Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 71.


“Aaaa!!” suara Moira terdengar riang sambil berlari-lari di ruang tengah. Dia sedang berimajinasi terbang menggunakan kain selendang yang diikatkan di lehernya. Dia renggangkan dan berlari memutar. Terlihat imut sekali.


Graciella memperhatikan anaknya dari dapur rumah yang bisa dengan mudah memantau pergerakan dari Moira. Graciella sedang membuat susu untuk Moira kecil. Saat dia mengaduk susu itu tiba-tiba kilasan wajah Xavier yang tadi menatapnya dengan suram muncul. Graciella menggigit bibirnya dan langsung kembali lagi melihat Moira agar bisa mengalihkan pikirannya. Untunglah ada Moira, jika tidak, mungkin dia akan terus memikirkan hal itu.


Sesaat kemudian terdengar suara pintu yang tertutup. Graciella tidak terlalu penasaran. Mungkin saja itu Bibi Lim atau Adrean yang baru saja datang. Dia memang tidak menginap di rumah ini.


“Aaa!!” teriak Moira semakin keras karena dia juga semakin kencang berlari. Semakin kencang suara anaknya, semakin naik pula senyuman dari Graciella.


“Moira! bisa diam tidak?!”


Graciella kaget mendengar suara Adrean yang cukup terdengar tinggi dan keras. Graciella mengerutkan dahi melihat dari jauh apa yang dilakukan oleh Adrean. Mungkin dia tak tahu bahwa Graciella ada di sana sekarang karena dari sisi Adrean berdiri, dia tak bisa melihat Graciella.


Graciella menggigit bibirnya melihat putrinya yang tadinya riang berhenti seketika. Dia langsung menunduk seperti takut dengan Adrean yang berdiri di depannya. Hati Graciella langsung sakit bagaikan teriris memperhatikan gelagat anaknya. Apa yang dilakukan oleh Adrean? beginikah selama ini dia memperlakukan anaknya?


“Papa tidak suka Moira berisik.” Adrean tampak menatap tajam pada Moira yang hanya berusaha untuk melihatnya tetapi tetap menunduk. Memasang wajah berharap untuk dimaafkan.


Kenapa begitu? bukannya kata Bibi Lim, Adrean tidak pernah marah pada Moira? Tapi kenapa sekarang rasanya itu tidak benar. Jika Adrean tidak pernah memarahi Moira, gadis kecilnya tak akan langsung ketakutan seperti itu. Ya! Bibi Lim ada orang yang dibayar oleh Adrean, bagaimana pun dia pasti akan mengatakan hal yang baik tentang Tuannya. Graciella memegang dadanya. Rasanya lebih sakit dari pada saat Adrean membentaknya. Melihat darah dagingnya hanya bisa tertunduk membuatnya sesak.


“Dimana mama?” tanya Adrean lagi, kali ini suaranya sedikit lebih melembut.


Dengan takut Moira menggeleng lemah. Graciella hanya menutup mulutnya dan segera merapat ke dinding. Dia ingin lihat yang sebenarnya terjadi. Apakah Adrean hanya menunjukkan kebaikannya di depan Graciella? Dia hanya melihat Adrean yang memandang sinis anaknya. Graciella sudah tahu, tak mungkin iblis ini punya sisi kemanusiaan. Sekali iblis pada siapa pun akan menjadi iblis. Dia tak boleh membiarkan Adrean memperlakukan anaknya seperti itu!


“Bibi Lim!” teriak Adrean segera.


“Ya, Tuan?” Bibi Lim segera datang begitu mendengar suara dari Adrean.


“Di mana Nyonya?” tanya Adrean menatap dengan wajah tak ramahnya pada Bibi Lim.


“Aku ada di sini. Aku baru dari kamar mandi belakang. Ada apa?” tanya Graciella. Mau tak mau dia keluar dari sana dari pada pria ini akan heboh mencarinya.


Adrean meyipitkan sedikit melihat wajah Graciella memerah. Ada apa dengan wanita ini? “Bersiaplah, kita akan malam bersama.”


“Tidak!” jawab Graciella cepat. Adrean langsung mengerutkan dahinya. Berani sekali Graciella menolaknya, padahal dia sudah bersikap baik padanya dan anaknya ini. “Bibi Lim, bisa bawa Moira untuk mandi?” pinta Graciella. Dia tidak ingin anaknya melihat dan mendengar apa yang akan mereka bicarakan, Graciella yakin hasilnya akan menjadi sebuah pertengkaran.


“Baik, Nona Moira, ayo mandi sama Nenek Lim," ujar Bibi Lim menggiring Moira kecil yang langsung menatap nanar ke arah ibunya. Tatapan polosnya itu membuat hati Graciella menjadi semakin sakit.


