
“Terimakasih.” Adelia melihat pria yang sekarang duduk di sampingnya dengan sedikit senyuman. Pria ini ternyata cukup membuat dirinya tenang. Memang benar kata orang, yang dibutuhkan hanya seseorang untuk menemani saat kita sedih. Adelia langsung berdiri untuk segera ingin masuk ke dalam istana kepresidenan yang entah berapa lama akan bisa dia tempati.
“Sama-sama Nyonya.” Raftan juga langsung berdiri dengan sikapnya. Adelia membalasnya dengan sebuah senyuman dan langsung melangkah meninggalkan pria yang sejujurnya punya perawakan yang menarik.
Adelia berjalan memasuki istana kepresidenan ketika tiba-tiba beberapa Paspampres langsung menghadang jalannya. Adelia tentu langsung kaget. Apakah sudah waktunya dia tidak boleh memasuki kediamannya sendiri?
“Ada apa?” tanya Adelia berusaha untuk berwajah serius walaupun dengan mata yang sembab.
“Apa yang sudah kau lakukan?” tanya Antony dengan wajah yang sedikit ketat. Dia mengeluarkan gesture agar para penjaganya pergi meninggalkan tempat itu. Adelia melihat Antony yang berjalan mendekati dirinya dengan wajah yang sangat ketat.
“Apa? Apa maksudmu?” tanya Adelia. Tentu dia tidak mengerti. Baru saja dia masuk tapi tiba-tiba Antony mengatakan hal itu.
“Apa yang kau lakukan dengan salah satu paspamres di atas sana?” tanya Antony dengan wajah kesalnya.
Adelia mengerutkan dahinya. Kenapa Antony marah ketika dia bersama Raftan? “Untuk apa kau marah?” tanya Adelia menatap ke arah Antony. Dia hanya berdua dengan Raftan untuk mengurangi sedikit rasa sedihnya. Tapi kenapa Antony tampak begitu marah? Apakah dia cemburu? Tapi untuk apa? Dia bahkan tidak melakukan apa-apa yang separah Antony lakukan dengan Laura.
“Aku tidak akan marah jika bukan untuk ini.”
Tiba-tiba saja Antony langsung memegang tangan Adelia dan langsung menariknya dengan sangat cepat. Adelia bahkan tidak sempat untuk bertahan. Antony menarik Adelia langsung ke ruang tengah.
Antony langsung melepaskan tangan Adelia ketika mereka sampai dia depan TV. Dengan sangat tergesa Antony langsung mengambil remote dan juga menghidupkan TV itu. Adelia tampak sedikit mengerutkan dahinya. Apa maksud Antony ini.
“Lihatlah.” Antony menunjukkan satu program. Adelia langsung menatap ke arah TV itu dan dia langsung membesarkan matanya.
“Foto-foto ini diambil di istana kepresidenan pada hari ini dan baru saja. Tentu saja ini sangat menggemparkan melihat seorang ibu negara melakukan affair yang sangat ….” Suara presenter wanita yang mengomentari sebuah foto yang menunjukkan Adelia dalam pelukan Raftan. Tentu saja itu membuat Adelia langsung tak percaya. Dari mana mereka mendapatkan foto itu?
Adelia sungguh terkejut melihat apa yang ada di depannya sekarang. Dia bahkan menutup mulutnya. Bagaimana bisa mereka melakukan ini padanya. Adelia langsung melihat ke arah Antony yang tampak diam tapi tampak ada amarah yang muncul di matanya.
“Bagaimana ini bisa terjadi?!” Antony mengatakannya dengan nada yang menahan amarahnya.
“A–aku, a–ku tidak tahu ba–bagaimana ini terjadi?” tanya Adelia.
Adelia mendengarkan kemarahan Antony malah menjadi kesal. “Kalau tidak karena keputusanmu. Aku tidak akan melakukan hal itu. Bukankah kau tahu bagaimana sakitnya kehilangan seseorang yang kita cintai! Aku hanya ingin melampiaskannya! Tapi, sekarang kau senang bukan? Sekarang kau punya alasan untuk menceriakanku. Seharusnya kau senang? Sekarang akulah orang yang akan dipandang jelek oleh orang lain dan kau adalah yang terkhianati! Kenapa ini terjadi padaku?” kata Adelia langsung menangis tersedu-sedu. Hal itu membuat Antony sedikit tertampar. Raungan dari tangis Adelia membuat hatinya sedih. Ya, seharusnya dialah yang mendapatkan predikat orang yang tak setia.
