
"Itu bukan Xavier!" ujar Graciella sambil menyeka hidungnya yang berair. Menangis semalam meninggalkan efek yang membuat hidungnya tersumbat. Dia memegangi kepalanya yang rasanya sekarang ingin pecah.
Stevan dan Daren melihat ke arah Graciella. Matanya bengkak dan juga cekung. Mereka menebak pasti malam taddihabiskannya dengan menangis.
"Bagaimana kau tahu itu bukan Xavier?" tanya Daren.
"Aku tahu, itu pasti bukan dia," ujar Graciella lagi melihat video CCTV yang diberikan oleh Stevan pada mereka. Tampak seorang pria dengan perawakan persis Xavier, tapi wajahnya samar dengan topi militernya.
Pria itu masuk ke dalam ruang perawatan bersama. Menuju ke arah tempat Robert Kim dirawat lalu membekap pria itu langsung dengan bantal. Tak lama dia mengambil pistol yang dilengkapi oleh peredam dan menembak Robert Kim tepat di bagian dadanya sebanyak 4 kali. Selesai melakukannya dia segera pergi dari sana.
"Ya, tapi kita tak bisa mengatakan pada hakim bahwa itu bukan Xavier dengan perasaan bukan? Kita butuh bukti," ujar Stevan yang dari tadi malam juga pusing. Apalagi dia dilarang untuk bertemu dengan Xavier dari tadi malam. Dia sudah mencoba untuk terus menghubungi teman-teman yang sekiranya bisa membantu dirinya dan juga Graciella agar bisa bertemu dengan Xavier, sayangnya Xavier ditahan di tempat penahanan paling canggih milik kemiliteran. Saat ini mereka menunggu di ruang tunggu tempat penahan Xavier. Berharap ada secercah harapan untuk mereka bertemu Xavier.
Graciella terus memperhatikan CCTV itu. Dia merasa ada yang aneh, tapi dia tidak bisa menemukannya. Mungkin karena semalam ini dia sama sekali tidak tidur sehingga otaknya benar-benar lambat untuk menemukannya. Mungkin dia butuh minuman yang berkafein, pikirnya sambil memukul kecil kembali kepalanya.
“Jangan terlalu dipaksa. Ini pertama kalinya kau melihat rekaman itu, lagi pula kau kurang istirahat. Bukannya kita harus bekerja dengan kepala yang dingin?” nasehat Daren dengan suara yang sangat menenangkan. Graciella mendengar itu hanya memberikan senyuman terpaksa.
“Baiklah,” ujar Graciella. Tapi dia kembali fokus lagi. Perasaannya memang mengatakan, itu tidak mungkin Xavier. Tapi mungkin karena terlalu fokus, Dia menjadi sedikit mual. "Aku ingin ke kamar mandi dulu."
Daren mengangguk. Graciella langsung pergi ke kamar mandi yang ada di pojok ruang tunggu itu. Graciella mencoba mencuci mukanya. Mual di perutnya malah semakin terasa. Mungkin ini efek dia tak tidur sama sekali. Graciella menarik napasnya, dia harus fokus sekarang.
Graciella mengambil tissue di dalam tasnya. Saat dia menarik salah satunya dari tas, sesuatu terjatuh dari tasnya. Graciella mengerutkan dahinya. Kenapa dia masih menyimpan alat testpack ini?
Graciella memandang alat itu. Dia berpikir dia benar-benar tidak memerlukannya. Xavier dan dirinya melakukannya saat dia sedang tak subur, lagi pula ini bukan saatnya iseng melakukan hal seperti itu. Dia harus fokus, katanya sekali lagi melihat wajahnya yang lebih segar dari yang tadi. Graciella membuang alat itu tanpa menggunakannya.
Graciella segera mencuci tangannya, sedikit bingung kenapa wanita itu mengikuti gerak geriknya dengan pandangannya. Dia segera keluar tapi wanita itu tetap saja memandangnya dengan tatapan terkejut. Dia salah apa?
