
"Kau mengenalinya bukan? Kau hanya punya dua puluh menit jika ingin menyelamatkannya!"
Pesan itu muncul setelah foto-foto yang dikirim ke ponsel Graciella. Tentu ancaman itu membuatnya langsung membuat rasa paniknya seketika membuncah. Bagaimana pun dia mengenali wanita yang ada di dalam foto itu dan wanita itu terlihat sedikit ketakutan. Graciella yakin terjadi sesuatu padanya.
"Hotel Rendezvous kamar 3992 lantai 3. Nyawanya ada di tanganmu." Pesan Itu kembali muncul membuat tangan Graciella otomatis gemetar.
Graciella langsung melihat lokasi hotel yang diberikan oleh pengirim pesan yang dia tidak tahu siapa orangnya. Graciella menggigit jarinya. Estimasi perjalanan ke sana sembilan belas menit. Jadi dia hanya punya satu menit untuk bisa bergegas.
Graciella segera masuk ke dalam kantornya. Tentu dia tidak punya mobil untuk dikendarai. Semenjak hamil, ke mana-mana dia pasti diantar oleh Xavier atau paling tidak Arnold untuk pergi. Karena itu dia tidak memiliki kendaraan sekarang. Bagaimana ini? apa yang harus dia lakukan? apakah ancaman itu benar adanya?
Menunggu Xavier pastinya akan memakan waktu paling cepat lima menit. Sedangkan jika benar ancaman yang dia terima. Wanita dalam foto itu pastinya akan mengalami hal yang sangat tidak baik.
"Kakak!" Graciella langsung masuk ke dalam ruangan Daren yang langsung membuat Daren yang sedang asik melakukan panggilan video Dengan anaknya kaget.
"Ada apa?"
"Aku butuh mobil sekarang!" Pinta Graciella langsung buru-buru.
"Kenapa?" Daren pasti bingung melihat Graciella yang tampak panik.
"Seseorang dalam bahaya. Aku harus memastikannya!" Ujar Greciella. Tak bisa menghubungi Xavier atau Stevan saat ini. Minimal dia bisa membawa Daren. Lagipula ada Serin yang selalu menjaganya. Dia juga seorang prajurit wanita.
"Apa? Kau yakin!" Kata Daren. Dia sedikit bingung. Kenapa malah Greciella yang mendapatkan laporan itu? Kenapa bukan polisi? Bukannya mereka menyelidiki kasus yang sudah terjadi. Bukan yang belum atau hendak terjadi.
"Benar! Ayolah! Waktu kita tak banyak!" Ujar Graciella yang merasa Daren memperlambatnya. Dia hanya butuh mobil. Jika tidak ingin ikut biar Graciella pergi sendiri.
"Baik!"
Daren segera bergerak bahkan tidak mengucapkan sebuah salam perpisahan untuk Ruby dan Amber. Dia hanya menutup ponselnya dan segera bergegas. Daren dan Graciella langsung menuju ke arah mobil Daren. Serin yang melihat hal itu juga langsung sigap mengikuti mereka.
Daren mengemudikan mobil itu secepat yang dia bisa. Greciella menatap jam di ponselnya. Merasa mereka harus lebih cepat.
"Apa kau sudah menghubungi Xavier atau Stevan?" Tanya Daren berusaha tetap fokus dengan jalanan yang sialnya sedang ramai-ramainya.
"Belum." Singkat Graciella. Terlalu panik dikejar oleh waktu.
"Saya akan menghubungi komandan," ujar Serin segera.
"Dan kau harus menghubungi Stevan. Kita butuh back-up. Jika benar seperti yang kau katakan bahwa seseorang dalam masalah. Maka kita tak bisa datang begitu saja. Kita juga akan dalam masalah," ujar Daren.
Graciella mengangguk pelan. Otaknya memang jadi lambat berpikir karena hormon kehamilan ini. Dia memang seharusnya menghubungi Stevan lebih dahulu. Bagaimana pun dia adalah seorang polisi dan ini pekerjaannya.
Tak butuh waktu lama, panggilan dari Graciella itu langsung di angkat oleh Stevan.
"Halo?" Jawab Stevan.
"Stevan. Ada seseorang yang sedang disekap di ruang hotel Rendezvous lantai tiga, nomor 3992." Lapor Graciella.
