Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 25. Wanita ini!


"Ayo," kata Xavier meregangkan sedikit tangannya agar Graciella menggandengnya. Graciella mengerutkan dahi melihat hal itu. Pandangannya lalu kembali ke arah Xavier. "Kita sudah ditunggu."


Graciella menggigit kembali bibirnya. Dengan ragu dia menyisipkan tangannya pada tangan Xavier. Perlahan tapi pasti, akhirnya mereka bergandengan tangan. Graciella merasa ini hal yang sangat aneh. Semua tentang hal berpasangan dan romansa seperti ini. Sudah begitu lama tak dia rasakan. Sekarang rasanya sama seperti pertama kali dia merasakannya.


Darah Graciella berdesir turun. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga membuat dadanya terasa sesak ketika sentuhan tangan Xavier menyentuh tangannya. Pria itu menepuk lembut punggung tangan Graciella yang melingkari lengannya. Tapi pria itu hanya menatap lurus ke arah depan, menggiringnya agar terus menapaki satu persatu anak tangga ke arah pintu gerbang nan mewah.


Graciella menggenggam lengan Xavier dengan erat saat pintu itu perlahan terbuka. Dia benar-benar gugup dan bertanya-tanya. Apa yang menantinya di dalam rumah itu?


"Tenang saja. Mereka tak akan mengganggumu jika ada aku," ujar Xavier dengan maksud menenangkan. Namun walaupun Xavier sudah mengatakan hal itu bahkan tak bisa menurunkan sedikit pun rasa gugup dari Graciella.


Tentu Graciella patut merasa gugup. Begitu pintu itu terbuka dan mereka masuk ke ruang tengah. Semua mata langsung tertuju pada mereka.


Graciella menahan napasnya. Pria dan wanita, muda hingga yang sudah berumur menatap ke arah mereka. Seolah begitu Graciella dan Xavier masuk, waktu di sana tiba-tiba terhenti. Semuanya terasa begitu hening, hanya langkah kaki mereka yang terdengar. Graciella menunduk seketika saat Xavier membawanya melewati orang-orang yang bahkan hingga berputar kepalanya memperhatikan mereka.


"Jangan menunduk. Kau pasanganku malam ini. Kau adalah tamu kehormatan dan mereka hanya tamu biasa." bisik Xavier kecil yang membuat Graciella langsung menatap ke arah Xavier. Hal itu bukannya menenangkannya tapi malah menambah beban baginya. Tamu kehormatan? bagaimana jika dia mempermalukan dirinya sendiri?


"Nenek," sapa Xavier ketika mereka sampai di depan seorang wanita yang tampak sudah berumur tapi keanggunan dan juga raut wajah cantiknya tak tertutup usia sama sekali. Graciella kembali mengetatkan cengkeramannya di lengan Xavier. Xavier membalasnya dengan rema'san lembut pada tangan Graciella.


"Akhirnya! satu dari keturunan garis darah keluargaku datang!" kata wanita itu. Tampak sekali menunggu Xavier datang. Ini ternyata yang dikatakan oleh Xavier bahwa mereka sudah ditunggu. Matanya yang indah bergulir ke arah Graciella. Graciella seketika menahan napasnya.


"Dia adalah Gracilella. Pasanganku." Suara Xavier tegas. Seketika Graciella menatap ke arah Xavier. Dia sendiri kaget mendengar suara Xavier yang rasanya begitu menyakinkan. Seolah dia benar-benar bersungguh-sungguh mengatakannya. Kenapa perasaan Graciella menjadi tak nyaman?


Liliana Qing mengerutkan dahi mendengarkan pengakuan dari cucunya. Dia lalu memperhatikan Graciella yang langsung kaku karena Liliana memandangnya dari atas hingga bawah. Xavier bergeming dihadapannya.


Liliana tak berkomentar apapun. Dia mengambil gelas kristal dari meja kecil di sampingnya. Dengan cepat dia mengetuknya dengan sendok perak hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring dan membuat semua orang melihat mereka. Tentu kelakuan Liliana itu membuat Graciella kaget.


"Cucuku dan pasangannya sudah datang. Mari mulai acaranya!" ujar Liliana pada seluruh tamu yang ada di sana. Liliana memandang Xavier lagi dan kembali ke arah Graciella. Liliana memberikan sedikit senyuman lalu pergi meninggalkan mereka.


Graciella memipihkan bibirnya lalu tersenyum getir. Xavier memperhatikan hal itu.


"Ada apa?" tanya Xavier.


"Kau seharusnya tidak menjadikanku pasangan mu malam ini," ujar Graciella pelan.


