia sudah melayangkan tinjunya ke wajah Devina.
Xavier mencoba menghindar mencari cara untuk melewati Devina. Tapi wanita itu terus menghalangi Xavier hingga membuat Xavier benar-benar tak bisa lagi menahan dirinya.
“DEVINA!” suara berat Xavier bergema sangat kuat di ruangan itu. Bahkan orang-orang yang ada di sana sampai tersentak kaget. Tak pernah mendengar suara Xavier begitu kerasnya. Devina yang mendapat bentakan itu langsung terdiam. Jantungnya serasa berhenti sekian milidetik hanya karena itu. Dia jadi terkaku.
Melihat Devina terdiam tentu membuat Xavier tak menyia-nyiakan hal itu. Dia segera berlari melewati Devina yang hanya diam. Bentakan Xavier itu benar-benar meluluhkan keberaniannya tadi. Bagaiman bisa Xavier membentaknya?
Graciella mengelap air matanya yang turun deras. Tak tahu kenapa? Kenapa dia bisa sesedih ini? apakah karena Xavier sudah berani menciumnya? Apakah karena dia merasa dipermainkan? Ataukah karena kehangatan yang dia sadari semuanya semu semata? Graciella tak mengerti. Yang pasti dia merasa begitu sedih dan marah dengan kelakukan dari Xavier.
Graciella keluar dari rumah bak istana itu. Langkahnya cepat menuruni tangga. Padahal tadi dia kesulitan untuk melangkah. Memang jika orang sedang marah, semuanya seperti bisa dilakukan dengan cepat.
Graciella terus berlari hingga keluar dari pekarangan rumah itu. Melihat sekeliling tempat itu, karena memang terletak di perumahan elit, tidak tampak satu pun kendaraan yang lalu lalang. Hanya kendaraan pribadi yang ada. Graciella langsung pergi, berjalan dengan cepat ketika melihat Xavier mendekatinya.
Langkah Graciella terhenti ketika sebuah mobil menyerong di depannya. Graciella tentu kaget melihat mobil itu seperti ingin menabraknya. Graciella semakin kaget ketika melihat siapa yang ada di dalamnya.
“Sedang apa kau ada di sini?” Adrean tampak mengerutkan wajahnya melihat Graciella. Dia lebih mengerutkan dahinya ketika melihat dandanan Graciella. Untuk apa wanita ini berdandan seperti ini di sini? Graciella menatap ke arah Xavier yang baru keluar dari area rumah itu. Matanya membesar dan tanpa pikir panjang dia langsung membuka pintu mobil. Duduk langsung di samping Adrean yang bingung dengan kelakuan istrinya.
“Aku mendatangi pesta ulang tahun teman wanitaku di sini,” ujar Graciella asal. Adrean mengerutkan dahinya, teman yang mana? ini adalah perumahan elit dan setahu Adrean tak sembarang orang bisa masuk ke sini. “Bisa hantarkan aku pulang?” tanya Graciella menatap Adrean. Dia lupa apa yang sudah dilakukan oleh pria ini terakhir kali mereka bertemu.
Adrean melihat Graciella dari atas hingga bawah. Hal itu membuat Graciella sadar. Apa yang sudah dia lakukan? “Eh, kalau tidak bisa aku pulang sendiri saja,” ujar Graciella ingin membuka pintu mobilnya. Dia melihat Xavier yang berdiri tak jauh di belakang mereka. Graciella jadi serba salah. Bagaimana ini?
“Tidak perlu, aku akan hantarkan.” Adrean sigap menarik pintu Graciella dan menguncinya. Graciella melihat dan mendengar perkataan Adrean yang menurutnya menggunakan nada yang baik menjadi heran dan tak terbiasa. Dia menatap Adrean yang hanya melirik Graciella dengan senyumannya manisnya. Sudah lama tak melihat senyum itu.
Xavier yang mengejar Graciella terhenti ketika melihat Graciella dicegat oleh sebuah mobil dan saat Graciella melihat ke arahnya, Graciella langsung masuk ke dalamnya. Hal itu tentu membuat Xavier mengerutkan dahinya. Dengan siapa Graciella di dalam mobil itu? Dari siluetnya terlihat seperti seorang pria. Tak lama dia melihat mobil itu berjalan pergi.
Xavier langsung menelepon seseorang sambil berjalan kembali ke arah rumah neneknya. Dengan cepat mencari mobilnya.
“Aku butuh informasi tentang mobil dengan plat XX-XXX, sekarang!” ujar Xavier segera masuk ke dalam mobilnya yang terparkir.
“Baik komandan!” jawab dari seberang sana. Xavier segera menjalankan mobilnya dan pergi dari sana dengan cepat. Dia sebisa mungkin mengejar mobil yang membawa Graciella.
“Mobil itu tercatat sebagai milik Tuan Adrean Han, mereka menuju ke jalan Edelwies!” laporan dari seberang.
Xavier meremas setir mobilnya. Dengan dalam dia menginjak gasnya dan terus memacu kencang mobilnya. “Lacak dan terus laporkan ke mana dia pergi.” Xavier mematikan panggilan telepon itu, lalu fokus mengendarai mobilnya yang melaju begitu kencang.
Graciella melihat jalanan yang mereka lewati. Dia mengerutkan dahi, kenapa Adrean tak melewati jalan yang biasanya mereka lewati. Graciella sedikit curiga. “Adrean, aku jalan saja di persimpangan selanjutnya.” Graciella melihat persimpangan yang dimaksud. Namun Adrean malah berbelok ke arah kiri. Graciella melirik ke arah Adrean yang hanya tersenyum licik.
“Kau sudah begitu cantik malam ini. Mari sedikit bersenang-senang.”
...----------------...
Hallo kak ... Maaf, ini hari Senin dan kerjaan di RL membludak! jadi hanya sempat menulis 2 bab. Esok aku sambung dan doain bisa crazy up lagi hehe see you next Chapter.