Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 266. Bisa tidak pergi berdua saja?


"Ini." Antony memberikan remot televisi itu pada Laura yang akhirnya sadar bahwa penampilan Antony hari ini begitu rapi. Lengkap dengan jas biru Dongker dan juga celana dengan warna senada.


"Kau selalu rapi begini ya?" Laura mengambil remot itu. Memperhatikan dari atas hingga bawah penampilan Antony.


"Aku baru pulang dari pesta."


"Wah, enak sekali. Kau sering berpesta ya sekarang?" Tanya Laura menyipitkan matanya.


"Tidak. Aku tidak punya waktu. Ini pesta keluarga Adelia. Jadi dia memintaku ikut untuk menemaninya." Singkat Antony mengatakannya sambil memeriksa ponselnya. Ada beberapa hal yang harus dia lakukan.


"Enak ya jadi Adelia," gumam Laura sambil mulai menghidupkan televisinya.


Tentu dia merasa hidup Adelia begitu menyenangkan. Dia hidup bebas bahkan bisa berpesta bersama dengan orang-orang terkasihnya. Sedangkan sekarang, Laura hanya bisa duduk diam di rumah yang entah dimana berada. Sangat senyap tanpa apa pun di sekelilingnya. Jika boleh, Laura ingin bertukar tempat dengan Adelia.


Antony mendengar itu hanya diam sejenak. "Kenapa berbicara begitu?"


"Ya tentu. Dia adalah seorang ibu negara. Dia ingin ke mana saja bisa. Ingin makan ini itu bisa. Lalu, lihat aku, aku hanya diam di sini menonton televisi yang isinya juga tidak bisa aku mengerti," keluh Laura menekan-nekan tombol televisinya dengan sangat keras. Seolah menyalurkannya di sana.


Antony hanya memandang Laura yang masih menumpahkan kekesalannya. Dia sudah ingin sekali keluar melihat dunia. Jangan! Jangan dunia, itu terlalu besar untuk Laura sekarang. Dia hanya ingin melihat sekitarnya. Ingin makan pizza atau fast food lainnya. Ingin melihat apakah gemerlap kota ini masih sama.


"Kau ingin pergi melihat sekitar?" tanya Antony. Bukannya dia berjanji jika Laura menjadi gadis yang baik dia akan membawanya pergi?


Mendengar angin segar dari Antony membuat mata Laura berbinar. Tapi dia langsung menyipitkan matanya.


"Kau tidak sedang menggodaku kan?" Tanya Laura curiga. Kenapa tiba-tiba dia ditawari untuk ke luar? "Tapi jika ini seperti perjanjian kita waktu itu. Aku lebih baik menunggu saja. Aku ingin bertemu dengan ibuku."


"Begini, aku akan memberimu kesempatan untuk keluar. Ini hadiah untukmu karena sudah bersikap baik. Ini juga berbeda dengan perjanjian kemarin. Kau masih bisa bertemu ibumu."


"Kau tadi makan apa?" Tanya Laura tiba-tiba.


"Kenapa?" Antony jadi bingung sendiri. Bukannya mengiyakan atau bagaimana, kenapa Laura menanyakan dia makan apa tadi.


"Soalnya kau tiba-tiba menjadi baik seperti ini? Haha," tawa Laura terdengar garing untuk Antony yang hanya mengerutkan dahinya.


"Kau mau atau tidak?" Tanya Antony lagi.


"Ya tentu mau!" Laura terlonjak berdiri. "Aduh! Sakit!" ucap Laura yang lupa kalau kakinya sekarang sedang terkilir.


Antony melihat itu langsung cemas sendiri. Tapi Laura segera duduk kembali dan memasang senyuman cengengesannya. "Ini tidak menjadi alasan kita tidak jadi pergi kan?" Laura berharap cemas mudah-mudahan Antony tidak membatalkan rencana mereka.


Antony hanya menarik napasnya. Dia sendiri bingung. Dari banyaknya wanita cantik dan juga mandiri, punya kepribadian dan juga begitu elegan persis seperti Adelia. Kenapa dia harus menyukai wanita teledor dan juga sangat manja ini? Antony hanya bisa geleng-geleng kepala. Sepertinya menjaga Laura lebih seperti menjaga anak balita.


"Baiklah, aku akan bersiap dulu. Kau tunggulah, aku akan meminta pelayan mengambilkan baju dan celanamu. Tak mungkin kau menggunakan pakaian itu kan?"