"Tak ada yang menyukaiku. Semua orang tak menyukaiku." Graciella kembali menyungingkan senyuman getirnya, melirik sebentar Xavier yang hanya diam memperhatikan hal itu.


Ya, sepertinya itu memang kutukan bagi Graciella. Tak pernah ada yang menyukai dirinya. Saat dikandungan, ayahnya tak menunggunya untuk lahir ke dunia. Ibunya meninggalkannya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Di panti asuhan pun dia tak punya teman. Suaminya sangat membencinya. Rasanya hanya Laura satu-satunya orang di dunia ini yang menyukainya. Itu pun mungkin karena dia sering menggantikan Laura berjaga.


"Jangan berbicara hal yang tidak-tidak," Xavier mulai berjalan. Karena tangan mereka masih berpaut. Mau tak mau Graciella pun ikut. Graciella mengerutkan dahi mendengar kata-kata Xavier yang terkesan datar. "Kalau tak menyukaimu. Aku tak mungkin membawamu bertemu keluargaku."


Graciella terdiam mendengarkan apa yang baru diucapkan oleh Xavier. Graciella benar-benar tak mengerti bagaimana pria ini bisa mengatakan hal itu. Graciella yang awalnya masih berpikir Xavier hanya bercanda dan main-main dengannya entah kenapa malah merasa pria ini serius. Bahkan sangat serius dan hal itu membuat Graciella merasa takut.


Langkah Xavier tiba-tiba terhenti ketika dia melihat Devina berdiri menghalangi langkah mereka. Graciella yang awalnya hanya memperhatikan Xavier langsung membesarkan matanya melihat Devina yang tampak sekali penuh emosi.


"Xavier! siapa dia?" tanya Devina. Dia sudah tak tahan lagi. Sejak Xavier masuk dengan wanita ini. Devina sudah begitu panas karena terbakar api cemburu yang sangat berkobar. Dia mencoba menahan dirinya karena tahu ini adalah pesta nenek Xavier. Tapi ... semakin lama dia tak sanggup lagi menahan dirinya.


"Sudah jelas kan? dia adalah pasanganku," kata Xavier enteng tak terpancing emosi Devina. Devina menggepalkan tangannya erat. Napasnya terdengar begitu kasarnya.


"Aku tidak percaya. Mana mungkin wanita seperti dia menjadi pasanganmu!"


"Itu hakmu untuk tidak percaya. Tapi itulah kenyataannya."


Devina menekan gigi geliginya kuat. Matanya yang merah menahan emosi lalu berpindah ke arah Graciella. Dia memandang wanita bertubuh kecil, sangat kecil hingga rasanya Devina bisa dengan mudah membuatnya lenyap. Tak mungkin dia bisa merebut hati Xavier. Dari sisi mana dia bisa menarik perhatian Xavier. Tentu Devina menang dari segalanya yang wanita ini punya.


"Kau!" Devina melayangkan tangannya hanya hendak menunjuk ke arah Graciella. Tapi dengan cepat tangannya ditangkap oleh Xavier.


"Jangan melakukan hal yang membuat wanitaku tak nyaman! dan jaga tata krama mu, ini pesta keluargaku." Xavier sedikit menghempaskan tangan Devina yang membuat Devina langsung terkejut.


Xavier tak pernah kasar. Dia memang dingin dan terkadang sikapnya dan perkataannya sangat tajam dan terkadang menyakitkan hati Devina. Tapi dia tak pernah bertindak sekasar ini pada Devina. Bahkan dulu saat bersama dengan wanita asing itu, dia masih mau berbicara dengan baik pada Devina. Pasti! wanita ini yang sudah merubah Xavier! dia pasti sudah membuat Xavier menjadi membenci dirinya! Wanita ini!


"Kenapa kalian lama sekali? tak bisakah berbicaranya nanti saja? semua tamu sudah menunggu?" suara Liliana terdengar lagi. Dia sudah ada ditengah ruangan dengan kue ulang tahun yang bertingkat tiga. Melihat cucunya yang masih berbicara dengan Devina, dari gelagat mereka, dia tahu ada masalah.


Xavier mengangguk ke arah neneknya. Tanpa mengucap apapun dia mulai melangkah dan tentu Graciella pun mengikutinya. Devina yang ditinggalkan begitu saja merasa begitu terhina. Bagaimana Xavier bisa begitu tak berperasaan padanya!


Devina memutar tubuhnya. Melihat dari belakang Xavier dan Graciella yang berjalan menjauh bergandengan tangan. Sangat dekat hingga seolah tak terpisahkan. Devina berjanji dalam dirinya! Bagaimana pun dia akan memisahkan mereka dan untuk wanita itu! dia akan menyesal sudah main-main dengan Devina!