
Xavier lagi-lagi hanya diam memandang Devina. Menatapnya dengan tatapan miris. Tapi dia tidak bisa memberikan sedikit pun harapan pada Devina. Bagaimana pun dia tak mungkin menikahi wanita itu.
“Maaf tapi aku tidak bisa,” ujar Xavier yang langsung membuka pintu mobilnya dan segera naik. Devina ingin menghalangi kepergian dari Xavier tapi dia malah melihat siluet wanita di dalam mobil itu. Devina langsung membesarkan matanya marah. Itu sudah pasti wanita itu.
“Xavier! Kau akan menyesal sudah membuatku seperti ini! aku bersumpah bagaimana pun kau pasti tak akan bisa bersatu dengannya! jika memang menolak menikah denganku maka aku akan membuat kau tak bisa mendapatkan cintamu juga! Camkan itu!” Devina berterik dengan sekuat tenaganya sambil memukul-mukul badan dari mobil itu.
“Mundur, kita lewat dari belakang saja," ujar Xavier. Graciella memandang Devina yang memukul-mukul mobil itu. Apakah dulu dia semenyedihkan itu juga? menggemis cinta yang tidak mungkin ada? tidak! Graciella mungkin lebih menyedihkan. Dia bahkan memegangi kaki Adrean hanya agar pria itu tidak meninggalkannya. Bagaikan sebuah sampah, Adrean meninggalkannya begitu saja. Gila! Betapa menyedihkan dan bodohnya dia dulu.
“Kau memikirkan apa?" tegur Xavier yang melihat Graciella tertegun.
“Oh, tidak apa-apa,” jawab Graciella masih dengan perasaan yang tak nyaman. Dia benar-benar merasa bersalah. Bagaimana dia tega membuat Devina seperti itu karena kehadirannya. Padahal Devina tak punya salah sedikit pun.
Apakah ini karma? Adrean adalah keluarga Devina. Dia membuat Graciella begitu, dan sepepunya sendiri pun menjadi merasakan yang Graciella rasakan.
“Memikirkan Devina?” Xavier selalu saja bisa membaca pikiran dari Graciella.
Graciella mengangguk pelan. “Aku merasa menjadi orang jahat. Dia sangat mencintaimu, dia tampak begitu frustasi karena gagal bertunagan denganmu.”
“Kita tidak bisa memaksakan untuk mencintai seseorang. Dia akan lebih menderita jika aku memaksakan diri bertunangan atau menikahinya. Sudah, tak perlu dipikirkan.”
Graciella mengerutkan bibirnya. Bagaimana tidak memikirkannya?
“Tunggulah di mobil. Setelah ini kita akan makan siang. Setelah itu kita akan menjemput Laura agar kau tidak kesepian ada di rumah. Malam ini aku harus kembali ke markas, mungkin tidak akan kembali hingga esok hari,” ujar Xavier memberitahukan semua yang sudah disusunnya.
“Ya, baiklah,” patuh Graciella.
Sepanjang menunggu Xavier bekerja dia hanya bisa tertegun. Benar kah apa yang sekarang dia lakukan ini?
−−***−−
Graciella berjalan pelan memasuki restoran masakan hidangan laut. Dia memang sedang ingin makan sup jagung kepiting dan meminta Xavier untuk mengantarnya ke sebuah restoran di tepian pantai. Karena Xavier memiliki waktu yang cukup, dia menyanggupinya.
“Makanan di sini enak sekali. Kepitingnya selalu segar karena langsung dibeli dan dimasak. Tempat ini sangat terkenal, saat aku kuliah dulu, aku suka menabung hanya agar bisa makan di sini di tanggal satu setiap bulannya. Pemiliknya memberikan diskon lima puluh persen untuk para mahasiswa jika mau makan ditanggal satu dan lima belas. Sekarang aku sudah bekerja, malah jarang makan di sini," ujar Graciella semangat. Sudah begitu lama dia tidak makan makanan laut.
Xavier mengangguk dengan sedikit menaikkan sudut bibirnya menampakkan senyumannya yang pelit itu. Tapi dia suka mendengar Graciella mengoceh bercerita tentang dirinya. Jarang sekali, bahkan mungkin baru kali ini.
