Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 278. Percayakan semua padaku.


Laura menarik napasnya panjang. “Kau adalah seorang presiden. Seorang presiden tidak boleh bercerai dengan ibu negaranya jika tidak kau akan kehilangan kedudukanmu.”


“Aku akan melepaskan kedudukan ini untukmu. Aku juga tidak pernah ingin menjadi presiden. Aku lakukan ini semua untuk menemukanmu.” Antony tahu ke mana arah pembicaraan ini.


Laura mendengar itu terdiam. Bukan, dia tidak tersanjung karena Antony rela melakukan apa pun untuknya. Dia tahu pria ini memang selalu melakukan hal itu padanya.


“Tapi itu tidak sepadan. Dan lagi pula, walau aku wanita aneh dan bodoh seperti yang sering kalian bicarakan. Aku bukan orang yang tega mengambil suami seorang wanita. Aku juga wanita, mengambilmu dari Adelia akan menyakitinya karena aku tahu betapa Adelia dulu sangat mencintaimu. Dia rela menerimamu kembali bahkan setelah kau membatalkan pernikahan denganku. Bukankah dia wanita yang sangat baik? bukan seperti aku yang selama ini begitu menyusahkanmu,” ujar Laura dengan air mata yang mengalir begitu saja di wajahnya yang putih. Dia mencoba menjelaskannya dengan senyuman walau rasanya ada yang mengiris-ngiris hatinya. Bahkan napasnya begitu sesak sekarang karena setiap detakan jantungnya serasa menghantarkan nyeri yang sangat keseluruh tubuhnya. Inikah rasanya patah hati?


Laura selalu benci melihat wanita-wanita Adrean. Dia selalu mengutuk wanita-wanita itu, tapi sekarang dia malah menjadi seperti mereka. Laura tak ingin, walaupun tak punya apa-apa. Laura tidak ingin menjadi mereka.


Antony hanya terdiam melihat dan mendengar semua yang ingin dikeluarkan oleh Laura. Dia ingin tahu apa yang ada di dalam pikiran wanita ini. Masih kurangkah dia menunjukkannya?


Laura menyeka air matanya dengan keras sambil sedikit tertawa kecil tapi hal itu malah menunjukkan pilunya. Dia masih sedikit susah menarik napasnya. Dengan perlahan dia melepaskan tangan Antony dari pergelangan tangannya, Laura lalu menatap pria itu dengan mata yang nanar.


“Aku sudah menjadi Laura yang bodoh, ceroboh, dan aneh. Tolong, jangan menambah julukanku menjadi Laura perebut suami orang. Apa yang terjadi pada kita belakangan ini, aku anggap hanya sebuah perjalanan. Antony, kita sudahi ya. Apa yang kita lakukan salah. Kita memang tak berjodoh, terima saja seperti itu.” Laura menggigit bibirnya dengan keras agar suaranya tak terlalu terdengar gemetar. Laura segera ingin meninggalkan Antony yang menggenggam tangannya dengan sangat erat.


“Berhenti!” Suara Antony terdengar menggelegar di seantero ruangan itu. Hal itu membuat Laura langsung terhenti. Laura tahu seharusnya dia tetap berjalan tapi entah kenapa kata-kata Antony bagaikan sebuah mantra yang langsung membuat langkahnya susah untuk dilanjutkan.


"Berani melangkahkan kakimu selangkah saja. Maka detik itu pula aku langsung memasukkan gugatan cerai aku dengan Adelia!"


Laura mendengar itu menelan napasnya dengan susah apalagi dia mendengar suara dimana pria itu sepertinya mendekatinya. Dia segera berbalik dan menatap pria itu.


"Apa yang kau lakukan? Bukannya aku sudah mengatakan bahwa aku tidak ingin merusak kehidupanmu lagi dan membuat orang lain menderita karena diriku? Kenapa kau tidak bisa mengerti apa yang aku ucapkan?" Tanya Laura kesal. Bagaimana Antony bisa mengancamnya dengan hal yang dia ingin tak terjadi karena kehadirannya.


"Di sini yang mengambil keputusan adalah aku. Kau tidak berhak mengatakan apa pun. Kau adalah tawananku. Jika kau melakukan hal yang seperti kau katakan, kau akan melihat bagaimana kehidupanku hancur!" ujar Antony dengan mata memerah. Dia lakukan semuanya, bahkan bersekongkol dengan Adrean pun dia lakukan hanya demi mendapatkan jabatan ini dan mencari Laura. Tapi wanita ini ingin dia malah kembali ke kehidupannya yang dulu. Tidak, bagi Antony tak ada kata kembali.


"Kita semua salah! Tak ada yang benar di dalam hubungan ini. Apa menurutmu jika aku kembali dengan Adelia semua ini akan menjadi baik-baik saja? Tidak! Itu menghancurkan aku lebih dari pada kehilangan kedudukan ini! Kau menyuruhku hidup berpura-pura mencintai orang yang tak aku cintai, mana mungkin aku bisa?"


"Dulu, aku juga tidak mencintaimu. Tapi perlahan sekarang aku sudah mulai bisa menerimamu. Aku rasa dengan kelembutan Adelia, lama-lama kau juga akan melupakanku." Laura menatap ke arah Antony dengan tatapan teguhnya.


"Kalau aku bisa mencintai wanita lain. Aku tak akan segila ini untuk mendapatkanmu. Laura, berhentilah mementingkan egomu!" Teriak Antony begitu kesal. Semua baik-baik saja beberapa jam yang lalu, mereka mengadu kasih lalu semua berakhir begini.


"Lalu aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya ingin melakukan hal yang benar kali ini! Bagaimana pun jika ada yang tahu, mereka akan kembali menyalahkan aku! Mereka akan mengatakan bahwa aku adalah wanita penggoda! Tak akan ada yang mengerti posisiku!" Teriak Laura histeris. Walau semua ini salahnya, bukan maunya menjadi perebut suami orang.


Antony yang melihat Laura yang histeris langsung memeluk wanita yang sekarang gemetar seluruh tubuhnya. Dia tahu apa maksud Laura. Tapi dia juga tak bisa melakukannya.


"Percayakan semuanya padaku. Hanya satu pintaku, jangan lagi berpikir untuk meninggalkanku. Lebih dari 10 tahun, dan beberapa Minggu ini adalah masa paling bahagia buatku karena kau benar-benar bisa menerimaku," bisik Antony pelan di telinga Laura.


"Tapi, aku akan merusak kehidupan Adelia," ujar Laura. Dia akan sangat berdosa jika itu terjadi.


"Tidak, aku yang merusaknya. Aku yang memaksa tetap bersamamu. Aku sudah mengatakan padanya agar dia tak perlu bertindak menjadi istriku karena aku hanya mencintaimu. Sebelum kau melakukan ini, aku sudah mengatakan hal itu padanya," kata Antony lagi.


Laura terdiam sesaat. "Benarkah?"


"Ya. Jadi kau tidak perlu khawatir. Percayakan semuanya padaku. Aku akan mengurus semuanya. Aku hanya minta, bertahanlah di sini sedikit lagi. Ini juga demi kebaikanmu. Setelah semua ini, aku akan bersama tanpa halangan sedikit pun," ujar Antony lagi.


Laura hanya menggigit bibirnya tanpa bisa berkata apa pun lagi. Nyatanya, pelukan itulah yang menyamankan hatinya, membuat rasa sesesak menyiksa itu hilang perlahan-lahan. Entahlah, apa yang harus dia lakukan sekarang. Otaknya mengatakan ini salah, tapi perasaannya mengatakan dia hanya ingin bersama dengan pria ini selamanya.