Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 102. Cinta Sumber Penderitaan.


Stevan mengerutkan wajahnya seraya menggertakkan giginya kuat. Bagaimana bisa dia ditekan begini, bukan hanya dia, bahkan atasannya saja tak bisa berkutik. Apa yang harus dilakukan olehnya sekarang!


"Siap Komandan!" kata-kata itu terucap walaupun Bertentangan dengan kata hatinya. Dia bahkan mengepalkan tangannya.


Komisaris Jenderal Howard segera mematikan panggilannya dan seketika saja Stevan langsung memukul kemudi mobilnya.


"Sial!" umpat Stevan. Jika tadi yang diancam hanya dirinya, Stevan mungkin masih bisa bersikap masa bodoh. Tapi jika sudah menyangkut orang lain, dia tidak bisa melakukan apapun.


Stevan mengerutkan wajahnya. Melihat lampu jalan berwarna putih yang cahayanya bahkan tak cukup terang sampai ke aspal yang ada di bawahnya. Cukup lama dia terdiam memutar otaknya. Dia tak mungkin melakukan sesuatu sekarang, semua gerak geriknya pasti sudah dipantau oleh mereka.


Mata Stevan membesar saat dia mengingat sesuatu. Ya! jika dia pasti bisa! pikir Stevan segera keluar dan mendekati beberapa anggotanya. Dia memilih secara acak dan memanggil salah satu dari anggotanya.


"Aku butuh ponselmu sekarang!" ujar Stevan pada anggotanya yang tampak mengerutkan dahi tapi langsung memberikan ponselnya pada Stevan.


Stevan langsung mengambil nomor yang ada di ponselnya. Menyalinnya ke ponsel bawahannya lalu segera menelepon seseorang. Dia khawatir bahwa ponselnya saat ini sudah disadap. Jadi dia harus menggunakan ponsel yang lain. Dua kali nada sambung dan panggilan itu terjawab juga.


“Halo?” suara dari seberang terdengar bertanya.


“Daren! Ini aku Stevan!” ujar Stevan langsung.


“Stevan? Kau berganti nomor ponsel?” tanya Daren, dia juga sedikit bingung kenapa Stevan tiba-tiba meneleponnya. Lebih dari lima tahun berkenalan dengan Stevan, pria ini bahkan tidak pernah berbicara dengan baik dengannya.


“Tidak, kau tidak perlu tahu bagaimana aku bisa meneleponmu. Tapi aku ingin minta tolong padamu,” ujar Stevan.


“Minta tolong?” Daren saja sampai tidak percaya dengan apa yang dia dengarkan. Seorang Inspektur Jenderal Polisi Stevan meminta tolong padanya.


“Ya, aku ingin minta tolong padamu untuk mencari keberadaan Graciella!” ujar Stevan to do point.


“Nona Graciella?” Daren sedikit bingung. Bukannya Graciella adalah wanitanya Letjend Xavier, tentu seharusnya sangat mudah untuk mencari keberadaannya. Lalu kenapa harus meminta tolong padanya?


“Ya, aku belum tahu pasti, tapi sepertinya dia dibawa paksa ke suatu tempat. Jadi aku minta kau untuk bisa menemukannya. Aku rasa terakhir kali dia terlihat di lokasi kecelakaan di jalan utara menuju ke pantai. Hanya itu yang saat ini bisa aku berikan padamu, Jangan meneleponku, aku akan menelepon mu segera,” ujar Stevan mencoba untuk menutupi kata-katanya agar tidak ada yang bisa mendengar. Bawahannya atau siapa pun yang ada di sana sekarang tidak bisa dia percaya.


“Baiklah, aku mengerti. Aku akan segera ke sana sekarang,” ujar Daren yang merasa ada yang tidak beres. Pertama, tidak mungkin Stevan memintanya untuk mencari Graciella jika tidak terjadi sesuatu, mencari Graciella untuk seorang dengan pangkat Stevan akanlah sangat mudah. Tapi dia tidak bisa melakukannya. Kedua, Stevan hanya memberikannya informasi terbatas dan melarangnya untuk meneleponnya. Pastilah ini sangat rahasia.


“Bagus! untuk kali ini aku mengandalkanmu,” ujar Stevan segera menutup panggilannya dan mengembalikan ponsel itu pada bawahannya. Tidak ada jalan lain, dia hanya bisa berharap dengan Daren sekarang.


...****************...