Liliana hanya memandangi Graciella. Wanita itu bertindak seolah dia tidak mengenalinya. Dia bahkan pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun pada Liliana. Liliana lalu melihat ke arah tempat sampah yang tertutup. Dia segera membuka kotak sampah itu. Melihat ke arah tumpukan sampah yang paling atas. Dia lalu mengambil alat test pack yang ternyata ada dua di sana. Satu belum digunakan karena masih terbungkus, lalu satu lagi sudah digunakan.
Liliana membesarkan matanya melihat hasil dari testpack itu. Tulisan ‘pragnant’tentu membuatnya kaget. Bukannya kemarin Monica masih sangat gusar. Dia mengatakan bahwa Xavier masih saja berhubungan dengan Graciella. Tentu dia tidak mengatakan hal itu pada Liliana, Liliana hanya tak sengaja mendengarkan menantunya itu menggerutu sendiri. Liliana juga mendengar Monica mempertanyakan bagaimana Graciella juga bisa kehilangan ingatannya. Jadi mungkin itu sebabnya Graciella tampak tak mengenalinya.
Liliana kembali melihat ke arah alat itu, sepertinya tak mungkin Graciella membuang testpack yang tidak digunakan bukan? Atau jangan-jangan dia membeli dua, digunakannya satu. Saat tahu dia sedang mengandung karena itu Graciella membuang salah satunya.
Kalau benar Graciella masih berhubungan dengan Xavier. Jangan-jangan dia sedang mengandung cicitnya. Ya! Lagi pula untuk apa Grciella ada di tempat penahanan militer ini. Tentu dia ingin menemui Xavier juga seperti dirinya dan Monica. Benar! Kalau begitu dia akan menjadi nenek buyut sekarang! hal itu membuat hati Liliana penuh dengan kebahagiaan. Akhirnya ada kabar bahagia diantara penuhnya kabar duka.
Liliana segera membuang kembali testpack itu. Mencuci tangannya lalu dengan langkah cepat dia keluar. Tidak ada lagi langkah tua yang renta seperti saat dia masuk. Mendengar dia akan memiliki cicit, membuat hatinya sangat bahagia. Kehilangan anak tapi Tuhan langsung menggantinya dengan cicit, itu sepadan baginya.
Graciella keluar dan segera menemukan Monica ada di ruang menunggu itu. Mata mereka saling terpaut saat keduanya saling tatap. Graciella mengamati wanita itu, keadaannya tampak tak lebih baik darinya. Matanya cekung dengan sedikit bengkak di bagian kelopaknya. Lingkaran hitam yang dia coba untuk menutupinya dengan riasan tampaknya tidak berhasil. Cahaya wajahnya jauh meredup dari kemarin. Dia hanya menatap Graciella nanar. Terlalu lelah hanya untuk menanyakan apa yang dilakukan Graciella di sini.
Graciella kembali duduk di tempatnya. Dia juga tak ingin mengusik Monica. Di sini mereka sama-sama lelah dan mungkin Monica lebih lelah darinya. Suaminya baru saja meninggal. Anaknya sekarang di tahan. Sesaat saja Graciella kembali lagi fokus dengan laptopnya, mencoba untuk melihat rekaman itu dengan perlahan detik demi detik.
Liliana langsung masuk dengan semangatnya. Dia melihat Monica hanya duduk menunggu. Tentu dia sudah sangat ingin bertemu dengan Xavier. Berita tentang penangkapannya sangat mendadak. Monica bahkan hampir pingsan karena hal itu.
Liliana juga melirik ke arah Graciella yang tampak sibuk dengan apa yang dia lakukan. Di sebelahnya ada Stevan dan juga seorang pria yang tidak Liliana kenal. Stevan memberikan salamnya pada Liliana walaupun tidak mengucapkan apapun karena Liliana langsung menuju ke arah Monica.
Liliana langsung membisikkan sesuatu ke telinga Monica bahkan sebelum dia duduk. Mendengar itu mata Monica membesar dan tampak begitu kaget. Dia langsung melihat ke arah Graciella yang sedang tampak fokus. Stevan mengerutkan dahinya melihat perubahan ekspresi dari Monica saat melihat Graciella.