“Apa hubunganmu dengan dia?” tanya Antony dengan lebih lembut.
Bukan, dia tidak cemburu sama sekali. Sejujurnya ada sedikit rasa lega, karena setidaknya jika memang Adelia dan pria itu punya hubungan maka Antony tidak akan terlalu merasa bersalah saat meninggalkan wanita ini. Antony tahu Adelia adalah wanita yang sangat baik, dia penyabar, dia juga rela melakukan apa pun untuk Antony bahkan hanya sebagai istri boneka. Adelia hanya bergeming dan menangis meratapi nasibnya. Apa yang salah dengannya?
“Adelia, aku hanya ingin tahu apa hubunganmu dengan pria itu? Jika memang kau memiliki hubungan dengannya. Aku rasa aku harus segera mencarinya. Karena aku rasa dia akan segera diadili oleh pasukannya.” Antony menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Pria yang ada di dalam foto ini, jelas adalah salah satu pengawal pribadi mereka. Tentu saja, perselingkuhan adalah hal yang terlarang di ketentaraan. Apalagi dia berselingkuh dengan ibu negara.
Mata Adelia yang sudah basah tiba-tiba menatap ke arah Antony. “Benarkah?” tanyanya kaget. Tidak. Apalagi Raftan, sedikit pun dia tidak bersalah di kasus ini.
“Dia akan mendapatkan hukuman dan kemungkinan besar akan dikeluarkan dari kesatuannya.” Antony menjelaskannya lagi.
Bibir Adelia bergetar dan matanya tampak bingung. Dia tak tahu harus berbicara apa. “Tidak mungkin. Jangan sampai itu terjadi pada Raftan. Antony, bagaimana ini?” Adelia tampak langsung khawatir. Adelia mungkin masih menerima jika mereka menyalahkannya karena memang ini adalah kebodohan dirinya. Amarah dan juga kesedihannya menutupi semua akal sehatnya. Bahkan dialah yang memeluk Raftan duluan.
Antony menarik napasnya susah. “Kau ke sini! Cari pengawal presiden yang bernama Raftan. Aku ingin dia menghadap aku sekarang!” bisik Antony dengan emosinya pada salah satu pengawal pribadi khususnya.
“Baik Tuan.” Pria itu langsung pergi meninggalkan tempat itu.
“Tuan Presiden, mertua Anda menelepon Anda.” Suara salah satu pengawal pribadi Antony terdengar. Antony menarik napasnya. Dia memang sengaja mematikan ponselnya karena dia yakin mereka akan segera menghubunginya. Adelia hanya terdiam. Ayahnya dan seluruh keluarganya pasti akan menyiksanya karena sudah bertindak bodoh.
“Katakan padanya aku tidak bisa berbicara sekarang.” Antony menatap Adelia yang langsung terduduk di atas karpet mewah ruangan tengah istana kepresidenan itu. Bagaimana bisa tiba-tiba jadi begini. Dia tidak pernah berselingkuh, dia adalah wanita yang setia pada suaminya. Yang dia lakukan hanya menumpahkan semua emosinya yang selama ini terpendam. Tapi kenapa malah dia? Padahal Antony yang sudah mendua, tapi kenapa malah dia. Adelia tiba-tiba saja kembali menangis.
“Tuan Presiden, ayah Anda ada di jaringan telepon.” Seorang pegawai pribadi Anthony kembali masuk ke dalam ruangan itu.
“Katakan pada siapa pun yang ingin berbicara atau bertemu diriku atau Adelia, bahwa kami tidak bisa menemui atau berbicara dengan mereka melalui media apa pun,” teriak Antony kesal. Dia sudah tahu bahwa hal ini pastilah terjadi.
Dia juga pusing memikirkannya walaupun seharusnya keadaan ini menguntungkan untuknya. Dia hanya tinggal mengatakan bahwa benar ada masalah dalam rumah tangganya dan mereka akan segera berpisah. Tapi Antony tidak bisa melakukan hal itu, sejujurnya dia tahu bahwa seharusnya yang ada di dalam keadaan seperti ini adalah dirinya. Adelia hanya menangis memeluk lututnya. Kenapa sekarang malah dia yang harus mendapatkan ini semua?