Graciella berjalan dalam kegelapan. Semenjak dia dibawa tadi, matanya dan mulutnya langsung ditutup dan juga tangannya di ikat. Mereka baru saja tiba di sebuah tempat. Sebuah tangan mencengkeram kuat lengan atas Graciella dan menuntunnya ke mana seharusnya dia pergi.


“Duduk!” suara tak ramah itu terdengar.


Tubuh Graciella langsung dipaksa duduk di sebuah kursi. Tangannya langsung diikat dengan kuat di kursi itu. Graciella hanya bisa menerka-nerka di mana dia di bawa mereka. Yang dia bisa lakukan hanya mendengar dan mencium bau di sekitarnya. Dari suara yang ada di sana, dia bisa menyimpulkan ada beberapa orang. Terbukti dari seorang pria yang melaporkan keadaan pada seseorang.


“Tuan, saya sudah membawanya,” lapor pria itu.


Tak ada jawaban atas laporan itu, tapi Graciella bisa mendengar suara tapakkan kaki yang menuju ke arahnya. Semakin lama semakin jelas dan dekat. Graciella yakin pria yang mereka sebut tuan itu ada di depannya karena dia bisa mencium bau parfum beraroma maskulin yang cukup kuat terasa.


Tak lama Graciella merasakan sebuah tangan dingin menyentuh dagunya dan menaikkannya hingga Graciella harus mendongak. Dia yakin pria itu sekarang sedang mengamatinya. Tapi yang bisa dilihat oleh Graciella hanya kegelapan dan seratan kain.


“Aku terlalu meremehkan wanita sepertimu. Tidak menyangka semua rencana kami harus tersandung oleh wanita sepertimu,” suara yang terdengar matang itu terasa cukup familiar dengan telinga Graciella walaupun dia belum bisa memunculkan gambaran sosok dalam otaknya.


Graciella langsung ingin bertanya tentang Moira, tapi tentu kata-kata yang dia ucapkan tidak bisa keluar. Hanya suara gumaman yang terdengar.


Mendengar gumaman dari Graciella mungkin membuat pria itu penasaran apa yang hendak Graciella katakan.


“Lepaskan penutup mulutnya,” perintah pria itu pada seseorang di sana seraya dia melepaskan jari-jari dinginnya dari dagu Graciella.


Graciella langsung merasakan ikatan di belakang kepalanya di buka, tak lama kain yang menutupi mulutnya segera mengendur dan terbuka. Graciella tentu tak ambil waktu lama.


“Tuan! Aku hanya ingin anakku! Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan anakku!” ujar Graciella langsung mencerca. Dia benar hanya ingin tahu keadaan Moira.


Tapi bukan sebuah jawaban yang didapatkan oleh Graciella. Melainkan sebuah tamparan keras yang seketika membuat telinganya berdengung hebat. Tamparan itu sangat keras hingga membuat kepalanya seketika pusing dan membuatnya linglung. Panas dan nyeri langsung menjalar di seluruh pipi kirinya.


“Dengar!”  sebuah tangan mencengkeram pipi Graciella dengan sangat erat seolah ingin meremas dan juga menghancurkan rahangnya yang kecil. Graciella yang masih lunglai akibat tamparan itu dipaksa untuk bisa tegak.


“Kau harus mengikuti semua keinginan kami jika tidak kau tidak akan bisa lagi mendengar anakmu memanggilmu Mama,” suara ancaman itu penuh emosional yang tinggi. Graciella hanya mengangguk mengerti.


“Mama!! Mama!! Ma!” suara rintihan kecil itu terdengar diselingi suara tangis ketakutan.


Graciella seketika menaikkan alisnya dan menarik napasnya panjang. Dia tahu itu suara anaknya. Mereka apakan putri kecilnya! Graciella mencoba untuk melepaskan penutup mata yang erat menutupi pandangannya. Dia berusaha berontak tapi semua sia-sia!


“Moira! Moira, mama di sini! Mama di sini, nak!” ujar Graciella dengan sangat panik dengan deru air mata yang langsung banjir dari matanya. Mencoba semua cara untuk bisa melepaskan dirinya. Dia ingin menenangkan anaknya yang sekarang menangis dan pastinya sangat ketakutan.


Suara tangisnya membuat nyeri hati Graciella. Anaknya yang baru saja dia temukan, yang tumbuh tanpa dirinya, sekarang harus mengalami hal ini juga karena dia. Graciella sangat menyesal. Seharusnya saat dia merasa bahwa dirinya tak seharusnya dengan Xavier, dia menjauhinya, mengikuti intuisinya bukan malah mengikuti rasa cintanya. Cinta baginya adalah perasaan yang membawa penderitaan.