"Ya, baiklah," ujar Laura sambil bermain di ranjang itu. Menggoyangkannya tubuhnya naik turun sepeti sedang bermain enjot-enjotan.


Antony membuka lemarinya dan mengambil baju ganti dan juga jaket Boomber berwarna senada dengan celana yang dia gunakan.


Antony langsung membuka jasnya. Laura yang tadinya sedang fokus teralihkan pandangannya dengan apa yang dilakukan oleh Antony. Dia menahan napasnya dan langsung pura-pura menghadap ke arah televisi. Tak mau Antony sampai melihatnya.


Namun, seberapa pun besarnya keinginan Laura untuk tidak melihat Antony. Tapi seolah ada magnet besar yang membuat Laura ingin menatap ke arah Antony. Karena itu dia hanya berusaha menatapnya dari sudut matanya. Untung lapangan pandangnya luas. Wajahnya lurus ke depan. Tapi matanya melirik ke arah Antony.


Pria itu dengan mudahnya membuka satu persatu kancing kemeja putih yang dia gunakan. Di saat itu saja, Laura sudah menahan napasnya dalam. Saat kancing itu terbuka semua. Laura semakin tidak bisa bernapas dan wajahnya memerah.


Tubuh Antony yang tercetak dengan otot-otot yang tampak kering itu menggiurkan. Susunan otot di perutnya membuat Laura menelan ludahnya. Kenapa baru sadar bahwa tubuh Antony begitu indah, mirip model-model yang ada di televisi.


Laura menarik napasnya panjang dan segera memalingkan pandangannya ketika dia melihat Antony seperti ingin memandangnya. Dia langsung pura-pura fokus, padahal dia masih ingin menyaksikan pemandangan indah itu.


"Kau sudah makan malam?" tanya Antony yang lupa menanyakannya. Jika belum, lebih baik Laura makan malam dulu, dia tak mungkin mengajak Laura makan di luar.


"Ha? Ya, sudah-sudah!" Suara Laura terdengar tersentak. Menatap Antony yang sudah menggunakan kaos polos berwarna hitam. Yah! Dia tidak bisa lagi melihat otot-otot roti sobek itu lagi.


"Baiklah," ujar Antony enteng. Sepertinya memang tak menyadari bahwa sedari tadi dia diperhatikan oleh Laura.


Tak lama, suara ketukan di pintu terdengar. Antony segera menuju ke arah pintu dan mengambil pakaian untuk Laura.


"Ganti baju dulu," ujar Antony meletakkan baju kaos, jaket dan juga celana panjang untuk Laura.


"Baiklah, hmmm?" Laura menyipitkan kembali matanya melihat Antony.


"Ya, aku akan menunggu di luar." Tahu akan arti tatapan dari Laura. Lebih baik keluar saja walaupun setiap jengkal tubuh Laura sudah pernah dia jelajahi.


Antony sabar menunggu di luar kamarnya. Tak lama pintu itu terbuka dan dia melihat Laura sudah berjalan dengan melompat-lompat satu kaki. Wajah tampak sumringah.


"Aku sudah siap!" Laura segera ingin melompat tapi memang menjaga keseimbangan dengan melompat satu kaki tanpa pegangan itu cukup sulit hingga dia akhirnya hampir terhuyung ke depan. Untunglah Antony segera menangkapnya.


Laura mencium wangi natural yang biasa tercium dari tubuh Antony. Hal itu kembali membangkitkan kenangan di mana dia pernah menciumnya. Mata mereka saling terpaut sejenak. Laura menggigit bibirnya merasakan jantungnya berdetak dengan sangat keras. Sial, kenapa begitu menyesakkan.


"Aku gendong saja," ujar Antony lagi. Laura hanya mengangguk mengiyakan.


Antony segera merubah posisinya. Dia kembali memberikan punggungnya untuk dinaiki oleh Laura. Begitu Laura naik, dia dengan mudahnya langsung menuruni anak tangga.


"Antony?" Panggil Laura yang meletakkan wajahnya di samping wajah Antony.


"Hmm?" Saut Antony sambil tetap melangkah.


"Boleh tidak perginya berdua saja. Jangan bawa supir atau orang yang menjagamu?" Tanya Laura. Sebenarnya dia sedikit malu mengatakannya. Tapi dia sudah membayangkan. Jika ada anak buah atau penjaga dari Antony. Pastilah akan sangat canggung.