Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 258.


"Tapi nanti perutmu bisa sakit karena ini," ujar Antony menarik minuman Laura.


"Berikan! Ih! Berikan! Kalau kau membuangnya aku akan berteriak bahwa kau seorang presiden!" Ancam Laura dengan wajah kesalnya.


Antony hanya mengerutkan dahinya. "Teriak saja," kata Antony hendak membuang minuman itu ke tempat sampah di dekat sana.


"Jangan!! Ih! Kau ini!" Laura langsung berdiri dan secepat kilat merampas minumannya walau jalannya masih pincang. Sudah tak bisa keluar dan meminum minuman ini sesuka hati, Antony malah mau membuangnya. Laura langsung meminum minuman itu secepat kilat agar Antony tak jadi mengambilnya.


Antony kaget dengan apa yang dilakukan oleh Laura. Meminum es seperti itu bisa membuatnya terkena brain freeze.


"Baiklah! Kau boleh meminumnya asal jangan meminumnya seperti itu," ujar Antony akhirnya tetap mengalah.


"Benar ya! Awas kalau dibuang. Aku kabur loh nanti!" Ancam Laura lagi denhan wajah kesalnya sembari berjalan ke arah meja makannya. Dia belum menyentuh sedikit pun ayam gorengnya. Jangan sampai dingin atau tak akan enak lagi rasanya.


"Benar, aku janji."


Antony hanya diam sambil menaikkan sudut bibirnya melihat bagaimana lahapnya Laura mengambil memakan makanannya.


"Kau tidak ingin makan?" Tanya Laura yang melihat Antony hanya memperhatikannya.


"Tidak, melihatmu saja sudah kenyang." Antony sedikit mengejek.


"Tidak mungkin. Ayo makan ini." Laura menyodorkan daging ayam ke arah Antony yang masih lengkap dengan helmnya. Antony hanya mengerutkan dahinya. "Ayo, tidak masalah jika kamu membukanya sedikit. Ayo, ayo buka mulutnya."


"Kau makan saja." Tolak Antony.


"Takut gemuk ya? Ayo ini, nanti dingin. Jika kau menolak, besok-besok aku tidak akan mau menyuapimu," ancam Laura. Dia berpikir pasti Antony sangat menjaga tubuhnya, jika tidak dari mana dia mendapatkan roti sobek itu berjejer di perutnya.


Antony tetap mengerutkan wajahnya. Tapi perlahan dia menaikkan sedikit helmnya dan menurunkan masker dia gunakan. Dengan cepat dia memakan ayam yang disodorkan oleh Laura. Padahal sudah lama dia menghindari makanan cepat saji ini. Selain tidak sehat dia memang harus menjaga pola makannya.


"Enak kan? Sesekali makan begini juga tidak apa-apa," ujar Laura senang melihat Antony yang patuh mengunyah makanannya.


Antony hanya mengangguk tak ingin berdebat dengan Laura. Dia kembali hanya menyaksikan Laura yang sudah menghabiskan dua potong ayam.


"Yap! Aku kenyang!" Kata Laura senang. Akhirnya dia bisa memuaskan keinginannya untuk makan makanan yang paling enak sedunia menurutnya, tentunya setelah mie instan.


"Baiklah, sudah tengah malam. Kita harus kembali sekarang." Antony melihat jamnya. Perjalanan mereka panjang hingga sampai di villa.


"Yah, tak bisa menunggu lebih lama lagi?" Tanya Laura. Dia masih ingin ada di luar.


"Tidak, ayo, kita pulang."


Laura mengerutkan dahi melihat ke arah pria yang sudah berdiri dan berjalan ke arah motor mereka yang terparkir cukup jauh. Laura berpikir, dia bisa saja melarikan diri. Dia bisa pergi dan bebas sekarang karena Antony Sudah cukup jauh darinya.


"Laura?" Suara Antony mengacaukan pemikiran Laura yang seketika menatap ke arah Antony dan juga ke arah dia bisa kabur.


Sekarang? Apakah dia harus berlari? Tapi dia ragu. Haruskah dia kembali melarikan diri dari Antony?


"Laura?" Tanya Antony yang kembali melihat Laura ragu-ragu. Dia akhirnya sadar bahwa dia terlalu mempercayai Laura dan wanita itu bisa saja kabur sekarang.


Tapi jika Laura kembali padanya. Maka, apapun yang terjadi. Dia akan selalu ada untuknya.