"Aku tidak suka caramu memperlakukan Moira." Graciella langsung saja berbicara pada Adrean. Adrean menyipitkan matanya. Jadi Graciella melihat apa yang dia lakukan pada Moira?


"Aku hanya ingin dia mengerti," ujar Adrean tampak santai seolah hal itu lumrah.


"Tapi bukan begitu caranya dan dia masih berumur dua tahun! apa kau selalu memperlakukannya seperti itu?"


"Bukannya dia menjadi anak yang penurut sekarang?"


Graciella menggigit bibirnya geram. Graciella tahu dia tidak bisa berbicara tentang hal ini pada Adraen. Dia harus menjauhkan Moira dari Adrean. “Syaratmu adalah bahwa aku tidak boleh berdekatan dengan Xavier bukan? aku akan melakukannya. Tapi bukan berarti aku juga bisa berdekatan denganmu. Mulai sekarang aku hanya ingin berdua dengan Moira!" Terserahlah, ingin menjadi perang atau tidak. Yang penting dia ingin mengutarakan apa yang menjadi pemikirannya.


Adrean memiringkan kepalanya menatap wajah Graciella. Dia juga mengerutkan dahinya. Tak bisa menangkap apa yang dikatakan oleh Graciella, “Apa maksudmu?”


“Aku dan kau, kita tidak mungkin akan bersama lagi. Bagaimana pun kau baik denganku. Perasaanku denganmu sudah lama mati. Tentu kau sudah tahu alasanku kembali ke sini hanya karena Moira. Jika tidak ada dia aku tak akan pernah kembali ada di dekatmu."


“Jadi kau ingin mengatakan bahwa sekarang yang ada dalam hatimu hanya pada Xavier? Begitu?” tanya Adrean dengan wajah tak percaya. Beraninya Graciella mengatakan itu langsung pada Adrean.


“Aku bukan wanita yang gampang untuk memiliki perasaan dengan seorang pria, tapi jika aku sudah mengizinkan seseorang masuk ke dalamnya, aku akan sangat menjaganya. Begitu juga ketika aku sudah tak punya rasa, aku tak akan bisa lagi menyukainya. Aku sudah berusaha untuk membuatmu sadar akan keberadaanku dan perasaanku. Dua tahun berusaha dan sia-sia. Apa menurutmu aku akan begitu mudahnya lagi menerima seseorang pria setelah semua hal yang sudah kau lakukan?” ujar Graciella teguh menatap ke arah Adrean.


Adrean memainkan bibirnya menatap manik mata Graciella yang terlihat suram. Dia tak suka tatapan itu, seolah begitu kesakitan. Kenapa dia tiba-tiba saja tidak suka dengan hal itu? padahal dulu itulah yang dia cari dan wanita ini sebisa mungkin tidak menunjukkannya. Saat ini Adrean tidak melakukan apa-apa padanya tapi wanita ini malah menunjukkan kesakitannya yang nyata. Kenapa?


“Lalu apa maumu?” tanya Adrean membuang pandangnya dari mata Graciella.


“Aku ingin kau jangan mengganggu hidupku dan Moira. Aku akan mengikuti maumu, aku tidak akan pernah berurusan lagi dengan Xavier atau pria mana pun. Jika perlu kita buat perjanjian, aku akan sendirian tanpa pria hingga aku mati. Asalkan kau tidak menggangguku dan Moira. Kau boleh memantauku. Jika aku melanggarnya. Kau boleh melakukan apa pun padaku,” ujar Graciella.


Adrean mengerutkan dahinya lebih dalam. Tentu dia tak ingin melakukan hal itu. Dia … dia … tiba-tiba saja sangat ingin ada di dekat wanita ini. Tapi tentu saja dia tak bisa mengatakan hal itu pada Graciella.


“Apa aku masih boleh datang kemari?” tanya Adrean. Jantung Graciella rasanya hampir berhenti mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Adrean. Tadinya dia berpikir bahwa pria ini akan marah padanya seperti biasanya. Tapi siapa yang menyangka dia malah menanyakan hal ini.


“Mari buat kesepakatan. Kita hanya akan berjumpa dua kali sebulan di taman dekat rumah. Bagaimana?” tanya Graciella. Dia merasa terkejut tapi merasa punya sedikit penharapan.


Adrean menyipitkan matanya sejenak. Wanita ini benar-benar tidak ingin bertemu lagi dengannya? dia benar-benar ingin berpisah dengannya? padahal dulu dia yang selalu menelepon dan juga menunggu kabar di mana Adrean berada.


“Tidak, aku berubah pikiran ….”