"Apa? Kau serius?" tanya Stevan kaget.
"Aku serius."
"Jangan bilang kau pergi sendiri ke sana?" Stevan langsung bergerak. Dia mengirim kode pada bawahannya dan segera keluar dari ruangannya
"Aku sudah mengirimkan perintah. Polisi yang terdekat dari sana akan segera bertindak."
"Baiklah, terima kasih," ujar Greciella lagi menutup panggilan teleponnya.
Daren menatap wajah serius dan juga cemas yang muncul pada Graciella. Dia memainkan tangannya tanda dia begitu khawatir.
"Kalau aku boleh tahu, wanita mana yang sedang dalam keadaan bahaya ini? Kenapa orang itu mengirimkan pesannya padamu?" Ujar Daren yang merasa kenapa Greciella tampak begitu paniknya
Graciella baru saja ingin mengatakannya ketika dia merasa getaran dan juga dering dari ponselnya. Panggilan dari orang yang mengirimnya pesan.
Greciella menatap ke arah Daren yang sesekali melirik tapi berusaha tetap fokus dengan apa yang ada di depannya.
"Angkat saja. Pasang loudspeaker-nya."
Graciella menggigit bibirnya. Dia langsung mengangkat panggilan itu lalu menekan loudspeaker di ponselnya.
"Halo?" Tanya Graciella sedikit ragu. Daren dan Serin yang sudah selesai melaporkan keadaan pada Xavier langsung hening ingin mendengarkan suara yang akan keluar dari ponsel Graciella.
"Kau membuat kesalahan, Graciella!" Suara itu bagaikan suara yang sudah diberikan efek hingga tidak bisa dikenali lagi apakah itu suara perempuan atau laki-laki. Mendengar itu, Graciella langsung menatap ke arah Daren dengan mata yang melebar sempurna.
"Apa-apa maksdumu aku melakukan kesalahan?" Tanya Greciella tergagap. Rasa khawatirnya berubah menjadi rasa takut yang sangat.
"Kau sudah banyak melibatkan orang lain dengan kasus ini. Kau harus membayarnya." Setelah itu sudah tawa yang sangat jelas terdengar. Tawa yang mengerikan dan membuat bulu kuduk merinding.
"Hei! Aku …."
Duarrr!
Suara letusan senjata api yang terjelas membuat kaget semua orang. Jantung Graciella rasanya hampir melompat dari tepatnya. Rasanya persis seperti orang yang baru saja dilontarkan ke ketinggian di wahana bermain. Tangan Graciella tiba-tiba saja gemetar. Semua orang di mobil itu panik tapi tak tahu harus apa, hanya bisa saling tatap. Daren melajukan mobilnya secepat dia bisa mengikuti arah petunjuk dari ponselnya.
"Apa -- apa yang terjadi?" Tanya Greciella dengan suara yang gemetar. Tapi hanya hening yang terdengar dan tak lama sambungan itu diputus secara sepihak. "Kakak! Cepat lah!" Teriak Graciella tiba-tiba dengan suara yang serak dan mulai seperti ingin menangis.
Daren yang mendengar itu langsung berusaha secepatnya sampai ke hotel itu.
Daren langsung memparkirkan mobilnya dengan sembaran di depan hotel yang sudah dikepung oleh polisi. Tak lama mereka menepi, sebuah mobil polisi yang lain juga menepi. Stevan keluar dengan wajah yang juga panik. Baru saja menerima laporan dari bawahannya.
"Seseorang sudah tertembak di kamar hotel itu," ujar Stevan yang di dekati oleh Graciella dan juga Daren.
"Kami tahu." Graciella menyaut.
"Dari mana?"
"Pelaku itu menelepon Graciella saat dia melakukannya?"
"Bagaimana bisa?" Ujar Stevan. "Kau kenal wanita yang ada di dalam?"
Graciella menggigit bibirnya dan mengangguk. Dari matanya Stevan melihat air mata yang hampir terjuntai keluar.
"Keadaan aman komandan, Anda bisa masuk sekarang," lapor ajudan Stevan yang memastikan lebih dahulu keadaan di tempat kejadian perkara yang memang baru saja terjadi.
"Ayo!" Ajak Stevan. Mereka segera berjalan masuk dan ingin menuju ke lantai tiga. Tapi lift di sana cukup lama datangnya.