"Iya, iya, bawel sekali sih! Gimana aku mau jalan cepat? Kakiku kan sakit?" Ujar Laura yang berdiri dan berjalan ke arah Antony dengan sedikit terpincang-pincang. Antony melihat hal itu akhirnya tersenyum lega. Akhirnya, setelah 10 tahun menanti, Laura memilihnya juga. Antony segera kembali ke arah Laura.


Laura tentu bisa saja berlari walaupun dengan keadaan terpincang dan meninggalkan Antony sekarang. Pria itu hanya menatapnya dari jauh dan jika dia berlari ke arah sebaliknya dan bersembunyi, pasti Antony tak akan bisa menemukannya.


Tapi ada perasaan yang tak mengizinkan Laura mengambil langkah itu. Dia sudah pernah meninggalkan pria ini dulu, dan apa yang terjadi, sangat tidak baik. Jadi Laura rasa, saat ini, dia tidak ingin meninggalkan Antony.


"Sini," ujar Antony ingin menggendong Laura. Laura hanya tersenyum lalu segera naik ke punggung Antony yang perasaannya begitu bahagia. Walau mungkin belum bisa mencintainya, setidaknya Laura tak pergi darinya.


Mereka kembali menembus malam dan dinginnya udara di sekitar mereka. Pelukan erat Laura tak lepas dari pinggang Antony. Laura pun penyenderkan tubuhnya pada punggung Antony.


Sesampainya di rumah. Wajah Laura sudah tampak sangat mengantuk. Kombinasi malam dan angin yang menerpanya membuat matanya berat.


Antony kembali menggendong tubuh Laura yang hampir tertidur digendongannya, tapi kali ini Laura digendong oleh Antony di depan.


"Kau akan pulang sekarang?" Tanya Laura sedikit meracau, mencoba membuka matanya yang berat.


"Ya." Antony sebenarnya tak ingin, tapi dia harus. Susah jika esok pagi dia berangkat dari tempat ini.


"Jangan pulang, aku kesepian," racau Laura lagi.


Antony terdiam sesaat. "Aku akan menemani hingga kau tertidur."


"Ehm? Tak bisakah menemaniku semalaman?" Pinta Laura sambil menatap sedikit wajah Antony.


Antony terdiam. Dia tidak mau mengatakan tidak bisa. Tapi memang dia tidak bisa untuk menemani Laura sekarang.


Antony membawa Laura kembali ke kamarnya. Dia segera meletakkan wanita itu berbaring di tempat tidur. Dia juga membantunya membuka jaketnya. Tapi baru saja dia ingin pergi membiarkan wanita tertidur. Laura kembali meracau. Seolah tidurnya tak tenang


"Kau benar-benar akan menemaniku tidur kan? Kau sudsh janji, di sini sepi sekali," pinta Laura. Matanya terbuka sedikit sayu.


Antony menghela napasnya. "Baiklah, aku akan membersihkan diriku dulu," ujar Antony membuka jaketnya dan berjalan ke kamar mandi. Laura hanya meringkuk sambil mengangguk.


"Awas jika bohong!" Ancam Laura. Antony hanya menaikkan sudut bibirnya. Bahkan sudah setengah sadar saja Laura masih bisa mengancamnya.


Antony selesai membersihkan dirinya dan sudah berganti baju tidur yang cukup nyaman. Dia kaget melihat Laura yang sudah berganti baju tidurnya dan duduk di ranjang dengan wajah begitu mengantuk.


"Kenapa lama sekali! Kan aku menunggunya lama!" Kesal Laura. Dia benar-benar tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Yang dia tahu, dia hanya ingin Antony cepat datang padanya.


"Ya maafkan aku. Ya sudah ayo tidur," ujar Antony segera naik ke atas ranjang. Laura dengan manjanya langsung mendekatkan tubuhnya ke tubuh Antony, membuat lengan Antony berbagai bantanya. Antony hanya bisa tersenyum sambil mengusap kepala Laura pelan.


Laura akhirnya merasakan kehangatan itu. Kehangatan yang sangat dia rindukan. Biasanya jika dia kesulitan tidur, dia pasti meminta ibunya untuk menemaninya tidur. Tak menyangka dia bisa merasakan hal yang sama sekarang.


Antony berusaha untuk tidak tertidur. Dia harus kembali ke istana kepresidenan malam ini dan harus pergi dari sana. Tapi, entah juga merasa nyaman atau memang kelelahan. Dia juga akhirnya memasuki dunia mimpinya.