“Ayo duduk di sini, pemandangannya paling bagus," ujar Graciella. Lagi-lagi Xavier hanya menjawabnnya dengan anggukan.
“Nona, sudah lama tidak melihat Anda, sup jagung kepiting dengan kecap asin yang banyak, juga udang tumis saus tiram? Benarkan?” tanya pemilik tempat itu dengan senyumannya. Mengenali pelanggan lamanya.
“Benar! Tapi kali ini tambahkan tumis baby kailan dan ikan kerapu steam ya," ujar Graciella yang segera memesan.
“Bagaimana dengan Anda Tuan?” tanya pemilik itu pada Xavier.
“Aku rasa itu sudah cukup," ujar Xavier.
“Baiklah, mohon bersabar,” lemilik itu memberikan sedikit salam sebelum dia pergi dari sana. Graciella hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman. Dia lalu mengedarkan matanya melihat keseluruhan dari restoran itu.
“Dulu tempat ini sangat kecil. Tapi dengan kegigihan, tempat ini menjadi seluas sekarang.” Graciella masih mengedarkan matanya.
“Tempat ini cukup ramai," ujar Xavier seadanya.
“Ya, makanannya enak dan harganya lumayan murah. Bahkan orang dari jauh saja banyak yang datang ke sini," ujar Graciella tersenyum senang. Begitu banyak tekanan dalam hidupnya hingga lupa untuk menikmati apa yang dia suka. Sekarang, dia sudah tak bekerja jadi dia bisa berpikir untuk sekedar makan di sini.
“Baiklah aku akan mencobanya,” ujar Xavier menuangkan teh hangat ke gelas kecil lalu meletakkannya di depan Graciella. Dia juga melakukannya juga untuk dirinya.
“Ya.”
“Selamat datang, Bos besar! Silakan, tempat duduk Anda sudah di siapkan,” suara pemilik dari restoran itu menggema cukup besar membuat perhatian dari Graciella dan Xavier mengarah ke asal suara itu.
Graciella langsung kaget melihat siapa Bos besar yang dimaksud. Dia mengenali pria tambun tua itu. Dia adalah kenalan dari Adrean. Pria yang membuat Graciella harus terpincang karena kabur darinya. Jika dia melihat Graciella, dia bisa saja mendekati Graciella, menuntutnya karena kabur dari pria tambun itu, dia juga akan mengadukan hal ini pada Adrean.
Graciella lagi-lagi langsung panik. Dia bingung bagaimana caranya agar pria tua tambun itu tidak melihatnya. Graciella ingin menutupi mukanya dengan buku menu, tapi buku menu itu sudah diambil oleh pemiliknya tadi. Ingin menutup mukanya dengan tas tapi dia lupa dia tak membawa tas. Bagaimana ini?
“Ada apa?” tanya Xavier melihat gelagat dari Graciella yang gusar. Xavier memiringkan tubuhnya sedikit ke arah Graciella.
Graciella kembali melirik ke arah pria tambun itu, karena merasa diawasi pria itu segera mengalihkan pandangannya ke arah Graciella. Graciella yang melihat itu segera memegang jas yang digunakan oleh Xavier dan tanpa sadarnya menarik jas Xavier mendekat agar menutupi wajahnya hingga tubuh Xavier pun ikut tertarik.
Xavier yang dari tadi memperhatikan gerak gerik dari Graciella hanya mengerutkan dahinya. Apalagi sekarang Graciella bersembunyi di balik jasnya. Membuat wajah Gracilla hampir menempel di dadanya.
Graciella membesarkan kembali matanya. Dia baru sadar dengan apa yang dia lakukan. Bagaimana bisa dia menarik tubuh Xavier mendekat ke arahnya. Graciella bahkan kembali bisa mencium aroma khas tubuh dari Xavier. Perlahan Graciella melirik ke atas dengan mendongakkan wajahnya melihat Xavier yang menunduk menatap ke arah Graciella. Graciella menyengir kuda melihat Xavier.
“Ada apa?” tanya Xavier pelan. Melihat wajah cemas Graciella, tapi kenapa dari sini terlihat sangat imut, pikir Xavier.